
Farah menjewer telinga Albi sampai ke kamar. Bocah laki-laki itu meminta ampun sambil meringis kesakitan. Setibanya di kamar, Farah melepaskan jewerannya.
"Sakit, Ma," rengek Albi.
"Lebih sakit mana dibanding dibohongin sama kamu, hah?" tanya Farah dengan nada tinggi.
"Tapi aku nggak mau les melulu. Aku capek habis ulangan, jadi main dulu."
"Oh, begitu, ya? Kamu ini sejak mengaji jadi ngelunjak sama orang tua. Mama itu masukin kamu les biar pinter, biar bisa nerusin perusahaan Papa. Kamu mau jadi orang nggak berguna di masa depan?"
"Aku tahu, Ma, tapi aku juga butuh istirahat buat menenangkan pikiran," kata Albi membela diri.
"Sudah! Mama nggak mau dengar alasan kamu lagi! Mulai sekarang dan seterusnya, kamu nggak boleh ikut Atikah mengaji. Bukannya bawa pengaruh baik, ini malah bawa pengaruh buruk."
"Tapi, Ma. Aku ...."
Farah bergegas keluar kamar Albi, lalu mengangkat telepon. Albi merasa sedih dan jengkel karena tak diizinkan pergi mengaji lagi oleh ibunya. Selain itu, ia muak pada rutinitasnya sehari-hari. Tak ada waktu untuk bermain. Semuanya dihabiskan dengan belajar, belajar, dan belajar. Sebenarnya Albi bukanlah anak yang bandel dan susah diajari, justru ia sangat cerdas dalam semua pelajaran. Hanya saja, Farah tidak pernah merasa puas dengan pencapaian Albi, hingga selalu menekan putranya untuk menjadi sempurna.
Saking kesalnya pada Farah, Albi mengurung diri hingga magrib tiba. Sejenak, ia melihat ke luar jendela. Tampak Atikah sedang berjalan menuju rumahnya, dengan pakaian muslim lengkap dan tas selendang di bahunya. Albi yang ingin sekali ikut bersama Atikah, akhirnya melanggar perintah Farah dan mengambil baju koko di lemari.
Di luar, Atikah berhenti di depan rumah Albi. Ditengoknya ke dalam rumah, Albi belum muncul. Di dalam hatinya terdapat ketakutan pada Farah. Amarah di wajah wanita itu masih terbayang-bayang olehnya. Kendati ragu-ragu, Atikah memberanikan diri untuk memanggil Albi dari luar.
"A Albi! A Albi!" panggil Atikah dengan suara lantang.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar menggema dari dalam. Seorang wanita berparas cantik dan tinggi semampai, keluar dari balik pintu. Ia tidak lain adalah Farah, dengan wajahnya yang masih menyeramkan di mata Atikah.
"Mau apa kamu manggil-manggil Albi? Hari ini dia nggak akan ngaji," kata Farah ketus.
"Loh, kenapa A Albi nggak akan ngaji? Dia sakit?"
"Nggak usah banyak tanya," hardik Farah. "Kamu pergi sendiri aja sana! Jangan pernah ngajakin Albi lagi! Mulai hari ini dia nggak akan pernah ngaji lagi sama kamu. Paham?"
Atikah mengangguk. "Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu, Tante. Assalamualaikum."
Farah tak menjawab salam dari Atikah. Ia bergegas ke dapur untuk mengambil makanan. Tanpa disadarinya, Albi sedang mengendap-endap menuruni tangga. Bocah laki-laki itu memandang waspada ke setiap penjuru rumah. Khawatir kalau-kalau Farah mengetahui kepergiannya ke mesjid.
Ketika melihat ibunya masuk ke dapur, cepat-cepat Albi berlari keluar rumah tanpa diketahui oleh siapa pun. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan ibunya tidak mengetahui keberadaannya di luar rumah. Bergegas ia menyusul Atikah yang belum jauh meninggalkan kediaman Hilman. Akan tetapi, langkahnya sempat terhenti ketika mencapai gerbang.
"Den Albi, mau ke mana?" tanya satpam curiga.
__ADS_1
"Ssst! Jangan keras-keras ngomongnya!" bisik Albi memelototi satpam. "Apa kamu nggak lihat penampilan aku kayak gimana?"
"Oh, mau ngaji, ya? Udah izin dulu sama Non Farah?"
"Alah, jangan banyak tanya! Sekarang aku mau pergi dulu. Kalau Papa yang nanyain aku pergi ke mana, baru boleh dijawab."
"Baik, Den."
Tanpa berlama-lama, Albi segera menyusul Atikah. Ia tak merasa khawatir lagi setelah pergi dari rumah, terlebih ketika melihat mobil ayahnya lewat. Hatinya berkeyakinan penuh, semuanya pasti akan baik-baik saja jika ada Hilman yang membela.
Atikah terkejut melihat Albi menyusulnya dari belakang. "A Albi? B-bukannya tadi kata Tante Farah ...."
"Nggak usah banyak tanya! Aku cuma mau menuntut ilmu aja. Sekarang kita pergi, ayo!"
"Tapi ... tapi ... Tante Farah gimana?"
"Jangan khawatir. Papa aku baru pulang, jadi aku ada yang belain."
Atikah mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan ke mesjid bersama Albi. Diam-diam ia merasa gelisah saat anak semata wayang Hilman itu mengikutinya. Takut akan dimarahi lagi oleh Farah hanya karena Albi ikut mengaji. Akan tetapi, melihat keceriaan di wajah anak majikan orang tuanya itu, hati Atikah sedikit lega. Mungkin memang benar, dengan kepulangan Hilman dari pabrik, semuanya akan baik-baik saja.
...****************...
Ketika memasuki belokan menuju rumah, hujan mengguyur begitu deras. Atikah menaruh tas di atas kepalanya, begitupun dengan Albi. Keduanya berlari secepatnya, berusaha mengindari rintik-rintik air yang membuat sekujur tubuh basah kuyup.
Sesampainya di rumah, Albi langsung masuk dengan mengendap-endap sambil mengusap-usap kedua lengannya. Ia tampak menggigil kedinginan setelah kehujanan. Saat hendak menaiki tangga, terdengar lagi suara perdebatan antara ayah dan ibunya di kamar. Albi tak peduli. Bocah laki-laki itu terus meniti tangga, mencapai kamarnya. Setidaknya dengan adanya perdebatan di antara Hilman dan Farah, ia dapat lolos dari kemarahan sang ibu.
Sementara itu, Atikah segera masuk ke paviliun. Bu Inah menyuruh Atikah ke kamar mandi. Gadis itu mengangguk, lalu menuruti perintah ibunya. Bu Inah pun membawakan pakaian kering Atikah ke kamar mandi.
Selesai mengganti baju, Atikah duduk bersama Pak Risman di ruang tengah. Bu Inah mengambil piring serta lauk pauk yang akan disantap malam ini. Sementara Sukma masih asyik bermain boneka Susan di kamar.
Ketika hidangan makan malam sudah siap, Atikah pergi ke kamar menemui adiknya. "Sukma, ayo kita makan dulu!" ajaknya.
"Kalian aja makan duluan. Aku nggak lapar," kata Sukma sambil menatap boneka Susan.
Atikah menghampiri Sukma, lalu mengambil boneka Susan dari tangan adiknya. "Makan dulu, ya, Dek. Nanti kalau sudah makan, bonekanya Teteh kasih ke kamu."
"Yaaah, Teteh ...." keluh Sukma mengerucutkan bibirnya. "Oke deh, aku makan dulu. Tapi nanti kalau sudah makan, bonekanya kembaliin, ya."
"Iya."
__ADS_1
Sukma pergi ke ruang keluarga, mengambil piring yang sudah diisi nasi oleh ibunya. Atikah menaruh boneka usang itu di meja belajar. Sebelum keluar kamar, ia memperhatikan boneka itu lekat-lekat. Cukup lama gadis itu menatap Susan, sampai tampak seringai jahat dari bibir boneka itu. Atikah terperanjat, menyadari ada hal ganjil dari boneka itu. Secepatnya ia berlari ke ruang tengah dengan wajah ketakutan dan napas terengah-engah.
"Kamu kenapa, Atikah?" tanya Bu Inah mengernyitkan kening.
Atikah menggeleng cepat, lalu mengambil piring yang sudah diisi nasi. Tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya, ia menambahkan tahu dan tumis kangkung di piringnya. Disantapnya makanan itu, sembari menatap Sukma yang sedang makan dengan lahap.
Sementara itu, Bu Inah teringat dengan kejadian tadi siang. Pun dengan Pak Risman yang masih syok akan bentakan Farah pada kedua putrinya. Ia tak tahan lagi ingin menceritakan kejadian yang menimpa Atikah dan Sukma pada istrinya.
"Bu, tadi pas Bapak lagi potongin rumput, Bu Farah marah-marah sama anak kita," tutur Pak Risman.
"Yang benar, Pak?" tanya Bu Inah tak percaya.
"Iya, Bapak lihat sendiri Bu Farah bentakin mereka," kata Pak Risman meyakinkan.
"Astagfirullahalazim." Bu Inah mengelus dadada. "Terus Bapak bilang apa samaa Bu Farah?"
"Bapak bilangin sama Bu Farah buat nggak bersikap kasar sama anak-anak, tapi dia malah cuek-cuek aja."
Bu Inah termenung sejenak, memikirkan nasib keluarganya. Sesekali ia menatap kedua putrinya yang masih makan, kemudian mengalihkan pandangannya pada suaminya. "Pak, kapan kita bisa hidup lebih layak, ya? Kalau kerja sama orang lain terus, kita harus kuat mental saat diperlakukan semena-mena oleh majikan. Ibu pengin suatu hari nanti kita buka usaha, Pak. Usaha kuliner misalnya."
"Doakan saja, Bu. Allah tidak tidur. Jika kita punya niat kuat dan terus bekerja keras, insya Allah apa yang kita inginkan akan tercapai."
"Aamiin, Pak."
"Bapak juga tidak akan berhenti tahajud, memanjatkan permohonan pada Yang Maha Kuasa agar segera diberi kehidupan yang layak."
Mendengar percakapan kedua orang tuanya, Sukma termenung sambil mangut-mangut. Sesekali ia tersenyum lebar, kemudian menyimpan piring di hadapannya. Selesai makan, gadis kecil itu segera berlari ke kamar dan bermain lagi dengan Susan.
...****************...
Malam semakin pekat, hujan belum kunjung reda. Udara yang dingin membuat mata cepat terpejam dan larut dalam mimpi. Namun, ketenangan tidak menghampiri Atikah malam ini. Meski berusaha memejamkan mata, ia tak kunjung teridur lelap. Wajahnya tampak gelisah, pandangannya berkeliaran ke setiap sudut kamar.
Gelegar petir menyambar-nyambar, membuat Atikah terperanjat. Lampu kamar yang dimatikan sejak keluarga Pak Risman tidur, menjadikan suasana semakin mencekam. Dalam kesunyian, tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh. Atikah kembali terusik oleh suara aneh itu, kemudian mengintip dari balik selimut.
Samar-samar, terlihat bayangan seorang bayi keluar dari kamarnya. Atikah mengerutkan dahi, merasa heran dengan sesuatu yang dilihatnya. Di sisi lain, ia pun ketakutan ketika menyadari bayangan bayi itu adalah Susan. Kendati demikian, gadis itu tetap penasaran dengan sesuatu yang akan dilakukan boneka bayi itu.
Diam-diam, Atikah beranjak dari tempat tidur, lalu melirik ke arah meja belajar. Tak ada boneka bayi sama sekali di sana. Sekarang ia yakin, bahwa bayangan yang bergerak keluar kamar itu tidak lain adalah bayangan Susan. Perlahan-lahan, Atikah mengikuti bayangan itu pergi. Tak lama kemudian, terdengar suara gaduh dari dapur. Seketika nyali Atikah ciut. Gadis itu mulai ragu, antara kembali ke kamar atau melihat sesuatu yang dilakukan Susan.
Rupanya tak hanya suara gaduh saja yang terdengar oleh Atikah. Ada suara tangisan bayi dari dapur. Atikah yang masih dirundung rasa penasaran, akhirnya berusaha mencari tahu. Dari balik pintu dapur, gadis itu mengintip. Terlihat Susan sedang mengobrak-abrik rak piring, mengambil botol susu yang dipakai Sukma sewaktu kecil. Kedua kaki Atikah terasa lemas dan gemetar menyaksikan tingkah boneka itu. Sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan, gadis itu mengatur napasnya yang kian memburu.
__ADS_1