SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Menuntut Kejujuran


__ADS_3

Wanita berusia hampir tujuh puluh tahunan itu hanya duduk terpaku mendengar penuturan Sukma. Rasanya sangat tidak mungkin bagi istri Pak Jaka jika sampai sang suami melakukan hal keji seperti itu. Kendati demikian, jauh di lubuk hatinya ia sedikit meyakini perkataan Sukma, mengingat sang suami selalu menyimpan kedengkian pada setiap orang yang menyaingi usahanya.


"Adek jangan suuzon dulu," ujar istri Pak Jaka.


"Jangan suuzon gimana, Bu? Sepengalaman kami tinggal berpindah-pindah, orang yang iri selalu menaruh barang-barang aneh pemberian dukun buat ngehalangin usaha saingannya," tegas Sukma.


"Kami bukan suuzon, Bu. Dari penuturan Ibu sendiri sudah meyakinkan kami, bahwa dugaan kami ini benar," timpal Atikah.


"Kalian ini pada ngawur. Sebaiknya kalian segera pulang. Cucu saya sebentar lagi bangun, saya harus beres-beres dulu," usir istri Pak Jaka secara halus.


"Bu, kami sangat memohon bantuan Ibu. Kami ingin usaha bapak kami berjalan lagi seperti biasanya. Mungkin dengan pengakuan Ibu, kami akan terbantu dalam membersihkan nama baik bapak kami," ujar Atikah.


"Pengakuan macam apa yang Adek maksud? Apa saya harus ngaku, kalau suami saya melakukan pesugihan dan ngirim guna-guna buat menghancurkan usaha bapak kalian?" tanya wanita seusia Bu Inah itu dengan bersungut-sungut.


Melihat reaksi istri Pak Jaka, Sukma dan Atikah terdiam.


"Saya nggak akan mengakui sesuatu yang sama sekali saya tidak ketahui," cetus istri Pak Jaka. "Sudahlah, sebaiknya kalian pulang dan urus urusan masing-masing. Apa kalian nggak ngerti, kalau dari kemarin saya pusing ngurus cucu dan menenangkan suami saya?"


"Baiklah, kalau Ibu nggak mau membantu, ya nggak apa-apa. Kami pulang dulu," ucap Atikah berpamitan. "Ayo, Dek, kita pulang!"


Sukma mendesah lesu sambil beranjak dari kursi ruang tamu. Keduanya berpamitan, kemudian bergegas meninggalkan kediaman Pak Jaka. Sebelum beranjak dari teras rumah, Sukma menoleh sebentar melihat istri Pak Jaka. Ternyata orang yang diharapkan dapat membantunya, memberikan reaksi tak sesuai dengan harapan.


Baru saja beberapa langkah meninggalkan kediaman Pak Jaka, terdengar suara seorang pria berteriak-teriak dari dalam rumah. Atikah mulai penasaran dan ingin melakukan percobaan kedua; menyuruh Sukma menanyai Pak Jaka. Namun, Sukma yang sudah kadung kecewa dengan sikap istri pria itu, merasa tak perlu ikut campur.


"Ini kesempatan bagus, Dek! Coba aja kita masuk dan tanyain bapak-bapak itu. Siapa tahu aja dia ngaku," ajak Atikah.


"Enggak ah, Teh. Nanti kita pasti bakalan diusir sama istrinya. Mending kita pulang, cari jalan keluar lain," kata Sukma dengan lesu.


"Ayolah, Dek! Mungkin dengan Dedek tanya-tanya sama orang itu, hati istrinya bakal luluh," bujuk Atikah, berusaha meyakinkan adiknya.


"Nggak bakal ada gunanya, Teh. Lagipula, orang itu udah nyerahin jiwanya sebagai jaminan buat bikin Bapak hancur."


"Maksudnya apa, Dek?" tanya Atikah mengerutkan kening.


"Dedek pernah dengar cerita dari Wanara, kalau mau bikin orang lain hancur, pasti ada harga yang harus dibayar. Entah itu dengan kekayaannya, kerabatnya, atau jiwanya. Biasanya, kalau gagal ngelakuin guna-guna sama musuhnya, dia yang bakal jatuh miskin, gila, bahkan mati," terang Sukma. "Dan yang dijadikan tawanan para dedemit di alam gaib bukan cuma tumbal pesugihan, Teh. Pelaku pesugihannya juga."


Ketika hendak melanjutkan perjalanan, Sukma menyadari kehadiran seorang pria berpakaian serbahitam sedang memperhatikannya. Segera ia menghampiri pria itu, tapi orang yang hendak ditemuinya justru berlari lebih dulu. Tanpa berpikir lama, Sukma segera mengejar orang mencurigakan itu, disusul oleh Atikah dari belakang.


Secepat mungkin, Sukma mengejar pria misterius itu. Tak peduli seberapa sempit gang yang akan dilaluinya, kedua gadis itu enggan sampai kehilangan jejak. Orang-orang yang berpapasan dengan mereka, menganggap keduanya sedang mengejar maling.


Cukup jauh pria misterius itu berlari, akhirnya menemui jalan buntu. Sukma yang berhasil mengejarnya, dibantu oleh Atikah untuk mengepung pria itu. Tak ada jalan keluar lagi bagi si penguntit untuk melarikan diri.


"Mau pergi ke mana kamu, ha? Mau bicara baik-baik atau melarikan diri lagi?" tantang Sukma dengan nada tinggi.

__ADS_1


Pria itu tampak gelagapan. Ia melihat Atikah, lalu mendorongnya hingga terjatuh. Sukma terkejut, kemudian membantu Atikah untuk berdiri.


"Teteh nggak apa-apa?" tanya Sukma cemas.


Atikah menggeleng cepat. "Jangan khawatirkan Teteh. Sebaiknya kamu kejar dia lagi. Jangan sampai kehilangan jejak."


Sukma mengangguk cepat, kemudian berlari mencari orang yang dikejarnya tadi. Rupanya belum jauh dari tempatnya semula dikepung. Gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar si pria misterius sampai dapat.


Arah pria penguntit beralih ke jalan raya. Sukma dapat mengejarnya dengan leluasa. Tenaga Sukma yang masih penuh, berhasil menyusul pria itu. Tanpa pikir panjang, gadis itu menarik baju pria penguntit sampai tubuhnya terkapar. Diinjaknya dada pria itu sampai tak bisa berkutik.


"Kamu nggak boleh lari lagi! Ayo ngobrol baik-baik sama aku!" seru Sukma geram.


Pria berusia dua puluh tahunan itu meminta ampun, kemudian dibiarkan bangkit oleh Sukma. Sekali lagi, ia hendak melarikan diri. Namun, kali ini Sukma telah lebih dulu menghajar wajahnya sampai sempoyongan.


Ditariknya lagi pria itu sampai duduk di pinggir jalan. Kali ini, Sukma ikut duduk di sampingnya, sembari merangkul pria itu agar tidak kabur lagi. Lengannya seperti siap mencekik pria itu sewaktu-waktu.


"Katanya mau bicara baik-baik, kok malah kabur lagi? Sekarang duduk dengan tenang, sambil ngobrol. Oke?" bujuk Sukma.


Di tengah pembicaraannya, seorang tukang odading tak sengaja lewat di hadapan mereka. Sukma membeli dua potong odading untuk dimakan bersama tawanannya. Dengan santai, ia memberikan satu odading lainnya pada si penguntit.


"Ayolah! Ini masih pagi. Kamu pasti lapar juga," ujar Sukma.


"E-Enggak, terima kasih," tolak pemuda itu dengan sungkan.


Si penguntit akhirnya menerima odading pemberian Sukma. Dilahapnya odading itu, seperti orang yang tak menemukan makanan selama tiga hari. Pria itu benar-benar kelaparan.


"Gini, aku mau nanya. Sebenarnya tujuan kamu lihatin aku sama Teteh tuh apa? Pagi-pagi kok udah nguntit?" tanya Sukma, sembari mengunyah odading di mulutnya.


"Saya diperintahkan oleh guru saya buat memperhatikan kalian," jawab pemuda itu dengan santai.


"Hm, terus faedahnya kamu nguntit kami tuh apa? Mau laporin kami ke guru kamu kalau kami ini cuma bocah-bocah ingusan yang butuh pelajaran?" tanya Sukma penasaran.


"Saya cuma pengin tahu, fitnah yang saya sebarin ke orang-orang itu ngaruh atau enggak ke kehidupan kalian? Ternyata berjalan lancar, dan saya harus melaporkan ini ke guru saya," kata si pemuda sembari melahap odading lagi.


"Emangnya siapa guru kamu?" tanya Sukma mulai penasaran.


Pria itu berhenti sejenak, lalu mendelik. "Emang kamu perlu tahu siapa guru saya?"


Sukma melotot, kepalan tangannya sudah menunggu di depan perut pemuda itu. "Kamu pengen odading itu keluar lagi semuanya dari perut kamu?"


Melihat reaksi Sukma, pemuda itu menelan makanan di mulutnya dengan perlahan.


"Tinggal bilang aja nama guru kamu, apa susahnya, sih?"

__ADS_1


"Oke, oke. Akan saya kasih tahu. Namanya Mbah Kasiman."


"Mbah Kasiman?! Ngapain lagi, sih, dia gangguin bapak aku?"


Pemuda itu mengedikkan kedua bahunya, lalu menghabiskan odading di tangannya. "Kamu udah puas? Sekarang saya harus pergi."


"Tunggu dulu! Urusan kamu sama keluarga aku belum selesai!" cegah Sukma.


Di tengah percakapan mereka, Atikah datang dengan napas terengah-engah. Ia tampak kesal melihat odading di tangan adiknya dan si penguntit yang sedang mengunyah makanan.


"Dek, Teteh nggak dibeliin odading?" tanya Atikah heran.


"Uangnya nggak cukup, Teh. Aku tadi belinya cuma buat ngobrol-ngobrol sama dia aja," jawab Sukma sembari terkekeh.


Atikah mendengkus kuat, sembari mendelik ke arah pria yang sejak tadi menguntit mereka.


"Teh, urusan kita sama dia belum selesai. Teteh tahu nggak? Dia yang nyebarin fitnah kalau Bapak ngelakuin guna-guna sama penjual pecel lele seberang jalan loh!" terang Sukma.


"Idih ... Cowok kok jadi tukang gosip?" Atikah menampar bibir pria itu. "Bibirnya kayak cewek aja, doyan ngerumpi."


Sukma dan Atikah menarik paksa pemuda itu, kemudian menyeberang jalan. Semua orang yang berpapasan dengan Sukma bertanya-tanya tentang siapa pemuda itu. Beberapa di antaranya mengenali sosok si penguntit, yang pertama kali menyebarkan fitnah tentang Pak Risman.


Sesampainya di rumah, Sukma mendorong pria yang menguntitnya di rumah Pak Jaka ke hadapan kedua orang tuanya. Bu Inah pun heran, putri-putrinya membawa seorang pemuda asing ke rumahnya. Adapun Pak Risman yang baru saja pulang belanja bahan dagangan, mengernyitkan kening melihat pemandangan aneh di rumahnya.


"Sekarang kamu minta maaf sama ibu dan bapak kami!" perintah Sukma berang.


Bu Inah terheran-heran melihat sikap kasar kedua putrinya pada pemuda asing yang mereka bawa ke rumah. "Kalian ini kalau sama orang yang lebih tua itu harus sopan!" tegurnya.


"Dia juga harus sopan sama Ibu dan Bapak," sanggah Atikah. "Dia udah nyebarin fitnah, kalau Bapak udah ngirim guna-guna sama tukang pecel lele di seberang jalan."


Mendengar pernyataan Atikah, Pak Risman dan Bu Inah lebih kaget lagi. Tak sangka, orang yang berani memfitnah mereka ternyata pria asing ini. Bu Inah tampak gemas, ingin memberi pelajaran pada orang yang telah memfitnah suaminya.


"Ayo, Bu! Kasih dia pelajaran. Mau dipukulin kek, mau dijadiin pembantu kek. Terserah Ibu," bujuk Sukma, memantik api amarah ibunya.


"Kalian ini apa-apaan, sih?" tegur Pak Risman, memegang tangan pria yang dibawa oleh kedua putrinya. "Walaupun dia udah memfitnah Bapak, Bapak tetap maafin kok."


"Aduh, Bapak ini ... Atikah pengen dia tahu rasa loh! Bapak kasih dia pelajaran sedikit lah, biar nggak berani macem-macem lagi sama Bapak," ujar Atikah jengkel.


"Iya, Pak. Dia harus minta maaf karena udah memfitnah keluarga kita. Enak aja keluarga kita dituduh pakai sihir buat nyingkirin saingan Bapak," timpal Sukma tidak sabar.


Bu Inah menatap kedua mata pria suruhan Mbah Kasiman, lalu memegang tangannya. "Nak, memfitnah itu tidak baik. Entah itu berasal dari hati kamu sendiri, atau atas suruhan orang lain. Coba bayangkan jika keluargamu difitnah yang bukan-bukan seperti kami. Apa kamu mau menerimanya?"


Mendengar ucapan Bu Inah, hati pria itu luluh. Dengan terbata-bata, ia meminta maaf pada seluruh keluarga Pak Risman. Namun, ia belum bisa pulang begitu saja. Bu Inah ingin nama keluarganya kembali bersih, sehingga Pak Risman dapat berdagang dengan tenang tanpa desas-desus miring yang menuduhnya sebagai pengirim guna-guna pada Pak Jaka.

__ADS_1


__ADS_2