SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kala Ramadhan Tiba


__ADS_3

Hari pertama puasa, Hilman merasa bosan, terlebih Ramadhan kali ini bertepatan dengan hari libur. Hilman punya ide, untuk mengajak anak dan istrinya berkunjung ke kontrakan Pak Risman, sembari mencari petunjuk tentang keberadaan bidan yang membuang bayi kakak iparnya. Ia yakin, bahwa putri Bu Ratmi masih hidup hingga saat ini.


"Aduh, ngapain, sih, Pa, berkunjung ke rumah mereka segala? Rumah mereka nggak lebih luas dari rumah kita. Lagian, bukan orang kaya yang harus nyamperin orang miskin. Harusnya mereka yang datang ke sini buat minta sedekah," kata Farah dengan malas.


"Ini bukan tentang si miskin dan si kaya, tapi hubungan antar manusia. Walaupun Pak Risman dulu pernah kerja di sini, setidaknya aku sudah menganggap keluarganya sebagai kekuarga aku juga," ucap Hilman dengan santai.


"Apa? Jadi, Papa nganggap mereka keluarga kita juga? Astaga! Papa ini mulai oleng, ya? Sejak kapan orang miskin jadi bagian dari keluarga kita?" tanya Farah bernada kesal.


"Sejak Om Hamid menikah dengan Tante Arini. Emangnya kamu nggak tahu, kalau Arini bukan berasal dari keluarga berada?"


"Ya ... itu lain lagi ceritanya. Tante Arini, kan, yatim piatu."


"Alah, yatim piatu dari mana? Dia itu emang nggak mau ngakuin orang tuanya sendiri di depan keluarga suaminya. Aku tahu segalanya tentang dia. Sebenarnya, dia waktu nikah sama Om Hamid itu sengaja nggak ngajak keluarganya karena malu dituduh anak tukang tenung. Kamu masih ingat, kan, sepupu Tante Arini yang dukun itu?"


"Hm, benar juga. Tapi aku tetep nggak mau ketemu sama keluarga Pak Risman. Yang bener aja majikan nyamperin mantan pembantunya?"


"Kalau nggak mau, ya sudah. Aku mau ngajak Albi aja. Dia pasti seneng ketemu lagi sama Atikah."


"Apa?! Papa jangan bawa-bawa Albi segala dong. Dia nanti jadi ikutan nakal kayak anak mereka."


"Nakal? Nakal apanya? Ah, kamu ini kalau ngomong suka suuzon mulu. Lagian, mereka cuma main sehari aja, nggak bakal kenapa-kenapa."


"Tapi, Pa ...."


"Udah, ah. Sekarang aku sama Albi berangkat dulu. Kasihan anak kita, bosen di rumah terus seharian."


Hilman melenggang menuju kamar Albi. Farah hanya bisa mendengus sebal dengan perilaku suaminya. Kendati sudah ditolong oleh Sukma, hatinya tidaklah berubah. Ia tetap merasa lebih tinggi dari pekerja-pekerja di rumahnya.


Setelah menjemput Albi dari kamar, Hilman dan putra semata wayangnya itu bergegas menuju mobil. Keduanya berpamitan pada Farah, meski wanita itu tidak suka melihat mereka pergi. Dengan santai, mereka masuk ke mobil, lalu pergi meninggalkan kediamannya yang megah.


Sementara Hilman dan Albi dalam perjalanan, Sukma mengajak Atikah bermain ke luar area kontrakan. Ia sangat ingin bermain gelembung sabun. Atikah yang merasa lesu, terpaksa mengikuti adiknya ke luar gerbang.


"Teteh, beli gelembungnya di mana, ya?" tanya Sukma dengan antusias.


"Coba di warung Pak Beni. Siapa tahu ada," jawab Atikah.


"Ah, iya iya."


Maka bergegaslah keduanya menuju warung Pak Beni. Kendati tak makan dan minum seharian, keduanya masih diberi uang saku untuk membeli maninan. Bu Inah mengerti betul, bahwa anak-anak juga butuh hiburan selagi menjalani ibadah puasa, asalkan tidak berlebihan.


Setibanya di warung, Sukma dan Atikah bertemu dengan Pak Beni. Wajah pria gemuk itu tampak berseru-seri kedatangan pembeli kecil yang membeli dagangannya. Sukma dan Atikah masing-masing mengambil satu botol kecil cairan sabun berwarna merah.


"Ini berapaan, Pak?" tanya Sukma.


"Lima ratusan aja, Dek."


"Ini," kata Sukma sembari menyerahkan uang koin ke tangan Pak Beni. "Pak Beni, Pak Beni. Bapak nggak nyimpen guguk di kontrakan Pak Haji lagi, ya?"

__ADS_1


Pak Beni tersenyum lebar. "Enggak. Bapak udah nggak kesel lagi sama Pak Haji, makanya nggak nyimpen guguk lagi di sana. Lagian, sekarang Bapak udah berpindah ke jalan yang benar. Nggak gendong-gendong dedemit lagi."


"Wah, syukurlah kalau begitu, Pak. Aku ikut seneng. Mendingan jualan gelembung yang banyak aja, Pak. Aku sama Teteh bakalan jajan ke sini setiap hari," kata Sukma.


Pak Beni terkekeh-kekeh. "Iya, nanti Bapak jualan gelembungnya banyak-banyak, biar banyak yang beli."


"Kalau gitu, kami pulang dulu, ya, Pak," pamit Atikah.


Keduanya pulang ke rumah. Sukma tidak sabar lagi meniup gelembung mainannya. Begitu juga dengan Atikah, yang tampak riang bermain dengan sang adik.


Cukup lama mereka bermain-main gelembung di area kontrakan. Mulai dari lantai atas sampai bawah. Wanara yang bersemedi di atap kontrakan, sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan kakak beradik itu. Ia benar-benar tenang ketika bulan Ramadhan tiba. Baginya, ini merupakan saat yang tepat untuk mengenal siapa pencipta semesta sebenarnya, sekalipun dulu Wanara sering menyesatkan manusia oleh kesaktiannya.


Beberapa menit berselang, terdengar suara mobil terparkir di depan gerbang kontrakan. Tak lama kemudian, muncullah Albi yang berlari ke dalam area kontrakan, disusul oleh Hilman di belakangnya. Kehadiran mereka membuat Sukma dan Atikah semringah, lalu menjerit-jerit kegirangan.


"A Albiii!" teriak mereka bergegas turun dari lantai atas kontrakan untuk menyambut kedatangan Hilman dan Albi.


Albi tampak bersemangat melihat kedua kakak beradik itu. Ia berlari menghampiri keduanya dengan wajah berseri-seri. Sementara itu, Bu Inah yang sejak tadi tadarus di dalam rumah, bergegas ke luar menyambut kedatangan yang dimaksud.


"Wah, Pak Hilman! Apa kabar?" sapa Bu Inah dengan ramah.


"Baik, Bu. Gimana dengan Ibu sekeluarga?"


"Alhamdulillah baik."


"Oya, mana Pak Risman?"


"Oh, sekarang Pak Risman dagang, ya. Syukurlah."


"Iya, Pak. Oya, silakan duduk dulu, Pak."


Hilman mengangguk, lalu melepas sepatunya dan duduk di teras kontrakan. Bu Inah masuk ke kontrakan, untuk mengganti mukenanya dengan kerudung panjang. Sementara itu, Pak Risman yang baru saja pulang belanja, tercengang melihat keberadaan Hilman di depan kontrakannya.


"Pk Hilman? Sudah lama nunggu di sini?" tanya Pak Risman semringah.


"Ah, enggak, Pak. Saya dan Albi baru saja tiba," jawab Hilman dengan senyum lebar.


"Oya, mana Bu Farah? Dia nggak ikut ke sini?"


"Tadi sudah saya ajak, Pak, tapi nggak mau. Bapak juga tahu, kan, istri saya kayak gimana?"


"Ah, iya, nggak apa-apa kok, Pak. Mari masuk, Pak Hilman. Di luar panas."


Hilman mengangguk. Sebelum masuk ke rumah Pak Risman, ia memanggil Albi untuk bertemu dengan kedua orang tua Sukma dan Atikah. Ketiga anak kecil yang sedang bermain gelembung itu, bergegas menghampiri Hilman. Albi mencium tangan kedua orang tua Sukma dan Atikah, begitu pula sebaliknya.


Setelah itu, mereka bermain lagi di luar, meniup gelembung dengan riang gembira. Hilman bersama Pak Risman dan Bu Inah, bercakap-cakap soal kehidupan yang mereka jalani kali ini. Hilman sangat senang melihat kemajuan yang ditunjukkan oleh keluarga Pak Risman. Tanpa bantuannya lagi, Pak Risman dapat berdikari dan mendapatkan penghasilan lebih besar daripada menjadi pengurus kebun di rumahnya.


"Oya, Pak Hilman. Gimana dengan perusahaan Bapak? Apakah sudah pulih?" tanya Pak Risman.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Pak. Meskipun awalnya cukup sulit memulihkannya, sekarang sudah membaik, bahkan lebih maju dari sebelumnya."


"Alhamdulillah kalau begitu, Pak. Semoga sukses terus, ya."


"Iya, Pak. Saya bakalan sangat sedih kalau sampai bangkrut. Pabrik itu satu-satunya peninggalan kakak saya. Sayang sekali kalau sampai bangkrut. Tadinya kalau misalkan putrinya udah ketemu, pabrik itu akan diserahkan pada putri kakak saya. Lalu, saya akan mengurus cabangnya di luar kota."


"Loh, memangnya putri kakak Bapak ke mana?"


"Dulu, waktu dia lahir, kakak ipar saya menyuruh bidan untuk membuangnya. Sekarang, saya nggak tahu keberadaan bidan itu di mana. Terakhir kali dengar kabar, kalau bidan itu dirawat di RSJ. Tapi setelah saya cari, bidan itu nggak ada."


"Gitu, ya. Memangnya sudah berapa lama kejadian kakak ipar Bapak membuang bayi itu?"


"Sudah lama, Pak. Sekitar tujuh tahun yang lalu."


"Wah, sudah lama sekali, ya, Pak. Beruntung kalau bayi itu ada yang menemukan, kalau tidak--"


"Mudah-mudahan dia masih hidup, Pak. Saya sangat berharap sekali. Siapa pun yang sekarang mengurus putrinya kakak saya, saya harap dia orang yang baik. Kalau ketemu sama orang yang mengurus putri kakak saya, saya akan memberikan banyak uang sebagai tanda terima kasih."


"Sebaiknya Bapak berusaha sambil berdoa, semoga Allah memudahkan niatan baik Bapak untuk menemukan anak itu. Oya, ngomong-ngomong, gimana kabar kakak ipar Bapak yang di Kuningan itu?"


"Kondisinya semakin menyedihkan, Pak. Terakhir kali saya ke Kuningan, saya melihat dia sedang dipasung gara-gara berhalusinasi dan meresahkan warga. Kadang-kadang dia menjerit histeris, gara-gara melihat makhluk menyeramkan."


"Apa keluarganya tidak ada yang berupaya untuk mengobati kakak ipar Bapak?"


Hilman menggeleng. "Tadinya mau saya bawa kembali ke Bandung, biar dirawat di RSJ aja, tapi keluarganya melarang keras. Kata mereka, biarkan saja dia dipasung. Halusinasi yang dialaminya itu tidak lain adalah hukuman dari persekutuannya dengan iblis hanya demi memiliki seorang anak."


Di tengah percakapan mereka, Sukma datang menemui ibunya. Begitu juga dengan Atikah dan Albi yang menunggu di luar. Rupanya mereka bosan bermain di dalam area kontrakan.


"Bu, kami boleh main di luar, ya?" pinta Sukma dengan wajah memelas.


"Jangan ah, di luar banyak kendaraan lalu-lalang."


"Ayolah, Bu. Kami bakal hati-hati kok."


"Hm ... Dedek ini keras kepala banget, sih. Ya sudah, Dedek boleh main di luar asalkan jangan jauh-jauh kayak waktu itu."


"Iya. Dedek janji. Dedek juga nggak bakalan jauh-jauh dari Teteh Atikah."


Bu Inah mengangguk. Sukma bergegas ke luar, lalu berlari bersama Atikah dan Albi. Ketiganya tampak ceria tatkala keluar dari gerbang kontrakan. Ide Albi untuk bermain petak umpet pun menjadi kenyataan.


Sebelum memulai permainan, ketiga bocah itu hompimpah dulu. Siapa yang kalah, maka dia yang berjaga. Setelah cukup lama membolak-balikkan telapak tangan, akhirnya Albi kalah. Giliran ia yang jaga.


Bersamaan dengan Atikah dan Sukma yang bersembunyi, Albi menutup mata sambil menghadap tembok. Setelah selesai menghitung, bocah laki-laki itu berbalik badan untuk mencari Sukma dan Atikah. Ketika beberapa langkah hendak meninggalkan tempatnya berjaga, dua orang pria berbadan besar menangkapnya secara tiba-tiba. Albi berusaha keras memberontak, melepaskan diri. Namun, upaya Albi melepaskan diri tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan dua pria asing yang menangkapnya.


Mengetahui Albi diculik oleh dua pria asing, Sukma dan Atikah keluar dari persembunyiannya. Mereka tampak panik tatkala mengejar Albi. Kedua penculik itu langsung masuk ke mobil yang terparkir di jalan depan, lalu pergi begitu saja. Sukma terengah-engah, kecepatannya berkurang. Sisi iblisnya ditekan oleh sisi manusianya yang semakin bertambah setiap kali berpuasa.


"Aduh, gimana ini, Teh?" tanya Sukma terengah-engah.

__ADS_1


"Kita kasih tahu Om Hilman."


__ADS_2