SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Pulang


__ADS_3

Pikiran Bu Inah masih tidak tenang sejak Sukma pergi dengan alasan jajan ke warung, bahkan sampai melewati hari kedua salat Tarawih. Kalang kabut ia mencari si bungsu ke warung-warung sekitar kontrakan, tapi anak yang dicari tak kunjung ditemukan. Sembari mencari putrinya yang hilang, air matanya menetes membasahi pipi. Ia benar-benar khawatir Sukma diculik seperti putra semata wayang Hilman beberapa waktu lalu.


Kini, waktu beralih menuju tengah malam. Si bungsu masih saja belum ditemukan. Pak Risman yang dibantu Haji Gufron dan Fadil untuk mencari Sukma, akhirnya muncul memasuki gerbang kontrakan. Bu Inah segera beranjak menghampiri suaminya dengan penuh harap, bahwa Sukma sudah ditemukan.


"Pak, mana Dedek? Udah ketemu?" tanya Bu Inah dengan nada cemas.


Pak Risman menggeleng lemah. "Belum, Bu."


"Ya Allah, Pak," kata Bu Inah sembari membekap mulutnya.


"Kami sudah cari ke mana-mana, bahkan sampai ke dekat sekolahnya Dek Sukma. Tapi, orang-orang sekitar sana nggak ngelihat anak yang mirip dengan ciri-ciri Dek Sukma berkeliaran di sana," jelas Haji Gufron.


"Gimana kalau pencariannya kita lanjutkan besok saja? Siapa tahu cepat ketemunya," usul Fadil.


"Benar, Bu. Sekarang sudah hampir tengah malam, Ibu harus tidur dulu," bujuk Pak Risman memegang bahu istrinya.


"Enggak, Pak. Ibu nggak akan tidur sebelum Dedek ditemukan," ucap Bu Inah.


Dengan muka masam, Bu Inah berjalan ke teras kontrakan, lalu duduk di sana. Tangisnya semakin pecah, terlebih ketika mengingat kembali tentang mimpi buruk yang menghantui benaknya dua kali. Ia khawatir, ayah kandung Sukma akan menyesatkan putri angkatnya itu ke jalan yang salah dengan cara tak terduga.


Haji Gufron dan Fadil berpamitan pada Pak Risman. Tak lupa, Haji Gufron menyarankan pada penghuni kontrakan itu agar tidak terlalu khawatir. Menurutnya, lambat laun Sukma akan segera ditemukan. Pak Risman pun berterima kasih atas bantuan dan rasa empati Haji Gufron bersama putra semata wayangnya dalam mencari si bungsu.


Sementara itu di tempat lain, dua pria petugas ronda yang bertemu dengan Albi dan Sukma, membawa mereka ke luar gedung terbengkalai. Sukma dan Albi merasa lega setelah berhasil melewati berbagai ketegangan dalam upaya melarikan diri dari Pak Jumadi. Kedua bocah itu dibawa ke permukiman warga, lalu duduk di pos kamling.


"Baiklah kalau kalian pengin langsung pulang sekarang. Tunggu di sini dulu, Bapak akan bawa motor buat antar kalian pulang ke rumah. Ngomong-ngomong, kalian tinggal di mana?" tanya pria berkaus oblong.


"Aku tinggal di Bandung," jawab Albi.


"Aku tinggal di Padalarang," kata Sukma.


"Jadi, kalian berasal dari dua daerah berbeda?! Gimana bisa berteman?" tanya pria bersarung terheran-heran. Keningnya berkerut.


"Jadi begini, Dek Sukma dulu tinggal di rumah aku. Sekarang Dedek pindah ke Padalarang sama keluarganya," jawab Albi.


"Oh, begitu. Berarti Bapak juga harus bawa motor nih kalau rumah kalian berbeda arah. Sebaiknya kalian ikut kami ke rumah. Khawatir kalau-kalau ada orang jahat lagi nyulik kalian," kata pria bersarung.


"Terima kasih, Pak," ucap Sukma dan Albi berbarengan.


Sukma dan Albi mengikuti pria bersarung, sementara pria berkaus oblong pergi ke rumahnya yang berada lumayan jauh dari pos kamling. Ketika tiba di rumah pria bersarung, kedua bocah itu ditawari untuk masuk dan makan sebentar. Akan tetapi, ketidaksabaran Albi untuk pulang dan kekhawatiran Sukma akan ibunya, membuat mereka enggan berlama-lama. Pria itu mengerti, lalu masuk ke rumahnya untuk mengambil motor.


Setelah beberapa saat menunggu, pria yang tadi berkaus oblong kini datang membawa motornya dengan pakaian tertutup dan memakai helm. Albi segera menaiki motor pria itu, sementara Sukma duduk di motor temannya yang semula bersarung. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan permukiman warga, pria yang akan mengantar Sukma tertegun.


"Dek, berat badan kamu berapa?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Nggak tahu, emang kenapa, Pak?" Sukma balik bertanya.


"Kok motor Bapak kerasa berat banget, ya?"


"Oh. Mungkin monyet aku yang bikin motor Bapak berat."


"Monyet?" Pria itu segera menoleh ke belakang, lalu mengernyitkan kening. "Di mana monyetnya?"


"Ini, di duduk di belakang aku. Emangnya Bapak nggak lihat, ya?"


Pria itu bergidik seraya menggeleng cepat. Tak mau berlama-lama bergelut dengan ketakutannya, ia melajukan motor meskipun beban di belakangnya terasa cukup berat. Ukuran tubuh Wanara yang berubah seperti semula, ternyata masih membuat laju motor itu lambat.


Perjalanan yang ditempuh Albi dan Sukma, jelaslah berbeda. Lokasi antara gedung terbengkalai dan komplek kediaman Hilman tidak begitu jauh. Cukup menghabiskan waktu setengah jam saja, Albi sudah tiba di depan gerbang rumahnya.


"Pak, ayo ikut masuk dulu ke rumah aku!" ajak Albi.


Pria itu terkesima melihat rumah mewah di hadapannya. Mulutnya menganga, seolah-olah tak memercayai pemandangan di hadapannya. Ia tak menyangka, bahwa anak yang diantarkannya pulang ternyata berasal dari keluarga berada.


Melihat orang yang mengantarkannya termangu, Albi menepuk lengan pria itu. "Ayo, Pak!" ajaknya.


"Ng ... enggak, enggak. Terima kasih, Dek. Mungkin orang tua Adek sedang istirahat. Bapak nggak mau mengganggu mereka," ucap pria itu canggung.


"Nggak usah sungkan, Pak. Papa sama mama aku orang baik."


"Bukan begitu, Dek. Sebentar lagi waktunya sahur, Bapak nggak mau mengganggu orang tua Adek. Setidaknya, mengantar Adek pulang sampai rumah dengan selamat, sudah membuat Bapak senang. Lagipula ... masih ada hal lain yang perlu diurus. Para penculik itu harus dilaporkan ke pihak kepolisian agar keluarganya tahu."


"Nggak usah repot-repot, Dek. Bapak nggak mengharap imbalan, kok," kata pria itu dengan sungkan. "Sebaiknya Adek cepat masuk ke rumah. Mungkin papa dan mama Adek sedang khawatir nungguin Adek."


"Iya. Terima kasih banyak, ya, Pak."


Pria itu membalasnya dengan satu anggukan, lalu melajukan motornya ke arah pertama kali memasuki perkomplekan. Selepas ia pergi, Albi mengetuk-ngetuk kaca jendela pos satpam yang berada di sebelah gerbang. Berhubung sudah larut malam, biasanya gerbang sudah dikunci rapat-rapat oleh penjaga rumah.


"Pak, Pak Parman! Woy, Pak!" panggil Albi dengan nada tinggi.


Seketika, satpam yang menjaga rumahnya itu terperanjat. Ketika menoleh ke arah kaca, dilihatnya bocah laki-laki berpenampilan kumal sedang berdiri memandangnya. Pak Parman pun terkejut, lalu meringkuk ke sudut pos satpam.


"Pak, ini aku. Albi. Cepet bukain gerbangnya!" kata Albi menegaskan.


Pria berkumis itu mengucek mata, lalu menatap Albi lagi. "Eh, Den Albi. Ngapain keluyuran malam-malam?"


"Ih, Bapak ini. Aku bukan keluyuran. Aku abis kabur dari penculik."


"Penculik?!" Pak Parman membelalakkan mata.

__ADS_1


"Udahlah, Pak. Jangan banyak tanya. Pokoknya bukain pagernya."


"I-iya. Siap, Den!"


Bergegas Pak Parman keluar dari posnya, lalu membukakan pagar kecil di samping gerbang utama. Albi yang sudah tidak sabar lagi bertemu dengan kedua orang tuanya, cepat-cepat berlari ke rumahnya. Ia yakin, Hilman dan Farah belum tidur karena mencemaskannya sejak siang tadi.


Ditekannya bel oleh Albi sampai suaranya terdengar oleh Farah yang baru setengah sadar. Dengan kesal, Farah memanggil Bi Reni, tapi tak ada sahutan sama sekali. Berulang kali suara bel itu berbunyi mengganggu pendengarannya, hingga membuatnya beranjak dari tempat tidurnya.


Bergegas ia berjalan menuju ruang tamu. Tanpa menunggu lama, Farah memutar kunci, lalu membuka pintu lebar-lebar. Betapa terkejutnya ia tatkala mendapati putra semata wayangnya berdiri di hadapannya dengan penampilan yang kumal.


"Astaga, Albi?! Kenapa kamu bisa begini? Mana Pak Risman? Dia udah ngapain kamu aja?" tanya Farah bernada cemas, sembari menyentuh kedua pipi dan tangan Albi.


"Pak Risman nggak ngapa-ngapain aku, Ma. Tadi aku diculik sama bapak-bapak yang badannya gede, terus dibawa-bawa ke tempat yang beda. Aku didudukin di bangku yang disimpen di atas ketinggian. Pokoknya serem banget, Ma," jawab Albi dengan nada meyakinkan.


"Diculik?! Ya ampun! Kenapa tadi Papa nggak bilang kalau kamu diculik? Ayo, Albi, kita masuk! Si Papa emang nyebelin!"


Tak lama kemudian, Hilman datang ke ruang tamu. Ia tercengang mendapati putra semata wayangnya pulang dengan selamat. Ketika pandangannya beralih pada Farah, ia mendapati wajah masam dari istrinya.


"A-Albi ... syukurlah kamu udah pulang. Mana Pak Risman?" tanya Hilman tergagap-gagap.


"Udahlah, Pa. Jangan bohong! Albi bilang, Albi udah diculik. Kenapa Papa nggak ngomong jujur sama aku, sih?" sela Farah geram.


"A-anu, Farah. A-aku cuma nggak mau bikin kamu sedih dan cemas," ucap Hilman.


"Pa, Albi itu anak kita. Kalau ada apa-apa sama Albi, aku juga berhak tahu dong. Penculikan Albi itu bukan masalah kecil, Pa! Kalau tadi Papa ngasih tahu Albi diculik, aku bakal lapor polisi buat nyariin anak kita," cerocos Farah kesal.


"Maafin aku, Farah," ucap Hilman tertunduk lesu.


"Udahlah Ma, Pa, nggak usah berantem. Seenggaknya sekarang aku udah pulang. Kalau Dek Sukma nggak dateng buat nyelametin aku, entah gimana nasib aku ke depannya," ujar Albi berusaha menenangkan kedua orang tuanya.


"Apa?! Dek Sukma? Gimana caranya dia bisa nemuin kamu? Apa dia datang sama Pak Risman?" tanya Farah tak percaya.


"Enggak, Ma. Dia datang sendirian, kok. Dedek waktu nyelametin aku udah kayak jagoan aja. Tahu nggak, Ma, Pa? Dia bisa ngebanting dua orang yang badannya tinggi gede cuma dengan satu puteran tangan," terang Albi dengan sorot mata menyala-nyala.


"Ah, masa? Kamu pasti mengada-ada, deh. Kalau dia datang sendirian, kalian berdua nggak bakal berhasil kabur. Pasti dia bawa orang dewasa," sanggah Farah masih tak percaya.


"Enggak, Ma." Albi menggeleng cepat. "Dia cuma sendirian. Kalaupun ada orang dewasa, itu aku yang manggil dari lingkungan sekitar buat bantu nolongin Dek Sukma. Kebetulan ada dua bapak-bapak yang lagi ronda malam di dekat gedung tempat aku disekap."


"Kamu ini ngomongnya makin ngelantur. Kayaknya kamu lapar, mendingan ganti baju dulu sana, abis itu datang ke ruang makan. Mama bakal nyiapin makanan buat kamu," ujar Farah dengan santai.


Selepas Farah pergi ke ruang makan, Albi menatap ayahnya yang termangu mendengar cerita darinya. Diayunkannya tangan sang ayah hingga terhenyak.


"Pa, Papa percaya sama aku, kan? Aku nggak mengada-ada, Pa," ucap Albi.

__ADS_1


"Iya, Papa percaya, kok," kata Hilman mengusap kepala Albi. "Udah, sekarang kamu ke kamar dan ganti baju dulu. Kamu pasti lapar setelah seharian belum makan."


Albi mengangguk, lalu bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Sementara itu, Hilman menutup pintu dan menguncinya kembali. Sebelum beranjak ke kamar, ia merenung sejenak di depan pintu, memikirkan tentang keanehan pada Sukma yang terjadi hari ini. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa gadis kecil yang menemuinya di gudang beberapa waktu lalu, memanglah nyata adanya. Sukma benar-benar datang untuk menyelamatkan Albi.


__ADS_2