
Sukma mendongak dan bertanya, "Mau nanya apa, Bu?"
"Ibu heran sama Dedek akhir-akhir ini. Gimana caranya Dedek bisa bikin mereka lihat sesuatu yang Dedek lihat? Belajar dari mana Dedek tentang ilmu begituan?" tanya Bu Inah sembari melipat tangan dan mengerutkan dahi.
Sukma memandang ibunya, lalu berkedip-kedip. Bola matanya mengarah ke atas seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun, rupanya jawaban yang dicari atas pertanyaan ibunya, tak dapat ditemukan sama sekali.
"Dedek nggak tahu, Bu," jawab Sukma dengan datar.
"Ah, yang bener? Ibu suka lihat di TV, kalau ilmu begituan itu cuma dimiliki paranormal atau dukun."
"Tapi Dedek nggak pernah belajar ilmu kayak gitu, Bu."
"Dek, jujur sama Ibu. Apa Dedek pernah belajar sama kakek-kakek yang menumbalkan Bu Farah?"
"Idih, Dedek nggak pernah belajar sama kakek-kakek itu, Bu. Jangankan belajar sama dia, ketemu aja cuma di rumahnya Tante Farah."
"Beneran?"
"Bener, Bu. Lihat mata Dedek. Apa Dedek kelihatan lagi bohong?" ucap Sukma sembari membuka matanya lebar-lebar, menatap Bu Inah. Sesekali kedua alisnya naik-turun hingga membuat Bu Inah terkekeh-kekeh.
"Iya, deh. Ibu percaya," kata Bu Inah sembari menyembunyikan senyum geli di balik tangannya.
"Kenapa sambil senyum-senyum gitu, Bu? Ibu masih nggak percaya sama Dedek?"
"Enggak, bukan begitu."
"Bu, selama di rumah Om Hilman, Dedek nggak pernah ke mana-mana. Cuma main sama Teteh, kadang-kadang sama A Albi, terus ngaji. Dedek cuma ngelihat kakek-kakek itu sekali doang di rumahnya Om Hilman."
"Iya, deh, iya. Ibu ngerti, kok. Sekarang cepetan jalannya. Bapak udah nungguin kita di rumah. Kayaknya dia lagi sibuk bersihin lele," ujar Bu Inah.
Sukma berlari menuju kontrakannya yang tinggal beberapa langkah lagi, sedangkan Bu Inah mempercepat langkahnya menyusul si bungsu. Ketika hendak mendekati gerbang, Sukma tiba-tiba terdiam, memandang Pak Beni yang berjalan sambil menyimpan kedua tangnnya di belakang punggung. Bu Inah yang memperhatikan Sukma sejak tadi, mengernyitkan kening melihat kelakuan putrinya.
"Dek, kenapa tiba-tiba diem?" tanya Bu Inah.
"Bu, itu Pak Beni, pemilik warung yang pernah ngasih uang ke aku. Yang punya guguk gede segede bangunan kontrakan Pak Haji itu loh," jelas Sukma dengan antusias, sembari melebarkan kedua matanya.
"Oh, jadi Dedek dapet uang dari dia? Gimana ceritanya jadi Dedek yang dapet uang dari dia?"
"Dedek cuma pengin main sama guguknya, eh ... dia malah ngasih uang."
"Ah, yang bener? Sebentar, Ibu mau samperin dia."
"Mau apa Ibu nyamperin dia? Nanti makhluk di gendongannya bakal cakarin Ibu loh."
Mendengar ucapan Sukma, lagi-lagi Bu Inah tertegun. Matanya hanya melihat Pak Beni saja yang bergelagat aneh, tak ada seorang pun yang digendongnya sama sekali. Bu Inah semakin yakin, bahwa anaknya memanglah berbeda.
"Dedek tahu dari mana kalau dia lagi menggendong seseorang?" tanya Bu Inah mengerutkan dahi.
"Masa Ibu nggak lihat, sih? Ibu mah suka gitu."
"Sudahlah, jangan hiraukan Pak Beni. Sebaiknya kita cepat pulang. Kasihan Bapak nggak ada yang bantuin," ujar Bu Inah.
Sukma kemudian dituntun oleh ibunya masuk ke gerbang kontrakan Haji Gufron. Alih-alih tak mengacuhkan Pak Beni, ia justru memperhatikan gelagat pria berbadan gemuk itu di depan gerbang. Makhluk berwajah buruk rupa dengan telinga runcing, perlahan-lahan turun dari gendongan Pak Beni. Sukma tidak menyukai makhluk itu. Ia memanggil Wanara yang sedang bergelantungan di lantai atas kontrakan.
Bu Inah yang sudah masuk ke kontrakan, menoleh ke belakang. Sukma ternyata masih di luar, sedang melambai-lambai ke arah bangunan kontrakan di depannya. Ia pun memanggil Sukma untuk segera masuk, tapi gadis kecil itu hanya mengiyakan tanpa melaksanakan perintahnya.
__ADS_1
Sementara itu, Wanara yang dipanggil oleh Sukma, segera turun menghampiri temannya. Sambil menggaruk-garuk kepala, ia berjongkok di hadapan Sukma.
"Ada apa kamu memanggil aku?" tanya Wanara.
Sukma menoleh ke belakang dan berkata, "Wanara, kamu lihat makhluk itu nggak? Tadi dia dibawa ke sini sama Pak Beni."
"Oh, itu makhluk gaib yang suka ngehalangin orang buat tinggal di suatu tempat. Badannya bau banget. Siapa pun tidak akan betah tinggal di suatu tempat kalau ada makhluk itu. Selain menyebarkan bau tidak sedap, dia juga suka menindih orang yang sedang tidur."
"Begitu, ya. Kamu bisa usir dia dari sini, nggak? Aku nggak suka sama mukanya, jelek banget."
"Kenapa harus diusir? Dia tidak akan mengganggu kamu."
"Pokoknya aku nggak suka ah. Suruh dia pergi dari sini!"
Wanara menuruti pertintah Sukma, dengan menghampiri makhluk jelek itu. Ia menggeram, seolah-olah menakuti sosok kiriman Pak Beni. Makhluk itu gemetar melihat kera besar bertaring tajam, sedang menantangnya. Sukma yang melihat Wanara sedang beraksi, bertepuk tangan tatkala makhluk yang tak disukainya terlihat ketakutan.
"Rék naon manéh kadieu?" tanya Wanara dengan menatap tajam sembari berkacak pinggang. (Mau apa kamu ke sini?)
"U-urang ... urang dititah ku dukun sina cicing didieu sangkan euweuh nu nyicingan ieu tempat," jawab makhluk itu dengan wajah memelas. (Aku disuruh oleh dukun untuk diam di sini agar tidak ada yang menempati tempat ini)
"Nyingkah manéh ti dieu! Babaturan aing teu resep ningali manéh!" bentak Wanara memelototinya. (Pergi kamu dari sini! Temanku tidak suka melihat kamu!)
"Naha? Da urang mah moal ngaganggu babaturan manéh," ucap makhluk itu dengan sedikit menunduk. (Kenapa? Aku tidak akan mengganggu teman kamu)
"Aing embung ngadéngé nanaon ti manéh! Geura nyingkah ka ditu! Lamun manéh embung indit, aing bakal maéhan manéh didieu ogé. Ayeuna pisan!" ancam Wanara sembari menggeram. (Aku tidak mau mendengar apa pun darimu! Cepat pergi sana! Kalau kamu nggak mau pergi, aku akan membunuhmu di sini juga. Sekarang juga!")
"A-ampun ... ampun. Urang laina embung nyingkah ti dieu. Urang sieun dicarékan ku dukun nu nitah urang," pinta makhluk berperut buncit itu seraya menyatukan kedua telapak tangannya. (Ampun ... ampun. Aku bukannya tidak mau pergi dari sini. Aku takut dimarahi oleh dukun yang menyuruhku.)
"Mana dukuna? Titah kadieu! Mun aya kawani, lawan babaturan aing! Babaturan aing mah teu héséeun maéhan dukun. Kamari gé aing soak ningali dukun aing dipaéhan di hareupeun panon sorangan!" tutur Wanara menantang makhluk itu. (Mana dukunnya? Suruh ke sini! Kalau ada keberanian, lawan temanku! Temanku tidak akan kesulitan membunuh dukun. Kemarin juga aku syok melihat dukunku dibunuh di depan mata kepalaku sendiri.)
Sukma tersenyum lebar tatkala melihat makhluk itu pergi. Sambil melompat kegirangan, gadis kecil itu menyambut Wanara yang sedang menghampirinya. Ia pun memeluk hewan peliharaannya erat-erat, merasa senang karena keinginannya sudah terpenuhi.
Sementara itu, Bu Inah yang memperhatikan Sukma dari dalam kontrakan, semakin merasa aneh dengan sikap putrinya yang berlana-lama di luar. Gerakan tubuhnya yang seperti memeluk sesuatu membuatnya berpikir, bahwa si bungsu sedang bermain dengan makhluk tak kasat mata. Setelah cukup lama memandangi putrinya, akhirnya Bu Inah bertanya pada dirinya sendiri.
Apa Dek Sukma sedang bermain dengan peliharaannya?
...****************...
Malam kian menua. Setelah Pak Risman pulang berdagang, Bu Inah mengunci pintu, kemudian berusaha untuk tertidur lelap. Kendati sudah meminta izin suaminya untuk tidak ikut berdagang, Bu Inah tetap sulit terlelap. Kegelisahannya pada Sukma kian menjadi ketika malam datang.
Selesai mematikan lampu, Pak Risman berbaring di sebelah Atikah. Bu Inah masih memejamkan mata, berharap kegelapan ruang utama kontrakan bisa mengantarkannya ke alam mimpi. Dengan begitu, ia tak perlu lagi merasa gelisah akan perilaku Sukma yang aneh belakangan ini.
Lambat laun, Bu Inah mulai tenggelam ke dalam alam bahwah sadarnya. Sebuah mimpi aneh muncul tatkala dirinya sudah terlelap. Ia melihat langit tampak mencekam, dengan awan gelap menutupinya. Semburat merah melintang di cakrawala, seperti Maghrib telah tiba. Bu Inah mendapati dirinya berada di lereng gunung dengan rumah-rumah panggung di sekitarnya. Ia berjalan keluar dari permukiman penduduk yang sunyi itu. Alih-alih menemukan jalan raya untuk menuju arah pulang, Bu Inah memasuki hutan yang sangat lebat. Ia harus meraba-raba pohon di sekitarnya, hingga akhirnya terhenti di depan tebing.
Dari atas tebing, samar-samar terlihat makhluk tinggi besar sedang berdiri tegap sembari melipat kedua tangan. Mata merahnya yang menyala membuat Bu Inah mengira, bahwa itu merupakan lampu yang dibawa oleh seseorang. Akan tetapi, dugaan Bu Inah segera terbantahkan ketika suara geraman menggema di langit.
"Inah! Apa kau sudah lupa padaku?" tanya suara berat dan dalam seorang pria menggema dari langit.
"S-siapa kamu?" tanya Bu Inah dengan suara lirih dan gemetar.
"Aku ... aku adalah ayah dari anak yang kau urus itu."
Bu Inah tercengang. Pikirannya seketika terbawa kembali pada mimpi saat Sukma masih bayi. Sosok tinggi besar dengan tanduk di kepalanya yang berdiri di atas gunungan sampah, kembali hadir dalam ingatannya.
"K-kamu ...."
__ADS_1
"Ya. Aku adalah ayah dari anak angkatmu. Sukma."
Bu Inah terperangah, lalu mundur satu langkah ke belakang. Namun, langkahnya seketika terhenti ketika melihat sekumpulan ular datang dari belakang.
"Mau pergi ke mana kau? Bukankah kau bertanya-tanya pada anakku, dari mana dia mendapatkan ilmu melihat makhluk seperti kami dan membunuh orang tanpa senjata?"
Wanita paruh baya itu terpaku mendengar pertanyaan seorang pria yang suaranya menggema dari langit itu.
"Kau harus ingat ini baik-baik, Inah! Bagaimanapun juga aku ini ayahnya! Seberapa keras kau mendidiknya agar menjadi manusia, aku akan menjadi penghalangmu dalam membentuk perilaku Sukma."
Bu Inah gusar mendengar ucapan pria itu, lalu membantah, "Tidak! Dia putriku! Putri bungsuku! Aku yang merawatnya dari kecil. Jadi, kamu tidak berhak menghalangi aku dalam mendidiknya."
"Oh, jadi kau merasa paling berjasa dalam merawat anakku? Baiklah, akan aku katakan yang sebenarnya," kata pria itu dengan nada tinggi. "Setiap malam, aku datang ke dalam mimpi Sukma. Aku ingin Sukma mengenal dirinya sendiri, bahwa dia bukanlah anak manusia seperti yang lainnya. Maka dari itu, aku mengajarkan segala ilmu sihir padanya agar dia tetap menjadi anakku seutuhnya."
"Tidak mungkin! Kalau kamu mengajari anakku ilmu sihir, kenapa dia tidak tahu siapa yang mengajarinya, ha?"
"Karena ingatannya tentangku selalu terhapus saat dia terbangun. Meski dia tidak akan mengingatku, setidaknya semua ilmu yang telah aku ajarkan akan tetap melekat di dalam hati dan pikirannya."
"Hm, baiklah kalau begitu. Kau memang tak perlu diingat oleh putriku. Setidaknya, aku bisa menuntunnya ke jalan yang lurus dan menjadi manusia beradab seperti keluarganya."
"Tidak semudah itu, Inah. Aku akan tetap berusaha sekuat mungkin agar dia melaksanakan tugasnya sebagai putri iblis di alam manusia. Dia harus tetap menyesatkan umat manusia agar sejalan denganku. Jika dia tidak mau melakukan tugasnya, maka aku akan membawanya kembali ke alamku."
"Tidak! Kamu tidak akan bisa melakukan itu!" bentak Bu Inah.
"Pasti akan aku lakukan, bagaimanapun caranya! Kalau kau dan suamimu coba-coba menghalangiku untuk mengambil nyawanya, maka aku tidak akan segan-segan mencabut nyawa kalian semua, termasuk anak semata wayangmu. Atikah!"
Mata Bu Inah terbelalak mendengar ucapan pria itu. Untuk meredakan rasa takutnya, ia menelan ludah dan mengepalkan tangan. Kendati sekujur tubuhnya gemetar, Bu Inah tetap berusaha berdiri tegak demi mempertahankan keteguhannya dalam mengurus Sukma.
"Kenapa? Apa kau takut?"
"Tidak! Aku tidak takut sama sekali. Biar saja nyawaku melayang demi kebaikan Sukma, daripada membiarkan moralnya rusak begitu saja."
"Jika nyawa semua keluargamu melayang, siapa yang akan mendidiknya lagi? Mau tidak mau, dia akan tetap berjalan di jalanku karena kesedihannya kehilangan keluarga yang dicintai."
Bu Inah termenung memikirkan hal buruk yang akan terjadi pada Sukma jika sampai keluarganya kehilangan nyawa.
"Sudahlah, sebaiknya kau tak perlu repot-repot mendidik Sukma untuk menjadi sepertimu. Biarkan saja dia hidup seperti kemauanku. Dengan begitu, keluargamu akan semakin kaya dan Sukma bertindak sesuai dengan kehendaknya. Jika tidak, maka aku akan membawanya kembali ke alamku dan kalian akan jatuh miskin, bahkan lebih miskin dari sebelumnya."
Dada Bu Inah terasa sesak mendengarnya. Berbagai pikiran buruk terus berkecamuk di dalam otaknya, sehingga ia tersungkur di depan tebing. Air matanya meleleh, membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya jika menuruti perkataan makhluk tak kasat mata itu.
"Dan, camkan baik-baik! Jika sampai kalian menghalangiku untuk mengambil nyawa Sukma, maka nyawa kalianlah taruhannya!"
Seketika makhluk di atas tebing menghilang. Langit gelap berubah cerah seiring dengan hilangnya makhluk itu. Pun dengan ular-ular di belakangnya, mereka pergi entah ke mana. Bu Inah segera berlari keluar hutan dan kembali ke permukiman warga yang sunyi.
Tanpa sengaja, ia bertabrakan dengan seorang wanita seusianya. Wanita itu tampak lusuh dengan mata yang sembap. Ia memegang kedua tangan Bu Inah, sembari sesenggukan.
"Bu, saya mohon. Jadikan putri saya sebagai manusia seutuhnya. Saya sangat menyesal, tak bisa mendidiknya karena ketakutan. Saya mohon, Bu. Saya mohon dengan sangat," pinta wanita itu dengan suaranya yang lirih.
"Tapi ... siapa putri Ibu? Saya tidak tahu," tanya Bu Inah dengan kening mengernyit.
"Dia ada bersama kamu sampai saat ini. Tolong rawat dia baik-baik. Sayangilah dia seperti anak kamu sendiri. Saya benar-benar tidak berdaya," katanya, lalu berjalan menuju perkampungan di belakang Bu Inah.
Bu Inah berusaha menduga anak yang dimaksud oleh wanita itu, hingga akhirnya sebuah jawaban mencengangkan mengentak batinnya. Sukma, si bungsu yang ditemukan suaminya di tempat pembuangan sampah. Bu Inah segera menoleh, tapi wanita itu sudah tidak ada di sana. Ia tak tahu, bahwa wanita itu adalah Bu Ratmi, kakak ipar Hilman sekaligus ibu kandung Sukma.
Bu Inah berusaha mencari Bu Ratmi ke setiap rumah panggung yang ada di sana. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Ia tak mau menyerah begitu saja, tapi waktu tidak mengizinkan. Bu Inah segera terjaga dari tidurnya dalam keadaan gelisah.
__ADS_1