
"M-mau apa kamu ke sini?" tanya Ki Purnomo terbata-bata.
"Udah aku bilang, aku mau ngambil Wanara, monyet kesayangan aku," jawab Sukma bersungut-sungut. "Cepetan bilang sama aku, di mana botol kecil berisi monyet aku itu!"
"Botol kecil? Botol kecil apa? Aku nggak punya botol kecil. Lagi pula, mana ada monyet bisa masuk ke dalam botol," bantah Ki Purnomo, melipat kedua tangannya sembari terkekeh.
"Pokoknya, aku mau Wanara kembali!" desak Sukma, lalu berusaha menyingkirkan Ki Purnomo dari palang pintu.
Melihat sikap lancang putrinya, Bu Inah segera menarik lengan Sukma. Ia memelototinya, sampai putri bungsunya itu merengek lagi. Ki Purnomo menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya, merasa senang bahwa ibu dari anak yang ditakutinya itu mempermudah segalanya.
"Sebaiknya Ibu bawa dia pulang. Ajari dia sopan santun, agar tidak masuk ke rumahku seenaknya," kata Ki Kusumo geram.
"Iya, saya akan mengajak putri saya untuk pulang," ucap Bu Inah menarik Sukma.
"Dedek nggak mau, Bu! Dedek mau Wanara," rengek Sukma dengan wajah memelas.
Bu Inah tak menggubris permohonan Sukma. Terlanjur malu, akhirnya wanita paruh baya itu membawa Sukma menjauh dari rumah Ki Purnomo. Pria berambut panjang itu pun senang dan masuk kembali ke rumahnya.
Kendati demikian, Sukma tidak tinggal diam. Ketika selangkah lagi keluar dari halaman rumah Ki Purnomo, kekuatannya bertambah sepuluh kali lipat. Bu Inah kewalahan saat Sukma berhasil melepaskan diri dari genggamannya. Secepatnadis kecil itu berlari ke teras rumah Ki Purnomo. Bu Inah menyusulnya dari belakang, berusaha menahan Sukma untuk kesekian kalinya.
Tanpa permisi, Sukma menendang pintu rumah Ki Purnomo hingga terbuka. Pria itu terkejut melihat seorang gadis kecil mampu mendobrak pintu rumahnya dengan satu tendangan saja. Hatinya kalut, Ki Purnomo berlari ke belakang sambil memasukkan botol kecil ke saku celananya.
Sukma tak mau tinggal diam. Ia tetap bersikukuh ingin mendapatkan Wanara kembali. Tak tega hatinya jika sampai kera kesayangannya menjadi makhluk pesugihan lagi. Maka, Sukma mengejar Ki Purnomo yang keluar lewat pintu belakang. Kecepatan berlarinya semakin tinggi, sampai-sampai Bu Inah kewalahan mendapatkan si bungsu.
Ki Purnomo melompati benteng belakang rumahnya, lalu disusul oleh Sukma dari belakang. Pria berambut panjang itu berlari ketakutan, memasuki gang-gang sempit di belakangnya. Tangannya masih menggenggam erat botol kecil di dalam saku celananya.
Sementara itu, Sukma yang tak mau kehilangan Wanara, berusaha mencari jalan pintas untuk menjebak Ki Purnomo. Ia mengubah arah berlarinya, mencari jalan pintas yang akan dilewati Ki Purnomo selanjutnya. Gang demi gang dilewatinya, sampai akhirnya, Sukma melihat Ki Purnomo berlari ke arahnya.
Kebetulan sekali, Sukma menemukan sebuah tongkat besi panjang yang tergeletak di salah satu teras rumah warga. Diambilnya tongkat besi itu, lalu berjalan perlahan mencegat Ki Purnomo. Saat pria itu mendekat ke arahnya, Sukma tanpa segan-segan menebaskan tongkat besi pada Ki Purnomo hingga terjengkang. Gadis kecil itu berdiri di sebelah Ki Purnomo, lalu menginjak dadanya. Pria itu semakin ketakutan saat melihat wujud Sukma yang sebenarnya.
"Tolooong! Siapa saja, tolong aku!" teriak Ki Purnomo.
Suara Ki Kusumo terdengar samar saat Bu Inah kelelahan menyusul putrinya. Wanita paruh baya itu segera berlari menuju sumber suara itu berasal. Setibanya di sana, tampak satu per satu orang berdatangan, menyaksikan seorang pria sedang kewalahan melepaskan diri dari injakan kaki Sukma. Mereka terkesima menyaksikan kekuatan luar biasa yang ditunjukkan Sukma pada Ki Purnomo.
"Cepat kembalikan Wanara sekarang juga!" bentak Sukma dengan nada tinggi.
Ki Purnomo yang sudah kadung takut dengan melihat amarah dari wajah Sukma, memberikan botol kecil itu. Akan tetapi, saat gadis kecil itu hendak mengambilnya, ia justru melempar benda yang diinginkan Sukma. Putri bungsu Bu Inah itu semakin geram. Baginya, membunuh Ki Purnomo lebih penting daripada mengambil botol itu. Ia tak suka jika ada orang yang mempermainkannya dikala amarah menjalar sampai ubun-ubun.
Botol kecil itu menggelinding ke kaki Bu Inah. Beruntung sekali, wanita paruh baya itu memungut botol yang dilempar Ki Purnomo. Dengan begitu, ia bisa membujuk Sukma agar tak melakukan hal yang sama seperti di rumah Hilman.
Sukma menekan kakinya di dada Ki Purnomo. Pria itu menjerit kesakitan, hingga membuat orang-orang yang berkerumun terperangah, bahkan tak sedikit di antara mereka yang merekam momen mengerikan itu dengan ponsel. Ki Purnomo memegangi kaki Sukma agar lepas dari dadanya. Namun, semakin keras ia berusaha, semakin besar juga kekuatan Sukma menekan dadanya.
Melihat amarah Sukma yang semakin menjadi, Bu Inah segera menghampiri mereka. Dipeganginya tangan si bungsu erat-erat, sambil mendekatkan mulut ke telinganya. Bu Inah benar-benar belajar dari pengalamannya terdahulu, bahwa berteriak saja saat putrinya hendak menghabisi nyawa seseorang, tidaklah cukup.
"Dek, Dedek. Sudah, jangan habisi dia. Dia berhak hidup dan mendapatkan kesempatan kedua. Maafkanlah dia, Dek," bisik Bu Inah ke telinga Sukma, ucapannya berasal dari hatinya yang terdalam.
Sukma tak menggubrisnya. Suara sang ibu terdengar begitu jauh saat amarah membakar seluruh nuraninya. Ia justru menginjak Ki Purnomo semakin kuat.
"Dedek, maafkan dia. Kasih dia kesempatan untuk hidup. Wanara sudah ada bersama kita. Wanara sudah ada bersama kita," bisik Bu Inah dari hati yang terdalam.
Suara Bu Inah terdengar sangat dekat oleh Sukma, terutama saat menyebutkan nama Wanara. Amarah gadis itu perlahan-lahan mereda, hingga kakinya lepas dari dada Ki Purnomo begitu saja. Pria yang sejak tadi kesakitan itu, terbatuk-batuk seraya mengatur napas.
Sukma terhenyak, kemudian menatap ibunya dengan raut semringah. "Wanara udah ada sama kita, Bu? Hore!" katanya melompat kegirangan.
"Sekarang kita pulang, ya. Bapak pasti lagi nungguin di rumah. Ibu juga harus masak makan siang buat kalian," bujuk Bu Inah.
"Iya. Ayo, kita pulang, Bu!" ajak Sukma memegang tangannya. Raut wajahnya kembali ceria seperti tak ada kejadian apa pun.
Sebelum meninggalkan lokasi kejadian, Bu Inah menoleh sejenak pada Ki Purnomo yang tak berdaya untuk terbangun. Mulutnya mengatakan maaf pada pria itu, tapi tidak digubris. Ki Purnomo masih meringis kesakitan sembari memegangi dadanya. Sekujur tubuhnya lemas akibat serangan tenaga dalam yang dikerahkan oleh Sukma.
__ADS_1
Bu Inah melanjutkan perjalanan pulang bersama Sukma. Gadis kecil itu bersenandung sambil berteriak 'hore' dan melompat-lompat riang. Bu Inah berusaha mengendalikan emosi Sukma agar berhati-hati saat menyeberang jalan. Setelah berhasil menyeberang, gadis kecil itu menatap ibunya dengan mata berbinar-binar.
"Bu, mana botolnya? Dedek mau keluarin Wanara sekarang juga."
Bu Inah tersenyum, lalu memberikan botol kecil yang ditemukannya pada Sukma. "Ini. Tadi botolnya menggelinding ke arah Ibu saat bapak-bapak itu melemparnya.
Sukma tampak tidak sabar mengambil botol itu. Namun, ketika gadis kecil itu melihat isi botol, raut wajahnya berubah muram. Bu Inah yang memperhatikan putrinya, merasa heran melihat ekspresi di wajah Sukma.
"Ada apa, Dek?" tanya Bu Inah mengernyitkan kening.
"Botol ini ... botol ini kosong, Bu," jawab Sukma sembari menunjukkan botol pada ibunya.
Bu Inah mengambil botol kecil dari tangan Sukma, lalu meihat isinya. "Loh, emang dari tadi botolnya kosong, Dek."
"Tapi Dedek tahu betul, tadi botolnya berisi Wanara. Dia minta tolong sama Dedek sambil gedor-gedor kacanya," tegas Sukma bersikukuh meyakinkan sang ibu.
Kecemasan tergambar jelas di wajah Sukma. Bu Inah yang kesulitan memahami pemikiran putri bungsunya, hanya bisa menghela napas. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang harus dilakukan selanjutnya agar Sukma benar-benar tenang. Masih terbayang di pelupuk matanya, betapa mengerikannya sikap Sukma saat dilalap api amarah.
"Begini, sebaiknya kita pulang aja. Besok kita cari bareng-bareng lagi, ya," bujuk Bu Inah.
"Tapi Dedek maunya sekarang," rajuk Sukma.
"Sekarang Ibu mau masak dulu buat makan siang Bapak, Dedek, sama Teh Atikah. Belum lagi Dedek harus ganti baju. Lihat! Baju Dedek udah kotor begitu gara-gara ngejar bapak yang nyulik Wanara."
"Aduh!" Sukma melihat bajunya yang penuh dengan debu. "Terus, gimana dong?"
"Mendingan kita pulang, terus ganti baju. Habis itu, nanti siang kita makan bareng-bareng, ya."
"Tapi kalau kita pulang, nanti Wanara jadi jahat lagi."
"Tenang saja, dia nggak akan jahat, kok. Tadi Dedek udah berantem sama penculiknya, jadi dia nggak akan berani lukain hewan peliharaan Dedek."
"Iya. Sebaiknya kita pulang. Kasihan Bapak, sudah nungguin kita di rumah."
Sukma mengangguk lesu, lalu dituntun ibunya pulang ke rumah kontrakan. Sesekali, ia menengok ke belakang, membayangkan nasib Wanara di rumah Ki Purnomo. Bu Inah yang memperhatikan putrinya perlahan tenang, akhirnya bisa bernapas lega.
Sementara itu, Wanara yang masih terkurung di dalam botol, terus saja berteriak minta tolong. Ia ditempatkan di sebuah ruangan khusus oleh Ki Purnomo, saat Sukma hendak dibawa pulang oleh ibunya. Ruangan itu sudah diberi mantra sebelumnya, sehingga Sukma tak bisa merasakan keberadaan Wanara sama sekali.
Wanara hanya bisa tertunduk lesu, sembari duduk menyesali perbuatannya. Jika saja ia tidak pergi setelah Sukma menyatakan kebencian padanya, maka semuanya akan baik-baik saja. Melihat temannya dari jauh memang dapat mengobati rasa rindu. Akan tetapi, risiko ditangkap oleh dukun lain pun lebih besar. Wanara lupa pada sisi terburuk dari meninggalkan Sukma secara tiba-tiba.
Di sebuah puskesmas dekat permukiman warga, Ki Purnomo sedang tergolek lemah sembari mengerang kesakitan. Sesekali ia memegangi dadanya, merasakan beratnya sebuah injakan yang dilakukan Sukma padanya. Akan tetapi, di sisi lain Ki Purnomo merasa lega, makhluk yang dicari gadis kecil itu sudah diamankan.
Di tengah rasa sakitnya, seorang pria tua yang usianya sebaya dengan Mbah Suro, datang menjenguk Ki Purnomo. Namanya Mbah Kasiman, dukun langganan Pak Burhan semasa hidup dulu. Penampilannya memang sederhana dan seperti orang biasa pada umumnya. Kendati demikian, kesaktiannya memanggil iblis tidak diragukan lagi.
Pria tua itu duduk di samping Ki Purnomo, lalu mengusap dada muridya sambil komat-kamit baca mantra.
"Mbah Kasiman, syukurlah Mbah datang," ucap Ki Purnomo terengah-engah.
Selesai mengobati tenaga dalam Ki Purnomo, Mbak Kasiman berkata, "Saya sudah tahu, kalau kamu akan kena masalah gara-gara anak iblis itu."
"Mbah, aku sarankan, cepat mandikan cucu Mbah itu dengan kembang tujuh rupa dan kemenyan, agar anak iblis yang menyerang aku bisa cepat dimusnahkan. Bagaimana kalau suatu saat nanti dia menyerang Mbah juga?"
"Tidak. Saya tidak akan melakukan ritual itu sebelum waktunya tiba. Bisa-bisa kekuatan yang saya berikan pada cucu saya malah berbalik menyerangnya. Saya tidak mau itu sampai terjadi. Lagi pula, cucu saya masih kecil, belum tahu apa-apa."
"Lalu, aku harus bagaimana, Mbah? Apa aku harus diam saja di sini sampai anak itu datang menghabisiku?"
"Sebaiknya, kamu serahkan saja hewan peliharaannya. Dia tidak akan berhenti menyerang kamu, sebelum monyetnya tidak kunjung kamu berikan."
"Tapi, aku butuh hewan pesugihan itu agar bisa membantu banyak orang."
__ADS_1
"Tak ada gunanya kamu menahan monyet anak itu. Yang ada kamu mati duluan."
"Tapi, Mbah--"
"Sudah, turuti saja perintah saya. Sejak kapan kamu membantah ucapan gurumu?"
Ki Purnomo terdiam, sedangkan Mbah Kasiman pergi meninggalkan ruangan muridnya itu tanpa berpamitan. Sikapnya yang tenang membuat orang-orang tak akan mengira, bahwa ia merupakan dukun istimewa dengan ilmu yang tinggi. Ki Purnomo mencoba mengatur napasnya dengan baik, mengingat ucapan sang guru memang harus dilaksanakan.
...****************...
"Fani, kita main ke tempat yang jauh, yuk!" ajak Sukma pada teman sekolahnya, yang rumahnya tidak begitu jauh dari kontrakan Haji Gufron.
"Ke mana? Ke Korea?" tanya Fani mengerutkan dahi.
"Bukan ke Korea, ih. Itu mah kejauhan."
"Terus, ke mana? Ke Bandung?"
"Aduh! Itu mah kalau aku pengin ketemu Aa Albi dong, main ke Bandung."
"Aa Albi? Siapa dia?"
"Dia anaknya Om Hilman."
"Om Hilman? Siapa Om Hilman?"
"Ah, kamu nggak akan tahu," jawab Sukma mendengus sebal. "Sudah, sudah. Pokoknya aku mau ajak main kamu ke tempat yang jauh. Ke rumahnya bapak-bapak gondrong yang nyulik hewan peliharaan aku."
"Rumahnya bapak-bapak gondrong?! Kamu pengin ketemu sama penculik? Nanti kamu dijahatin, loh, kayak di TV-TV. Terus, kamu nggak bisa pulang deh."
"Dia nggak akan jahati aku, Fani. Yang ada aku injak lagi dadanya sampai nggak bisa bangun."
"Oke. Tapi, kamu tahu rumahnya nggak?"
"Aku tahu. Tadi sepulang sekolah dianterin sama Ibu buat ketemu bapak-bapak itu."
"Nyeberang jalan, nggak?"
"Iya."
"Aduh, kalau itu mah aku takut. Kita butuh bantuan orang dewasa buat bisa sampai ke rumah bapak-bapak itu."
"Terus, gimana dong?"
"Kita minta antar aja ke Pak Beni."
"Enggak, ah. Dia jahat, suka bawa dedemit melulu ke kontrakan."
"Terus, kita minta bantuan siapa?"
Sukma mendongak ke atas, memikirkan seseorang yang dapat membantunya. Beberapa orang dewasa dipikirkannya, mengira-ngira siapa yang bisa membantunya membawa Wanara kembali. Akhirnya, setelah cukup lama berpikir, ia menemukan satu orang yang tepat untuk membantunya.
"Fani, ayo!"
"Ke mana? Kita mau minta tolong sama siapa?"
"Aa Fadil. Dia baik, pernah nolongin aku di stasiun. Ayo, cepat!"
Maka bergegaslah dua bocah cilik itu meninggalkan kediaman Fani. Dari dalam rumah ibunya Fani berteriak menanyakan ke mana mereka akan pergi. Sukma menyahutnya dari jauh, dan mengatakan akan pergi ke rumah Haji Gufron.
__ADS_1