
"Atikah! Kamu nggak boleh ngomong kasar sama bapakmu! Kalau kamu kesal, kamu bisa bicarakan baik-baik," tegur Bu Inah dengan nada tinggi.
"Baicara baik-baik macam apa, Bu? Kita udah bilangin Bapak buat nggak bersikap naif, tapi buktinya ... Bapak tetep aja bantuin orang yang udah ngirim guna-guna itu buat berdiri," tukas Atikah membela diri. "Udah, ah. Aku mau nyusulin Dedek. Sekarang aku malah khawatir Dedek kenapa-kenapa gara-gara ngelawan dedemit yang lebih kuat dari kemarin."
"Atikah! Sekarang udah mau tengah malem. Kamu mau nyariin Dedek ke mana?" tanya Bu Inah setengah berteriak.
Atikah tak menggubris. Ia terus saja bergegas meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tamu.
"Atikah! Nanti kalau ada penjahat di jalan gimana? Bapak sama Ibu lagi yang repot," ujar Pak Risman.
Atikah berbalik badan sebentar. "Bapak nggak usah khawatirin aku segala. Bapak aja nggak khawatir sama diri sendiri dan Dede," teriaknya dari luar rumah, lalu melenggang pergi menuju tempat adiknya berada.
Pak Risman dan Bu Inah hanya memandang jauh kepergian putri sulungnya. Mereka sudah sangat lelah berdagang, sehingga tak mampu mengejar kedua putrinya pergi. Bu Inah pun mengomeli suaminya, tapi Pak Risman tetap saja keras kepala dan berpegang teguh pada kenaifannya.
Sementara itu, Sukma mendorong makhluk tinggi besar yang digusurnya tadi. Kali ini, ia bersiap bertarung melawan dedemit yang hendak membunuh ayahnya. Namun, ada yang berbeda kali ini. Dedemit membawanya ke alam gaib, agar Sukma tak bisa mengalahkannya dengan mudah. Makhluk aneh itu tertawa terbahak-bahak.
"Apa maksud kamu bawa aku ke sini?" tanya Sukma berang.
Tanpa aba-aba, makhluk itu langsung meluncurkan pukulan ke dada Sukma. Gadis itu terkaget-kaget dengan serangan mendadak dari lawannya, sehingga tak sempat menghindar. Tubuhnya terpental jauh ke belakang. Kendati dadanya terasa sakit, ia tetap berusaha berdiri dan bersiap melawan.
Makhluk tinggi besar berbulu hitam itu, berlari secepat kilat meluncurkan pukulan berikutnya. Akan tetapi, kali ini Sukma mampu menghindarinya. Dengan gesit, gadis itu menendang bokong dedemit, kemudian mengarahkan pukulan ke bagian kepala. Segera makhluk mengerikan itu berbalik badan, sembari menyikut Sukma. Beruntung, Sukma dapat menghindar lebih dulu dan mundur jauh ke belakang.
"Ternyata kamu mau main-main dulu sama aku, ya? Oke! Aku layani," ucap Sukma dengan terengah-engah.
Lagi-lagi, makhluk itu menggeram sembari melancarkan serangan. Ia menggunakan kuku-kuku panjangnya untuk mencakar lawan. Sukma dengan tangkas segera menghindar, menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan. Hingga pada saat makhluk itu mulai lengah dengan posisi menunduk, Sukma melompat lebih tinggi dan menyikutnya dari atas. Ia mengarahkan serangan ke bagian punggung makhluk itu. Secepatnya, gadis itu berbalik badan dan mencekik leher makhluk itu dengan kedua lengannya. Makhluk itu meronta-ronta, berusaha melepaskan cekikan di lehernya.
"Katakan! Siapa yang nyuruh kamu nyakitin bapak aku?"
Makhluk mengerikan berbulu lebat itu tak menggubris. Ia berhasil melepas kedua lengan Sukma dari lehernya, kemudian membanting gadis itu hingga terkapar di bawah tubuhnya. Segera ia mengangkat kaki, hendak menginjak sang lawan yang lebih kecil.
Menyadari makhluk mengerikan itu hendak menginjaknya, Sukma segera berguling. Bersyukur, ia dapat menghindar dengan cepat. Tanpa berlama-lama, Sukma segera bangkit dan mengerahkan segala kemampuannya bertarung. Gerakan musuh yang semakin melambat, membuatnya bisa mengalahkan makhluk mengerikan itu dengan cepat. Segera gadis itu menendang bagian kaki dedemit di depannya, sampai terkapar. Selanjutnya, Sukma menginjak bagian perut makhluk itu, lalu meluncurkan pukulan demi pukulan ke bagian wajah.
__ADS_1
Kali ini musuh Sukma tak bisa lagi berkutik. Meski lawannya memiliki postur lebih kecil, tapi kekuatan dan kemampuan bertarungna jauh lebih baik. Makhluk itu menyerah, tak lagi melakukan perlawanan.
"Cepat katakan, siapa yang nyuruh kamu nyakitin bapak aku!" bentak Sukma geram. "Kalau kamu nggak bisa ngejawab, bakal aku patahin leher kamu."
"Ka ... Ka ... Kasiman," lirih makhluk itu.
"Siapa? Jawab yang bener!"
"Kasiman," jawab makhluk itu dengan cepat.
Sukma turun dari tubuh makhluk itu, kemudian mundur lebih jauh. Ia mencoba mengingat-ingat nama itu hingga muncul bayangan tentang Wanara. Kera kesayangannya itu pernah bilang, bahwa satu-satunya orang memiliki ilmu hitam yang tinggi hanyalah Mbah Kasiman. Sukma mengangguk takzim.
"Sekarang aku lepasin kamu. Tapi kalau kamu sampai balik lagi nyakitin bapak aku, aku nggak akan segan-segan ngebunuh kamu," ujar Sukma.
Makhluk itu segera bangkit dan tak menanggapi ucapan Sukma. Dengan langkah sempoyongan sembari membungkuk, ia meninggalkan gadis itu. Suasana alam gaib yang semula kosong, berubah menjadi area pemakaman. Secepatnya Sukma pulang ke rumah setelah mendapat jawaban memuaskan dari dedemit kiriman dari suruhan saingan sang ayah.
Di tengah perjalanan pulang, Sukma terkejut tatkala mendapati kakaknya diganggu oleh beberapa pemuda. Ia segera berlari, menghampiri Atikah yang tampak gemetar ketakutan. Tawa menjijikkan dari para pemuda itu membuat Atikah menutup kedua telinganya.
Saat salah satu dari mereka hendak melecehkan Atikah, Sukma dengan sigap memelintir tangannya. Tak ketinggalan, lengannya langsung menahan leher pemuda itu. Ketiga orang lainnya tampak terkejut melihat gadis berusia remaja sedang menahan temannya.
Salah satu teman si pemuda cabul yang teler, menodongkan pisau ke arah Sukma. Atikah yang masih ketakutan, berteriak memperingatkan Sukma agar cepat menghindar. Segera Sukma melepas tubuh pemuda tawanannya, kemudian mendorongnya pada si penodong pisau. Seketika, pisau di tangan pemuda yang teler pun tak sengaja menusuk dada temannya.
Sementara dua pemuda lainnya menghampiri si pemuda cabul dan si teler, secepatnya Sukma meraih tangan Atikah. Keduanya berlari dengan cepat menuju jalan pulang. Atikah sangat bersyukur, sang adik datang pada saat yang tepat. Jika tidak, entah hal buruk apa yang akan terjadi pada gadis itu selanjutnya.
"Dek, kenapa nggak langsung habisi aja mereka?" tanya Atikah dengan napas terengah-engah.
"Mereka semua lagi nggak sadar, Teh. Kalau orang yang tadi mau megang Teteh sampai meninggal, mereka cuma taunya sedang berkelahi sama temennya aja."
Sementara Atikah dan Sukma tiba di rumah, jin kiriman Mbah Kasiman pun sampai di kediamannya. Sebuah rumah bergaya kasepuhan menjadi sarang dari jin peliharaan pemilik ilmu hitam tertinggi itu. Mbah Kasiman yang sedang bersemedi di bagian bawah tanah rumahnya, kedatangan dedemit yang sudah dikalahkan oleh Sukma. Mau tak mau, ia harus menghentikan semedinya.
Makhluk yang dikirimkan olehnya pada Pak Risman, tampak terkapar tak berdaya di hadapannya. Melihat pemandangan tak menyenangkan itu, Mbah Kasiman menggeleng. Tanpa rasa iba, ia menendang dedemit piaraannya sampai mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Siapa yang kamu lawan tadi sampai babak belur begini?" tanya Mbah Kasiman geram.
"Bocah perempuan, Mbah. Umurnya hampir sama dengan cucu Mbah," jawab makhluk itu.
Mbah Kasiman mengangguk pelan, bibirnya menyeringai. Saat yang ditunggunya telah tiba. Tidak salah lagi, anak itu pasti hasil dari ritual sesat yang pernah dilakukan oleh salah satu pelanggannya. Pak Burhan dan Bu Ratmi. Mbah Kasiman benar-benar penasaran dengan kemampuan si anak iblis. Ia ingin memastikan, bahwa Sukma sudah berjalan sesuai keinginan iblis.
...****************...
Hari telah berganti. Sukma masih termenung memikirkan jawaban dedemit yang dilawannya semalam. Kasiman, Mbah Kasiman. Nama itu tak lagi terdengar asing di telinganya. Saat dulu latihan bertarung, beberapa kali Wanara kerap memperingatkan Sukma tentang orang bernama Mbah Kasiman. Setiap kali gagal berlatih, kera kesayangannya selalu saja mengomel dan menyebut nama dukun itu terus menerus.
Sekarang, ia sangat penasaran dengan sosok yang dimaksud oleh Wanara. Katanya, pria itu tidak memiliki penampilan seperti dukun pada umumnya; berpakaian serbahitam, rambut gondrong, memiliki batu akik berisi jin di tangannya, serta memakai kalung yang mirip seperti tasbih terbuat dari kayu. Mbah Kasiman lebih mirip pria awam dan tak mengenakan atribut dukun sama sekali. Penampilannya itu bisa saja mengecoh Sukma saat bertemu nanti.
Adapun Atikah yang masih trauma dengan kejadian semalam, hanya bisa duduk di sudut kamar. Gadis itu gemetar ketakutan, bahkan menjerit. Sukma yang menyadari kelakuan aneh sang kakak, segera menghampirinya.
"Teh, Teteh kenapa?" tanya Sukma cemas.
"Teteh nggak bisa lupain kejadian semalam, Dek. Teteh takut, orang-orang itu bakalan ganggu Teteh lagi," ucap Atikah gemetar.
"Terus, Teteh mau Dedek ngapain? Ngebunuh mereka? Banyak-banyak berdoa aja, Teh. Nanti mereka juga bakal kena batunya. Tadi Dedek denger, kalau para pemuda itu berkelahi beneran sampai ada yang meninggal," ucap Sukma berusaha menenangkan kakaknya.
"Apa?! Beneran ada yang meninggal, Dek?" tanya Atikah tercengang.
"Iya, Teh. Dua orang. Kayaknya temennya yang bawa pisau sama cowok yang cabul itu, deh," jawab Sukma sembari menduga-duga.
Atikah mengembuskan napas lega. Akhirnya kekhawatiran hilang begitu saja dari benak gadis itu. Sebagai pelajaran, lain kali ia tak boleh keluar malam-malam sendiri. Tak ada salahnya mendengar teguran orang tua sebelum bertindak.
Sementara itu, Pak Jaka mendadak gelisah di rumahnya. Ia berperilaku tidak seperti biasanya. Sesekali, pria itu mengobrak-abrik gerobak yang biasa dipakainya berjualan.
"Pak, Bapak kenapa, sih, tiba-tiba marah-marah begini?" tanya istrinya sedikit ketakutan.
"Dagangan sialan! Saingan sialan! Dukun sialan! Semuanya nggak ada yang bener! Bajingan!" teriak Pak Jaka, lalu berlari menuju jalan raya.
__ADS_1
Raut wajah Pak Jaka seketika berubah, kegelisahan tak lagi tampak. Ia tampak semringah, lalu tertawa terbahak-bahak. Perilakunya berubah menjadi seperti orang gila. Kegagalan Mbah Kasiman menghancurkan Pak Risman berpengaruh besar pada kewarasannya. Separuh jiwanya sudah ditukarkan dan tak bisa kembali lagi seperti sedia kala.
Tingkah laku Pak Jaka pun tak luput dari perhatian warga sekitar. Kejadian malam kemarin seolah menggaungkan suara sumbang di masyarakat tentang usaha Pak Risman. Banyak yang menduga, bahwa pria naif itu melancarkan niat buruk kedua setelah gagal menggunakan Sukma untuk menghancurkan usaha saingannya.