SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Menangkap Pak Beni


__ADS_3

Sejak mengetahui pasti, bahwa Pak Beni adalah dalang dari maraknya gangguan dedemit di kontrakan, Haji Gufron punya ide. Ia menghubungi sahabatnya, Kyai Soleh, yang berasal dari Cirebon. Cukup lama ia berbasa-basi dengan teman lamanya, akhirnya Haji Gufron menyampaikan maksud menelepon Kyai Soleh yang sebenarnya.


"Begini, Soleh. Dua tahun belakangan ini kontrakan saya sepi penghuni. Setelah cukup lama nggak ada yang nyewa, akhirnya ada juga yang mau tinggal di kontrakan saya. Itu juga setelah ditemukan bungkusan aneh dari dekat gerbang," tutur Haji Gufron.


"Oh, artinya ada yang nggak suka sama kamu, terus ngirim guna-guna, begitu?" tanya Kyai Soleh dari seberang telepon.


"Kurang lebih begitu, Leh. Bukan itu saja sebenarnya, orang yang saya curigai itu sering menaruh jin usil di kontrakan saya. Saya minta tolong sama kamu, bisa nggak ngusir jin usil itu dari kontrakan saya?"


"Hm ... ngomong-ngomong, kamu tahu dari mana kalau orang itu menaruh jin di kontrakan kamu?"


"Di kontrakan saya ada anak kecil, namanya Sukma. Tadi pagi, kebetulan sekali dia datang pas Pak Beni lagi mantau kontrakan saya. Dia bilang, 'tumben Bapak nggak bawa dedemit lagi', kayak gitulah."


"Oh ... tapi menurut saya, kamu nggak perlu repot-repot bersihin kontrakan."


"Loh, kenapa begitu?"


"Setiap makhluk hidup, termasuk yang gaib, berhak punya tempat tinggal. Nah, di antara jin yang tinggal di kontrakan kamu, beberapa jin yang merupakan bawaan dari orang itu sebenarnya sudah pergi."


"Ah, masa? Kamu tahu dari mana?"


"Saya sudah terawang baik-baik dari omongan kamu, Gufron. Anak itu memang bukan anak biasa."


"Oh, jadi menurut kamu, jin-jin itu udah diusir sama Sukma?"


"Bukan diusir, tapi memang pergi sendiri. Mereka nggak kuat lihat kemampuan Sukma."


Haji Gufron mengangguk.


"Jadi, tujuan kamu cuma buat ngusir jin-nya aja?"


"Bukan itu juga, sih, Leh. Saya pengin ngasih pelajaran sama orang yang udah menaruh jin-jin itu."


"Ah, ngapain ngasih pelajaran sama orang itu, Gufron? Biar Allah aja yang membalas perbuatannya."


"Tapi saya khawatir kalau sewaktu-waktu dia berbuat hal yang sama lagi pada kontrakan saya."


"Begitu, ya. Baiklah, kira-kira kapan kamu ada waktu luang? Saya akan usahakan ke sana."


"Setiap hari saya ada di rumah. Biasa, cuma mantau penjualan pecel lele aja."


"Baiklah. Besok selepas salat Subuh, insya Allah saya usahakan untuk datang ke rumah kamu."


"Benarkah? Terima kasih ya, Leh."


"Iya, sama-sama."


Haji Gufron menutup telepon setelah selesai dengan pembicaraannya. Dari belakang, Fadil datang menepuk pundak ayahnya. Haji Gufron pun menoleh, menunjukkan raut semringah di wajahnya.


"Gimana, Pak? Temen Bapak mau bantuin kita, kan?"


"Iya, Dil. Alhamdulillah. Katanya dia mau ke sini besok," jawab Haji Gufron.


"Syukurlah kalau begitu. Eh, ngomong-ngomong, temen Bapak yang mau bantuin kita itu siapa? Kyai Soleh?"


"Iya, Dil. Cuma dia yang ilmunya lebih bagus."


"Wah, kalau begitu, aku boleh sekalian minta sesuatu nggak sama dia?"


Seketika kening Haji Gufron mengernyit. "Sesuatu? Sesuatu apa?"


"Begini, Pak. Bapak inget sama Habibah? Anaknya Kyai Soleh yang dulu pernah main sama aku waktu kecil, loh."


"Iya, Bapak inget. Emangnya kenapa?"


"Bapak sekalian jodohin aku sama dia, ya. Udah lama nih aku ngejomblo, suka kena ghosting melulu."


"Ghosting? Apaan tuh ghosting? Maksudnya pacar kamu berubah jadi hantu, gitu?"


"Ish! Bukan itu, Pak. Maksudnya gini, aku tuh pedekate sama cewek, terus pas aku udah nembak dia, dia malah hilang entah ke mana. Istilahnya, sih, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya."


"Makanya, kalau nyari calon istri tuh yang bener! Bapak pengin, kamu itu punya istri yang taat ibadah, pinter ngurus rumah tangga, sama bisa meredam ego kamu."


"Nah, itu dia yang aku cari, Pak. Makanya, aku minta dijodohin sama Habibah, anaknya Kyai Soleh."


"Kalau Habibah-nya nggak mau, gimana?"


"Ya tinggal aku dapetin dengan salat di sepertiga malam lah. Minta hatinya dibolak-balikin sama Allah."

__ADS_1


"Alah, sok-sokan banget mau dapetin Habibah di sepertiga malam. Salat Subuh aja kesiangan."


"Namanya juga ikhtiar, Pak. Aku bakal usahain buat dapetin dia, bagaimanapun caranya."


"Terserah kamu aja, deh. Nanti Bapak omongin sama Kyai Soleh. Syukur-syukur anaknya belum dilamar sama laki-laki lain. Kalau udah dilamar, kamu mendingan nyari aja yang lain."


"Yaaah ... kok Bapak ngomongnya gitu, sih? Positive thinking aja dulu, kenapa?"


"Bapak cuma nggak mau ambil risiko. Sebelum terlanjur malu, mending ambil sisi buruknya dulu. Kalaupun kalian berjodoh, Bapak nggak mau kamu sampai malu-maluin di depan Kyai Soleh. Kerja aja belom, udah pengin nikah aja."


"Kan dulu Bapak pernah nawarin aku buat ngurus cabang-cabang kedai pecel lele. Ya udah, kerjaan aku yang kayak gitu aja."


"Kamu ini pengin enaknya aja. Udah, ah. Sekarang kita fokus dulu buat ngasih Pak Beni pelajaran, setelah itu kita bisa ngomongin soal perjodohan kamu sama Habibah ke Kyai Soleh."


"Siap, Juragan Pecel Lele!"


...****************...


Hari berganti. Seperti sebelum-sebelumnya setelah menghabisi makhluk halus, Sukma terbangun dengan rambut panjang yang kusut dan terurai. Hal itu menjadi kesukaan bagi Atikah untuk memotong rambut adiknya lagi seperti main salon-salonan. Bu Inah dibuat kesal oleh Atikah yang tiba-tiba merebut gunting dari tangannya.


"Atikah, kembalikan guntingnya!" seru Bu Inah.


"Nggak mau, Bu. Aku mau potongin rambut Dedek lagi, kayak waktu di rumahnya Om Hilman," kata Atikah.


"Dedek pengin dipotong rambut sama Teteh, Bu," ucap Sukma yang masih duduk di tepi kasur.


"Dedek, Teh Atikah lama guntingin rambut kamunya. Biar sama Ibu aja, ya, biar rapi," bujuk Bu Inah.


Sukma menggeleng cepat. "Nggak mau! Dipotong rambut sama Ibu suka bikin sakit. Dedek nggak mau demam lagi kayak dulu. Dedek maunya dipotong rambut sama Teteh," katanya sembari memegangi rambut panjangnya.


Bu Inah menghela napas panjang, lalu memandang kedua putrinya dengan lesu. "Oke, oke. Kalian boleh main salon-salonan lagi. Atikah, potong rambut Dedek yang bener, jangan acak-acakan."


Kedua bocah perempuan itu melompat-lompat kegirangan. Setelah mendapat persetujuan dari sang ibu, Atikah segera membawa kursi kecil ke luar kamar kontrakan. Sukma menyusul di belakangnya, kemudian duduk di kursi kecil.


Merasa ada yang tertinggal, Atikah masuk kembali ke dalam untuk mengambil sisir. Sukma melihat-lihat pemandangan pagi yang masih remang-remang. Sembari menunggu kakaknya datang, ia menghirup udara segar dan tersenyum lebar. Sukma sangat suka pagi.


Tak lama kemudian, Atikah keluar membawa sisir. Sukma yang penurut, duduk dengan tenang di kursi kecilnya. Dengan berhati-hati, Atikah menyisir rambut adiknya dan memotongnya serapi mungkin.


Melihat keakraban kakak beradik itu, membuat Teh Lina yang hendak pergi bekerja, tersenyum simpul. Sembari menyimpul tali sepatu, sesekali ia memperhatikan tingkah keduanya.


"Wah, kalian akrab sekali, ya. Pagi-pagi udah main salon-salonan," decak Teh Lina.


"Ngomong-ngomong, kenapa rambut Dedek cepet panjang? Bukannya kemarin masih pendek seleher?" tanya Teh Lina terheran-heran.


"Itu karena Dedek udah melawan nenek-nenek. Makanya rambut Dedek jadi panjang," jawab Sukma dengan ringan.


"Nenek-nenek? Nenek-nenek siapa?" tanya Teh Lina lagi dengan kening semakin mengernyit.


"Itu ... nenek-nenek yang makan janinnya tante yang tinggal di sana," jelas Sukma sembari menunjuk kontrakan yang dimaksud.


Mendengar penjelasan Sukma, Teh Lina terperangah. Ia memang tahu, bahwa ada makhluk yang suka memakan janin dalam kandungan. Namun, wanita itu sedikit terkejut pula kalau Sukma dapat melihat wujud dari si pemakan bayi itu. Teh Lina juga ingat betul, saat kemarin Citra di-USG, janin di dalam kandungannya menghilang. Seketika, Teh Lina bergidik setelah mengetahui penyebab sebenarnya dari kegugurannya Citra.


Tak mau berlarut-larut dalam ketakutannya, Teh Lina segera beranjak dan berpamitan pada kedua gadis kecil itu. Atikah dan Sukma melambaikan tangan padanya, sampai ia pergi meninggalkan kontrakan. Sementara itu, Atikah masih melanjutkan kegiatannya memotong rambut sang adik.


"Dedek, dipotongnya sampai pendek banget aja, ya. Sampai panjangnya di bawah telinga aja," kata Atikah.


"Iya, Teh. Yang penting jangan dipotong kayak cowok. Dedek, kan, cewek."


"Iya, iya. Teteh ngerti, kok. Yang penting, nanti habis dipotong rambut, Dedek langsung keramas, ya."


"Iya."


Selesai dipotong rambut, Sukma bergegas mandi. Atikah kemudian mengambil sapu, lalu membersihkan rambut adiknya di teras. Dari dalam, Bu Inah menyiapkan perlengkapan sekolah untuk keduanya. Ia merasa senang anak-anaknya mandiri dan bersikap manis. Tak hanya itu saja, melihat potongan rambut Sukma yang rapi, membuatnya bangga pada Atikah. Ia tak menyangka, si sulung berbakat dalam menata rambut di usianya yang masih belia.


Beranjak pukul setengah tujuh, Atikah dan Sukma pergi ke sekolah bersama. Bu Inah menitipkan pada Atikah agar menjaga adiknya baik-baik. Gadis itu mengangguk, kemudian mencium tangan kedua orang tuanya. Pun dengan Sukma yang meniru kakaknya. Mereka berpamitan, lalu berjalan bergandengan.


Ketika hendak mencapai gerbang kontrakan, Sukma tak sengaja melihat Pak Beni sedang berjalan ke arahnya. Ia berhenti sejenak, lalu melambaikan tangan pada pria berbadan gemuk itu. Kali ini, sikap Pak Beni cenderung tenang, tak ada kegugupan sama sekali di wajahnya.


"Pak Beni! Bapak mau ke mana?" tanya Sukma.


"Bapak mau ke depan, beli gorengan," jawab Pak Beni sembari mengembangkan senyum di bibirnya.


Sementara itu dari arah yang berlawanan, tampak Haji Gufron dan Fadil mempercepat langkahnya bersama Kyai Soleh. Ternyata Kyai Soleh berangkat dari Cirebon lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Pak Beni gemetar melihat ketiganya semakin mendekat. Akan tetapi, janjinya pada Bu Lastri telah menahannya untuk tetap melakukan tugasnya menanam bungkusan kecil yang ada di sakunya.


"Eh, Pak Haji, A Fadil. Tumben pagi-pagi ke sini," ucap Atikah.


Haji Gufron dan Fadil tersenyum pada Atikah. Sementara itu, pandangan Kyai Soleh justru tertuju pada Sukma. Ia melihat sebuah keanehan pada diri gadis kecil itu. Aura yang keluar dari tubuhnya begitu gelap, sehingga membuat keningnya berkerut.

__ADS_1


"S-saya ... saya permisi dulu. M-mau beli gorengan ke depan," dalih Pak Beni bergegas pergi.


"Tunggu dulu, Pak!" cegah Fadil memegang tangan Pak Beni. "Buru-buru sekali, Pak. Kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar. Ayo!"


"T-tapi ... tapi istri saya--" Pak Beni gelagapan.


"Sudahlah, cuma sebentar kok. Ayo!" ajak Haji Gufron merangkul Pak Beni.


Sementara keduanya membawa ke dalam area kontrakan, Sukma menghampiri Kyai Soleh. Mendadak gadis kecil itu mencium tangan pria yang seumuran dengan ayahnya itu, lalu disusul oleh Atikah. Kyai Soleh pun tertegun melihat budi pekerti yang ditunjukkan oleh Sukma.


"Temennya Pak Haji, Dedek pergi ke sekolah dulu, ya," kata Sukma berpamitan.


"Iya, iya. Belajar yang rajin ya, Nak," kata Kyai Soleh sembari tersenyum simpul dan mengusap kepala Sukma. Telapak tangannya merasakan hawa panas dari rambut gadis kecil itu.


Selepas kakak beradik itu pergi, Kyai Soleh menghampiri sahabatnya yang duduk di salah satu teras kontrakan tak berpenghuni di lantai atas. Fadil yang membawa kunci kontrakan, segera membuka pintu. Ketiganya masuk ke ruangan itu.


Kyai Soleh menyusul mereka dari belakang. Sesampainya di kontrakan yang ditempati Haji Gufron, ia bergegas masuk. Tampak wajah Pak Beni pucat pasi ketika berhadapan dengannya.


"Santai aja, Pak Beni. Nggak usah tegang. Kami nggak akan ngapa-ngapain Bapak, kok. Cuma mau nanya-nanya aja," kata Fadil.


"M-mau nanya apa?" tanya Pak Beni, suaranya terdengar gemetar.


"Sebenarnya begini, Pak. Saya sudah lama mencurigai kalau Bapak jadi penyebab dari tidak lakunya kontrakan saya," terang Haji Gufron dengan tenang.


Mata Pak Beni membelalak. "A-apa? P-Pak Haji ... j-jangan suuzonlah. Saya nggak pernah punya maksud untuk--"


"Fadil, coba geledah saku celananya," ujar Kyai Soleh.


"E-eh ... apa-apaan ini?" tanya Pak Beni panik.


Fadil mengangguk, kemudian meraba-raba celana Pak Beni. Tak butuh waktu lama, ia mendapatkan sebuah bungkusan putih dari saku celananya. Pak Beni terperangah tatkala tertangkap basah oleh anak Haji Gufron.


"Nah, ini apaan coba? Mau nanam yang beginian lagi di sini, ya?" tanya Fadil memelototi Pak Beni.


Kepalang basah, akhirnya Pak Beni tercebur juga. Pria berbadan gemuk itu mengangguk lesu. Kepalanya tertunduk malu ketika Fadil mendapati benda sihir dari saku celananya.


Kyai Soleh memegang pundak Pak Beni dan menatapnya dengan tenang. "Pak, lain kali jangan berbuat seperti ini. Ini musyrik namanya. Kalau Bapak pengin usahanya maju, rajin-rajinlah ibadah pada Allah," katanya.


"T-tapi ... tapi saya cuma disuruh, Pak," kata Pak Beni.


"Disuruh? Disuruh sama siapa? Sama istri Bapak?" tanya Haji Gufron.


"I-iya."


"Apa alasan Bu Lastri menyuruh Bapak menanam benda ini di kontrakan kami?" tanya Fadil gemas.


"I-istri saya ... istri saya capek kerja di pabrik terus. Dia penginnya ngurus kontrakan aja," jawab Pak Beni.


"Kalau istrinya capek, ya udah nggak usah kerja. Lagian Bapak ini udah ngewarung, punya kontrakan juga. Ngapain ganggu-ganggu kontrakan saya segala?" sungut Haji Gufron.


"Saya sebagai laki-laki, malu, Pak. Saya dituduh nggak becus nyari uang sama istri saya. Saya dan istri saya juga takut kalau kontrakannya nggak laku, jadinya gangguin kontrakan Pak Haji," jelas Pak Beni tergugu.


Kyai Soleh melepas tangannya dari pundak Pak Beni dan mengangguk. "Pak, rezeki itu udah diatur sama Allah. Nggak ada gunanya Bapak ganggu kontrakan sahabat saya. Yang ada Bapak kena hukuman di akhirat nanti. Bapak mau jadi budak setan di neraka nanti?"


Pak Beni menggeleng.


"Ya sudah, lain kali Bapak jangan berbuat begini lagi, ya. Sekali lagi saya katakan, rezeki itu udah diatur sama Allah. Bapak nggak perlu khawatir kontrakan Bapak jadi nggak laku. Lagi pula, orang ingin tinggal di tempat yang nyaman. Jadi, buatlah kontrakan Bapak senyaman mungkin," kata Kyai Soleh.


"Baik, Pak."


"Kalau begitu, Bapak boleh pulang. Bilang sama istri Bapak, kalau rezeki udah ada yang ngatur. Nggak perlu risau dengan itu," kata Kyai Soleh lagi.


Pak Beni bergegas keluar rumah kontrakan tanpa berpamitan. Fadil yang hendak mengejarnya, segera ditegur oleh Kyai Soleh. Dengan kesal, ia duduk kembali di samping ayahnya.


"Pak Kyai, kenapa Bapak mencegah aku? Gimana kalau nanti dia berbuat jahat lagi?" tanya Fadil kesal.


"Sudahlah, nggak usah dikejar. Ke depannya biar saya yang urus," kata Kyai Soleh.


Fadil mendengus kesal sembari melipat kedua tangannya. Kyai Soleh menjelaskan, bahwa orang yang perlu diwaspadai adalah istrinya Pak Beni. Menurutnya, dialah dalang yang sebenarnya. Haji Gufron menanyakan solusi yang tepat untuk menangani istri Pak Beni. Namun, Kyai Soleh justru mengajaknya mengobrol di rumah Haji Gufron saja.


Mereka keluar dari kamar kontrakan itu. Fadil mengunci pintunya kembali, kemudian menyusul Haji Gufron dan Kyai Soleh dari belakang. Kyai Soleh masih penasaran dengan Sukma. Ia merasa ada yang mengganjal di dadanya.


"Gufron, di mana rumah orang tua anak itu?" tanya Kyai Soleh.


"Anak yang mana? Sukma?"


"Iya."

__ADS_1


"Mari saya antar."


__ADS_2