SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Penglaris


__ADS_3

Hari berganti, mentari kian meninggi. Ini saatnya Pak Risman mulai merintis karier sebagai penjual pecel lele. Sebelum menjajakan makanan jualannya, ia berguru dulu pada Haji Gufron, sang Master Pecel Lele yang berhasil menciptakan banyak cabang di berbagai daerah, terutama Padalarang.


Sejak pukul enam pagi, Pak Risman sudah berada di kediaman Haji Gufron untuk belajar membuat pecel lele yang enak. Dengan sabar, Haji Gufron mengajari Pak Risman. Dari mulai mengurus lele agar tidak terasa hambar, sampai penyajiannya agar dapat dinikmati pelanggan. Memang, awalnya Pak Risman cukup gugup untuk memulai pengolahannya. Namun, kecerdasan Pak Risman dan kemauannya yang kuat, membuat proses pengolahan pecel lele terasa mudah.


Haji Gufron memuji kecepatan Pak Risman dalam belajar membuat kuliner jalanan ini. Ia yakin, Pak Risman akan menciptakan kedainya ramai dalam satu malam. Akan tetapi, ada satu kekurangan Pak Risman dalam membuat pecel lele, yakni sambal terasinya kadang-kadang terlalu manis. Pak Risman mendengarkan masukan Haji Gufron dengan saksama, sampai bumbunya benar-benar mantap.


Sementara Pak Risman belajar membuat pecel lele, Sukma diantar sang ibu masuk ke TK baru, yang letaknya cukup dekat dengan kontrakan. Butuh waktu untuk si bungsu beradaptasi dengan lingkungan baru. Pertama kali datang ke kelas, ia sulit untuk lepas dari lengan ibunya. Namun, perlahan-lahan ia pun mencoba berbaur dengan teman yang lain.


Seperti di sekolah sebelumnya, Sukma memilih bangku kosong paling pojok. Ia duduk di dekat jendela agar bisa melihat ibunya sesekali. Meski Bu Inah berulang kali mengatakan tak akan meninggalkannya sendirian seperti waktu di Bandung, Sukma masih enggan percaya. Menurutnya, hari pertama sebagai murid baru merupakan hal yang sulit. Sama sulitnya dengan menulis angka satu untuk pertama kalinya.


Di bangku yang bersebelahan dengan Sukma, beberapa anak berkumpul. Mereka sedang membicarakan hewan peliharaan. Sukma tertarik untuk ikut mengobrol, lalu tiba-tiba berdiri di antara anak-anak perempuan itu.


"Kamu tahu Monika? Dia kucing persia kesayangan aku. Harganya mahal. Tapi sayang, kemarin kucing aku mati," kata salah satu anak bernama Sere.


"Wah, sayang banget dong. Terus, kamu mau beli kucing lagi, gitu?" tanya temannya, namanya Kezia.


"Iya. Nanti kalau Papa aku pulang dari luar negeri, katanya mau beliin kucing yang lebih bagus lagi," jawab Sere.


"Keluarga kamu banyak uang, ya, Sere," puji Ami.


Sukma yang berdiri di dekat mereka, tiba-tiba ikut menimbrung. "Eh, eh, aku juga punya hewan peliharaan. Namanya Wanara."


"Kamu siapa?" tanya Ami.


"Nama aku Sukma, aku baru masuk sekolah hari ini," jawab Sukma dengan polos.


"Oh, Sukma. Kenalin, nama aku Sere," kata Sere menjulurkan tangan.


Sukma menyalami tangan Sere sambil tersenyum simpul. Kemudian, Kezia dan Ami ikut menyalami Sukma. Mereka memang tak terlihat begitu ramah, tapi mau mengenal teman baru.


"Sukma, hewan peliharaan kamu itu apa? Kucing, guguk, atau hamster?" tanya Kezia.


"Aku pelihara monyet. Gedeee banget," jawab Sukma sambil menggerakkan tangannya ke atas, seperti menggambarkan sosok Wanara yang sebenarnya.


"Monyet? Kamu asalnya dari mana? Dari hutan?" tanya Sere, lalu diikuti tawa kedua temannya.


Sukma menggeleng. "Bukan. Aku asalnya tinggal di dekat rumahnya Om Hilman."


"Om Hilman? Siapa dia?" tanya Ami mengernyitkan kening.


"Dia temennya bapak aku. Bapak sama ibu aku kerja di rumahnya Om Hilman," jelas Sukma.


"Oh, jadi kamu anak pembantu?" tanya Kezia dengan tatapan sinis.


"Dulu iya, sekarang enggak. Bapak pindah ke sini buat jualan pecel lele," kata Sukma.


Ketiga anak perempuan itu mengangguk.


"Oya, Sukma. Dari mana kamu dapat monyet itu?" tanya Ami.


"Dari Tante Farah."


"Dikasih?" tanya Sere.


"Enggak. Monyetnya sendiri yang mau ikut sama aku. Tante Farah sama Om Hilman nggak tahu kalau monyet itu ada sama mereka. Dulu Wanara nakal, suka makanin daging orang. Tapi setelah aku pelihara, dia jadi baik. Suka makan pisang juga."


Mendengar penjelasan Sukma, ketiga anak perempuan itu merasa heran. Kezia dan Ami merasa penasaran, lalu mulai bertanya lagi.


"Sukma, emangnya monyet kayak gimana peliharaan kamu itu? Kok Om Hilman dan Tante Farah nggak tahu kalau ada monyet di rumah mereka?" tanya Kezia mengerutkan kening.


Sukma mengedarkan pandangan, mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Kezia. Menurut pengalamannya bermain bersama Wanara, tak ada yang bisa melihatnya. Bahkan, kakaknya sendiri harus ditutup dulu matanya agar bisa melihat Wanara.

__ADS_1


"Ayo, jawab, Sukma! Jangan-jangan kamu cuma ngibul aja punya binatang peliharaan," desak Ami.


"Ih, enggak kok. Aku nggak ngibul. Dia beneran ada, bisa ngomong juga kalau pengin makan. Cuma, kalau kalian pengin lihat, harus ditutup dulu matanya," kata Sukma.


"Mana ada hewan bisa ngomong," bantah Sere. "Aku udah sering beli hewan peliharaan, mahal-mahal juga. Nggak ada dari mereka yang bisa ngomong."


"Sumpah! Hewan peliharaan aku itu bisa ngomong! Kalian nggak percaya?" ucap Sukma menegaskan.


Ketiga anak perempuan itu menggeleng kepala. Sukma merasa gemas ingin membuktikannya pada ketiga teman barunya. Ia pun berinisiatif untuk melakukan hal yang sama seperti pada Atikah.


"Ya udah, sekarang kalian tutup mata," ujar Sukma.


"Loh, kenapa harus tutup mata?" tanya Kezia.


"Kalian pengin lihat hewan peliharaan aku, kan?" Sukma balik bertanya.


"Kalau ada di sini, ngapain tutup mata?" sanggah Ami.


"Soalnya, kalian bakal ngelihat hewan peliharaan aku kalau kalian tutup mata dulu," jawab Sukma meyakinkan.


Sejenak, ketiga gadis kecil itu saling tatap, kemudian mengangguk. Mereka mulai menutup mata. Sukma yang gigih ingin menunjukkan hewan peliharaannya, mulai meletakkan tangan pada kelopak mata temannya satu per satu seraya merapalkan mantra. Selesai merapalkan mantra dan membuka mata batin ketiganya, Sukma melambaikan tangan pada Wanara yang berdiri di dekat pintu masuk kelas. Kera itu menuruti Sukma, lalu berdiri di sampingnya.


"Sudah selesai, sekarang kalian boleh buka mata," ujar Sukma memberi arahan.


Ketiga gadis kecil itu perlahan membuka mata. Saat penglihatannya makin jelas, tampak sesosok kera berbadan besar sedang menyengir ke arah mereka. Sontak, ketiga anak perempuan itu menjerit ketakutan melihat seekor kera berbadan besar sedang berdiri di samping Sukma. Kezia dan Ami yang panik, langsung berlari ke sudut kelas yang lain. Sedangkan Sere tampak pucat dan gemetar melihat hewan peliharaan Sukma.


Suasana kelas menjadi gaduh akibat perbuatan Sukma. Kezia dan Ami yang menangis di pojokan, mengatakan pada siswa lain bahwa Sukma membawa hewan peliharaan ke kelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah teman barunya itu. Beberapa siswa tidak memercayainya, sedangkan yang lainnya justru penasaran. Sere yang masih duduk gemetar, seketika pingsan tatkala Wanara menyapanya.


Melihat kegaduhan di kelas anak-anak asuhnya, Bu Maryam segera menenangkan mereka. Kezia dan Ami yang masih menangis histeris di pojok kelas, dihampiri oleh guru berhijab itu. Dengan lemah lembut, Bu Maryam mulai bertanya pada keduanya tentang apa yang terjadi sehingga membuat mereka menangis histetis.


"I-ibu ... m-murid baru itu bawa monyet ke kelas," kata Kezia dengan suara gemetar.


"Iya, Bu. Tuh, lihat! Monyetnya lagi ngelihatin Ibu di sebelah Sukma," tegas Ami sambil menunjuk ke arah Sukma.


Kendati tak begitu percaya pada perkataan kedua muridnya, Bu Maryam tetap menghampiri Sukma yang sedang berdiri di dekat bangku Sere sambil berkedip-kedip. Ia berusaha untuk bersikap seramah mungkin pada murid baru yang masih beradaptasi itu. Dengan senyum simpul, Bu Maryam menyapa Sukma.


"Hai, Gadis Cantik. Siapa nama kamu?" tanya Bu Maryam.


"Sukma Cakrawati, Bu. Panggil aja aku Sukma," jawab Sukma sambil tersenyum lebar.


"Sukma, apa kamu tahu, kalau di sini nggak boleh bawa binatang peliharaan?"


Sukma menggeleng.


"Nah, mulai sekarang, kamu nggak boleh bawa hewan peliharaan, apalagi sampai dibawa ke dalam kelas."


"Oh, gitu ya, Bu." Kedua mata Sukma membesar. "Ya sudah, aku suruh Wanara nunggu di luar aja."


Sukma menoleh pada Wanara dan menyuruhnya keluar dari kelas. Kera itu menurutinya, lalu bergegas pergi keluar. Bu Maryam yang melihat tingkah Sukma, semakin merasa heran. Ia berpikir, hewan peliharaan Sukma bukanlah sekadar imajinasi belaka, melainkan benar adanya. Wanita berhijab itu memercayai, bahwa beberapa anak dikaruniai kelebihan melihat wujud tak kasat mata. Mungkin Sukma salah satunya yang diberi anugerah itu, pikirnya.


"Bu, hewan peliharaan aku udah keluar," kata Sukma.


"Baguslah. Lain kali, kalau ke sekolah jangan bawa hewan, ya," nasihat Bu Maryam.


"Baik, Bu."


Sebelum memulai pelajaran, Bu Maryam bersama beberapa orang tua siswa lain, membawa Sere ke ruang UKS. Gadis kecil itu hari ini belum bisa ikut kegiatan belajar-mengajar karena pingsan, sementara Kezia dan Ami ingin pulang saking ketakutannya. Sukma hanya melihat mereka dengan heran.


"Katanya pengin lihat hewan peliharaan aku, tapi malah pada nangis. Huh, dasar payah!" gumam Sukma, lalu duduk di bangkunya paling pojok.


...****************...

__ADS_1


Menjelang Maghrib, Pak Risman mulai mengemas barang-barang dagangannya. Dengan dibantu oleh Bu Inah, Pak Risman membawa barang dagangannya ke tempat jualan yang letaknya tak terlalu jauh dari kontrakan. Atikah dan Sukma mengikuti dari belakang. Mereka ingin tahu, tempat ayahnya berdagang.


Ternyata, Haji Gufron sudah menyediakan gerobak jualan untuk Pak Risman di pinggir jalan raya. Tak lupa, ia juga memasang spanduk pecel lele dan bangku panjang untuk pelanggan. Pak Risman merasa sungkan pada Haji Gufron, yang sudah menyiapkan segala kebutuhan berjualan untuk kelangsungan hidupnya. Ia banyak-banyak berterima kasih atas kebaikan Haji Gufron dalam merintis karier sebagai penjual pecel lele.


"Nggak usah sungkan. Anggap aja ini langkah awal Pak Risman dalam berdagang," ucap Haji Gufron diselingi tawa kecil.


"Aduh, Pak. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih. Saya juga minta maaf sudah merepotkan Pak Haji."


"Sudahlah, Pak Risman, nggak usah dipikirkan. Yang penting, sekarang Bapak jualan dengan tenang. Masalah setoran, nanti saja kita rundingkan kembali kalau sudah ada pemasukan."


"Baik, Pak Haji."


"Kalau begitu, saya pulang dulu. Semoga dagangannya laku, ya."


Pak Risman mengangguk, kemudian menaruh beberapa barang dagangannya di gerobak. Bu Inah membantu membereskan lapak dagangan sampai benar-benar rapi. Sembari menunggu pelanggan, Pak Risman menggoreng beberapa lele. Bu Inah membersihkan meja dan menyapu daun kering di tanah, berharap dapat membuat pelanggan nyaman makan di sana.


Sementara kedua orang tuanya sibuk menyiapkan dagangan, Sukma dan Atikah bermain di trotoar. Kelap-kelip lampu kendaraan menjadi pemandangan bagi Sukma. Selama tinggal di paviliun, ia belum pernah melihat pemandangan malam seindah ini. Saking bahagianya, ia berlari ke sana kemari merasakan angin malam yang kian menusuk.


Atikah yang menemani Sukma bermain, merasa kewalahan dengan kelincahan adiknya. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan sang adik selama kedua orang tuanya sibuk. Ke mana pun Sukma berlari, ia terus saja mengikutinya.


"Dedek, berhenti lari-larinya! Jangan jauh-jauh!" seru Atikah.


Sukma tidak menghiraukan kakaknya. Ia justru terus mengikuti Wanara yang berlari sambil melompat-lompat kegirangan. Kera itu tampak senang setelah tak menjadi rekan Mbah Suro lagi. Setidaknya dengan bersama Sukma, ia tak perlu bertugas menjahili manusia, tapi tetap mendapatkan makanan setiap harinya.


Ketika hendak melewati angkringan pinggir jalan lain, yang merupakan gerobak penjual bakso, langkah Sukma terhenti sejenak. Dari kejauhan, ia melihat seorang pedagang sedang memasukkan kain putih ke dalam kuali. Tak lama kemudian, muncul makhluk berbalut kain putih duduk di bangku pelanggan.


Pelan-pelan, Sukma berjalan mendekati gerobak itu. Wanara yang sedang asyik berlari, segera ditahan oleh gadis kecil itu. Ekornya ditarik sekuat mungkin hingga kera itu terdiam.


"Ada apa, Sukma? Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?" tanya Wanara menatap Sukma dengan kening mengernyit.


"Wanara, kamu lihat itu, nggak?" bisik Sukma, matanya masih mengarah pada gerobak penjual bakso itu.


Wanara mengalihkan pandangan pada penjual gerobak itu, lalu menyengir. "Itu cuma tukang bakso yang sedang mengaduk kuali," katanya.


"Bukan! Bukan itu!" tegas Sukma merasa gemas.


"Lalu, yang mana? Si pocong?"


Sukma menoleh pada Wanara. "Pocong?"


"Iya, itu pocong," tandas Wanara.


"Pocong? Kenapa pocong ada di bangku tukang bakso? Bukannya dia suka ada di kuburan, ya? Ah, jangan-jangan dia mau ngeganggu tukang dagang itu, kayak kamu menggerogoti badan Tante Farah."


"Bukan. Enak saja! Dia bukan mau mengganggu, tapi sebagai penglaris," jelas Wanara.


"Penglaris? Apaan itu? Aku baru dengar."


"Itu makhluk yang bisa bikin dagangan jadi laris. Jadi, kalau ada makhluk itu sedang duduk di sana, nanti makanan pembeli bisa jadi enak."


"Oh." Sukma mengangguk. "Berarti dia bisa ngubah makanan jadi enak dong kayak Tante Farida."


"Tante Farida? Siapa dia?" tanya Wanara menggaruk-garuk kepalanya.


"Dia kakaknya Tante Arini," jawab Sukma. "Dulu aku pernah lihat dia ngubah belatung sama daun kering jadi nasi sama capcay."


"Kalau itu beda lagi, Sukma."


"Terus, kayak gimana?"


"Kamu lihat saja nanti." Wanara kemudian memalingkan muka ke lapak penjual bakso itu. "Tuh lihat! Ada yang mau beli! Kita lihat saja, bagaimana pocong itu membuat makanannya jadi enak."

__ADS_1


Sukma memperhatikan penjual bakso itu melayani pelanggan dengan saksama. Atikah yang sejak tadi mengejarnya, mendadak berhenti melihat Sukma terdiam di dekat penjual bakso.


__ADS_2