
Bersamaan dengan mentari yang kian meninggi, Pak Risman dan Bu Inah sibuk menata ruangan kontrakan senyaman mungkin. Beberapa pakaian dimasukkan ke dalam kardus yang direka serapi mungkin menjadi seperti lemari. Rak piring mini dipasang ulang oleh Bu Inah, sehingga bisa dipakai. Dan, Atikah membuka tasnya dan menyusun buku-buku pelajarannya serapi mungkin.
Sementara kedua orang tua dan kakaknya membereskan barang-barang, Sukma justru berlarian di sekitar area kontrakan. Setelah melihat seorang anak kecil di lantai atas kontrakan, ia menjadi penasaran sekaligus senang karena merasa ada teman baru. Bukan hanya anak kecil saja yang dilihatnya, sepasang nenek-kakek juga ada di salah satu teras kontrakan. Sesekali Sukma menyapanya, tapi mereka malah memelototinya seperti tidak suka dengan kehadiran gadis kecil itu.
Dari sekian banyak makhluk halus yang berkeliaran di area kontrakan, Sukma masih penasaran dengan sosok tinggi besar berkepala anjing yang selalu berdiri di depan gerbang seperti satpam. Ia menuruni tangga, kemudian berlari menuju gerbang.
"Hai, Guguk! Kamu nggak capek diem terus di sana? Ayo main sama aku!" ajak Sukma, menepuk-nepuk kaki besar makhluk itu.
Sosok makhluk gaib berkepala anjing itu mendepak Sukma dan memandang sinis. Ia benar-benar tidak suka jika ada manusia yang mengganggu tugasnya. Maka tak heran, beberapa orang pintar selalu menyampaikan setengah kebenaran dari keberhasilannya mengusir makhluk halus pada Haji Gufron. Mereka hanya mampu mengusir makhluk halus di kamar kontrakan, tapi tidak dengan 'penunggu gerbang' yang satu ini. Dulu pernah ada satu paranormal yang berusaha melawannya, tapi akhirnya orang itu justru menjadi lumpuh karena tenaga si makhluk penunggu gerbang yang sangat kuat.
Namun, kekuatan makhluk itu tidak ada apa-apanya bagi Sukma. Buktinya bocah kecil itu sanggup bangkit kembali dengan mudah sambil menepuk-nepuk bajunya yang terkena debu. Sukma memegang telunjuk makhluk itu, lalu mendongak dan menunjukkan wajah memberengut.
"Kenapa, sih, kamu nggak bisa diajak main?" Sukma mengerutkan dahinya. "Kamu mau tulang, ya?"
Makhluk itu melepaskan genggaman Sukma dengan kasar. Matanya masih menatap tajam. "Kamu ini ngeyel terus. Mau saya bikin lumpuh seperti paranormal lain?"
"Ih, kok kamu gitu, sih? Kamu jangan galak-galak dong. Kalau kamu baik, nanti aku kasih makan deh. Kamu suka makan apa? Daging ayam? Daging sapi? Atau cuma pengin makan tulangnya aja?"
"Saya makan orang."
"Oooh." Sukma mengangguk, lalu tercengang. "Kamu makan orang?!"
Makhluk itu mengangguk. "Ya, saya akan menuruti kemauan kalian kalau bersedia menyediakan tumbal."
Sukma menggaruk belakang kepalanya sambil menyengir. "Kenapa, sih, kalian itu suka banget makan orang? Wanara makan orang. Kamu makan orang. Emangnya kalian nggak suka makan makanan yang wajar, gitu? Monyet itu makannya pisang. Kalau anjing makannya daging. Pokoknya daging yang gede-gede deh kayak daging sapi."
"Daging manusia juga besar."
"Tapi lebih gede daging sapi. Enak lagi."
"Daging manusia lebih lezat."
Sukma mengernyitkan kening, lalu menggigit lengan kanannya. Setelah memastikan daging manusia itu enak atau tidak, Sukma meludah dan menjulurkan lidahnya. Ia menengok lagi pada si penunggu gerbang sambil berkacak pinggang.
"Enggak enak!" bentak Sukma.
"Tidak enak bagaimana maksudmu?"
"Pokoknya nggak enak deh! Lebih enakan daging sapi," kata Sukma bersikukuh. "Ibu suka bikinin semur daging sapi sama gulai tiap Idul Adha. Rasanya enaaak banget. Aku serasa dibawa terbang ke langit."
"Terserah kamu saja. Hus ... hus! Jangan ganggu saya! Saya sedang bertugas," usir makhluk berkepala anjing itu.
"Tugas kamu apa? Ngejagain gerbang biar nggak ada yang maling, ya?"
"Bukan."
"Terus, apa?"
"Saya ditugaskan oleh seseorang untuk mencegah orang-orang yang akan tinggal di sini."
"Loh, kok gitu?" Sukma mengernyitkan kening. "Tugas guguk itu menjaga rumah dari maling, bukan ngehalangin orang yang mau tinggal di kontrakan."
"Sudah! Jangan banyak mengoceh! Kamu main saja dengan yang lain," ujar makhluk itu kesal.
"Tapi aku pengin mainnya sama kamu."
"Kamu ini keras kepala, ya. Sana! Datangi saja orang yang meminta saya bertugas di sini. "
"Siapa?"
"Seorang lelaki paruh baya yang tinggal di seberang jalan. Dia sedang membangun kontrakan baru."
"Namanya siapa?"
"Tak akan saya beri tahu."
"Baiklah. Kamu ini guguk yang judes!" ketus Sukma menjulurkan lidah.
Sukma pun bergegas pergi mencari orang yang menyuruh makhluk gaib itu menunggu gerbang. Bagaimanapun caranya, ia harus menemukannya. Gadis kecil itu sudah terlanjur senang dengan adanya makhluk besar berkepala anjing. Setidaknya, ia bisa melupakan Wanara yang pernah menjadi binatang peliharaannya walau hanya beberapa hari.
__ADS_1
Cukup jauh berjalan, Sukma akhirnya menemukan sebuah kontrakan yang sedang dibangun. Kontrakan itu sudah penuh oleh penghuni, semua kamarnya terisi. Gadis kecil itu penasaran akan pemilik kontrakan yang sedikit lebih besar dari milik Haji Gufron.
"Cari siapa, Dek?" tanya seorang pemuda yang baru pulang dari warung.
Sukma menoleh. "Aku lagi nyari bapak-bapak yang ngebangun kontrakan ini. Aku pengin main sama guguknya. Kata guguknya, aku harus temuin orang yang lagi ngebangun kontrakan dulu."
Mendengar penuturan Sukma, pemuda itu mengerutkan dahi. "Kamu bisa ngomong sama anjing?"
"Hus! Aa ini ngomongnya kasar, ih. Guguk, A," kata Sukma dengan mata melotot.
"Ah, iya. Guguk." Pemuda itu mengangguk. "Oya, kamu tadi nanyain yang punya kontrakan ini, kan? Datang aja ke warung sebelah rumah ini. Nanti ada pemiliknya. Namanya Pak Beni."
"Oh, iya. Terima kasih, ya, Aa."
Sukma melenggang pergi dari depan kontrakan. Cukup berjalan beberapa langkah, gadis kecil itu menemukan warung yang cukup besar. Barang dagangannya tersusun rapi di etalase dan rak makanan. Ada juga jajanan rentengan yang digantung di atas etalase warung.
"Mau beli apa, Dek?" tanya si penjaga warung.
"Pak Beni, ya?" Sukma balik bertanya.
"Iya. Adek mau beli apa?"
"Aku pengin main sama guguknya Bapak. Boleh, ya?"
Mendengar pertanyaan Sukma, Pak Beni terkejut. Mustahil anak ini bisa tahu wujud jin kiriman di depan gerbang kontrakan Haji Gufron, pikirnya. Tubuhnya gemetar, memandang Sukma yang polos sedang tersenyum-senyum kepadanya. Khawatir kalau-kalau ada yang mendengar percakapan di antara mereka.
"Pak. Gimana? Boleh, kan?" tanya Sukma memastikan.
Sebelum menjawab, Pak Beni melirik sebentar ke luar warung. Syukurlah, tak ada yang melintas di sana. Pak Beni keluar dari etalase, lalu menghampiri Sukma dan memberinya uang.
Sukma terheran-heran dengan sikap Pak Beni. Ia tak mengerti akan maksud pria berbadan sedikit tambun itu memberinya uang. Pak Beni mengisyaratkan Sukma untuk segera pergi dengan gerakan tangan, tapi gadis kecil itu justru berkedip tidak mengerti.
"Ini uang apa, Pak?" tanya Sukma.
"Sudahlah, kamu bisa jajan pakai uang itu di warung lain."
"Tapi aku nggak mau jajan, Pak. Aku maunya main sama guguknya Bapak."
Setibanya kembali ke depan gerbang kontrakan Haji Gufron, tampak Atikah sedang berdiri mematung sembari mendongak. Sukma yang baru saja datang, segera memegang tangan Atikah hingga membuat kakaknya terhenyak.
"Teteh mau ke mana?" tanya Sukma.
"Ya ampun, Dedek. Kamu habis dari mana aja? Teteh tadinya mau nyari Dedek, tapi ...." Atikah kembali mendongak menatap makhluk penunggu gerbang.
Menyadari kakaknya ketakutan melihat si penunggu gerbang, Sukma bertanya, "Teteh takut sama guguknya, ya?"
Atikah menatap Sukma sambil mengangguk.
"Sini, Teteh! Tutup matanya, ya."
Atikah memejamkan mata, sementara Sukma menaruh telapak tangannya di kening sang kakak. Mulutnya komat-kamit seperti merapal mantra. Selesai menutup mata batin Atikah, Sukma menyuruh kakaknya membuka mata.
Perlahan-lahan, gadis kecil itu membuka mata. Samar-samar, terlihat gerbang yang sedikit terbuka. Tak ada sosok makhluk tinggi besar berwajah anjing lagi di sana. Hanya pemandangan biasa, yang sewajarnya dilihat manusia awam.
"Guguknya nggak ada, kan, Teh?" tanya Sukma dengan tersenyum simpul.
"Benar, Dek. Guguknya hilang. Ke mana, ya?"
"Guguknya masih berdiri di dekat gerbang, kok."
Atikah terperangah. "Ah, masa?"
"Iya, Teh. Nggak percaya? Sini, aku lihatin lagi."
"Enggak, enggak! Mukanya nyeremin. Nanti guguknya ngegigit Teteh," elak Atikah, mundur selangkah ke belakang.
"Oh, ya sudah."
Sukma melenggang masuk ke area kontrakan. Atikah terheran-heran dengan sesuatu yang telah dilakukan sang adik padanya. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan, makhluk yang dilihatnya beberapa saat lalu, tidak ada sama sekali.
__ADS_1
...****************...
Selesai berziarah dari makam Hajah Ai, istri Haji Gufron, Fadil mengajak ayahnya untuk menengok keluarga Pak Risman. Haji Gufron setuju, ingin memastikan bahwa keluarga kecil Pak Risman baik-baik saja. Ia berharap, kamar kontrakan bekas pembunuhan Euis itu tidak diteror oleh roh gentayangan.
Selama di perjalanan, Fadil terus menanyakan pada Haji Gufron tentang mengundang paranormal yang akan membersihkan kontrakan. Haji Gufron tetap bersikukuh, bahwa langkahnya memberikan kamar kontrakan bekas Euis pada Pak Risman sudah cukup untuk mengusir makhluk halus. Fadil terus memberikan pengertian pada ayahnya, dan menyarankan untuk berkunjung ke rumah Pak Suwandi terlebih dahulu.
"Buat apa, Dil? Bapak sudah pernah minta tolong sama Pak Suwandi. Hasilnya sama saja," kata Haji Gufron.
"Tapi apa salahnya dicoba lagi? Siapa tahu, sekarang ilmu Pak Suwandi sudah mutakhir."
"Kamu pikir dia itu aplikasi hape yang bisa di-upgrade? Enggak, ah. Sekarang mendingan langsung ke kontrakan aja. Mudah-mudahan Pak Risman dan keluarganya betah."
"Bapak ini dikasih tahu malah ngeyel. Bedegong si Bapak mah."
Tak terasa, mereka sudah tiba di depan gerbang kontrakan. Dengan santai keduanya masuk ke area kontrakan. Haji Gufron melambaikan tangan pada Pak Risman yang baru selesai menyapu lantai. Pak Risman menyambut Haji Gufron dan putranya dengan hangat. Tak lupa, ia juga mempersilakan masuk keduanya.
"Ah, nggak usah. Di sini saja lah," kata Haji Gufron.
Mereka pun duduk di teras kontrakan. Bu Inah yang mengetahui kedatangan Haji Gufron dan Fadil, segera menyiapkan tiga gelas air putih. Setelah itu, ia menyuguhkannya pada ketiga pria itu, lalu duduk di samping suaminya.
"Pak Risman betah tinggal di sini?" tanya Haji Gufron tersenyum simpul.
"Ya beginilah. Lumayan betah, Pak," jawab Pak Risman dengan santai.
"Nggak ada kejadian apa pun, Pak? Kayak kesurupan atau apa gitu?" tanya Fadil penasaran.
"Tidak. Cuma pas jam tiga dini hari, saya nemuin si sulung pingsan di depan kamar mandi. Tapi ... sekarang baik-baik saja, kok," jelas Pak Risman.
"Oh, begitu. Sekarang di mana anak-anak Bapak?" tanya Haji Gufron.
"Yang gede lagi baca buku di dalam. Kalau si bungsu, entah kenapa dari tadi dia mainan tanah terus di belakang gerbang."
"Namanya juga anak-anak, si bungsu kayaknya masih tinggi imajinasinya," kata Fadil.
"Iya, maklum. Si bungsu memang agak aneh. Kakaknya pingsan, dia malah ikutan pingsan. Ngomongnya juga sering melantur. Lihat ini lah, itu lah. Bahkan waktu sudah siuman, dia bilang habis menolong perempuan yang namanya Euis. Ah, dasar, dia ini."
Tertegun Haji Gufron dan Fadil mendengar penuturan Pak Risman. Haji Gufron berpikir, bahwa anak bungsu Pak Risman memanglah berbeda. Pun dengan Fadil yang tak bisa memungkiri bahwa dalam pingsannya, Sukma sudah bertemu dengan hantu yang bergentayangan di area kontrakannya.
Haji Gufron tak tahan lagi menyembunyikan rahasia yang ditutupnya selama dua tahun. Sebelum mulai berbicara, ia menatap Fadil sejenak, seolah-olah menyampaikan isyarat akan menyampaikan kebenaran yang tersembunyi pada penghuni kontrakan baru. Fadil mengangguk setuju.
"Begini, Pak Risman. Maaf sebelumnya, saya belum menyampaikan hal ini semalam," ucap Haji Gufron bernada sedikit gugup.
"Menyampaikan apa, Pak? Bukankah semalam Bapak sudah mengatakan semua tentang kontrakan ini?" tanya Bu Inah mengernyitkan kening.
"Sebenarnya ada rahasia yang selalu kami sembunyikan dari setiap penghuni kontrakan baru. Tapi, sepertinya Bapak dan Ibu akan kuat tinggal di sini," tutur Fadil menatap kosong ke dalam kontrakan.
"Rahasia? Rahasia apa?" tanya Bu Inah penasaran.
"Sebenarnya, pernah terjadi pembunuhan di kontrakan ini, tepatnya di kamar yang Bapak tempati ini," tutur Haji Gufron, nadanya mulai terdengar serius.
"Korbannya bernama Euis. Dia meninggal karena ditusuk oleh suaminya. Sebenarnya dia sudah beberapa kali mengalami KDRT, gara-gara mengancam akan memberitahukan hubungannya pada istri pertama suaminya," timpal Fadil.
Mendengar penjelasan Haji Gufron dan Fadil, Atikah segera menutup buku. Ia beringsut ke dekat jendela, menguping pembicaraan orang-orang dewasa itu dengan saksama. Setelah mendengar kasus perempuan yang perutnya ditusuk oleh sang suami, Atikah menjadi teringat pada kejadian semalam, saat mendengar suara rintihan dan melihat sosok perempuan berbaju merah dengan pisau di perutnya.
"Lalu, kenapa Bapak merahasiakan hal ini pada kami? Kami tidak keberatan kalau tinggal di kamar bekas kasus pembunuhan. Toh, roh orang yang sudah meninggal ada di alam kubur," kata Pak Risman dengan ringan.
"Masalahnya bukan itu, Pak. Para penghuni sebelumnya selalu mengeluh pada kami, karena sering mendengar suara rintihan perempuan dan penampakannya di kamar mandi," tegas Fadil.
"Oh, begitu. Alhamdulillah, kami nggak mengalami hal aneh seperti itu. Cuma gitu, si sulung pingsan di depan kamar mandi," kata Bu Inah.
"Apa jangan-jangan putri sulung Bapak sudah lihat penampakan perempuan itu?" tanya Fadil menduga-duga.
"Aduh, kalau itu saya kurang tahu juga," kata Pak Risman menyengir.
Mendengar pertanyaan Fadil, Atikah ingin sekali mengatakan sesuatu yang dilihatnya semalam. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya mengungkapkan hal itu di depan orang tuanya, mengingat Pak Risman dan Bu Inah tak akan mungkin mempercayai semua ucapannya. Akhirnya, Atikah mengurungkan niatnya dan hanya menyimak pembicaraan orang-orang di teras.
Beberapa saat kemudian, Sukma berlari menghampiri kedua orang tuanya sambil membawa gulungan kain di tangannya. Wajahnya tampak semringah setelah cukup lama menggali tanah di dekat gerbang. Tanpa basa-basi, ia duduk di antara orang tuanya sambil membuka tali pada gulungan kain itu.
"Apaan itu, Dek?" tanya Bu Inah.
__ADS_1
Sukma mengedikkan bahu. "Aku nemunin ini di dekat ekor guguk yang berdiri di gerbang, Bu."