
Perlu beberapa waktu bagi Sukma memulihkan tenaganya. Wanara pun berdiri sembari mengangkat kedua tangannya sejenak di atap rumah untuk mendapatkan kekuatannya kembali demi membantu temannya. Selepas Dhuhur, Sukma makan siang dahulu bersama ibu dan ayahnya, sementara Atikah baru pulang dari sekolah. Saat makan siang, Sukma meminta izin pada ibunya untuk main ke rumah Rena.
"Emangnya Dedek tahu rumahnya Rena di mana?" tanya Bu Inah ragu.
"Katanya di deket pasar, Bu. Pokoknya nanti Dedek cari deh," jawab Sukma sembari mengunyah makanan.
"Tapi pulangnya jangan malam-malam lagi kayak waktu ke rumah Giska, ya. Jam empat sore harus udah ada di rumah. Ibu khawatir kalau Dedek pulangnya malam," ujar Bu Inah.
"Tenang aja, Bu. Nggak usah khawatir berlebihan. Dedek, kan, kuat. Waktu kecil aja bisa ngebanting orang dewasa," kata Atikah menyela, lalu terkikik-kikik.
"Justru itu yang Ibu khawatirkan. Bukan Dedek-nya yang bakal kenapa-kenapa, tapi penjahatnya. Ibu nggak mau, ya, kalau sampai Dedek kena masalah lagi kayak waktu kecil. Kamu nggak tahu, ya, jantung Ibu rasanya mau copot pas Dedek sama Bapak dibawa ke kantor polisi sebanyak dua kali," jelas Bu Inah dengan wajah cemas.
"Iya, Bu. Aku tahu. Ibu juga sampai susah dibangunin gara-gara pingsan waktu itu," ucap Atikah.
"Nah, Dedek sebaiknya dengerin kata Ibu, ya. Mainnya jangan kemalaman. Bukannya kenapa-kenapa, kami sayang sama Dedek, makanya nggak ngizinin Dedek main sampai malem di rumah temen," ujar Pak Risman pada putri bungsunya.
"Iya, Pak. Dedek nggak bakal pulang malam-malam. Dedek pastiin jam empat sore udah ada di rumah," kata Sukma tersenyum simpul.
Selesai makan siang, Sukma mengganti bajunya, kemudian bergegas menuju rumah Rena. Ia berjanji akan pulang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sang ibu. Lagipula, mengalahkan dedemit berbaju merah itu akan lebih mudah jika dilakukan secepatnya, sebelum merasuk ke tubuh Rena.
Sementara itu, Rena terus mengerang merasakan kedua pundaknya yang sakit. Sejak pulang sekolah, dirinya seperti sedang diawasi. Berkali-kali ia menoleh, tapi tidak ada seorang pun di sana. Sialnya, ia berada di rumah sendirian saat ini. Ibunya berdagang camilan di madrasah, sedangkan ayahnya sedang ada keperluan dengan supplier. Adiknya yang masih SD pun sedang bermain layangan bersama teman-temannya.
Untuk mengentaskan rasa takutnya, Rena menyalakan televisi. Akan tetapi, hatinya terus saja waswas. Berkali-kali ia melihat sekelebat bayangan di dapur mondar-mandir begitu cepat. Ia pun penasaran dan mencoba mencari tahu. Tetap saja, tidak ada siapa pun di sana. Mungkin kucing, pikirnya.
Semilir angin berembus begitu lembut hingga membuat bulu kuduk Rena meremang. Entah kenapa, siang ini rumahnya terasa begitu sangat sunyi tak ubahnya kuburan. Sayup-sayup terdengar suara perempuan memanggil Rena. Dicarinya pemilik suara itu, yang semula berasal dari dapur. Lagi-lagi, ia tak menemukan siapa pun di sana. Jantung Rena berdebar sangat kencang tatkala teringat pada permainan Jailangkung yang pernah ia lakukan bersama kedua temannya.
Rena duduk kembali di ruang tengah sambil menaikkan volume suara televisi. Berselang beberapa menit, terdengar kecipak air di bak kamar mandi. Rena berusaha tetap tenang dan tak menghiraukannya. Lalu, suara perabotan masak berjatuhan, terdengar dari dapur. Gadis itu masih saja bergeming, bertahan sembari bergelut dengan ketakutannya sendiri. Sekujur tubuhnya gemetar, tangannya memeluk bantal sangat erat.
Beberapa menit kemudian, suara tawa melengking seorang perempuan menggema di seisi ruangan. Rena benar-benar tak tahan lagi. Saking takutnya, ia keluar dari rumah dan membanting pintu. Saat tiba di teras, betapa terkejutnya ia mendapati Sukma sudah berada di depan rumahnya.
"Kamu kenapa, Rena? Ada apa di dalem?" tanya Sukma.
"A-aku takut, Sukma. Aku denger suara perempuan ketawa keras banget di dalem. Mana dari tadi berisik banget juga," jawab Rena dengan suara gemetar.
__ADS_1
Sukma mengangguk pelan, lalu bertanya, "Di rumah kamu nggak ada siapa-siapa emangnya?"
Rena menggeleng.
"Kamu tunggu di sini. Jangan lupa baca-baca doa sama surat pendek, biar nggak disamperin sama dedemitnya," ujar Sukma.
"Aduh! Jadi dedemitnya beneran datang ke rumah aku?"
"Udah aku bilang, kan, dari awal juga. Jangan main Jailangkung. Ini risikonya kalau kamu keras kepala."
"Maafin aku, Sukma. Aku udah bener-bener kapok," ucap Rena sembari memelas.
"Udah, kamu tunggu aja dulu di sini. Kalau ada orang lain yang mau masuk, suruh tunggu dulu. Aku mau musnahin dulu dedemit itu. Bikin rese aja."
Rena menuruti perkataan Sukma. Ia menunggu di luar rumah, sedangkan Sukma mulai membuka pintu. Tampak sosok dedemit berbaju merah itu sedang berdiri di hadapannya sambil menyeringai. Untuk sesaat, gadis itu terkesiap melihat dedemit itu tiba-tiba muncul. Namun, bagaimanapun juga ia harus memusnahkannya.
Secepatnya Sukma membuka botol, mengeluarkan Wanara dari sana. Kini giliran kera kesayangannya yang menjaga manusia, sedangkan ia melawan dedemit. Setelah Wanara ke luar untuk melindungi Rena, Sukma menutup pintu. Dimantrainya pintu itu agar dedemit yang akan dilawannya tak bisa keluar.
"Sialan! Kenapa kamu selalu muncul di saat yang tidak tepat, Bocah Setan?!" bentak perempuan berbaju merah itu geram.
Tanpa basa-basi lagi, perempuan berbaju merah itu mulai menyerang Sukma dengan cakarannya. Gadis itu menghindar dengan gesit ke area rumah yang lebih dalam. Perempuan berbaju merah tak mau menyerah. Ia menyerang dengan cara melayang, lalu mencakar gadis yang melawannya. Sukma segera membantingkan tubuhnya ke kursi, kemudian segera bangkit.
Seperti yang dikatakan Wanara, Sukma harus menyingkirkan sisi manusianya untuk menghabisi dedemit itu. Seketika aura dari tubuhnya berubah menjadi hitam. Matanya merah menyala, kepalanya bertanduk. Rambutnya yang semula hanya sampai lengan atas, mendadak memanjang dan gimbal. Kulitnya yang putih pucat berubah menjadi hitam legam. Dedemit berbaju merah itu terperangah melihat wujud Sukma, yang semula hanya gadis berkulit pucat dengan tanduk di pandangannya.
Kini, giliran Sukma yang menyerang. Segera ia menarik baju dedemit itu hingga tubuhnya terpelanting ke lantai. Tanpa ampun, gadis itu menariknya dengan kasar. Perempuan berbaju merah tak mau tinggal diam. Ia segera berbalik badan dan bangkit mencakar Sukma. Alih-alih berhasil melukai gadis itu, serangannya justru meleset. Sukma berbalik mencakar punggung dedemit itu hingga mengeluarkan asap hitam.
"Sialan! Kamu harus mati di tanganku saat ini juga!" sergah perempuan berbaju merah itu dengan gerakan dua tangan yang akan mencakar.
Ketika serangannya hendak mendekati sang lawan, Sukma menahan kedua tangannya lebih dulu untuk menghindari cakaran. Gadis itu langsung menarik dedemit berbaju merah, kemudian menggigit bagian lehernya dengan ganas. Perempuan berbaju merah itu menjerit kesakitan. Tenaganya serasa dikuras habis dari lehernya. Ia meronta-ronta meminta ampun, tapi Sukma enggan menggubrisnya. Merasa kesal, perempuan berbaju merah itu terbahak-bahak mengejek Sukma.
"Dasar Bocah Iblis! Bagaimanapun juga kamu tetap Iblis! Kamu tidak ada bedanya denganku sekalipun alasannya menolong manusia. Lihat saja nanti, suatu saat kamu akan lebih kejam dariku!" oceh dedemit itu sambil tertawa pahit.
Sukma semakin mengeratkan gigitan di leher lawannya. Lambat laun, kekuatan dedemit itu berkurang seiring tenaganya diserap oleh Sukma. Sekujur tubuhnya melemas hingga kehilangan daya. Wujudnya perlahan-lahan berubah menjadi abu dan lenyap. Akhirnya Sukma dapat bernapas lega setelah musuh yang semula dianggap kuat, ternyata lenyap juga.
__ADS_1
Sembari menghela napas panjang, Sukma melepas mantra pada pintu rumah Rena. Ia membuka pintu dengan perlahan. Tampak Rena sedang bersama adiknya di teras rumah.
"Teteh habis ngapain di dalem? Kok lama?" tanya adiknya Rena dengan wajah geram.
"Ih, kamu ini! Udah dibilangin lagi ngelawan hantu, masih aja nanya," kata Rena sembari menggetok kepala adik laki-lakinya.
"Wah! Beneran itu, Teh?" tanya bocah laki-laki itu membulatkan kedua matanya.
"Kalau beneran, kenapa?" Sukma balik bertanya.
Adiknya Rena tercengang sembari bertepuk tangan. "Hebat! Tapi ... kenapa pintunya harus ditutup? Kan kalau aku bisa lihat kalian, bakal lebih seru."
"Emangnya kamu bisaa lihat hantu, apa? Buat orang-orang kayak kita, hantu itu nggak kelihatan," kata Rena dengan sinis.
"Ya tinggal dibuka aja mata batinnya. Itung-itung lagi nonton film laga. Ciat ciat ciat," sanggah bocah laki-laki itu sembari memperagakan adegan tinju di film laga.
"Udah, udah. Mending kamu mandi dulu sana! Bukannya sebentar lagi mau ngaji?" ujar Rena merasa risih.
"Tapi aku pengen ngobrol dulu sama teteh yang ini," kata bocah laki-laki itu,lalu melirik Sukma. "Teteh, tadi ngalahin hantunya kayak gimana? Sambil berantem-beranteman, kan?"
"Kalau berantem-beranteman mah artinya berantem bohongan," ucap Rena menyela.
"Ih, Teteh mah. Aku lagi ngobrol sama teteh yang ini!" sungut bocah laki-laki itu.
"Iya, tadi Teteh berantem sama hantu. Udah, mending sekarang kamu mandi dulu biar seger," ujar Sukma sembari mengusap kepala bocah laki-laki itu.
Sementara adiknya berlari ke dalam rumah, Rena mengobrol sebentar dengan Sukma. Ia menanyakan tujuan gadis berkulit putih pucah itu datang ke sana. Sukma menjelaskan tentang firasatnya yang tidak enak saat bubar sekolah. Sebab menurutnya, tak ada lagi orang yang akan diganggu oleh dedemit Jailangkung selain dari ketiga pemainnya. Rena pun mengerti dan tak menyepelekan Sukma lagi.
"Oya, Sukma. Kita jajan seblak, yuk! Kebetulan di sini ada seblak yang enak," ajak Rena dengan wajah semringah.
"Boleh. Tapi jangan lama-lama, ya. Soalnya kata ibu aku, aku harus udah ada di rumah pas jam empat," kata Sukma.
"Tenang aja. Kita cuma jajan seblak, kok, bukan jalan-jalan ke gunung," ucap Rena sembari terkekeh-kekeh.
__ADS_1
Keduanya berjalan dengan santai menuju warung seblak terdekat, lalu diikuti oleh Wanara dari belakang. Rena bercerita bahwa seblak di warung itu terkenal sangat enak. Sukma hanya membalas dengan seulas senyuman. Jauh di dalam pikirannya, ia masih terngiang-ngiang dengan ucapan terakhir dedemit merah.
Bagaimanapun juga kamu tetap Iblis! Kamu tidak ada bedanya denganku sekalipun alasannya menolong manusia. Lihat saja nanti, suatu saat kamu akan lebih kejam dariku!