
Selesai salat tahajud, Pak Risman melipat sajadah. Ia melanjutkan zikir di ruang tengah sambil menunggu azan Subuh tiba. Dalam penantiannya menyambut waktu salat wajib, rasa kantuk menghampiri matanya. Sambil terkantuk-kantuk, pria itu tak berhenti menyebut Asma Allah dari mulutnya.
Untuk sesaat, kesadarannya lenyap. Pak Risman tertidur pulas. Mimpi yang dialami Bu Inah beberapa saat lalu, ternyata datang pada Pak Risman. Pria paruh baya itu memandang sebuah rumah kuno, berpikir bahwa istrinya pernah ke sana. Perlahan-lahan, ia menaiki tangga dan membuka pintu. Tampak Sukma sedang mencoba melepaskan diri dari makhluk mengerikan yang mendekapnya dari belakang.
"Bapak! Tolong aku, Pak!" teriak Sukma histeris.
"Iya, Dek. Bapak akan tolong kamu," kata Pak Risman sembari berlari menghampiri mereka.
"Berhenti di situ! Kamu nggak boleh ambil anak ini," geram makhluk berwujud perempuan dengan rambut panjang dan kusut itu.
Pak Risman tak mengacuhkan perintah makhluk itu. Ia terus berjalan hingga tubuhnya terpental oleh dorongan tangan si Wewe Gombel. Sukma masih meronta-ronta, meminta pertolongan ayahnya.
Tak mau menyerah, Pak Risman berusaha bangkit dan menghampiri putrinya. Akan tetapi, lagi-lagi makhluk itu mendorongnya dengan kekuatan tak kasat mata hingga Pak Risman tersungkur. Pria paruh baya itu sangat menyesal, karena kesulitan menolong putrinya.
Sementara itu, tangisan Sukma mendadak berhenti. Gadis kecil itu memejamkan mata, wajahnya begitu tenang. Wujudnya yang semula berupa manusia biasa, perlahan-lahan berubah. Pak Risman dibuat takjub oleh perubahan fisik Sukma. Kulitnya yang semula sawo matang, berubah menjadi hitam legam. Di kepalanya muncul dua tanduk seperti sapi. Ketika matanya terbuka, terlihat sinar merah menyala dari sana.
"D-Dedek ... kenapa Dedek ...."
Belum tuntas rasa takjub Pak Risman, Sukma berteriak hingga memekakkan telinga. Angin berembus kencang meliputi Sukma dan Wewe Gombel. Makhluk mengerikan yang semula mencengkeram tubuh mungil gadis itu, tampak menjerit-jerit kesakitan dan berusaha melepaskan diri. Sukma semakin mencengkeram tangan Wewe Gombel keras-keras. Seluruh tenaga makhluk itu sedang diserap habis oleh Sukma, hingga terkulai lemas.
Setelah selesai menguras tenaga Wewe Gombel, Sukma menghempaskan tubuh makhluk itu ke lantai. Pak Risman benar-benar tak memercayai kemampuan Sukma yang mengerikan itu. Gadis kecil yang kini berwujud menyerupai setan, menghampiri Pak Risman.
"Bapak, ayo kita pulang!" ajak Sukma meraih tangan Pak Risman.
Dengan kasar, Pak Risman menepis tangan Sukma dan berkata, "Jangan sentuh saya! Kamu bukan Sukma! Kamu cuma setan yang mengganggu mimpi saya!"
"Enggak, Pak. Ini aku. Sukma anak Bapak," tegas Sukma meyakinkan.
Di tengah percakapannya dengan Sukma, terdengar suara azan berkumandang. Pak Risman segera terbangun dari mimpinya dan mendapati dirinya berada di ruang tengah. Sembari mengumpulkan kesadarannya, Pak Risman mengucek mata.
"Astagfirullah, mimpi macam apa tadi sampai-sampai lihat wujud Dedek Sukma jadi mirip setan?"
__ADS_1
...****************...
Sukma menggeliat sambil menguap. Tidak biasanya ia tidur pulas di tempat asing. Matanya melirik jam dinding. Baru pukul lima subuh rupanya. Jika saja ada di paviliun Hilman, Sukma biasanya tidur lagi. Namun, ini di rumah Farida, suasananya jelas berbeda.
Setelah kesadarannya terkumpul penuh, Sukma bergegas menuju kamar mandi yang letaknya cukup jauh dari kamar pertama. Dengan gontai, gadis itu berjalan sambil membawa boneka usang kesayangannya. Ketika hendak melewati ruang makan, tak sengaja matanya menangkap sosok wanita berambut panjang dan kusut, sedang menaruh dedaunan kering serta kumpulan belatung di atas meja makan. Sukma yang terkesiap melihat pemandangan itu, hanya bisa melongo di dekat pintu. Secepatnya, ia beralih ke tempat yang lebih aman, lalu mengintip gerak-gerik wanita itu.
Samar-samar, Sukma dapat melihat wajah mengerikan wanita itu. Air liur wanita itu tak berhenti menetes dari bibir bawah bertaringnya. Kulitnya yang membusuk dan dipenuhi belatung, membuat Sukma bergidik jijik. Kendati demikian, gadis kecil berusia enam tahun itu enggan berkedip. Ia terus menatap waspada, hingga hal aneh pun terjadi di depan matanya. Wanita itu menaruh tangannya di atas dedaunan kering dan kumpulan belatung, bibirnya komat-kamit seperti merapal mantra khusus. Selesai merapal mantra, secara ajaib dedaunan kering dan belatung itu berubah menjadi sepiring nasi beserta sayur sup sebagai lauknya.
Melihat kejadian itu, Sukma menghela napas panjang. Mulutnya ia bekap dengan kedua tangan, berusaha agar makhluk itu tidak menyadari keberadaannya. Saking ketakutannya, Sukma membatalkan pergi ke kamar mandi yang berada di dekat dapur. Ia berlari menuju pintu keluar, berharap bisa segera pergi dari rumah itu.
Mendengar suara langkah kaki menjauh dari ruang makan, wanita berwujud mengerikan itu segera mencari tahu. Dilihatnya Sukma yang sedang berusaha membuka pintu. Ia pun panik, berusaha mengubah wujudnya menjadi sosok Farida yang dikenal Sukma. Namun, usahanya sia-sia saja. Sukma yang telah memergoki wujud aslinya, membuat kemampuannya berubah menjadi manusia mendadak lenyap.
"Sukma! Kembalilah kemari, Nak! Ini aku. Tante Farida!" panggil wanita mengerikan itu sembari berlari dengan badan sedikit membungkuk.
"Enggak! Kamu bukan Tante Farida! Pergi dari sini!" pekik Sukma panik.
Pintu keluar yang masih terkunci, membuat Sukma kesal. Ia tak bisa berbuat banyak selain menghindari Farida yang kini berwujud Wewe Gombel. Secepat mungkin, Sukma berlari menuju halaman belakang rumah, mencari pintu keluar. Sementara itu, Farida masih mengejarnya dari belakang.
"Kemarilah, Sukma," ujar Farida membentangkan kedua tangannya.
"Nggak mau! Pergi sana! Pergi!" teriak Sukma menepis-nepis Farida dengan tangannya.
Tenaga Sukma yang belum terkumpul penuh karena takut, akhirnya membuat Farida mudah menangkap gadis kecil itu. Ia mendekap Sukma erat-erat sampai korbannya itu kesulitan bernapas. Namun, seperti yang terjadi sebelumnya, tubuh Farida mendadak panas bagai terbakar api setiap kali menyentuh Sukma. Dengan kasar, makhluk mengerikan itu segera mendorong Sukma hingga tersungkur.
Menyadari ada kesempatan, Sukma berlari kembali menuju ruang tamu. Kali ini, gadis kecil itu memiliki ide untuk kabur lewat jendela. Tanpa menghiraukan Farida yang mengejarnya dari belakang, Sukma segera membuka selot jendela.
"Mau pergi ke mana kamu? Jangan pergi!" teriak Farida menarik kaki Sukma hingga terseret jauh dari jendela.
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
Kendati rasa panas menjalar tubuhnya, Farida terus menyeret Sukma ke dapur. Sukma pun semakin ketakutan, tubuhnya menjadi lemas tak berdaya. Mulutnya yang semula meronta-ronta, mendadak diam. Akan tetapi, di balik diamnya, sebuah kekuatan aneh muncul menyesakkan dadanya. Sukma menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Bersamaan dengan kekuatan Sukma yang muncul tiba-tiba, tangan Farida mendadak gemetar. Ia merasa heran, tak biasanya anak kecil yang menjadi sandera merepotkan dirinya. Keheranannya semakin bertambah ketika Sukma mengembuskan napas dan membuka mata. Kekuatannya yang semula penuh, seperti dikuras habis oleh berat badan gadis kecil itu.
Merasa penasaran, Farida menoleh. Matanya membelalak saat mendapati bocah manusia yang semula diseretnya, berubah menjadi wujud iblis. Kulit Sukma menjadi hitam legam, bola matanya yang merah menyala seakan-akan sedang menatap tajam pada Farida.
"K-kamu siapa?" tanya Farida melepaskan genggamannya dari kaki Sukma.
Gadis kecil itu bangkit, kemudian mencengkeram tangan Farida dengan kuat. "Berani-beraninya kamu menyakiti aku. Sekarang, terima akibatnya."
Farida kesulitan melepaskan cengkeraman Sukma dari pergelangan tangannya. Semakin gadis kecil itu menariknya, tenaga Farida semakin terkuras. Sementara itu, Sukma yang masih menatap tajam pada Farida, merasakan ada sebuah aliran energi merasuki sekujur tubuhnya. Bibirnya tersenyum lebar tatkala menatap makhluk yang menganiayanya beberapa saat lalu, semakin tak berdaya. Seiring dengan banyaknya energi yang masuk ke tubuhnya, rambut Sukma menjadi panjang.
"Kumohon, lepaskan aku," pinta Farida dengan terengah-engah.
"Nggak akan! Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu benar-benar mati!"
Lambat laun, Farida terkulai lemas. Tubuhnya yang tak lagi memiliki daya, terkapar di lantai. Sukma yang merasa puas dengan keberhasilannya menguras energi Farida sampai habis, akhirnya melepaskannya. Dengan santai, ia berjalan menuju pintu keluar, mengingat Farida tak mungkin mengejarnya.
Kini, Sukma dapat membuka pintu dengan mudah. Ia melenggang dengan tertawa bahagia meninggalkan rumah itu, seperti burung yang baru bebas dari sangkar. Dilihatnya langit yang mulai membiru. Gadis kecil itu berlari, tak sabar ingin mengejutkan kedatangannya secara tiba-tiba di paviliun pada Pak Risman dan Bu Inah.
Namun, setelah cukup jauh meninggalkan kediaman Farida, Sukma dibuat heran oleh pemandangan di sekitarnya. Ia berada di area pemakaman dekat sekolahnya. Saat menoleh ke belakang, gadis kecil itu hanya mendapati sebuah pohon beringin besar yang usianya sudah tua. Rumah kuno tempat tinggal Farida, sudah tak ada lagi. Kendati demikian, Sukma terus berjalan meninggalkan pemakaman.
Dari depan pemakaman, tampak Bu Inah, Pak Risman, dan Hilman sedang kebingungan mencari Sukma. Tak lama kemudian, Bu Inah memandang ke arah makam dan mendapati Sukma sedang berjalan dengan linglung. Wanita paruh baya itu membekap kedua mulutnya, matanya berkaca-kaca. Segera ia berlari menghampiri putrinya yang sedang berjalan keluar dari pemakaman.
"Dedek! Dedek!" teriak Bu Inah, menyentuh wajah Sukma, lalu memeluk tubuh kecil putrinya itu.
"Ibu. Kenapa Ibu menangis begitu?" tanya Sukma melepas pelukan Bu Inah, lalu menyeka air mata ibunya.
"Ibu sedih karena Dedek nggak pulang-pulang selama seminggu," jelas Bu Inah sesenggukan.
"Seminggu? Aku nggak pulang ke rumah baru semalam, kok, Bu," kata Sukma mengerutkan dahi.
Mendengar perkataan Sukma, Bu Inah tercengang. Pun dengan Pak Risman dan Hilman, yang saling tatap karena keheranan. Ketika menyadari penampilan baru gadis kecil itu, Pak Risman semakin dibuat tertegun dengan rambut putrinya yang memanjang dalam waktu singkat dan kulitnya yang berubah menjadi putih pucat.
__ADS_1