
Pukul enam lebih seperempat, suasana sekolah belum begitu ramai. Sebelum apel pagi dimulai, Sukma sengaja mencari kelas 7G. Setiap koridor sekolah ditelusurinya, hingga akhirnya menemukan kelasnya Giska di bangunan paling ujung sekolah. Sukma benar-benar dibuat pusing karena letak kelasnya lumayan jauh dari kelas 7A.
Ketika memasuki kelas, Sukma terkejut bukan main. Sosok perempuan berambut gimbal dengan baju merah yang terlihat dalam penerawangannya, berdiri di depan kelas, tepatnya di pojok ruangan. Seringai jahat di bibirnya, membuat Sukma menyadari sesuatu.
Tanpa banyak berpikir, gadis itu segera masuk menemui ketiga siswi yang sedang melihat sesuatu di bawah meja. Pada barisan ketiga dari meja depan, Sukma menggebrak meja Giska, sehingga membuat perempuan yang sedang berkumpul itu terkejut. Giska berdiri dengan dua alis saling bertaut.
"Sukma, kamu ini apa-apaan, sih? Ngagetin aja. Kalau datang itu ngucap salam, bukan gebrak meja," sungut Giska.
"Bilang sama aku! Kalian lagi lihatin batok kelapa buat main Jailangkung, kan?" tanya Sukma dengan mata melotot, menatap Giska, Rena, dan Dini satu per satu.
Menyadari Sukma sudah mengetahui niat mereka, Rena buru-buru memasukkan batok kelapa ke dalam tasnya. Sambil menelan ludah, ia mengedarkan pandangan seolah-olah menghindari pertanyaan teman masa kecil Giska. Sementara itu, Dini dan Giska hanya bisa bergeming, menatap Sukma yang terlihat geram.
Sebelum memulai pembicaraan kembali, Sukma menghela napas sejenak. Saat semua kemarahannya redam, ia berkata, "Coba bicara yang jujur sama aku. Kalian lagi lihatin batok kelapa, kan?"
"E-enggak. Kami cuma lagi lihatin video di youtube," bantah Dini.
Sukma menggeleng pelan, sadar bahwa ketiga siswi itu tak akan berkata jujur. "Oke. Kalau kalian nggak mau ngomong yang sebenarnya ke aku, nggak apa-apa. Aku ke sini bukan mau ngajak berantem, kok. Aku mau memperingatkan kalian, jangan coba-coba main Jailangkung! Akibatnya bisa fatal kalau sampai kalian tidak bisa menyelesaikan permainan itu."
"Iya, kami udah tahu. Terus masalahnya apa kalau aku bawa batok kelapa? Toh aku cuma mau ngasih benda itu ke kakak senior buat bikin permainan di ekskul Pramuka," ucap Rena dengan enteng.
"Hm ... kalau itu alasan kamu, oke." Sukma mengangguk. "Tapi aku peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba main Jailangkung!"
Giska merasa tidak tahan melihat sikap Sukma. Ia beranjak dari bangku, lalu menarik tangan Sukma menuju belakang kelas. Sesekali ia melihat keadaan sekitar kelas, memastikan tak ada yang mendengar percakapan mereka.
"Kamu ini apa-apaan, sih, Sukma? Datang ke sini malah marah-marah nggak jelas," gerutu Giska dengan lirih.
"Kamu yang apa-apaan. Dua hari ke belakang aku nawarin kamu buat bisa lihat hantu, tapi sekarang kamu malah mau main Jailangkung. Kamu ini aneh, ya. Sama hantu takut, tapi mau main Jailangkung. Sebenarnya apa yang kamu pikirin, sih?" balas Sukma bersungut-sungut.
"Sukma, please deh. Aku tuh nggak suka kalau kamu tiba-tiba ikut campur kayak gini. Aku juga pengin ketemu hantu, tapi dengan cara yang aman. Seenggaknya kalau main Jailangkung, aku bisa berkomunikasi sama mereka tanpa perlu lihat wujud aslinya," jelas Giska.
"Aman kata kamu? Coba bandingin antara ngebuka mata batin dengan bantuan aku, atau kamu main Jailangkung sama dua temen kamu tapi permainannya nggak selesai. Lebih aman mana? Aku bisa aja nutup mata batin kamu kapan aja, sedangkan main Jailangkung, kamu bakal--"
"Udah, udah deh, Sukma! Aku nggak mau denger lagi ocehan kamu. Mendingan sekarang kamu balik ke kelas kamu. Aku malu lihat kelakuan kamu di depan teman-teman aku," ujar Giska sembari menunjuk pintu masuk.
__ADS_1
"Oke. Aku bakalan pergi. Tapi kamu ingat baik-baik! Di depan kelas kamu ada perempuan rambutnya gimbal. Dari tadi dia merhatiin kalian. Aku peringatkan sama kamu, jangan coba-coba main Jailangkung!"
"Iya, iya. Aku nggak bakal main Jailangkung. Puas kamu? Udah, sekarang kamu balik lagi ke kelas kamu!" Giska memutar badan Sukma, kemudian mendorongnya ke depan kelas.
Dengan kesal, Sukma mendelik pada Giska, lalu melenggang meninggalkan kelas 7G. Ia tak habis pikir, teman masa kecilnya akan berbuat sekasar itu saat diperingatkan. Dalam hatinya gadis itu berpikir, tidak akan lagi memedulikan Giska sekalipun hal buruk menimpanya suatu saat nanti.
Giska duduk lagi di bangkunya sambil mendengkus sebal. Dini mengusap punggung Giska, sementara Rena menepuk-nepuk tasnya. Mereka mulai penasaran dengan sesuatu yang dibicarakan Giska pada Sukma.
"Tadi kamu ngomong apa aja sama Sukma?" tanya Dini.
"Enggak. Dia cuma memperingatkan aja, sama kayak tadi. Mentang-mentang bisa ngelihat hantu, dia negur aku buat jangan main Jailangkung. Emangnya cuma dia doang yang bisa ngobrol sama makhluk begituan?" ketus Giska mendelik.
"Udahlah, nggak usah didengerin. Kamu masih punya kita yang mau temenan. Tenang aja, kita bisa selesaikan permainannya, kok. Aku jamin deh," bujuk Rena.
"Iya. Aku percaya sama kalian," kata Giska.
Di tempat lain, Sukma berusaha bersikap acuh tak acuh terhadap Giska. Ia tak mau peduli pada teman masa kecilnya itu. Kendati berbagai firasat buruk terus mengguncang hatinya, ia berusaha bersikap biasa saja.
Namun, ketidakpedulian Sukma pada Giska mendadak goyah saat melihat wanita berambut gimbal dan berbaju merah, muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Sukma terdiam sejenak di depan kelasnya, menatap sosok mengerikan yang memiliki kulit putih pucat dan berkuku panjang. Wanita itu mirip Wewe Gombel Farida, tapi memakai baju merah panjang yang menjuntai sampai menjilat jalanan. Seluruh bola matanya berwarna hitam kelam. Saat menyeringai, maka akan terlihat gigi-giginya yang runcing dan tajam.
"Aku makhluk terkuat di wilayah ini. Sudah sepantasnya berada di mana saja aku inginkan, termasuk di dalam tubuh temanmu," kata makhluk mengerikan itu dengan suaranya yang menggeram, serta diiringi tawa melengking dari mulutnya.
"Nggak. Kamu nggak boleh masuk ke dalam badan temen aku! Kalau enggak, aku bakal musnahin kamu sekarang juga," gertak Sukma.
"Memusnahkan aku? Sekarang? Coba lihat di sekitarmu!" kata wanita itu sembari menunjuk ke arah lingkungan sekolah yang didatangi siswa-siswa dan warga sekolah lainnya.
Sukma menoleh sebentar untuk melihat suasana sekolah yang kian ramai. Ketika memalingkan wajah ke arah wanita berbaju merah tadi, sosok yang dilihatnya beberapa saat lalu ternyata sudah menghilang. Dicarinya wanita itu ke dalam kelas, hingga terdengar suara tawanya yang melengking.
"Kamu tidak akan bisa menahanku, Bocah Iblis! Aku akan tetap masuk ke dalam tubuh temanmu," ancam suara yang menggema di dalam kelas.
"Enyahlah kamu dari teman-teman aku!" teriak Sukma sambil melihat langit-langit kelas.
Tak lama kemudian, Sukma sadar bahwa tidak hanya ada dirinya saja di dalam kelas. Beberapa siswa yang semula asyik mengobrol, tiba-tiba memperhatikan tingkah Sukma. Mereka memandang sinis, ada pula yang menganggapnya seperti orang gangguan jiwa.
__ADS_1
"Sukma, kamu kenapa? Skizo-nya kambuh?" tanya salah satu siswa di bangku paling belakang.
"Nggak usah heran, dia emang aneh," kata teman lainnya sambil terkikik-kikik.
Sukma yang terlanjur malu, segera duduk di bangkunya. Ia bersedekap, kemudian menundukkan kepalanya di meja. Sungguh, baru kali ini ia dipergoki orang banyak saat sedang berkomunikasi dengan makhluk gaib. Tak heran jika banyak siswa di kelasnya yang menganggap dirinya aneh.
Kendati demikian, gadis itu tak mau ambil pusing. Sikapnya yang sangat tertutup membuat siswa lain di kelasnya enggan berteman. Terlebih kemampuannya melihat hal gaib, justru membuat teman-teman sekelas menganggapnya aneh.
Sepanjang hari, Sukma cemberut. Tak ada yang pedulu dengan kegundahan hatinya saat ini. Saat jam pulang tiba, setidaknya gadis itu dapat mengubah mimik mukanya di hadapan sang ayah. Malas ia jika harus ditanyai semua hal menyebalkan yang dialaminya hari ini.
Setibanya di rumah, bergegas Sukma menemui Wanara di atap. Dengan kesal ia duduk sambil mengerucutkan bibirnya. Pun dengan Wanara yang tampak sama-sama kesal.
"Hari ini aku kesal, Wanara. Kenapa, sih, dari dulu orang-orang nganggap aku tukang ngibul? Bahkan Bapak dulu suka bilang ke orang lain kalau aku ini ngomongnya ngelantur," gerutu Sukma.
"Sama, aku juga. Hari ini aku kesal ada ibu-ibu mirip Bu Lastri tengoki rumah ini, sambil bawa-bawa dukun pula. Mereka menuduh keluarga kamu sebagai pemuja siluman kera. Padahal aku sudah taubat untuk tidak menjadi makhluk pesugihan lagi," keluh Wanara.
"Hah ... kenapa orang-orang di muka bumi ini nyebelin banget, ya? Makhluk gaib apalagi. Tadi aku ketemu sama perempuan pakai baju merah itu. Seenaknya aja muncul dan ngilang secara tiba-tiba. Tadinya mau aku habisin, eh ... malah aku diketawain sama temen sekelas. Gimana nggak bikin jengkel, coba?"
Wanara terhenyak, lalu menoleh pada Sukma. "Oya, bagaimana dengan teman kamu? Kamu sudah memperingatkannya untuk tidak memainkan Jailangkung, kan?"
"Udah, tapi dianya ngeyel terus. Katanya pengen komunikasi sama hantu kayak aku, tapi nggak mau ngelihat makhluk gaib. Aneh-aneh aja. Padahal menurut aku main Jailangkung lebih berbahaya daripada lihat hantu doang."
"Oh, gitu. Kalau teman kamu keras kepala, sudah biarkan saja. Lagipula, dengan begitu hidup kita bisa tenang seperti sediakala."
"Tapi aku nggak bisa cuekin dia gitu aja, Wanara, apalagi habis ketemu sama perempuan rambut gimbal itu. Aku paling males kalau udah lihat orang kesurupan, susah sadarinnya. Apalagi ini, main Jailangkung. Masih mending kalau sukmanya enggak jauh-jauh dari badan dia, tapi kalau malah tersesat di alam gaib, bisa repot aku."
"Ya sudah, kalau kamu masih mau menolong dia, lakukan saja sebisamu. Aku harap kamu baik-baik saja. Tidak perlu dengarkan perkataan orang lain, nanti juga mereka malu sendiri."
"Aku, sih, maunya begitu."
"Oya, satu lagi. Kalau kamu terlibat lagi dalam pertarungan melawan dedemit, jangan lupa ajak aku. Sudah beberapa hari ini tidak latihan adu ilmu. Aku tidak menemukan teman seperti Sancang lagi di sini."
"Oke, nanti aku ajak kamu berantem lagi."
__ADS_1
Sukma beranjak dari atap rumah, lalu turun menuju dapur. Ia akan membawakan pisang untuk Wanara. Sekarang sudah saatnya kera itu makan siang.