SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Petunjuk Paranormal


__ADS_3

Kegelapan semakin menyelimuti malam. Jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Pak Risman dan Bu Inah kewalahan melayani pelanggan yang datang semakin banyak. Bahkan tak sedikit pula yang mengantre di luar angkringan. Ada yang memesan untuk makan di tempat, ada pula yang minta dibungkus saja dibawa pulang ke rumah. Biasanya di saat-saat seperti ini kedua putri Pak Risman ikut membantu. Tak jarang pula mereka harus tidur larut malam karena membantu kedua orang tuanya berdagang.


Hingga saat pelanggan satu per satu mulai berkurang, Bu Inah menyarankan anak-anaknya untuk pulang. Besok masih masuk sekolah, khawatir kedua putrinya kurang istirahat. Namun, Sukma bersikeras ingin membantu bapak dan ibunya berjualan hingga angkringan benar-benar sepi.


"Bu, bentar aja kok, ini masih jam setengah sebelas. Belum tengah malam," pinta Sukma.


"Enggak, Dek. Dedek harus pulang sama Teteh. Nggak baik kalau kalian berdua sampai begadang. Ayo, pulang gih sama Teteh! Besok kamu juga harus sekolah," ujar Bu Inah.


"Ayo, Dek, kita pulang! Kita juga harus beres-beres dulu di rumah sebelum tidur," ajak sang kakak menarik tangan Sukma.


"Enggak mau, ah. Lagian ulangan akhir semesternya udahan, ngapain juga ke sekolah?" ketus Sukma memberengut.


"Kalau Dedek nggak mau pulang, Ibu sama Bapak nggak bakal ngizinin Dedek pergi liburan dari sekolah. Katanya bakal ada liburan ke Gunung Ciremai," ancam Bu Inah mulai gemas.


Mendengar perkataan ibunya, Sukma mulai luluh. Ia tak mau ketinggalan soal liburan ke Gunung Ciremai, terlebih untuk berpamitan pada Wanara yang tak akan ikut pulang lagi dengannya ke Bandung. Gadis itu pun mengangguk, kemudian pulang bersama kakaknya ke rumah.


Ketika hendak meninggalkan angkringan, tak sengaja Sukma berpapasan dengan seorang pria berjaket hitam dengan iket batik di kepalanya. Pria itu merupakan paranormal yang biasa makan di angkringan Pak Risman tiap menjelang tengah malam. Sudah sejak lama ia memperhatikan kejanggalan di tempat pecel lele langganannya itu, hingga akhirnya kini menemukan sebuah jawaban setelah berpapasan dengan gadis berkulit putih pucat beberapa saat lalu.


Dengan takzim pria itu duduk di bangku, sembari menyalakan sebatang rokok di tangannya. Bu Inah tampak menyiapkan bumbu pecel, sementara Pak Risman rehat sejenak setelah memasak ikan lele. Paranormal itu melambaikan tangan pada Pak Risman, seolah ingin menyampaikan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Pak Risman duduk berhadapan dengan si paranormal.


"Saya mau tanya, apa anak perempuan yang lewat tadi itu anaknya Bapak?" tanya pria berjaket hitam itu dengan lirih.


"Iya, namanya Atikah dan Sukma. Atikah putri sulung saya, sedangkan yang bungsu namanya Sukma," jawab Pak Risman sembari tersenyum tipis.


Pria paranormal itu mengangguk. "Begini, Pak. Saya sebenarnya sudah lama ingin menyampaikan hal penting pada Bapak. Tentang anak bungsu Bapak. Siapa namanya tadi? Sukma?"


"Iya. Memangnya ada apa dengan putri bungsu saya? Apa dia pernah membuat masalah sama Bapak?" tanya Pak Risman mulai cemas.


"Tidak kok, Pak. Justru saya khawatir kalau Sukma membuat masalah pada keluarga Bapak," jawab pria dengan iket batik itu dengan santai.


"Loh, kok jadi keluarga saya? Dia itu anak saya, sudah sepatutnya kami mendidiknya dengan hal-hal baik. Kalaupun putri bungsu saya membuat masalah, saya dan istri akan memberikan pelajaran agar tidak melakukan kesalahan lagi," sanggah Pak Risman diselingi tawa kecil.

__ADS_1


Pria paranormal kembali mengangguk. Ia paham betul, bahwa keluarga yang mengangkat Sukma benar-benar keluarga baik dan menjunjung tinggi norma-norma agama juga sosial yang berlaku di masyarakat. Namun, lagi-lagi hal yang mengganggu benaknya selama ini, kembali mendorong rasa empati paranormal itu untuk menyelamatkan keluarga Pak Risman.


"Saya yakin, Bapak sekeluarga dapat mendidik putri kalian dengan baik. Tapi, ada hal yang perlu Bapak ketahui. Putri bungsu Bapak bukanlah anak biasa. Ada banyak masalah yang akan timbul nantinya jika keluarga Bapak terus mengurusnya," jelas paranormal itu dengan raut wajah mulai serius.


"Banyak masalah? Memangnya masalah apa?" tanya Pak Risman mengerutkan kening tak mengerti.


"Begini ... Sebenarnya saya sudah tahu bahwa Sukma bukanlah putri kandung kalian."


Pak Risman tercengang, begitu juga dengan Bu Inah yang mendadak terdiam mendengar ucapan paranormal itu. Belum sempat Pak Risman bertanya, pria di hadapannya sudah kembali membuka mulut.


"Ada banyak rahasia dari dirinya, bahkan kalau Bapak mau dengar, Bapak nggak akan sanggup. Salah satu rahasianya sudah diketahui oleh istri Bapak," jelas paranormal itu.


Pak Risman menoleh ke belakang, menatap istrinya dengan penuh tanya. Bu Inah hanya bisa berdiri terpaku, menatap nanar pria asing yang mengatakan banyak hal pada suaminya. Wanita paruh baya itu kembali teringat pada mimpi buruk yang sempat muncul setelah Sukma membuat masalah. Seketika, Bu Inah bergidik ngeri dan menggeleng cepat. Ia cepat-cepat menyelesaikan hidangan pecel lelenya untuk pelanggan yang datang terakhir ini.


Adapun Pak Risman kembali menatap pria paranormal itu dengan penuh rasa penasaran. "Memangnya rahasia apa yang diketahui istri saya?"


"Memangnya istri Bapak tidak pernah cerita?"


Pria berjaket hitam itu menyesap batang rokoknya sejenak, lalu berkata, "Kalau begitu, biar saya ceritakan."


Pak Risman mulai menyimak. Bu Inah yang sudah selesai menyiapkan pecel lele, secepatnya menaruh hidangan di meja angkringan. Tak lupa, ia juga menuang segelas air teh dan menyimpannya di dekat si paranormal. Selanjutnya, Bu Inah berpura-pura sibuk membereskan barang dagangan dan tak mau mimpi mengerikannya teringat kembali.


"Sukma bukanlah anak biasa. Dia merupakan tipu daya iblis yang dikirim untuk menyesatkan manusia. Iblis tak pernah suka jika kalian terus menuntunnya ke jalan yang benar. Maka dari itu, musuh manusia ini membuat pertaruhan lewat mimpi istri Bapak. Jika kalian terus mengurusnya dan Sukma menjadi lebih baik, akan ada dua kemungkinan hal buruk yang terjadi. Keluarga Bapak akan dihabisi atau Sukma yang harus mati," jelas pria paranormal dengan raut wajah serius.


"Apa maksudnya dengan keluarga saya akan dihabisi atau Sukma yang harus mati? Saya benar-benar nggak ngerti."


"Sukma merupakan anak hasil ritual sesat. Iblis ingin menjadikan Sukma sebagai bonekanya di dunia ini untuk menyesatkan umat manusia. Bapak sudah membawa putri Bapak ke jalan yang benar, dan iblis tidak suka itu. Maka taruhannya, antara Bapak yang harus mati agar tujuan iblis tercapai atau Sukma yang harus mati dan kembali ke alam lain," jelas pria paranormal.


Seketika dada Pak Risman terasa sesak mendengarnya. Begitu pula dengan Bu Inah, yang meneteskan air mata saat teringat kembali pada mimpi buruknya beberapa tahun lalu. Keduanya begitu menyayangi Sukma, sebagaimana menyayangi Atikah. Sukma sudah menjadi bagian hidup mereka sejak pertama kali ditemukan di TPS.


"Bapak harus bersiap-siap ketika usia putri bungsu kalian hendak menginjak tujuh belas tahun. Itu akan benar-benar terjadi," kata pria paranormal memperingatkan.


"Apa ada cara lain agar Sukma tetap hidup dan keluarga kami selamat?" tanya Bu Inah menimbrung. Raut wajahnya masih terlihat cemas, berharap ada solusi terbaik untuk masalah mereka mendatang.

__ADS_1


Pria paranormal mengangguk dan tersenyum. "Tentu saja ada," katanya. "Kalau kalian tidak mau hal buruk itu terjadi, maka biarkanlah Sukma hidup sendiri. Tapi ada konsekuensi yang harus kalian terima."


"Apa konsekuensinya?" tanya Pak Risman.


"Sukma akan berperilaku sangat buruk dan hidup keluarga Bapak tidak lagi semakmur sekarang. Apa kalian siap hidup lebih miskin dari sebelumnya?" ucap pria paranormal, lalu menyantap pecel lele di piringnya.


Pak Risman dan Bu Inah saling bertukar pandang. Mereka merasa berat hati jika harus membiarkan Sukma hidup sendiri dan tak bermoral. Sepertinya sia-sia saja usaha Bu Inah bersusah payah mendidik putri bungsunya untuk berperilaku baik. Adapun Pak Risman yang banting tulang mencukupi kebutuhan keluarganya, tak rela jika harus kehilangan putrinya dan usaha pecel lele. Ia sangat menyayangkan jika usaha yang dirintisnya sejak lama dengan berbagai kemudahan di dalamnya, harus sia-sia seiring kepergian Sukma.


Setelah piringnya tandas, pria paranormal itu bergegas pulang. Sembari memberikan lembaran uang pada Pak Risman, ia menengok sejenak ke arah angkringan pecel lele di seberang jalan.


"Jaga iman dan kesehatan, ya, Pak. Sepertinya ada yang mulai iri sama usaha Bapak," bisik pria paranormal itu sambil menepuk bahu Pak Risman dan tersenyum simpul.


Pak Risman menoleh dengan mata terbelalak. Pria paranormal itu berlalu begitu saja setelah menyerahkan uang pada pemilik angkringan. Pak Risman pun kembali membereskan dagangannya, melihat pecel lelenya sudah benar-benar habis.


Sembari membereskan bangku, Pak Risman mulai memberanikan diri untuk menanyakan rahasia Sukma pada istrinya. Walaupun lelah, ia tak bisa luput memikirkan perkataan pria yang mampir tadi.


"Bu, sebenarnya kapan Ibu tahu kalau iblis membuat pertaruhan tentang anak bungsu kita?" tanya Pak Risman sedikit lesu.


"Sudah lama sekali, Pak, saat Dedek masih sekolah TK," jawab Bu Inah seadanya.


"Terus, kenapa Ibu nggak cerita-cerita sama Bapak? Kalau tahu sejak dulu, mungkin kita sudah siap-siap menghadapi kemungkinan buruk yang akan terjadi pada keluarga kita," kata Pak Risman menyayangkan.


"Habis, gimana lagi, Pak? Ibu takut sekali saat bermimpi buruk itu. Ibu pikir, itu cuma bunga tidur, tidak ada maknanya. Tapi sekarang Ibu yakin kalau Dedek memang bukan anak biasa," ucap Bu Inah berhenti sejenak sembari mengusap pinggang.


"Sekarang kita harus memikirkan cara agar Sukma tetap hidup dan keluarga kita utuh. Sampai kapan pun, Bapak nggak akan pernah rela ngebiarin anak kita hidup sendirian tanpa arah. Biar Bapak saja yang banyak berkorban agar hidup kita sejahtera."


"Tapi gimana caranya, Pak? Ibu masih ingat, kalau sampai Bapak, saya, dan Atikah dihabisi, maka Dedek tetap akan kehilangan arah. Dedek akan salah jalan," sanggah Bu Inah.


"Hm, benar juga," celetuk Pak Risman. "Ah, sebaiknya sekarang kita segera pulang. Bapak akan tidur dulu sebentar, lalu salat Tahajud. Biar Allah saja yang memberi petunjuk atas segala masalah kita. Hanya Allah sebaik-baiknya tempat mengadu."


"Ya, Bapak benar."


Setelah selesai membereskan barang dagangan, Pak Risman dan Bu Inah pun pulang ke rumah. Keduanya sangat lelah setelah menghadapi pelanggan yang begitu banyak malam ini. Tentang masalah yang akan datang, mereka hanya bisa pasrah dan meminta petunjuk dari Tuhan saja.

__ADS_1


__ADS_2