SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Ritual Pemanggilan Arwah


__ADS_3

Hari yang ditunggu Giska dan kedua temannya telah tiba. Batok kelapa yang sudah disiapkan Rena, telah rampung menjadi boneka pemanggil makhluk gaib. Tak lupa, gadis berambut sebahu itu memakaikan kaus berwarna merah pada bonekanya. Ia membawanya dalam keresek berukuran sedang, dengan dalih sebagai persyaratan yang harus dibawa kakak pembina.


Rena sengaja menyimpan boneka Jailangkung di tempat yang aman. Ia tidak mau kalau sampai teman-teman selain Giska dan Dini mengetahuinya. Selama kegiatan perkenalan Pramuka sekolah dilaksanakan, hati Rena terkadang waswas, terlebih saat melihat kakak-kakak pembina keluar masuk kelas. Bersyukur, benda bawaannya tak diketahui oleh mereka sama sekali.


Di sisi lain, Sukma mengalungkan botol kecil berisi Wanara. Ia sengaja membawa kera itu di saat-saat genting seperti saat ini. Kendati teman sekelasnya merasa aneh dengan sikapnya, Sukma tak peduli. Baginya, waspada harus tetap dilakukan, apalagi setelah mengetahui ancaman dari perempuan berbaju merah itu.


Kegiatan demi kegiatan Pramuka dijalani oleh para siswa. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok. Di kelas 7A, Sukma berada di kelompok orang-orang terbuang. Ia tak peduli, meskipun para siswi yang dianggap paling tidak berguna di kelas selalu merendahkan dirinya selama kegiatan berlangsung. Lagipula, Sukma hanya berkomunikasi seperlunya saja, dan enggan terlalu dekat dengan para siswa yang kebanyakan dari kalangan penggosip.


Beranjak malam, kegiatan Api Unggun dilaksanakan. Angin malam berembus menusuk tulang. Semua siswa berkumpul di lapangan. Kakak-kakak pembina dan guru pembimbing berorasi secara bergantian pada murid-murid junior yang sedang duduk di depan api unggun. Salah satu kakak pembina mengingatkan para juniornya tentang semua pengorbanan yang telah diberikan orang tua selama ini. Seketika, Sukma ikut terenyuh tatkala senior yang sedang berorasi di dekat api unggun memimpin doa kepada orang tua. Terlintas wajah ibu dan ayahnya yang berkorban begitu banyak demi kelangsungan hidup dan keselamatannya di dunia.


Saat menjelang tengah malam, para siswa dianjurkan beristirahat di kelas masing-masing. Sukma masih terjaga, memikirkan Giska dan kawan-kawannya yang akan melaksanakan ritual pemanggilan arwah. Sementara siswa yang lain tertidur pulas, gadis itu diam-diam menyelinap ke luar kelas.


Di tempat lain, Rena telah lebih dulu meninggalkan ruang kelasnya, lalu disusul oleh kedua temannya yang beralasan pergi ke WC pada kakak pembina yang sedang berjaga. Salah satu ruang kelas paling tersudut dan sunyi, dipilih mereka sebagai tempat yang tepat untuk memulai permainan Jailangkung. Mengendap-endap mereka berusaha meloloskan diri dari kakak-kakak pembina yang sedang berpatroli malam, hingga akhirnya tiba di kelas yang dituju.


Setibanya di kelas paling pojok yang sangat minim penerangan, Rena membuka pintu. Dengan jantung yang berdebar-debar, Giska dan Dini mengikuti Rena ke dalam kelas. Selanjutnya, Giska menutup pintu, memastikan tak ada orang yang memperhatikan mereka.


Setelah ketiganya siap melakukan permainan Jailangkung, Rena menyalakan lilin sebagai penerangan di kelas. Sembari menghela napas, Giska dan Dini memegangi boneka Jailangkung. Terbesit keraguan di hati Giska. Namun, bagaimanapun juga ini merupakan idenya. Ia harus bertanggung jawab atas kemauannya berkomunikasi dengan makhluk gaib.


"Jelangkung jelangsat. Di sini ada pesta. Pesta kecil-kecilan. Jelangkung jelangsat. Datang tidak diundang, pergi tidak diantar," ucap ketiganya merapalkan mantra. Mereka mengulanginya sebanyak tiga kali berturut-turut, hingga semilir angin berembus lembut dan membuat bulu kuduk meremang.


Perasaan Giska dan Dini mulai tidak keruan. Tangan mereka gemetar memegangi boneka Jailangkung. Rena menghela napas dalam-dalam tatkala meyakini bahwa makhluk yang dipanggilnya sudah hadir di kelas itu.


Firasat mereka tidak meleset. Perempuan gimbal berbaju merah benar-benar hadir di dalam kelas, bersama dua anak buahnya yang merupakan Kuntilanak berbaju putih lusuh. Ia menyeringai dengan lebar, memilih salah satu dari ketiga gadis remaja itu untuk diambil alih raganya. Seperti embusan angin, ia masuk ke dalam boneka Jailangkung, bersiap untuk membodoh-bodohi ketiga anak perempuan itu sampai keinginannya terlaksana.


"Katakan padaku, apa kamu sudah ada di sini? Buat lingkaran jika kamu sudah hadir," ucap Rena dengan suara bergetar.


Boneka Jailangkung itu perlahan-lahan bergerak sendiri tanpa kendali Giska atau Dini. Bagian bawah boneka membuat lingkaran di lantai, menandakan kehadirannya di kelas itu. Rena, Giska, dan Dini menelan ludah saat melihat lingkaran di lantai.


"Dia ada di sini! Gimana ini?" tanya Dini panik.


"Tenang, tenang. Ini baru permulaan. Bukankah kita udah berjanji bakal ngelakuin permainan ini sampai selesai?" ujar Rena.


"T-tapi ... gimana kalau dia nggak mau pergi?" tanya Giska cemas.

__ADS_1


"Kalian jangan banyak tanya! Udah aku bilang, tenang! Gimana kita mau nyelesaikan permainannya kalau kalian panik?" bentak Rena.


"Oke. Kami bakal berusaha buat tenang. Sok lanjutin lagi," ucap Giska.


Rena menghela napas, berusaha menenangkan pikirannya. "Kamu perempuan atau laki-laki? Buat lingkaran kalau kamu perempuan, buat tanda silang kalau kamu laki-laki."


Perlahan-lahan, boneka itu kembali membuat tanda lingkaran di lantai. Rena mengangguk pelan, lalu menatap temannya satu per satu. Giska mulai berkeringat mengetahui hal itu.


"Kayaknya dia guru yang pernah bunuh diri di sini," kata Rena dengan yakin.


"Atau mungkin noni-noni Belanda," cetus Dini.


"Udahlah, lanjutin lagi! Aku pengin cepet udahan," gerutu Giska.


"Udahan gimana? Bukannya kamu yang ngusulin buat main Jailangkung? Ayolah! Nikmatin aja," ketus Rena. "Baiklah, pertanyaan selanjutnya. Apa kamu guru yang bunuh diri atau noni-noni Belanda? Buat lingkaran jika kamu guru, buat tanda silang kalau kamu noni Belanda."


Lagi-lagi boneka itu membuat lingkaran di lantai. Bukan itu saja, bagian bawah Jailangkung mulai menuliskan sebuah kata. Rena, Giska, dan Dini memperhatikan gerakan boneka itu dengan saksama. Dimulai dari huruf A, K, U, kemudian diberi spasi dan dilanjutkan dengan huruf I. Rangkaian-rangkaian huruf itu tertulis begitu lambat, hingga membuat ketiga gadis itu harus mengejanya. Selesai menuliskan sebuah kalimat, boneka itu berhenti bergerak.


"Aku ingin hidup kembali di badan kalian," ucap ketiga gadis itu berbarengan, lalu saling tatap satu sama lain.


Angin berembus begitu kencang sampai memadamkan lilin. Rena dan Dini seketika panik, kemudian bergegas menuju ke luar kelas. Giska menyusul mereka dari belakang, tapi pintu kelas tiba-tiba tertutup rapat dan sulit dibuka. Ia terjebak di dalam kelas bersama boneka Jailangkung. Berkali-kali ia meminta tolong. Namun, yang terdengar hanyalah suara tawa perempuan melengking di seisi ruangan. Saking ketakutannya, gadis berambut pendek itu perlahan tak sadarkan diri di depan pintu.


Rena dan Dini yang sedang kalut, lupa pada Giska. Mereka berlari sekencangnya menuju ruang kelas yang lebih ramai. Ketika melewati koridor menuju kelas 7G, tak sengaja mereka berpapasan dengan Sukma. Gadis berkulit pucat itu segera menghentikan keduanya di tengah jalan.


"Kalian habis dari mana? Mana Giska?" tanya Sukma cemas.


Lidah kedua gadis itu seketika kelu. Mereka kesulitan untuk menjelaskannya di saat ketakutan. Rena dan Dini justru menyingkirkan Sukma, kemudian berlari terbirit-birit ke kelasnya.


Sukma mengernyitkan kening, menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada Giska. Secepatnya ia berlari, sambil memanggil nama teman masa kecilnya itu. Satu per satu pintu kelas dibukanya, tapi hanya ada makhluk gaib saja yang sedang menongkrong di sana. Merasa putus asa, ia membuka botol kecil untuk meminta bantuan Wanara.


"Wanara, coba kamu cari di ruang kelas lain. Di sini kelasnya banyak, aku jadi bingung," ujar Sukma.


"Baiklah. Kamu ke sebelah sana, aku ke sebelah sini," ucap Wanara.

__ADS_1


Keduanya mulai berpencar. Wanara menuju arah paling gelap dan dihuni oleh banyak makhluk gaib, sedangkan Sukma berlari ke beberapa kelas yang memiliki cukup penerangan. Wanara memasuki setiap ruangan yang dilewatinya. Tak ada gadis berambut pendek di sana.


Setelah cukup banyak kelas yang ditelusuri, pencarian Wanara berhenti di ruangan paling pojok sekolah, tepatnya di dekat gudang. Ia masuk ke dalamnya dan mendapati seorang gadis kecil sedang terkapar di dekat pintu. Akan tetapi, seketika kera itu merasa ragu, bahwa penglihatannya berubah-ubah mengenai gadis kecil itu. Sekejap Wanara melihat Giska, tapi beberapa detik kemudian berubah menjadi wanita berambut panjang.


Untuk memastikan penemuannya, Wanara segera berlari ke arah Sukma berada. Tanpa membutuhkan waktu lama, ia menemukan gadis itu di dekat tempat Giska main Jailangkung. Segera kera itu berlari menghampiri Sukma.


"Gimana? Udah ketemu?" tanya Sukma penasaran.


"Iya, tapi ... aku ragu, Sukma," ucap Wanara.


"Ragu kenapa?"


"Sosok gadis yang kamu maksudkan itu wujudnya berubah-ubah," jelas Wanara.


Sukma semakin panik. Ia berlari menyusuri koridor, hingga langkahnya berhenti di salah satu ruangan kelas. Dibukanya pintu kelas, kemudian terperangah melihat Giska sedang terkapar tak sadarkan diri di dekat pintu.


Segera Sukma mengangkat badan Giska hingga bersandar ke pundaknya. Ditepuk-tepuknya pipi gadis berambut pendek itu sembari menyebut-nyebut namanya. Akan tetapi, Giska belum kunjung sadarkan diri.


Sekuat tenaga Sukma berdiri sembari memapah Giska yang belum siuman. Tersaruk-saruk ia melangkah, membawa temannya menuju UKS. Kekuatannya yang biasanya mampu mengangkat alat berat, seketika tiada gunanya. Bahkan, Sukma terheran-heran dengan berat badan Giska. Tubuhnya lebih pendek dan kecil dibanding dirinya, tapi entah kenapa rasanya begitu berat.


Tak butuh waktu lama pertanyaan Sukma segera terjawab. Giska sadarkan diri, tapi suaranya menggeram, bahkan tawanya terdengar melengking seperti si baju merah. Gadis itu mulai curiga, temannya sudah dirasuki dedemit menyebalkan yang ingin mengambil raga salah satu dari pemain Jailangkung.


"Giska, sadarlah!" pekik Sukma menepuk-nepuk pipi Giska.


Gadis berambut pendek itu menatap tajam ke arah Sukma, kemudian menyeringai. "Sudah aku bilang, aku akan mengambil alih raga temanmu. Hahaha ...."


Saking kesalnya, Sukma menampar pipi Giska sekeras mungkin. Wanara yang sejak tadi berdiri di belakangnya, segera menarik kepala perempuan berbaju merah dari raga gadis berambut pendek itu. Bersamaan dengan keluarnya dedemit dari tubuhnya, Giska kembali tak sadarkan diri.


Kali ini, Sukma merasa tubuh temannya begitu ringan. Segera ia menggendongnya, kemudian berlari menuju UKS dan menemui kakak pembina, selagi Wanara menahan perempuan berbaju merah. Sesampainya di depan UKS, Sukma bertemu dengan dua orang kakak pembina dan meminta bantuan mereka. Ia begitu khawatir melihat temannya tak sadarkan diri.


"Kenapa sama teman kamu ini? Kok bisa pingsan? Bukannya kalian dari tadi disuruh tidur?" tanya salah satu senior perempuan.


"Aku nggak tahu, Kak. Coba tanyain sama teman sekelasnya. Yang satu rambutnya sebahu, punya tahi lalat di bawah bibirnya. Satu lagi pakai kacamata, rambutnya suka dikuncir di belakang. Tadi aku ngeihat mereka lari-lari ketakutan dari tempat Giska pingsan," jelas Sukma.

__ADS_1


Salah satu senior laki-laki bergegas mencari tahu ke kelasnya Giska. Sementara itu, Sukma dan senior perempuan masih berusaha menyadarkan gadis berambut pendek itu dari pingsannya. Tak lupa, Sukma menyodorkan minyak kayu putih ke hidung temannya supaya cepat siuman.


__ADS_2