SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Jin Kiriman Mbah Kasiman


__ADS_3

Baru saja Pak Risman pulih, penyakitnya justru kumat lagi saat malam akan tiba. Awalnya pria itu bersemangat pergi berdagang lagi, tapi niatnya diurungkan sebab merasakan pegal-pegal di sekujur tubuh. Menurut diagnosa dokter yang merawatnya tempo hari, Pak Risman mengalami luka di dalam tubuhnya, lebih tepatnya pada bagian paru-paru. Namun ketika dilakukan pengecekan ulang, rupanya tak terdapat luka sama sekali pada paru-paru pria itu.


Semakin larut malam, tubuh Pak Risman begitu lemas dan tak mampu digerakkan. Sesekali ia terbatuk-batuk, bahkan mengeluarkan sedikit lendir bercampur darah. Bu Inah menyarankan suaminya untuk kembali dirawat di rumah sakit. Biar dirinya bersama kedua putrinya yang membopong Pak Risman.


Mendengar suara kepanikan Bu Inah, Atikah dan Sukma menghampiri kamar kedua orang tuanya. Bergegas Atikah melihat kondisi sang ayah yang tak berdaya. Adapun Sukma berdiri terpaku di ambang pintu, terkejut bukan main tatkala melihat sosok mengerikan sedang menindih tubuh Pak Risman sambil mengaduk-aduk bagian dalam tubuh sang ayah. Makhluk tinggi kurus berambut lurus itu memiliki jemari yang panjang dengan kuku-kuku tajam. Di balik rambutnya yang panjang, tampak wajahnya tak karuan dan gigi-giginya runcing.


Ketika si makhluk aneh itu hendak mengambil sebagian kecil dari tubuh Pak Risman, Sukma cepat-cepat menyeretnya ke luar kamar. Sontak, Bu Inah dan Atikah heran melihat sikap aneh si bungsu. Sementara itu, Pak Risman yang semula terbatuk-batuk, akhirnya berhenti. Seketika, tubuhnya terasa lebih ringan dan segar kembali.


Menyadari Pak Risman yang terlihat lebih baik dari sebelumnya, Atikah beranggapan bahwa penyakit yang diderita sang ayah bukanlah penyakit medis. Sesaat, ia menengok Sukma yang berjalan dengan tangan di belakang, seperti sedang menyeret sesuatu. Atikah mengangguk pelan dan berpikir bahwa dugaannya memang benar. Secepatnya ia kembali pada sang ibu yang sedang membantu ayahnya untuk duduk.


"Pak, Bu. Sepertinya penyakit yang diderita Bapak bukan penyakit biasa. Apa Bapak sama Ibu masih ingat kejadian sewaktu di Indramayu?" cetus Atikah dengan raut serius.


Bu Inah termenung sebentar, lalu mengangguk. "Maksud kamu, ada yang menjahili Bapak?"


"Kayaknya begitu, Bu. Kita, kan, nggak tahu bakal ada yang iri atau enggaknya sama usaha Bapak jualan pecel lele," kata Atikah.


"Atikah, rezeki setiap orang itu masing-masing punya takaran tersendiri. Jangan berprasangka buruk dulu," tukas Pak Risman dengan tempo lambat.


"Bapak juga jangan terlalu naif." Bu Inah menyela. "Kita emang selalu berprasangka baik sama rezeki yang dikasih Allah, tapi nggak semua orang bisa kayak kita. Kalau semua orang berpikiran kayak Bapak, mungkin nggak bakal ada orang kayak Bu Lastri, yang berani mematikan usaha Pak Haji Gufron. Bapak masih ingat, kan, sama buntalan kecil yang ditemuin Dedek waktu pertama kali ngontrak."


"Benar kata Ibu, Pak. Soalnya nggak semua orang bisa dengan lapang dada menerima rezeki yang dikasih Allah," timpal Atikah.


"Pak, Ibu jadi curiga sama orang yang punya angkringan pecel lele di seberang jalan," cetus Bu Inah.


"Hus! Ibu ini nggak boleh suuzon. Lagi pula kalau orang itu yang melakukan perbuatan keji sama Bapak, Bapak udah maafin kok," kata Pak Risman memperingatkan.


"Ih, Bapak ini benar-benar naif. Kalau Ibu jadi Bapak, udah habis itu orang dihajar sama Ibu," gerutu Bu Inah gemas.


"Sudahlah, Bu. Ibu nggak ingat, ya, kejadian waktu di Indramayu dulu? Kita nggak bisa apa-apa melawan orang yang suka pake ilmu hitam," tegas Pak Risman.


Mendadak Bu Inah teringat pada Sukma yang pergi keluar. Ia menyuruh Atikah menyusul adiknya untuk memastikan bahwa Sukma tak membuat onar di luar. Bu Inah juga khawatir kalau-kalau si bungsu sampai tak sadarkan diri lagi selama berhari-hari setelah melawan dedemit.


Sementara itu, Sukma sibuk menangani jin kiriman dari musuh usaha ayahnya. Dilemparkannya makhluk itu hingga menggantung di pohon beringin. Tampak hantu cungkring itu kelabakan untuk turun dari sana.

__ADS_1


"Kamu ini, berani-beraninya nyakitin Bapak. Bilang sama aku! Siapa yang udah nyuruh kamu?" gerutu Sukma menginterogasi.


Makhluk itu hanya menjerit-jerit dengan suaranya yang mendenging. Ia berusha untuk turun dari pohon, hingga akhirnya jatuh dengan kepala menyentuh tanah. Dengan kesal Sukma menjambak rambutnya, lalu mencekiknya. Hantu cungkring itu meronta-ronta, minta dilepaskan.


"Aku nggak akan lepasin kamu sebelum bilang siapa yang nyuruh kamu. Kalau kamu nggak mau ngomong, bakalan aku bunuh," ancam Sukma dengan geram.


Makhluk berbadan cungkring itu tak bisa bicara. Sambil berusaha melepaskan cekikan Sukma, ia berulang kali menyebut inisial K. Sukma begitu gemas dan jengkel, karena hantu satu ini tak bisa bicara sama sekali. Dirasa tidak berguna, ia pun menguatkan cekikan di leher makhluk itu hingga tubuhnya terbakar dan menjadi abu.


Atikah yang baru saja melihat Sukma marah-marah di tengah kuburan, segera menghampirinya. Ia tak sabar lagi ingin mendengar penjelasan sang adik tentang makhluk tak kasat mata yang telah diseretnya tadi. Adapun Sukma yang menyadari kedatangan sang kakak, memasang raut kecewa.


"Dedek nggak apa-apa, kan? Makhluk apa yang Dedek bawa tadi?" tanya Atikah penasaran.


"Dedek nggak tau itu makhluk apaan. Bentuknya absurd banget, badannya cungkring dan tinggi. Pas kita tadi ke kamar, dia duduk di badan Bapak sambil ngaduk-aduk isi dada Bapak," jelas Sukma.


Atikah terkesiap mendengar penjelasan sang adik. "Apa?! Ngaduk-aduk isi dada Bapak?!" ucapnya dengan mata terbelalak. "Terus, terus ... Dia bilang sama Dedek nggak tentang siapa yang nyuruh dia?"


Sukma menggeleng lesu. "Makhluk itu nggak bisa ngomong, Teh. Bisanya cuma bilang 'ka', 'ka'. Ah, pokoknya Dedek nggak paham maksudnya apaan. Jadi Dedek habisin aja sekalian."


Atikah berpikir sejenak, lalu menatap adiknya lagi. "Mungkin itu suatu petunjuk, Dek. Bisa aja, kan, dia nyebutin inisial dari orang yang mau ngecelakain Bapak."


"Nah, mungkin kalau yang dihadapin sama Dedek tadi mah bisa. Namanya juga jin suruhan."


"Kalau aja Wanara nggak pulang, mungkin dia bisa nerjemahin kata-kata si cungkring," ucap Sukma dengan sendu.


"Sudahlah, mendingan kita pulang. Teteh ngerasa takut lama-lama di sini. Tuh, lihat! Bulu kuduk Teteh sampai merinding begini," ajak Atikah sembari menunjukkan bulu kuduk di tangannya meremang.


Sukma mengangguk pelan. "Iya, Teh. Lagian dari tadi ada Mbak Kunkun yang ngikutin Teteh di belakang. Dia juga masih lihatin Teteh, sih."


Seketika Atikah gemetar mendengar penjelasan adiknya. Dipegangnya erat tangan sang adik sambil berkata, "Kalau gitu, usir dia dari sini! Teteh takut."


"Tenang, Teh. Dia nggak bakalan ikut kok. Kan ada Dedek yang jagain Teteh."


Atikah tetap saja bergidik ngeri. Ia dan adiknya berjalan dengan cepat meninggalkan kuburan. Sesekali, ditatapnya area pemakaman yang begitu sunyi sambil mencengkeram erat tangan Sukma.

__ADS_1


...****************...


Arini tampak tak berdaya di pembaringannya. Sesekali kedua matanya menatap keadaan sekitar, lalu tertutup kembali. Dari arah pintu, muncul Albi membawakan makanan untuknya. Pemuda itu duduk di samping Arini, sembari menaruh keresek berisi makanan di nakas.


Mengetahui seseorang memasuki kamar, Arini membuka mata. Dengan lesu, ia memanggil nama putra dari keponakannya. Albi merespons dengan cepat, lalu memegang tangan Arini.


"Tante butuh apa? Bilang aja sama aku," ujar Albi mengusap tangan Arini.


"Albi ... Tempo hari saya mendengar percakapan kamu sama ayahmu. Kamu bilang ketemu sama keluarga Pak Risman di lobi," ucap Arini dengan suara lemas.


"Oh, itu. Iya, hari itu aku ketemu sama keluarga Pak Risman," jelas Albi mengangguk.


"Kenapa kamu nggak ajak mereka ke sini dulu? Saya ingin sekali ketemu sama mereka."


"Nanti kalau aku ketemu lagi sama salah satu keluarga Pak Risman, bakal aku bawa ke sini. Sebaiknya Tante sekarang makan dulu, ya, biar cepat sembuh," ujar Albi mengambil sebungkus roti.


"Kamu ini bicara apa, Albi? Sembuh seperti apa yang kamu maksud? Saya ini sudah lumpuh bertahun-tahun, mustahil bisa sembuh kembali seperti sedia kala," celetuk Arini, putus asa.


"Tante nggak boleh kayak gitu. Sekarang banyak-banyak berdoa sama Allah. Siapa tahu aja ada keajaiban yang bikin Tante sembuh lagi kayak dulu," kata Albi memberi semangat. "Nggak ada yang nggak mungkin kalau Allah berkehendak."


"Setiap detik saya berdoa, nggak pernah ketinggalan. Tapi buktinya apa? Nggak ada yang berubah sama sekali."


Albi tersenyum, sambil mencubit sebagian kecil roti di tangannya dan menyuapi Arini. "Mungkin waktunya belum tepat, jadi doanya belum dikabulkan. Allah tahu mana yang kita butuhkan dan tidak. Jadi, Tante nggak boleh putus asa, ya."


Di tengah percakapan mereka, Farah datang dari pintu masuk dengan tergesa-gesa. Ia tampak geram melihat anaknya ikut-ikutan mengurus wanita lumpuh itu. Dienyahkannya sepotong roti dari tangan Albi dan menatap Arini dengan tajam.


"Mau sampai kapan kamu berbaring terus, ha? Sebaiknya kamu mati aja biar nggak ngerepotin orang lain. Kamu tau kenapa anak-anak dan suami kamu nggak ada yang mau ngurus? Itu karena mereka cuma pengin kamu mati!" cerocos Farah sembari menunjuk-nunjuk Arini.


Merasa kesal dan malu dengan sikap ibunya, Albi menyingkirkan tangan Farah dari hadapan Arini. Tentu saja Farah tak terima pembelaan Albi pada bibinya. Dengan tatapan tajam, wanita itu memarahi sang anak tanpa ragu.


"Ngapain kamu ngebela nenek-nenek yang udah sekarat ini? Mau sekeras apapun kamu dan papamu ngasih perawatan ke dia, dia bakalan mati!" bentak Farah geram.


"Ma, Mama nggak pantas banget bilang kayak gitu. Gimanapun juga Tante Arini itu bibi Mama. Harusnya Mama kasih dia support biar cepet sembuh, bukan malah bikin Tante Arini nge-drop," tukas Albi tak kalah kesal.

__ADS_1


Arini meneteskan air mata tatkala mendengar ucapan Farah. Mungkin ini balasan yang patut diterima setelah memfitnah Pak Risman, pikirnya. Ia hanya bisa bersabar dan menerima keadaan, bahwa tak seorang pun dari keluarganya yang sudi menemani dikala sulit.


__ADS_2