SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Menaklukkan Wanara


__ADS_3

Setibanya di kediaman Hilman, Arini bersama Bu Inah dan Sukma turun dari mobil. Sukma yang melihat palang gaib yang memagari kediaman Hilman, segera berlari menuju gerbang masuk. Bu Inah dan Arini terheran-heran melihat tingkah gadis kecil itu ketika datang ke rumah itu.


"Bu, Dek Sukma mau ke mana?" tanya Arini.


"Nggak tahu. Dia memang begitu kalau lihat sesuatu, suka mendadak pergi gitu aja," jawab Bu Inah.


Dengan kesal, Sukma menggosok-gosok kakinya ke aspal. Pagar gaib itu perlahan-lahan terbuka hingga melebar sampai gerbang masuk. Selesai dengan urusannya Sukma berlari kembali pada Arini dan ibunya.


Tanpa banyak basa-basi, Sukma mengajak kedua wanita dewasa itu untuk masuk ke dalam rumah Hilman. Tidak biasanya, ia enggan menjelaskan apa pun pada ibunya tentang sesuatu yang telah dilakukannya di gerbang tadi. Bu Inah pun tak mau memaksakan anaknya untuk menjawab, dan hanya mengikutinya saja dari belakang.


Ketika Arini membuka pintu kamar Farah, Bu Inah merasa tak tahan dengan bau busuk menyengat dari dalam. Ia segera berlari ke kamar mandi karena rasa mual yang tak tertahankan. Baunya lebih menusuk daripada tiga hari yang lalu.


Sukma tak terlalu memedulikan sang ibu yang muntah-muntah di kamar mandi. Pandangannya tertuju pada Wanara yang sedang menggerogoti badan Farah yang tinggal daging itu. Dengan geram, ia masuk ke kamar Farah, tak peduli pada Hilman dan Arini yang memandangnya dengan heran.


Segera Sukma menarik ekor Wanara yang mengibas-ibas di kasur Farah. Seketika kera berbadan besar itu menjerit kesakitan dibuatnya. Ia menghentikan kegiatannya memakan tubuh Farah, lalu menatap Sukma dengan tajam.


"Wanara! Kamu nakal banget, ih! Udah aku bilang, makanan kamu itu pisang, bukan orang!" bentak Sukma dengan suara cemprengnya.


"Enyahlah kau, Bocah! Aku tak peduli dengan ocehanmu! Pergi sana!" hardik Wanara tak kalah gusar.


Sukma syok ketika mendengar suara Wanara yang sangat keras dan kasar. Kendati demikian, gadis kecil itu tak mau menyerah. Dengan segenap tenaga yang dimilikinya, ia menarik ekor Wanara hingga terseret jatuh dari kasur. Kera itu memberontak, lalu keluar dari kamar Farah.


Sementara Sukma mengejar Wanara yang berlari ke taman belakang rumah, Farah yang sejak tadi tergolek lemah, perlahan mulai bisa bangkit dari tidurnya. Arini mencoba membantunya, tapi Hilman melarangnya. Farah yang merasa heran dengan sikap suaminya itu, memperingatkan agar tetap bersikap baik pada bibinya.


"Papa ini kenapa, sih? Jangan galak-galak gitu deh sama yang lebih tua," tegur Farah, suaranya terdengar lemah.


"Nggak apa-apa, kok. Aku cuma pengen lagi bantuin kamu aja, tanpa perlu diganggu Tante Arini," jawab Hilman disertai senyum simpul di bibirnya. Ia berusaha sekeras mungkin menyembunyikan kebenciannya pada Arini.


Arini sebisa mungkin bersikap sewajarnya pada Farah. Ia tahu, bahwa Hilman kini tidak menyukainya. Meski begitu, keponakannya tak perlu menghiraukan perselisihan antara Hilman dan dirinya, mengingat rahasianya yang harus ditutup rapat-rapat.


Bu Inah yang baru selesai dari kamar mandi, kembali menengok Farah yang sekarang sedang duduk bersandar di kasurnya. Ia tetap menahan penciumannya untuk menghormati orang yang dulu pernah menjadi majikannya. Bagaimanapun juga, Bu Inah tetap berusaha menghormati mantan majikan, meski tak lagi bekerja padanya.


Perlahan-lahan, Bu Inah masuk ke kamar Farah. Tampak wanita yang dulu berparas cantik itu, kini memiliki rupa tak keruan karena penyakitnya. Dengan canggung, Bu Inah duduk di tepi ranjang, sambil memandang iba pada Farah.


"Bu, bagaimana keadaannya? Udah agak mendingan?" tanya Bu Inah sungkan.


Farah mengangguk dengan lesu. Matanya begitu lemah untuk berkedip, sehingga membuat Bu Inah merasa prihatin pada keadaan wanita itu hari ini.


Di luar rumah, tampak Ratna sedang berjalan sambil celingukan. Sebenarnya ia ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumah Farah, terlebih saat melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di halamannya. Namun, bagaimanapun juga, ia bersikukuh ingin menghancurkan musuhnya hari ini juga.


Ketika hendak menginjak teras rumah Farah, tak sengaja Ratna mendapati Sukma sedang berlari-lari di halaman belakang, tepatnya dekat paviliun. Tangan mungilnya seperti sedang mencengkeram sesuatu, hingga terhilat kewalahan. Ratna buru-buru masuk ke rumah Fatma. Akan tetapi, Sukma telah memergokinya terlebih dulu.


"Tante! Tante bawa apaan itu?" tanya Sukma berteriak sambil nerlari ke arahnya.


Sontak, Ratna gelagapan didekati oleh gadis kecil itu. Ia memegangi tasnya erat-erat. Namun, upayanya untuk menyembunyikan niat jahat, segera diketahui oleh Wanara. Kera itu menarik tas Ratna sekuat tenaga sampai terjatuh.


Ratna terkejut melihat tasnya jatuh tiba-tiba. Wajahnya semakin terlihat panik ketika sebuah botol kecil berisi air yang sudah dijampi-jampi Mbah Suro, keluar begitu saja dari tasnya. Belum sempat ia memungutnya, botol itu sudah ada di tangan Sukma.


"Hei! Kembalikan botolnya!" bentak Ratna.

__ADS_1


Sukma tak menggubris bentakan Ratna. Gadis kecil itu menoleh pada Wanara, kemudian membuka botol itu. Kera itu sangat kegirangan melihat botol berisi air jampi-jampi dari Mbah Suro.


"Wanara, kamu pengin ini, ya?" tanya Sukma dengan wajah semringah.


Kera itu mengangguk, lalu berjongkok di bawah Sukma sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Gadis kecil itu membuka botol dan meneteskan air jampi-jampi pada Wanara. Setelah selesai meneguk air itu, si kera melompat-lompat kegirangan. Bukan hanya itu saja, ia kembali tunduk pada Sukma.


Dari dalam rumah, Hilman dan Arini menghampiri asal suara ribut-ribut ke teras rumah. Kehadiran Ratna saat itu, semakin menguatkan dugaan Hilman akan seseorang yang menumbalkan istrinya. Arini pun dibuat terkejut oleh sosok wanita yang menjadi pelanggan sepupunya itu.


"Nah, sekarang kita sudah tahu siapa pelakunya," kata Hilman dengan suara tegas.


"Jadi, dia yang selama ini mencelakai Farah?!" tanya Arini tercengang.


"Iya, selama ini dia yang suka ngasih makan sama Farah. Farah sendiri yang bilang, dia ngasih tumpeng basi beberapa hari lalu," jelas Hilman sambil mendelik pada Ratna.


"Kalian ini bicara apa? Saya bersumpah! Saya ke sini untuk menjenguk Farah," ucap Ratna mengelak.


Merasa terganggu dengan pertengkaran orang dewasa, Sukma mulai membuka kedok Ratna. "Oh, Tante mau ngejenguk Tante Farah sama Wanara, ya? Kok Tante cuma bawa makanan buat monyet aku melulu, buat Tante Farah-nya mana?"


Mendengar penuturan Sukma, jantung Ratna semakin berdebar. Sesekali ia menatap Hilman dan Arini yang masih geram, berharap mereka tidak memercayai perkataan anak kecil di dekatnya. Namun, kenyataannya dugaan Ratna sangatlah salah. Hilman yang sudah curiga padanya sejak lama, tak mau melepaskan Ratna begitu saja.


"K-kamu ... k-kamu b-bicara apa, sih? Tante cuma ... cuma mau--" kata Ratna terbata-bata.


"Cuma mau mencelakai Farah? Iya, kan?" potong Arini merasa geram.


"Sudahlah, nggak usah mengelak lagi. Orang kayak kamu emang pantas untuk dihukum!" timpal Hilman.


Merasa terpojok, Ratna berlari dari teras Hilman. Benar kata Mbah Suro, jika sampai anak iblis itu berada di kediaman Farah, maka rencananya untuk menghabisi musuhnya akan menjadi kacau. Setibanya di depan gerbang, Ratna justru ditahan oleh satpam.


Di kamar Farah, Bu Inah menyuguhkan segelas air hangat. Dengan lemah, Farah menerima minuman yang diberikan oleh mantan pembantunya. Tanpa ragu, ia meneguk air hangat itu sampai tandas. Tubuhnya serasa segar kembali setelah cukup lama tergolek lemah di pembaringan.


"Farah, benar dugaanku. Pelakunya memang Ratna," ungkap Hilman sambil mengepalkan tangan.


"Benarkah?! Astaga!" Farah menepuk keningnya sambil memandang kosong.


"Sudah aku bilang, pasti pelakunya Ratna, yang ngasih kamu makanan basi. Tapi kamu malah ngeyel," kata Hilman.


"Maafkan aku, Pa. Aku sempat nggak percaya sama kecurigaan Papa," kata Farah dengan muka memelas. "Lalu, Pak Risman? Bukankah dia juga punya sesajen?"


Sejenak, Hilman mengalihkan pandangan pada Arini. Cukup lama ia menatap bibi dari istrinya itu, hingga Arini hanya tertunduk lesu. Bu Inah yang merasa jengkel, berusaha mendesak Arini untuk mengakui kesalahannya lewat isyarat tatapan mata.


Akhirnya, Arini menyerah pada keteguhannya menyembunyikan kebohongan dari Farah. Dengan jantung berdebar-debar, ia mulai membuka mulutnya untuk mengungkapkan kebenaran, bahwa dirinya sudah melakukan hal keji pada keluarga Pak Risman. Akan tetapi, belum sempat ia berkata, sebuah keributan terjadi di luar rumah Hilman.


"Kakek! Jangan sakiti Wanara!" teriak Sukma.


"Diamlah kau, Anak Setan! Jangan ikut campur dengan urusanku!" bentak Mbah Suro, yang kelimpungan mengendalikan Wanara dengan kain gaib berwarna merahnya.


Dari dalam rumah, Arini dan Hilman keluar untuk mengetahui sesuatu yang terjadi di depan rumah. Pun dengan Farah, yang dipapah Bu Inah berjalan menuju teras. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Mbah Suro sedang menggerakkan tangannya seolah-olah menarik sesuatu dari hadapan Sukma.


"Ada apa ini? Siapa kamu?" tanya Hilman panik.

__ADS_1


Mbah Suro melepaskan Wanara dengan kasar, hingga kera itu terjengkang ke arah Sukma. Ia menatap tajam Arini yang tengah gugup mengetahui kedatangannya di rumah Farah. Dengan angkuh, pria tua itu berjalan mendekati mereka.


Sementara itu, Sukma membawa Wanara ke halaman belakang rumah. Ia tak mau ikut campur dengan urusan orang dewasa. Disandarkannya Wanara ke dinding rumah Hilman, lalu mengusap-usap badan kera itu.


"Kamu nggak apa-apa, Wanara?" tanya Sukma cemas.


"Pungggung saya sakit," kata kera itu mengap-mengap.


Sukma mengusap punggung Wanara, lalu menepuk-nepuknya. Seketika kera itu menjerit kesakitan oleh tepukan Sukma di punggungnya. Akan tetapi, beberapa saat setelah gadis itu mengusapnya lagi, tubuh Wanara terasa segar kembali.


Di depan rumah Hilman, Mbah Suro menyeringai mendapati keponakan Arini berada di tempat yang sama. Baginya, ini merupakan kesempatan terbaik untuk membongkar rahasia Arini yang belum pernah diketahui keluarga Farah. Selain itu, Mbah Suro ingin membalas pengkhianatan Arini yang nekat membawa Sukma untuk menggagalkan usahanya membantu Ratna.


"Arini! Berani-beraninya kamu mengkhianati aku! Bukannya kamu sudah setuju untuk mengusir keluarga Pak Risman dari rumah ini? Kenapa kamu membawa lagi mereka kemari?" teriak Pak Risman.


Semua mata tertuju pada Arini. Wanita tua itu semakin gugup saja, terutama saat Farah menatap heran padanya. Farah menduga, bahwa Arini juga mengenal pria tua berpenampilan serba hitam itu dan memiliki peran dalam memperparah penyakitnya.


"Tante, siapa dia?" tanya Farah dengan kening mengernyit.


"D-dia ... dia--" ucap Arini terbata-bata.


"Arini itu sepupuku!" potong Mbah Suro kesal.


Seketika, semua orang yang berada di teras rumah Hilman terperangah, terutama Farah. Ia tak percaya, bahwa pria tua berparas menyeramkan itu merupakan kerabat dari Arini. Farah menatap tajam pada Arini.


"Oh, jadi Tante membantu Ratna juga untuk menyakiti aku? Bener-bener nggak bisa dipercaya! Ternyata Tante keluarga dukun juga," ketus Farah.


"M-maafkan Tante, Farah. Tante sudah merahasiakan ini karena--"


"Cukup! Aku nggak mau mendengar penjelasan apa-apa lagi dari Tante! Kalau Tante tahu, bahwa Sukma bisa menyembuhkan aku, kenapa Tante malah mendukung aku untuk mengusir mereka?" bentak Farah geram.


"Itu karena bibi kamu itu bodoh!" jawab Mbah Suro disertai tawa terbahak-bahak.


Arini yang semakin terpojok, tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya tertunduk sambil menangis tersedu-sedu. Menyesal wanita tua itu telah memercayai Mbah Suro yang culas dan licik.


Melihat Arini yang semakin sedih, Bu Inah menjadi kasihan. Ia menjelaskan pada Farah, bahwa Arini telah membujuk Mbah Suro untuk mencabut kembali jin kirimannya demi kesembuhan sang keponakan. Namun, Farah masih enggan percaya dengan penjelasan Bu Inah. Menurutnya, Arini tak ada bedanya dengan Mbah Suro, karena berasal dari keluarga penganut ilmu hitam.


"Sudah cukup basa-basinya! Sekarang waktunya aku menyelesaikan tugas," ucap Mbah Suro.


Semua orang panik. Satpam yang menjaga gerbang bergegas menangkap Mbah Suro. Akan tetapi, ternyata usahanya gagal. Tubuhnya terpental jauh tatkala hendak mendekati Mbah Suro.


Pria tua itu memutar-mutar kedua tangannya, seperti sedang menggulung benang. Mulutnya komat-kamit merapal mantra yang sudah dipelajarinya sejak lama. Setelah semua ajiannya terkumpul penuh di telapak tangan, Mbah Suro melepaskan seluruh tenaga dalamnya ke arah Farah.


Arini yang menyadari serangan itu akan tertuju pada Farah, segera pasang badan. Bergegas ia berdiri di hadapan Farah, bersiap menerima serangan yang dilancarkan oleh Mbah Suro. Semakin lama, ajian pria tua itu berputar cepat hingga akhirnya mengenai badan Arini.


Wanita tua itu seketika terpental di depan Farah. Bu Inah dan Farah segera membantu Arini untuk berdiri. Namun, rupanya sekujur tubuh wanita tua itu lumpuh total akibat serangan hebat yang dilancarkan Mbah Suro. Ia hanya bisa menitikkan air mata dan meringis kesakitan.


Di halaman belakang rumah, Sukma merasakan energi hebat yang menurutnya mampu menghancurkan orang-orang. Bergegas ia pergi ke teras rumah Hilman untuk menyaksikan kejadian mengerikan di sana. Wanara yang khawatir dengan keadaan Sukma, segera menarik tangan gadis kecil itu.


"Sukma, jangan ke sana! Mbah Suro itu berbahaya. Ilmunya sangat tinggi. Kamu tidak akan bisa menghadapinya," ujar Wanara memperingatkan.

__ADS_1


"Lepasin aku, Wanara! Aku hanya ingin menolong semua orang," kata Sukma mengelak.


Gadis kecil itu melepaskan genggaman kuat Wanara, lalu berlari ke halaman depan rumah Hilman. Ia berpikir, jika sampai terlambat mencegah Mbah Suro, maka semua orang yang ada di sana akan lumpuh karena serangannya. Terbukti, Arini tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya sama sekali setelah menerima serangan dari Mbah Suro.


__ADS_2