
Susan menyadari kehadiran Atikah di depan pintu dapur. Boneka bayi itu mengambil pisau yang sudah tergeletak di lantai, lalu berjalan menghampiri kakak dari Sukma. Atikah yang menyadari gerak-gerik Susan menuju ke arahnya, bergegas kembali ke kamar.
"Kakak, ayo kita main!" kata boneka bayi itu dengan suara cemprengnya.
Atikah semakin ketakutan. Sambil berlari kecil, ia memasuki kamar. Akan tetapi, langkahnya terjegal oleh pisau yang dilemparkan oleh Susan. Atikah menoleh, tubuhnya seketika tumbang tatkala boneka itu berjalan ke arahnya.
"T-tolong! Jangan bunuh aku!" berontak Atikah dengan suara gemetar dan terbata-bata.
Boneka itu menyeringai, kemudian melempar botol susu Sukma mengenai kepala Atikah. Dengan merangkak, Susan mendekati Atikah yang masih gentar menghadapinya.
Atikah merasa tidak tahan lagi melawan rasa takutnya. Ia memejamkan mata, jantungnya berdebar kencang. Kedua tangannya bergerak seolah-olah berusaha mencegah Susan naik ke tubuhnya.
"Tolooong! Tolong aku! Aaaa ...!" jerit Atikah panik.
Mendengar suara teriakan Atikah, Bu Inah terbangun dari tidurnya. Samar-samar terlihat bayangan putrinya di depan pintu kamar. Bu Inah merasakan ada yang tidak beres di sana. Segera ia menyalakan lampu, lalu memandang putri sulungnya yang terbaring di lantai sambil memegang boneka Susan.
"Atikah? Atikah!" ujar Bu Inah menepuk bahu putrinya.
Atikah terperanjat dan membuka mata. Segera gadis itu berdiri, kemudian memeluk ibunya dengan erat. Ia masih ketakutan rupanya.
"Ibu! Ibu! Aku takut, Bu!" rengek Atikah.
"Nggak apa-apa, Atikah. Ada Ibu di sini," ucap Bu Inah menenangkan putrinya. "Sebenarnya kamu sedang apa di depan kamar sambil teriak-teriak segala?"
Atikah mendongak dan berkata, "I-Ibu ... t-tadi aku lihat Susan berjalan sendiri ke dapur. Terus a-aku ikutin dia diam-diam. Saat boneka itu tahu aku lagi ngintip, dia ngejar aku sambil bawa-bawa pisau. Aku takut banget, Bu!"
"Susan bawa pisau? Yang benar saja?" tanya Bu Inah mengerutkan dahi, seakan-akan tak percaya pada perkataan putrinya.
Untuk membuktikan perkataannya, Atikah memungut pisau dapur yang tergeletak di lantai. Ditunjukkannya pisau itu pada Bu Inah, berharap ibunya itu memercayai semua kejadian mengerikan yang menimpanya beberapa saat lalu.
"Ini pisaunya, Bu," kata Atikah, kemudian menunjuk ke arah boneka Susan terbaring. "Tuh, lihat, Bu! Ada botol susu Dedek juga di dekat boneka itu! Tadi dia mengobrak-abrik rak piring, terus ngambil botol susunya Dedek."
Pak Risman dan Sukma yang mendengar percakapan Atikah bersama Bu Inah, merasa penasaran. Keduanya terbangun, lalu beranjak dari tempat tidur. Sambil setengah sadar, Pak Risman memandang boneka di dekat Atikah.
"Atikah, ada apa ini?" tanya Pak Risman.
"Teteh ngapain malam-malam mainin boneka aku?" tanya Sukma, mengambil boneka lusuh itu dari lantai.
Atikah yang masih syok, segera merebut boneka itu dari tangan Sukma dan melemparnya ke dekat jendela. Sambil mengap-mengap, gadis itu menatap tajam pada adiknya. Sukma pun mulai ketakutan melihat kemarahan di wajah sang kakak.
"Sukma! Itu boneka terkutuk! Jangan dimainkan lagi! Kalau kamu terus menyimpan boneka itu, kamu bakal sakit-sakitan," bentak Atikah.
"Tapi ... tapi itu boneka pemberian teman aku," kata Sukma, suaranya terdengar parau. Matanya berkaca-kaca, tak mampu membendung kesedihannya.
"Teman kamu bukan manusia!" hardik Atikah.
Isak tangis Sukma pecah. Pak Risman segera menggendong gadis kecil itu ke pangkuannya. Tangisan Sukma begitu nyaring, sampai terdengar ke luar paviliun. Tak biasanya Atikah sampai membentak adiknya. Pak Risman dan Bu Inah tahu betul, bahwa Atikah seorang kakak yang penyayang. Namun, melihat perilakunya saat ini, keduanya pun merasa heran.
__ADS_1
Bu Inah menarik Atikah ke ruang tengah. Ia merasa, perilaku putri sulungnya itu berlebihan. Mungkin dengan dinasihati, Atikah tak akan mengulangi perbuatannya lagi.
"Atikah, kalau kamu merasa takut dan kesal, jangan dilampiaskan pada adikmu. Kasihan dia, masih kecil."
"Tapi, Bu. Dek Sukma yang bawa boneka itu ke sini. Tadi siang dia ngenalin aku ke temannya juga, tapi aku nggak lihat siapa-siapa. Aku yakin, temannya itu bukan manusia."
"Kamu jangan mudah menyimpulkan begitu saja, Atikah. Mungkin saja Dedek punya imajinasi yang tinggi, sampai bisa menciptakan teman khayalannya sendiri."
"Enggak, Bu. Aku yakin teman Dedek itu bukan manusia. Terus boneka itu ... boneka itu pasti ada apa-apanya."
Kali ini Bu Inah tak bisa menampik lagi. Pikirannya seketika teringat pada perkataan Giska sewaktu pulang sekolah. Teman Sukma itu begitu ketakutan ketika melihat boneka lusuh di tangan putrinya. Bahkan, Giska sampai berkata bahwa ia tidak menyukai boneka bernama Susan itu.
"Baiklah. Besok Ibu coba bujuk Dek Sukma buat membuang bonekanya, ya."
"Janji, Bu?"
"Iya." Bu Inah mengangguk. "Sebaiknya kita tidur lagi, ya. Besok kamu harus sekolah, 'kan?"
Atikah mengangguk, kemudian dituntun oleh Bu Inah ke kamar. Keduanya berbaring di tempat tidur, disusul oleh Pak Risman yang sudah menenangkan Sukma. Gadis kecil itu akhirnya berhenti menangis setelah kelelahan.
Jarum jam dinding terus berputar, hujan deras mulai mereda. Susan yang tergeletak di dekat jendela, perlahan-lahan bangkit. Boneka bayi itu kembali ke kamar untuk menghampiri Sukma. Akan tetapi, tiba-tiba langkahnya terjegal oleh wanita tua yang menunggui kamar keluarga Pak Risman.
"Minggir kau, Nenek Jelek!" bentak Susan.
"Mau apa kau kemari, Bocah Ingusan? Apa kau pikir mendapatkan jiwa gadis kecil yang bernama Sukma itu mudah?" tanya wanita tua itu, disusul cekikikannya yang mengerikan.
"Aku? Kau pikir, aku mempersulitmu, begitu? Dasar bodoh! Aku sudah tinggal di sini sejak Sukma masih bayi. Berkali-kali aku mencoba mengambil jiwa dan raganya, tapi ayahnya selalu terbangun dan memergokiku."
"Itu karena kau bodoh. Tidak seperti aku, mengambil jiwa anak kecil sedikit demi sedikit."
"Maksudmu?"
"Aku menyerap semua energinya perlahan-lahan, sampai anak yang kujadikan sasaran jatuh sakit dan meninggal. Sekarang, aku akan menyerap energi Sukma sampai jiwanya berada di tanganku."
Wanita tua itu terbahak-bahak. "Begitu, ya. Percuma saja kau menyerap energi anak itu. Yang ada kau akan tewas lebih dulu."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Sukma bukan anak biasa. Dia putri iblis! Kekuatannya berasal dari makhluk gaib seperti kita. Semakin banyak jin dan setan menghuni rumah ini, maka anak itu semakin sehat-sehat saja."
"Mustahil! Jangan coba-coba mengarang cerita hanya untuk menyingkirkanku!"
"Untuk apa aku mengarang cerita? Aku sudah lama hidup di dunia ini. Kalau kau tak percaya, lihat saja sosok anak itu sekarang juga."
"Kalau begitu, minggirlah!"
Wanita tua itu mempersilakan Susan masuk ke kamar. Dipanjatnya spring bed yang tidak begitu tinggi. Saat sudah berada di tempat tidur, boneka itu menatap Sukma cukup lama. Tampak wujud asli si putri iblis yang memiliki dua tanduk di kepalanya serta kulit hitam legam, sedang tidur nyenyak di antara ayah dan ibu angkatnya.
__ADS_1
Betapa terkejut Susan mengetahui sosok anak perempuan yang dilihatnya. Perlahan-lahan ia turun dari tempat tidur, kemudian menghampiri wanita tua itu. Cukup lama boneka bayi itu termenung sampai si wanita tua berwajah mengerikan, membuatnya terhenyak.
"Bagaimana? Apa sekarang kau percaya padaku?"
"Tapi ... tidak mungkin! Kenapa Maurin tidak tahu sosok aslinya dari awal?"
"Jiwa yang belum tenang tidak akan tahu sosok asli dari putri iblis itu. Sedangkan kau dan aku memang makhluk gaib yang sudah hidup lebih lama dari manusia."
"Lalu, sekarang aku harus bagaimana? Jika menyerap energinya saja mustahil, bagaimana bisa aku membawa jiwanya ke alam gaib?"
"Jalan satu-satunya hanyalah membunuhnya, tapi ... jika sampai dia terbunuh sebelum waktunya, maka Raja Iblis akan murka padamu."
"Apa?!"
"Ya. Raja Iblis tidak suka kalau sampai putrinya celaka. Akan tetapi, jika kita menjaga Sukma dengan baik-baik, dia akan memberikan setengah kekuatannya."
"Tapi aku butuh jiwanya untuk menemani majikanku. Maurin."
"Itu urusanmu. Kalau kau tetap bersikukuh ingin mengambil jiwa Sukma dengan cara menyerap energinya, siap-siap saja untuk tewas."
"Aku harus memberitahu Maurin dulu."
"Sebaiknya begitu. Cari saja anak lain untuk kau ambil jiwanya."
...****************...
Pagi telah tiba. Sukma diantar oleh Bu Inah pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Bu Inah memandangi putrinya yang asyik membawa Susan ke sekolahnya. Ia masih ingat betul dengan kejadian semalam, yang membuat putri sulungnya ketakutan. Akan tetapi, ia merasa tidak tega jika harus menyuruh Sukma membuang boneka itu.
Ketika memasuki gerbang sekolah, tak sengaja mereka berpapasan dengan Giska dan ibunya. Sukma dibiarkan masuk lebih dulu, mengingat Giska ketakutan melihat boneka di tangan putri angkat dari Bu Inah. Sementara Bu Inah mengajak ibunya Giska duduk di salah satu kursi taman kanak-kanak.
"Ada apa, Bu? Tumben belum mau pulang dulu," kata ibunya Giska.
"Saya mau tanya soal boneka itu, Bu. Kenapa Giska sampai ketakutan melihat boneka Susan itu, ya?"
"Oh, itu. Sebenarnya dulu dia pernah main dengan boneka itu. Katanya dikasih oleh temannya, yang rumahnya berhadapan dengan rumah kami."
"Begitu, ya. Terus, kenapa sekarang dia sampai ketakutan begitu?"
Gelagat ibunya Giska berubah gugup. Ia seperti tak mau menjelaskan tentang pengalaman buruknya secara rinci. Sifatnya yang penakut, membuatnya ciut nyali untuk mengungkapkan segalanya.
"Maaf, Bu. S-saya ... saya pulang dulu. Ada urusan penting yang harus saya selesaikan di rumah. Permisi," kata ibunya Giska terbata-bata.
"Tapi, Bu. Saya perlu cerita banyak tentang ...."
"Kalau soal itu, sebaiknya Ibu datang ke rumah saya buat ngobrol langsung dengan kakaknya Giska. Dia lebih tahu semua tentang boneka itu. Permisi."
"Baiklah, nanti sore saya akan ke rumah Ibu."
__ADS_1
Ibunya Giska tak lagi menanggapi perkataan Bu Inah. Ia tampak tergesa-gesa, berusaha menghindari pertanyaan selanjutnya dari wanita paruh baya itu. Tak lupa, ia juga menghubungi kakaknya Giska yang sedang kuliah untuk segera pulang.