
Sudah tiga hari Farah tak beraktivitas di luar akibat penyakit gatalnya yang semakin parah. Sejak kembali dari klinik, rasa gatalnya berkurang sekejap, tapi muncul lagi sehabis maghrib. Kini, kulitnya mengelupas akibat garukan yang sering dilakukannya. Tak hanya itu saja, beberapa bagian tubuhnya membusuk dan bernanah. Begitupun dengan wajahnya, yang tak lagi tampak kecantikannya.
Tentu saja, penyakit yang diderita Farah sangat membuatnya tidak nyaman. Selain menimbulkan minder terhadap suami dan putra semata wayangnya, ia juga merasa malu bertemu dengan teman-temannya. Sepanjang hari dihabiskannya berjalan-jalan di rumah, makan, dan mengerjakan beberapa tugas yayasan via daring.
Suatu ketika, Sukma berlari ke kediaman Hilman. Seperti biasa, gadis kecil itu tidak mau dipotong rambut oleh ibunya. Pernah satu hari ia berhasil dibujuk oleh Bu Inah. Namun, alhasil bukan rambut Sukma yang terpotong, melainkan guntingnya menjadi patah dan rusak.
Hari ini, guntingnya sudah diperbaiki dan diasah sampai benar-benar tajam. Sukma pun ketakutan dan semakin enggan untuk dipotong rambut. Tanpa ragu, ia masuk ke rumah Hilman dan berlari menuju kamar Farah.
Melihat tingkah laku putrinya, Bu Inah panik. Secepat mungkin ia menyusul Sukma ke dalam rumah Hilman sambil membawa gunting di tangannya. Dimasukinya rumah sang majikan, hingga akhirnya mendapati si bungsu sedang membuka pintu kamar Hilman.
"Dedek! Jangan masuk ke sana! Cepat ke sini atau Bu Farah akan marah!" teriak Bu Inah.
Sukma tidak menghiraukan perintah ibunya. Ia justru membuka pintu kamar Hilman, dan mendapati seekor kera besar sedang mencabik-cabik kulit Farah. Dengan terkikih-kikih, gadis kecil itu memasuki kamar hingga membuat Farah terbangun.
"Heh, Bocah Gembel! Ngapain kamu ke sini? Pergi sana!" hardik Farah dengan nada tinggi, sambil menggaruk-garuk punggungnya.
"Itu, Tante. Monyetnya nakal banget, garuk-garuk badan Tante," jelas Sukma menunjuk ke arah belakang Farah.
"Kamu ini ngomongnya ngawur melulu. Pergi sana!" Farah kemudian memandang Bu Inah yang sedang menutup hidung di ambang pintu. "Bu Inah! Cepat bawa anakmu keluar dari sini."
Bu Inah terperanjat, kemudian masuk ke kamar sambil menutup hidung, berusaha untuk menghindari bau busuk yang timbul dari badan Farah. Akan tetapi, saat hendak menggenggam tangan Sukma, gadis kecil itu justru naik ke kasur dan melompat-lompat kegirangan. Bu Inah merasa malu, Farah semakin geram.
"Lancang sekali kamu naik ke tempat tidur saya! Cepat turun!" bentak Farah naik pitam.
Sukma masih asyik melompat-lompat. Dilihatnya ekor dari kera yang menggelantung di badan Farah. Tanpa segan-segan, ia menarik ekor itu hingga ai kera kiriman menjerit kesakitan. Gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak saat menciptakan keributan baru di kamar Farah.
Setelah mendapatkan ekornya, Sukma turun dari kasur Farah sambil membawa kera hitam besar yang menjadi penyebab dari sakitnya majikan sang ibu saat ini. Secepat kilat, gadis kecil itu berlari keluar kamar, menuju taman belakang rumah. Si kera meronta-ronta, tapi Sukma enggan mendengarnya.
Bu Inah semakin kewalahan mengejar sang putri yang menjadi lincah hari ini. Namun, di sisi lain Farah merasa lega melihat pembantu dan anaknya keluar dari kamar. Bukan itu saja, rasa gatal yang dideritanya perlahan berkurang.
Sementara itu, mata Sukma berbinar-binar tatkala melihat kolam renang di samping ruang makan. Segera ia menggeser pintu kaca, sambil menggusur kera yang dibawanya dari kamar Farah.
"Hei! Lepaskan aku!" pekik si kera dengan suara beratnya.
"Wah, monyetnya bisa ngomong!" decak Sukma kagum.
"Cepat lepaskan aku!"
"Nggak akan. Kamu harus mandi dulu," kata Sukma menyeret si kera besar menuju kolam renang.
Setibanya di depan kolam, Sukma terkikih-kikih. Dilemparkannya kera itu ke kolam renang hingga muncul riak-riak air. Gadis kecil itu bertepuk tangan sambil melompat kegirangan.
"Hore!" seru Sukma tertawa riang.
Dari arah ruang makan, Bu Inah datang menghampiri Sukma. Dipegangnya tangan si bungsu sambil mencak-mencak. Sungguh, wanita paruh baya itu tidak tahan dengan sikap nakal putrinya pagi ini.
"Dedek! Kamu ini ngapain, sih? Pagi-pagi udah nakal, dipotong rambut nggak mau," cerocos Bu Inah jengkel.
"Dedek lagi mandiin monyet, Bu. Tuh, lihat! Monyetnya lagi berenang ke sini," jelas Sukma menunjuk ke kolam renang. Memang benar, ia melihat kera itu sedang kewalahan berenang ke tepi kolam.
"Udah ah, ngawurnya. Sekarang Dedek ikut Ibu ke paviliun, kita potong rambut. Katanya Dedek gerah kalau ke sekolah kerudungan terus."
"Nggak mau, Bu. Dedek nggak mau potong rambut. Biarin aja kayak gini," elak Sukma. "Kalau rambut Dedek dipotong, Dedek nggak bisa main sama monyetnya Tante Farah."
"Nggak ada monyet di sini, Dek. Dedek ini suka mengada-ada. Ayo ikut Ibu sekarang!"
"Tapi monyetnya belum dikasih sampo sama sabun, Bu."
Bu Inah tak menghiraukan ucapan Sukma. Ia berusaha membawa si bungsu pergi dari rumah Hilman. Sukma pun menurut, sambil sesekali menengok ke belakang. Terlihat kera besar itu terengah-engah setelah berhasil keluar dari kolam.
Sementara itu, si kera utusan seorang dukun, terheran-heran melihat wujud Sukma. Sejak ekornya ditarik tadi, ia melihat gadis kecil itu memiliki tanduk dan berkulit hitam legam, yang tidak lain sosok putri iblis sebenarnya. Si kera pun penasaran, ingin mencari tahu identitas Sukma lebih jelas.
Ketika Sukma keluar dari rumah Hilman bersama ibunya, mobil putih Ratna memasuki pekarangan. Wanita berkulit sawo matang dan memiliki rambut sebahu itu, turun dari mobilnya dengan membawa rantang berisi makanan. Dengan percaya diri, ia memasuki kediaman wanita yang dibencinya sambil sesekali mengelus-elus rantang dan berkomat-kamit merapal jampi-jampi.
__ADS_1
Mengetahui tingkah aneh Ratna, Sukma melepas genggaman ibunya dan berlari menghampiri wanita yang tak dikenalnya itu. Lagi-lagi Bu Inah dibuat kewalahan oleh tingkah si bungsu, sampai harus mengejarnya. Ia masih trauma dengan kejadian saat Arini datang menemui Farah.
"Hai, Tante! Tante bawa apaan itu?" tanya Sukma, sambil menunjuk rantang berisi nasi kuning beserta lauk pauknya.
"Eh, Adik Manis," sahut Ratna membelai wajah Sukma. "Tante mau bawain makanan buat Tante Farah. Katanya dia lagi sakit, ya."
"Iya. Gara-gara si monyet nakal, Tante Farah jadi suka garukin badannya terus," jelas Sukma dengan ringan.
Terkejut Ratna mendengar ucapan Sukma. Ia tak menyangka, bahwa akan ada orang yang mampu melihat sosok jin kiriman dukun langganannya. Menyadari ada hal ganjil pada Sukma, wanita itu menyembunyikan rantang ke balik punggungnya. Khawatir kalau-kalau Sukma mengetahui niat buruknya mencelakai Farah.
Sukma yang menyadari ada warna dan bau yang berbeda pada wadah makanan Ratna, mencoba meraih rantang dari tangan wanita itu. Akan tetapi, Ratna bersikeras menyembunyikannya dari putri bungsu Pak Risman.
"Kok makanannya disembunyiin? Aku cuma mau lihat isinya, Tante," kata Sukma mendongak menatap Ratna.
"Ini buat Tante Farah, Sayang. Kalau kamu lihat, nanti nggak bakal jadi kejutan buat dia," bujuk Ratna.
"Buat Tante Farah atau buat monyetnya?"
Seketika ketegangan terpancar dari raut wajah Ratna. Tangannya gemetar tatkala menatap bocah kecil yang sedang berkedip-kedip ke arahnya. Tanpa menjawab pertanyaan Sukma, ia melenggang masuk ke rumah Hilman.
Sukma yang ingin mengejar Ratna, sudah terlanjur ditahan oleh ibunya. Bu Inah memegangi tangan Sukma, lalu membawanya kembali ke paviliun. Tak peduli putrinya menggerutu dan memohon agar membuntuti Ratna, Bu Inah tetap pada pendiriannya.
"Dedek ini jadi nakal, ya. Lain kali jangan ganggu lagi tamu Bu Farah. Nanti kita diusir dari sini," tegur Bu Inah, dengan wajah kesal.
"Tapi, Bu. Dedek lihat makanan enak di tangan tante itu," kata Sukma setengah merengek.
"Dedek jangan lancang, ya. Itu makanan buat Bu Farah, bukan buat Dedek."
Sukma tertunduk lesu.
"Sekarang Dedek duduk di kursi. Ibu mau potong rambut Dedek sekarang. Biar nggak nakal terus," ujar Bu Inah dengan nada tinggi.
Menatap kemarahan di wajah sang ibu, Sukma tidak berani melawan. Ia menuruti perkataan ibunya, lalu duduk di kursi kecil yang sudah disediakan di teras sejak tadi.
"Kenapa jadi tumpul begini, sih? Perasaan kemarin sudah tajam. Dipakai buat gunting kain juga gampang," gumam Bu Inah menatap gunting di tangannya.
Sekali lagi, Bu Inah berusaha menggunting rambut Sukma. Namun, hasilnya tetap sama. Alih-alih berhasil memotong rambut gimbal putrinya, gunting itu terlempar hingga memecahkan kaca jendela paviliun. Buru-buru Bu Inah mengambil gunting, lalu mencoba memotong rambut putrinya lagi.
Atikah yang sedang mengerjakan PR pun terkejut mendengar suara pecahan kaca dari ruang tamu. Segera ia beranjak dari ruang tengah, lalu menghampiri ibunya. Betapa terkejutnya Atikah melihat retakan kaca dari teras paviliun.
"Bu, kenapa kacanya bisa pecah gitu?" tanya Atikah dengan mata membesar.
"Tadi Ibu mau motong rambutnya Dedek. Eh ... guntingnya malah kelempar kena kaca. Mana rambutnya si Dedek susah dipotong lagi," jelas Bu Inah.
"Oh." Atikah mengangguk. "Bu, aku boleh nyoba potongin rambut Dedek, nggak?"
"Ih, kamu ini aneh-aneh aja. Nanti kalau potongannya nggak rapi, Dedek jadi jelek," tolak Bu Inah.
"Yaaah ... Ibu. Padahal aku pengin nyoba. Sekaliii aja. Boleh, ya, Bu?" pinta Atikah dengan wajah memelas.
Mendengar permintaan Atikah, Sukma yang semula murung pun berubah gembira.
"Ibu, aku pengin dipotong rambutnya sama Teteh," celetuk Sukma, senyuman lebar mengembang di bibirnya.
"Dedek ini sama aja kayak si Teteh. Ibu mau gunting rambut Dedek beneran, bukan main salon-salonan," kata Bu Inah.
"Ibu, pliiis. Cuma sekali ini aja," pinta Sukma dan Atikah secara berbarengan.
Melihat kekompakan kedua putrinya, Bu Inah tak bisa lagi menolak. Diserahkannya sisir dan gunting pada Atikah, hingga membuat si sulung kegirangan.
"Tapi ngeguntingnya hati-hati, ya. Jangan dipakai mainan!" kata Bu Inah memperingatkan.
Atikah mengangguk, lalu mulai menyisir rambut adiknya. Bu Inah merasa lega melihat kedua putrinya akur. Akan tetapi, hatinya yetap saja khawatir jika Atikah sampai menyalahgunakan gunting itu. Kendati demikian, bagaimanapun juga Bu Inah tak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaan di rumah majikannya, sehingga harus cepat-cepat bergegas ke kediaman Hilman.
__ADS_1
"Kalau begitu, Ibu ke rumah Pak Hilman dulu," pamit Bu Inah. "Atikah, hati-hati motong rambutnya si Dedek."
"Iya, Bu. Tenang saja."
Sementara Bu Inah meninggalkan kedua putrinya, Atikah lanjut merapikan rambut sang adik. Ia melakukannya sama persis seperti ibunya memotong rambut. Sukma merasa nyaman saat Atikah menyisir rambutnya. Bahkan saat gunting di tangan sang kakak memotong rambutnya, Sukma tak merasa kesakitan sama sekali.
Semua itu terjadi atas kesukarelaan hati Sukma. Atikah dapat menggunting banyak helai rambut dari kepala adiknya dengan sangat mudah. Sekarang, tak ada lagi rambut panjang yang kusut di kepala Sukma. Hanya tatanan mahkota kepala yang rapi, yang dipotong pendek bergaya bob karya Atikah.
"Sudah selesai!" seru Atikah. "Dedek nggak ngerasa kesakitan, kan? Atau badan Dedek panas lagi?"
Sukma menggeleng. "Dipotong rambut sama Teteh enak, kok. Dedek nggak ngerasain sakit kayak dipotong rambut sama Ibu."
"Bagus lah. Sekarang Dedek mandi dulu, habis itu kita main bareng."
"Iya, Teh. Dedek juga pengin main sama monyetnya Tante Farah. Tadi aku ceburin dia ke kolam renang."
"Dedek ceburin monyet Tante Farah? Ah, yang bener?"
"Iya, Teh. Monyet gede itu juga kesusahan buat naik dari kolam."
"Wah, Dedek kuat sekali!"
"Sekarang Teteh percaya, kan, ada monyet di rumah Tante Farah?"
"Enggak."
"Loh, kok gitu?"
"Soalnya, Dedek suka melantur. Khayalannya masih gede. Makanya, Teteh nggak percaya."
"Ih, Teteh mah ...."
"Mendingan sekarang Dedek ambil handuk terus mandi. Nanti kita jajan es krim ke depan."
"Beneran, Teh?! Asyiiik!"
Sementara itu, di kediaman Hilman, Ratna sedang bermanis-manis di hadapan Farah. Diserahkannya rantang berisi makanan pada temannya itu, sambil tersenyum simpul.
"Farah, ini buat kamu. Aku cemas setelah denger kamu sakit dari teman-teman yang lain, makanya aku ke sini," ucap Ratna sembari menaruh rantang di pangkuan Farah.
"Terima kasih, Ratna. Aku harap, kabaikan kamu ini bukan cuma formalitas aja. Temen-temen yang lain nggak akan sudi kalau lihat keadaan aku begini."
"Nggak semua teman bisa menerima kita apa adanya, Farah. Aku begini karena kasihan sama kamu. Sejak kamu kena gatal-gatal, teman-teman yang lain suka ngomongin kamu di belakang. Katanya kamu jorok lah, jarang mandi lah. Padahal kamu nggak gitu, kan?"
"Ah, dasar mereka. Cuma jadi teman di saat aku senang doang."
Ratna tersenyum simpul. "Nggak perlu dipikirin yang begitu mah. Sekarang kan ada aku. Aku siap kok bantuin kamu kapan pun."
"Terima kasih banget, Ratna. Maafin aku kalau suka nyindir-nyindir kamu. Soalnya aku nggak suka sama tukang pamer. Kesannya kayak norak gitu."
"Iya, nggak apa-apa. Aku maklumin kok."
Keasyikan mengobrol, tak terasa hari pun beranjak siang. Ratna melirik jam dinding kamar Farah. Sudah pukul sebelas rupanya.
Dengan sungkan, Ratna pamit pulang. Tak lupa, ia mengingatkan Farah untuk memakan makanan yang dibawanya. Farah yang polos mengiyakan dan berjanji akan memakan makanan dari Ratna.
Ratna merasa lega setelah mendengar Farah berjanji akan memakan makanan di dalam rantang yang dibawanya. Dengan santai ia melenggang menuju mobil yang terparkir di halaman rumah Hilman. Sesekali ia melirik ke arah paviliun, memandang Sukma yang sedang asyik bermain boneka dengan kakaknya. Di dalam lubuk hatinya, tersimpan kekhawatiran akan terbongkarnya niat busuk pada Farah. Namun, Ratna berusaha keras untuk meyakinkan diri bahwa Farah akan memakan makanan yang sudah dijampi-jampi, dan akan meninggal dalam empat hari lagi.
Selepas Ratna pergi, Sukma melempar bonekanya dan berlari menuju kediaman Hilman. Atikah yang merasa heran dan panik, segera mengejar adiknya.
"Dedek! Cepat ke sini! Nanti Tante Farah marah kalau Dedek masuk ke rumahnya!" panggil Atikah dengan suara lantang.
"Nggak mau! Aku pengen main sama monyetnya Tante Farah," sahut Sukma, larinya semakin kencang.
__ADS_1