
Setibanya di rumah Giska, perempuan berbaju merah itu menyeringai. Betapa senang hatinya tatkala memasuki kediaman gadis yang raganya ditempati olehnya. Sebagaimana kebiasaannya saat belum memiliki raga, perempuan itu tertawa terbahak-bahak dengan suara melengking yang mengerikan.
Rifalbi, kakak Giska, merasa heran melihat sikap adiknya itu. Tidak biasanya Giska yang pendiam dan tak banyak bicara, bisa tertawa sekeras itu. Ibunya yang hendak menyambut mereka di rumah pun merasa heran melihat kelakuan Giska.
"Giska, kamu ini bikin kaget aja. Ngapain kamu ketawa kayak gitu? Jangan nakut-nakutin Kakak! Nanti kalau Ibu dengar, bisa parno dia," ujar Rifalbi kesal.
Gadis berambut pendek itu hanya mendelik sinis, lalu mengikuti Rifalbi masuk ke rumah. Ibunya Giska sudah berdiri di depan pintu dari tadi. Ia merasa ketakutan tatkala mendengar tawa putrinya beberapa saat lalu.
Melihat ketakutan di wajah sang ibu, Rifalbi mencoba menenangkannya. Ia tahu betul, wanita paruh baya itu kerap ketakutan sampai enggan berurusan dengan hal gaib. Pemuda itu segera mengantar ibunya ke kamar dan memberi pengertian, bahwa Giska sedang sangat senang setelah pulang bermalam di sekolah. Maka tak heran jika gadis itu mulai usil.
Perempuan berbaju merah itu berjalan dengan santai menuju kamar Giska yang berada di dekat ruang keluarga. Caranya berjalan membuat kakak ipar dari gadis berambut pendek itu, Elisa, merasa heran. Menurut Elisa, Giska memiliki cara berjalan yang sangat santai dan elegan, tidak seperti preman angkuh yang suka nongkrong di terminal.
Merasa penasaran, Elisa menghampiri kamar adik iparnya. Ia memperhatikan gerak-gerik Giska yang sangat aneh. Saat melihat adik iparnya bercermin, wanita berusia dua puluh tahunan itu semakin mengernyitkan kening. Ia menggeleng lemah, berpikir kalau gadis remaja yang masuk ke kamar adik iparnya itu bukanlah Giska.
"Rasanya aku senang sekali bisa mendapatkan tubuh ini. Usia muda, paras cantik, rambut pendek. Ah ... aku benar-benar senang," kata si perempuan berbaju merah sembari membelai kulit wajahnya dan tertawa melengking.
Elisa merasa tak tahan lagi dengan sikap Giska. Ia masuk ke kamar adiknya tanpa mengetuk pintu. Si perempuan yang merasuk tubuh Giska itu menoleh, kemudian menatap tajam pada Elisa. Dengan angkuh, ia menghampiri lawan bicaranya.
"Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk pintu dulu? Dasar manusia tidak punya sopan santun!" bentak perempuan berbaju merah memelototi Elisa.
"Giska, sejak kapan kamu berkata nggak sopan gitu sama kakak ipar kamu ini? Istigfar, Giska. Istigfar! Kamu boleh aja senang setelah bermalam di sekolah, tapi itu bukan berarti kelakuan kamu berubah jadi badung begini," cerocos Elisa bersungut-sungut.
Merasa geram, perempuan berbaju merah itu menarik rambut Elisa. Ia kemudian membenturkan kepala istri dari Rifalbi itu ke tembok. Elisa benar-benar dibuat bingung dengan sikap Giska yang berubah kasar setelah pulang dari sekolah.
"Jangan sok-sokan menasihati aku, Wanita Bodoh! Aku lebih pintar dari kamu. Jadi, tutup mulutmu atau akan aku potong lidahmu itu sampai tidak bisa membentakku lagi," ancam perempuan berbaju merah.
Dari luar kamar, Rifalbi terkejut melihat adiknya bersikap kasar pada istrinya. Secepatnya ia masuk ke kamar Giska, lalu melerai keduanya. Pria itu menyuruh istrinya pergi dari kamar sang adik, sementara dirinya berdiri sambil melipat kedua tangannya. Tampak semburat kemarahan tergambar jelas di wajahnya.
Perempuan berbaju merah menatap tajam pada Rifalbi sembari tersenyum sinis. Tentu saja, sikap anehnya itu masih menjadi pertanyaan besar bagi sang kakak. Tidak biasanya Giska memberikan raut seperti itu jika dinasihati. Sebelumnya, gadis berambut pendek itu selalu menunduk lesu dan berpikir untuk memperbaiki diri.
"Giska, kamu ini kenapa, sih? Bisa-bisanya bersikap kasar sama kakak ipar kamu sendiri. Sebenarnya apa aja yang kamu pelajarin di sekolah sampai berani menantang kakak ipar kamu segala, ha?" bentak Rifalbi kesal.
"Aku kesal! Dia masuk ke kamarku tanpa izin. Kamu ini nyari istri yang bener dong, jangan kayak dia. Perempuan nggak punya sopan santun!" keluh perempuan berbaju merah itu pada Rifalbi.
"Stop! Berhenti kamu bilang kayak gitu! Gimanapun juga dia itu kakak ipar kamu," ucap Albi, berusaha menahan kemarahannya.
"Kakak ipar, kakak ipar. Dia itu nggak pantas jadi kakak ipar. Pantasnya itu jadi perempuan jalang, yang tidak punya sopan santun."
Kesabaran Rifalbi sudah habis. Di luar kendalinya, ia menampar pipi sang adik. Gadis itu tidak menangis sama sekali. Yang ada di matanya hanya bara amarah pada pria di hadapannya.
Perempuan berbaju merah itu mengamuk. Rifalbi yang mendadak kalap, bergegas keluar dari kamar adiknya, kemudian membanting pintu. Secepatnya ia mengunci kamar Giska, agar gadis itu tidak keluar dari kamarnya. Pria itu mulai menyadari, bahwa Giska sudah kerasukan jin di sekolahnya.
"Bi, kenapa pintunya dikunci?" tanya ibunya Giska heran.
"Dia lagi ngamuk," jawab Rifalbi singkat.
"Loh, kenapa dikunci? Gimana kalau nanti dia pengen ke kamar mandi atau makan?" tanya ibunya Giska khawatir.
"Tenang aja, Bu. Nanti kalau dia udah tenang, bakal aku buka kuncinya. Mungkin sekarang dia lagi kurang tidur, makanya ngamuk," jawab Rifalbi, kemudian mengajak ibunya ke dapur untuk memasak bersama Elisa.
Perempuan berbaju merah masih tak berhenti mengamuk di dalam kamar. Berulang kali ia menendang pintu, tapi tak kunjung terbuka. Dengan kesal, ia duduk di ranjang sambil merutuk, bahwa menjadi manusia ternyata tidaklah sebebas saat dirinya menjadi hantu kelas kakap di sekolah.
__ADS_1
Kendati demikian, ia tetap senang karena memiliki tubuh gadis yang masih muda dan berparas cantik. Sesekali ia tertawa dengan suaranya yang khas dan melengking. Kakak dan ibu Giska bergidik ngeri saat mendengar suara tawa itu. Mereka benar-benar merasakan ada hal yang tidak beres pada Giska.
...****************...
Selepas tidur siang, Sukma bergegas mandi dan mengganti baju. Bu Inah merasa heran melihat putrinya melakukan segala hal dengan tergesa-gesa. Ia ingat betul, ini hari Sabtu. Sudah sepatutnya si bungsu beristirahat sedikit lama setelah bermalam di sekolah.
"Dedek, kok, kelihatan buru-buru begitu? Sebenarnya mau ke mana?" tanya Bu Inah memperhatikan putrinya yang sedang mengikat tali sepatu di teras.
"Dedek mau ke rumah Giska, Bu. Ada hal penting yang mau Dedek omongin," jawab Sukma tanpa memandang ibunya sedikit pun.
"Loh, kan ada hape. Dedek bisa ngobrol sama Giska lewat hape," jelas Bu Inah.
"Nggak bisa, Bu. Masalah kali ini nggak bisa Dedek obrolin lewat hape," kata Sukma, sembari mengikat tali sepatu sebelah kiri.
"Tapi Dedek masih inget rumahnya Giska? Udah lama banget loh kita nggak ke sana. Siapa tahu sekarang rumahnya udah pindah," ucap Bu Inah.
"Tenang aja, Bu. Kalau dia udah pindah, tinggal tanyain aja ke tetangganya. Udah dulu, Bu. Dedek mau berangkat. Assalamualaikum," kata Sukma sembari berdiri, lalu mencium tangan ibunya.
"Wa alaikum salam," balas Bu Inah.
Bergegas Sukma pergi dari rumahnya. Tak lupa, ia juga membawa Wanara ke dalam botol untuk berjaga-jaga. Hatinya masih tidak tenang. Khawatir kalau-kalau keluarga Giska menjadi korban dari keganasan perempuan berbaju merah.
Setengah jam perjalanan ditempuh dengan menaiki angkutan umum. Sukma masih saja merasa cemas memikirkan keadaan raga Giska saat ini. Ketika angkot akan melintasi area perkomplekan, Sukma segera turun. Ia berlari memasuki komplek, tempat tinggalnya sewaktu kecil dulu.
Sementara itu, perempuan berbaju merah mulai tenang di badan Giska. Bagaimanapun juga, ia tetap merasakan lapar sebagaimana manusia. Ia mengobrak-abrik lemari es di dapur, mencari daging segar yang bisa dimakan. Beruntung, ada daging ayam mentah di sana.
Segera perempuan berbaju merah itu melahap daging ayam itu mentah-mentah. Baginya, rasa daging mentah tetaplah enak. Ibunya Giska yang tak sengaja memergoki putrinya sedang memakan daging, dibuat terkejut. Dengan kasar, wanita paruh baya itu merebut daging ayam dari tangan putrinya.
"Lancang sekali kamu merebut makananku. Kamu harus merasakan akibatnya!" bentak si perempuan berbaju merah, lalu mencekik ibunya Giska kuat-kuat.
Mendengar kegaduhan di dapur, Rifalbi dan Elisa segera menghampiri asal suara keributan itu. Keduanya segera melerai adik dan ibunya. Tanpa belas kasih, Rifalbi menyeret adiknya yang masih mengamuk ke dalam kamar, sedangkan istrinya berusaha menenangkan sang mertua.
Rifalbi benar-benar kewalahan menghadapi adiknya yang berusaha memberontak. Dengan menggunakan seluruh tenaganya, ia mendorong tubuh sang adik ke kamar, lalu membanting pintu dan menguncinya. Selesai mengurung Giska, pria itu bergegas ke dapur. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat bel berbunyi.
Tak mau membuat tamunya menunggu lama, cepat-cepat Rifalbi menuju ruang tamu dan membukakan pintu. Tampak gadis seumuran adiknya sedang berdiri di depan pintu. Ia tidak lain adalah Sukma, yang sudah tidak sabar mengabarkan kondisi Giska pada keluarganya.
"Adek temennya Giska, ya?" tanya Rifalbi.
"Iya, Kak," jawab Sukma.
"Kalau kamu mau ketemu Giska, besok lagi aja, ya. Soalnya dia lagi sakit," kata Rifalbi dengan sungkan.
Dari dalam rumah, terdengar teriakan seorang gadis. Suaranya yang menggeram, membuat Sukma yakin, bahwa memang terjadi sesuatu tidak beres pada raga teman masa kecilnya itu.
"Aku bukan mau ketemu sama Giska, tapi sama Kakak," tegas Sukma.
"Aku? Baiklah, silakan masuk," ujar Rifalbi.
Sukma kemudian duduk di sofa empuk. Rifalbi izin ke dapur sebentar untuk meminta istrinya menyiapkan minuman. Tak lama kemudian, pria itu kembali ke ruang tamu untuk menemui Sukma.
"Oya, perasaan, Kakak pernah ketemu Adek deh, tapi di mana, ya?" tanya Rifalbi berbasa-basi.
__ADS_1
"Dulu aku juga tinggal di sekitar perkomplekan ini. Aku satu TK sama Giska, bahkan dulu ibu aku pernah datang ke sini juga," jelas Sukma.
"Siapa? Bu Inah?"
Sukma mengangguk cepat.
"Oh, jadi kamu yang dulu punya urusan sama boneka Susan itu?! Astaga! Syukurlah kamu baik-baik aja," ucap Rifalbi terbelalak.
Berselang beberapa menit, Elisa datang membawa dua gelas teh manis. Ia duduk sebentar untuk menyapa Sukma. Wanita itu juga merasa tidak asing dengan wajah gadis remaja yang sedang duduk di sofa. Ia pernah melihatnya saat mengantar Giska daftar sekolah.
"Oya, sebenarnya ada perlu apa kamu ketemu sama Kakak?" tanya Albi.
"Aku cuma mau bilang sama Kakak, tolong tetap waspada. Soalnya Giska yang Kakak bawa pulang itu raganya udah dirasuki sama dedemit. Jiwanya Giska nggak tahu ada di mana," jelas Sukma.
Mendengar penjelasan Sukma, Rifalbi dan istrinya tercengang. Pria itu segera menyuruh sang istri untuk membawa ibunya masuk ke kamar. Khawatir pembicaraan antara ia dan Sukma terdengar. Tak terbayang jika sampai ibunya jatuh sakit gara-gara mendengar kabar buruk ini. Rifalbi dan istrinya akan sangat kerepotan mengurus keduanya.
"Tapi ... gimana Adek bisa tahu kalau Giska kerasukan? Emangnya apa yang terjadi di sekolahnya?" tanya Rifalbi dengan suara lirih.
"Giska nekad main Jailangkung sama teman-temannya waktu bermalam di sekolah. Aku udah memperingatkan dia beberapa hari sebelumnya, tapi dia malah ngeyel. Waktu tengah malam, aku nemuin dia pingsan di salah satu kelas. Dua temannya udah kabur duluan. Aku kira Giska baik-baik aja, tapi nyatanya benar-benar kerasukan," tutur Sukma.
"Terus, gimana ceritanya kamu nggak tahu di mana jiwa Giska? Setahu Kakak, tadi pas pulang sekolah Giska baik-baik aja."
"Itu karena dedemit yang ada di dalam tubuh Giska nggak mau ketahuan sama orang banyak, makanya pura-pura lugu," jelas Sukma. "Oya, dia udah ngelakuin apa aja di rumah? Apa dia berbuat kegaduhan?"
"Sejak tiba di rumah, dia marah-marah terus sampai berani menghina ibu dan istri Kakak. Kakak nggak tahan dia berkelakuan seperti itu, makanya dikurung terus di kamar."
"Hm ... begitu, ya. Udah aku duga bakal begini jadinya."
"Terus, kami harus gimana? Apa perlu bantuan ustaz buat memulihkan Giska?"
"Dicoba aja, Kak. Mungkin dedemit itu nggak bakal berani berbuat gaduh selama dibacakan doa," kata Sukma. "Sementara kalian menangani dedemit itu, aku bakal nyari jiwa Giska, gimanapun caranya. Pokoknya kalian harus bantu aku biar Giska bisa cepat masuk kembali ke badannya."
"Baiklah, akan kami usahakan."
"Selama dedemit itu masih ada di badan Giska, jiwa Giska nggak akan bisa masuk dengan mudah. Mungkin dengan bantuan ustaz, Giska bisa sembuh seperti sedia kala."
"Kakak harap juga begitu. Jadi, untuk saat ini Kakak harus manggil ustaz dulu aja, gitu? Soalnya kalau terus-terusan kayak gini, kasihan sama ibu kami. Dia suka parnoan kalau berurusan dengan hantu."
"Iya, Kak. Dicoba aja dulu. Aku harap, rencana kita mengembalikan Giska berhasil."
"Aamiin."
"Oya, Kak. Bisa anterin aku ke kamar Giska sebentar? Aku pengen lihat keadaannya."
Rifalbi mengangguk, lalu beranjak dari sofa untuk mengantarkan Sukma ke kamar adiknya. Perlahan, pria itu membukakan pintu. Tampak tubuh adiknya sedang terbaring di kasur. Sukma menghela napas panjang, mencoba melihat keadaan Giska lebih dekat. Akan tetapi, kehadirannya telah diketahui oleh si dedemit berbaju merah.
"Bocah Setan! Mau apa kamu ke sini? Berani melawanku, ha?" bentak perempuan berbaju merah bangkit dari kasur, lalu berjalan tergesa-gesa menghampiri Sukma.
Secepatnya Rifalbi menarik tubuh Sukma dari kamar adiknya, lalu mengunci pintu kembali. Sukma tampak kaget melihat temannya berubah sangat galak tatkala dirasuki dedemit. Ia menatap Rifalbi, sembari menggeleng lemah.
"Sebaiknya kita harus menyelamatkan Giska malam ini juga," cetus Sukma.
__ADS_1