
Sepulang sekolah, Atikah tampak kesal melihat adiknya masih bermain dengan boneka Susan. Tanpa mampir dulu ke paviliun, ia bergegas menemui ibunya yang masih menyiapkan makan siang di rumah Hilman. Hatinya yang panas sekaligus takut, membuatnya tak tahan melihat boneka yang dimainkan Sukma bersama teman gaibnya.
Setibanya di dapur, segera Atikah memanggil ibunya. Bi Reni yang sedang membawa piring berisi lauk pauk pun terkejut dengan kedatangan Atikah di rumah majikannya. Pun dengan Bu Inah, merasa heran dengan kedatangan putrinya ke rumah Hilman. Segera ia menghampiri putrinya yang tampak berang itu.
"Atikah, ngapain kamu ke sini? Apa kamu lupa, Bu Farah bakal marahin kamu kalau coba-coba datang ke sini?"
"Aku nggak peduli, Bu. Kenapa, sih, boneka itu belum Ibu buang juga? Aku masih takut lihat boneka itu," gerutu Atikah.
"Ibu belum berani membuang boneka itu, Atikah. Apa kamu tidak lihat kalau Dek Sukma masih senang bermain dengan bonekanya?"
"Iya, aku tahu, Bu. Tapi aku juga khawatir kalau sampai Dedek jatuh sakit gara-gara boneka itu."
"Jatuh sakit katamu? Atikah, coba ingat baik-baik. Dua hari lalu Dedek jatuh sakit, tapi sejak boneka itu ada bersamanya, dia mendadak sembuh. Biasanya Dedek sakitnya sampai seminggu setelah dipotong rambut."
"Aku nggak mau tahu, Bu. Pokoknya buang boneka itu. Kalau enggak, biar aku aja yang membuangnya."
Bergegas Atikah meninggalkan dapur keluarga Hilman. Wajahnya masih ditekuk, kekesalan masih mengendap di dadanya. Ia tidak sabar lagi merebut boneka Susan dari tangan Sukma, lalu membuangnya.
Namun, sebelum keluar dari rumah Hilman, tak sengaja gadis itu berpapasan dengan Farah. Tentu saja nyonya rumah itu tidak suka bila Atikah berada di sana. Ketika Atikah hendak keluar dari rumah, Farah menghampirinya.
"Habis ngapain kamu di rumah saya?" tanya Farah bernada ketus.
Atikah menoleh. "A-aku ... aku ... aku habis betemu ibuku."
"Oh, sekarang kamu sudah mulai lancang datang kemari, ya?" tanya Farah melipat kedua tangan. "Lain kali kalau ada perlu dengan ibumu, tunggu saja di paviliun! Ngotorin rumah saya aja."
"M-maaf, Tante. Tadi ... t-tadi aku ada keperluan mendesak."
"Keperluan kamu tidak lebih penting dari keperluan saya. Sudah, pulang sana! Saya eneg ngomong sama anak miskin kayak kamu."
Tanpa berkata lagi, Atikah berjalan ke paviliun. Kendati merasa sakit hati dengan perkataan Farah, ia berusaha untuk tidak menghiraukannya. Baginya, keselamatan Sukma lebih penting dari kesedihannya atas perkataan Farah.
Setibanya di paviliun, Atikah merebut boneka Susan dari tangan Sukma tanpa izin. Sukma pun terkejut dengan tindakan kakaknya. Ia berdiri, menarik rok Atikah erat-erat.
"Teteh, mau ngapain sama boneka aku?" tanya Sukma dengan mata membelalak.
"Boneka ini nggak boleh ada di sini. Boneka ini harus dibuang sekarang juga!"
"Tapi Teteh, aku suka sekali sama boneka itu. Maurin juga sedih kalau boneka itu dibuang."
Atikah berhenti sejenak, lalu menatap tajam ke arah Sukma. "Maurin? Tak usah kamu hiraukan dia! Bukankah boneka ini milik Maurin? Biarin aja dibuang! Nanti juga dipungut lagi sama dia."
Gadis berusia sembilan tahun itu berjalan ke luar area rumah Hilman dengan tergesa-gesa. Tangannya gemetar hebat memegang boneka bayi lusuh, tapi tekadnya yang kuat justru memberikan keberanian dalam hatinya. Di sisi lain, Sukma memohon sembari menangis, meminta boneka Susan dikembalikan. Ia tak berhenti mengejar kakaknya yang terus berjalan menuju gerbang.
__ADS_1
Melihat kedua putrinya sedang tidak akur, Pak Risman yang baru saja selesai menata kebun, segera menghampiri mereka. Ia sangat khawatir, terlebih mendengar tangisan Sukma yang terdengar nyaring. Dipanggilnya nama kedua putrinya itu, tapi mereka tidak menyahut sama sekali.
Di depan gerbang, ada sebuah tong sampah. Atikah melirik sejenak pada Sukma yang sudah berurai air mata. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa iba pada sang adik yang menangis tersedu-sedu. Akan tetapi, keselamatan Sukma jauh lebih penting daripada kesenangannya bermain dengan boneka Susan. Tanpa ragu lagi, ia membuang boneka bayi itu ke tong sampah.
"Susaaan!" pekik Sukma.
Hati gadis kecil itu remuk redam, melihat boneka kesayangannya dibuang. Pak Risman menggendong Sukma, lalu membelai rambutnya dengan lemah lembut. Rasa sakit yang tersirat dalam isak tangisnya, membuat hati pria paruh baya itu serasa tersayat.
"Atikah, kenapa kamu buang boneka itu? Apa kamu tidak lihat, Dedek sampai menangis begini?"
"Aku takut sama boneka itu, Pak. Semalam boneka itu bawa-bawa pisau kayak pengin ngebunuh aku. Aku juga nggak mau kalau sampai Dedek kenapa-kenapa."
"Tapi nggak begini juga caranya, Atikah. Kamu bujuk dulu adikmu baik-baik. Nanti kalau Dedek sudah setuju, kamu baru boleh membuang boneka itu."
"Habisnya aku kesel, Pak. Kemarin Ibu bilang mau buang boneka itu, tapi ternyata ... ah, Ibu memang nggak bisa nepatin janji."
"Teteh nakal! Aku nggak mau main lagi sama Teteh," Sukma menyela.
"Terserah kamu, Dek. Teteh melakukan ini buat kebaikan kamu juga. Teteh nggak mau kamu kenapa-kenapa," cerocos Atikah mendengus kesal. "Aku pulang dulu, Pak. Banyak PR yang harus dikerjain sekarang."
Tanpa menghiraukan tangisan Sukma, Atikah segera pulang ke rumah. Setidaknya kekesalan dan ketakutan yang mengganjal hatinya sejak semalam, sudah terluapkan sepenuhnya. Kini ia dapat hidup tenang, tanpa perlu gelisah melihat adiknya bermain dengan boneka mengerikan itu.
Sementara itu, Sukma masih menangis di gendongan Pak Risman. Bu Inah segera ke luar rumah Hilman untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga tahu betul, Farah tidak suka mendengar tangisan Sukma yang menurutnya sangat mengganggu.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Bu Inah.
"Astagfirullah!" Bu Inah membekap mulutnya sebentar. "Ini semua salah Ibu, Pak. Seandainya saja, semalam nggak menjanjikan sesuatu ke Atikah."
"Sudahlah, Bu. Lebih baik kita tenangkan dulu Sukma. Nanti kalau Bu Farah dengar tangisan Sukma, bisa runyam urusan kita," bujuk Pak Risman.
"Iya, Pak. Mending kita bawa dulu Sukma ke paviliun," cetus Bu Inah.
Mereka bertiga berjalan ke paviliun. Pak Risman tak berhenti menenangkan Sukma. Sesekali ia membujuk, akan membelikan boneka baru yang lebih bagus dari Susan. Namun, Sukma menolak keras bujukan Pak Risman. Katanya, boneka itu sangat berharga, bahkan bisa mendatangkan teman baru baginya.
...****************...
Mentari bergulir ke ufuk barat begitu cepat. Tak terasa, jam dinding telah menunjukkan pukul empat sore. Setelah meminta izin untuk ke luar pada Farah, Bu Inah segera mengantar Sukma ke mesjid. Selanjutnya, ia pergi ke rumah Giska untuk membicarakan hal penting mengenai boneka yang dimainkan putrinya selama ini. Kebetulan, rumahnya tidak begitu jauh dari kediaman Hilman. Maka dari itu, cukup dengan berjalan kaki saja Bu Inah bisa sampai ke sana.
Sesampainya di sebuah rumah minimalis berlantai dua, Bu Inah membunyikan bel. Tak lama kemudian, ibunya Giska datang membukakan gerbang. Wanita berambut pendek itu mempersilakan Bu Inah masuk, kemudian segera memanggilkan kakaknya Giska.
Sambil menunggu, Bu Inah menyapukan pandangan ke seluruh ruang tamu. Sofa berwarna merah dan meja kaca minimalis, terlihat cocok di ruangan yang tak begitu luas itu. Di dinding sebelah kiri, tampak bentangan kain hitam bertuliskan kaligrafi Arab.
"Bu Inah, perkenalkan, ini putra sulung saya," ujar ibunya Giska, menunjukkan sosok pemuda tampan berbadan jangkung.
__ADS_1
Bu Inah tersenyum ramah, lalu menjulurkan tangan. Pemuda itu menyalami Bu Inah tanpa ragu.
"Rifalbi," kata pemuda itu.
"Bu Inah."
"Oya, kalian ngobrol-ngobrol dulu, ya. Saya mau siapkan teh manis," ucap ibunya Giska.
"Nggak usah repot-repot, Bu. Saya nggak bakal lama-lama kok."
"Sudahlah, nggak usah sungkan."
Selepas ibunya Giska pergi ke dapur, Rifalbi membuka beberapa toples berisi kue kering dan menyuguhkannya pada Bu Inah. Akan tetapi, Bu Inah merasa sungkan dan menyuruh pemuda itu menutup toples. Tanpa mau berlama-lama, Bu Inah ingin segera membuka topik pembicaraan utama yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
"Rifalbi, sebenarnya saya ke sini ingin menanyakan sesuatu," kata Bu Inah.
"Oh, soal itu. Tadi ibuku menceritakannya sekilas, makanya saya cepat-cepat pulang dari kampus."
"Maaf, ya, kalau saya mengganggu kuliah kamu."
"Nggak apa-apa kok, Bu. Justru aku senang bisa membantu."
"Syukurlah kalau begitu." Bu Inah merasa lega. "Begini, Rifalbi, kemarin putri bungsu saya mendapatkan teman, namanya Maurin. Dia juga dikasih boneka bayi, namanya Susan."
Mendengar kedua nama itu, bulu kuduk Rifalbi seketika meremang. Ingatannya tentang kejadian mengerikan beberapa tahun lalu, kembali mengganggu pikirannya. Sebenarnya pemuda itu merasa takut jika harus menceritakan semua kejadian yang pernah dialami olehnya dan Giska. Namun, memberi pertolongan pada orang yang menjadi sasaran boneka Susan, lebih penting dari ketakutannya.
"Lalu, apa putri Ibu mengalami kejadian aneh?" tanya Rifalbi penasaran.
"Sebenarnya yang mengalami kejadian aneh bukan putri bungsu saya, tapi si sulung. Semalam dia lihat bonekanya jalan sendiri ke dapur. Diam-diam dia mengintip boneka itu. Ternyata, boneka itu bawa pisau dan menyerang putri sulung saya."
"Astaga!" kata Rifalbi tercengang. "Itu sama persis seperti yang aku alami, Bu."
"Benarkah?"
"Iya, Bu. Saat boneka itu dibawa Giska ke rumah, malamnya aku dengar ada suara ribut-ribut di dapur. Saat aku lihat, ternyata Susan sedang mengobrak-abrik seisi dapur sambil nangis."
"Ya ampun! Berarti sama seperti yang dialami putri sulungku."
"Bukan hanya itu saja, aku juga diserang sama boneka Susan itu. Tapi beruntung, gadis kecil berbaju putih datang membujuk boneka itu untuk berhenti menyerangku. Katanya, mereka punya tujuan lebih penting."
"Tujuan lebih penting? Kira-kira apa itu?"
"Yang dijadikan sasaran oleh mereka cuma Giska. Sepertinya mereka menginginkan nyawa Giska dari awal."
__ADS_1
"Begitu, ya? Terus, apa boneka itu kamu buang juga? Soalnya tadi siang, putri sulung saya marah-marah gara-gara janji saya untuk membuang boneka itu tidak ditepati."
"Percuma saja, Bu. Boneka itu akan tetap kembali, sekalipun dibuang ke tempat sampah."