SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Menyusun Strategi


__ADS_3

Sukma tergopoh-gopoh menggendong Dini ke dalam UKS. Seorang dokter sekolah dan satu ustaz datang ke dalam ruangan itu untuk mengetahui kondisi gadis berambut panjang itu. Mereka terkejut melihat Dini yang babak belur.


"Astaghfirullah, kenapa dia bisa begini?" tanya sang ustaz.


"Dedemit dari badannya susah keluar, Pak Ustaz. Makanya badannya lebam," jawab Sukma dengan panik.


"Ya sudah, Adek jangan panik dulu. Ibu akan mengobati lukanya," ujar seorang dokter sekolah.


"Kamu juga tolong bawakan air, buat temen kamu yang pingsan ini," ujar Pak Ustaz.


Sukma bergegas membelikan air mineral ke kantin. Tanpa berlama-lama, ia berlari kembali ke dalam UKS. Diserahkannya air itu pada sang ustaz, lalu dibacakan doa. Sukma terus memperhatikan Dini yang sedang diobati. Khawatir kalau-kalau gadis itu dirasuki lagi.


Berselang beberapa menit, Dini mulai siuman. Ia meringis kesakitan sembari menyentuh wajahnya. Dengan dibantu Sukma dan dokter sekolah, Dini mengubah posisinya menjadi duduk. Pak Ustaz meminumkan air yang sudah dibacakan doa pada gadis yang baru saja sadar itu. Tak lupa, ia juga mengingatkan Dini untuk terus berzikir selama di kelas.


Sementara itu, Wanara bertarung kembali dengan dedemit yang merasuki tubuh Dini beberapa saat lalu. Perempuan berbaju merah itu geram, lalu mengeluarkan segenap kesaktiannya dari tangannya. Wanara segera menghindar sambil mencari tempat yang lebih nyaman untuk bertarung.


Perempuan berbaju merah itu semakin dibuat kesal saja. Kali ini, ia bersiap menyerang Wanara dalam jarak dekat. Tangannya siap mencakar kera kesayangan Sukma. Akan tetapi, serangannya segera ditahan oleh Wanara. Kedua tangannya dipelintir oleh kera itu sampai si dedemit menjerit kesakitan.


"Jangan ganggu anak-anak itu lagi, atau akan kupatahkan tanganmu," ancam Wanara menatap tajam.


"Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan aku!" Perempuan berbaju merah itu memutar kedua tangan Wanara, kemudian menendangnya hingga membuat lawan tersungkur.


"Sialan!" rutuk Wanara kesal.


Perempuan berbaju merah itu berbalik badan, kemudian melayang menuju sekolah. Ia masih belum puas meneror semua orang. Wanara dengan gesit menarik jubah dedemit itu, tapi tiba-tiba menghilang begitu saja.


"Dasar Monyet Bodoh! Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku sebelum ketiga anak itu mengembalikanku ke alam gaib sepenuhnya," suara perempuan berbaju merah itu menggema di sekitar Wanara, lalu disusul tawanya yang mengerikan.


Dengan gesit, Wanara berlari ke area sekolah. Bergegas ia mencari Sukma ke ruang UKS. Beruntung, gadis itu belum pergi dari tempatnya mengantarkan Dini.


Wanara melambaikan tangan dari jendela. Sukma yang menyadari kehadiran kera kesayangannya, bergegas keluar. Rupanya ia pun tidak sabar untuk mendengar kabar musnahnya dedemit itu.


"Gimana? Kamu udah berhasil membunuh dedemit itu, kan?" tanya Sukma.


Wanara menggeleng. "Dedemit itu punya kemampuan menghilang yang sakti. Aku tidak bisa mencarinya di mana pun."


"Astaga!" Sukma menepuk jidatnya. "Aku benar-benar heran, Wanara. Kenapa dia nggak gampang dikalahin kayak dedemit yang aku kalahin waktu kecil, ya? Emak aja yang ilmunya tinggi masih bisa aku kalahin."


"Itu karena makhluk yang kamu hadapi lebih kuat dari yang lain. Dia penguasa wilayah ini, seketika kemampuan dan energinya lebih besar. Selain itu, dia juga pandai menghilang dan mengecoh saat masuk ke dalam raga manusia, sehingga kamu terkadang merasa ragu dan kasihan pada orang yang akan kamu tolong. Berbeda dengan Emak. Dia sudah tua, penyesalan di dalam dirinya mempermudah kamu untuk mengalahkannya. Lagipula setahuku, satu-satunya penganut ilmu hitam yang paling sakti itu Mbah Kasiman, kakaknya Mbah Suro," jelas Wanara.


"Oh, gitu. Tapi aku nggak ragu, kok, waktu ngelawan Dini tadi," bantah Sukma.

__ADS_1


"Tapi aku melihatnya saat kamu bertarung. Semua itu terjadi karena sisi manusiawimu semakin kuat saat beranjak dewasa. Tidak seperti waktu kecil, kamu masih polos, belum bisa membedakan mana yang salah dan benar."


"Kalau udah begini, apa aku masih bisa ngalahin dedemit itu?"


"Tentu saja bisa. Kalau kamu bisa menyingkirkan sisi manusiamu, dedemit itu tetap akan bisa dikalahkan meskipun ketiga temanmu tidak melakukan ritual Jailangkung lagi. Tapi dengan syarat, dedemit itu tidak sedang berada di dalam tubuh orang yang dirasukinya. Jika tidak, maka kamu akan membunuh dua nyawa sekaligus. Kamu tidak mau masuk ke penjara, kan?"


Sukma menggeleng cepat.


"Baiklah, kalau begitu sekarang urus dulu temanmu itu. Nanti kita akan bicarakan lagi di rumah. Kita perlu menyusun strategi agar makhluk itu bisa dikalahkan."


"Oke. Sekarang kamu masuk dulu ke botol. Di sini masih ada paranormal, aku takut kamu diculik lagi kayak dulu," ujar Sukma membuka botol. Wanara masuk ke dalam botol kecil dan menyesuaikan ukuran tubuhnya dengan tempat itu.


Para guru memutuskan untuk membubarkan sekolah lebih awal, mengingat insiden kesurupan massal yang menggemparkan. Banyak siswa ketakutan untuk belajar hari ini, bahkan tak sedikit kejiwaannya terguncang akibat teman dekatnya yang kesurupan. Selain itu, paranormal juga ingin berkonsentrasi untuk membersihkan sekolah dari beberapa makhluk pengganggu yang masih tersisa.


Saat pulang, Rena merasa dihantui rasa bersalah. Perbuatannya telah membuat semua warga sekolah harus menanggung akibatnya. Sembari berjalan keluar gerbang, ia menghela napas pelan-pelan. Betapa sedihnya ia, sampai-sampai pikirannya mengawang entah ke mana.


Selama Rena merenung, perempuan berbaju merah mengikutinya dari belakang. Ia menaiki pundak gadis berambut sebahu itu, hingga membuat Rena muntah-muntah. Para siswa yang melintas di sekitarnya hanya bisa menatap ngeri. Mereka paham betul, bahwa itu merupakan pertanda awal seseorang kerasukan makhluk gaib.


Namun, tak lama kemudian Rena bersikap seperti biasa. Ia tak banyak bicara tatkala tubuhnya telah ditempeli oleh dedemit berbaju merah. Gadis itu sesekali memijit pundaknya tatkala menaiki angkutan umum.


Sukma yang baru saja keluar dari area sekolah bersama Dini, mendadak terdiam ketika berada di dekat gerbang. Firasat buruknya terasa kuat. Gadis itu menyandarkan dulu tubuhnya ke pagar, sembari memegangi kepalanya yang mendadak pening.


"Sukma, kamu kenapa?" tanya Dini.


"Ada apa, Sukma? Aku anterin kamu ke rumah, ya?" tanya Dini semakin cemas.


"Nggak. Nggak perlu. Mendingan kamu istirahat di rumah aja dulu. Aku yakin, badan kamu masih pegel-pegel. Jangan lupa, baca terus doa-doa biar nggak diganggu makhluk gaib. Jangan biarin pikiran kamu kosong," ucap Sukma.


"Tapi, kamu nggak akan kenapa-kenapa di jalan, kan?"


"Nggak. Tenang aja. Sekarang aku cuma lagi cemas sama temen kamu yang rambutnya sebahu."


"Rena?"


"Iya."


"Emangnya ada apa sama Rena?"


"Kalau besok kamu ngelihat gelagat dia berubah, tolong pindah tempat duduknya ke sebelah Giska. Aku takut dia kenapa-kenapa," jawab Sukma.


"Oke, aku bakal ngelakuin itu. Tapi aku mau nanya sama kamu sekali lagi. Kamu nggak apa-apa, kan, pulang sendiri?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Tenang aja," ucap Sukma.


"Kalau gitu, aku pulang duluan, ya."


"Iya."


Dini berjalan lebih dulu, lalu menaiki angkot yang baru saja melintas. Sukma berjalan sempoyongan, sampai akhirnya melihat angkot tujuan ke rumahnya berhenti. Gadis itu segera naik ke dalam mobil, meninggalkan sekolahnya.


Hanya lima belas menit saja waktu yang ditempuh Sukma untuk tiba di pinggir jalan menuju permukiman warga. Setelah turun dari angkot, kondisi gadis itu berangsur membaik. Setibanya di rumah, Bu Inah terkejut melihat putrinya sudah pulang lebih awal. Wanita paruh baya itu cemas melihat wajah putrinya begitu lesu.


"Tumben pulangnya lebih awal. Dedek sakit?" tanya Bu Inah sembari menyentuh dahi Sukma.


"Dedek nggak kenapa-kenapa, Bu. Tadi ada kejadian kesurupan massal di sekolah, makanya dibubarin duluan," jawab Sukma sembari melepas sepatunya.


"Oh, gitu. Kirain Dedek sakit. Kalau Dedek capek, istirahat dulu aja," ujar Bu Inah.


"Iya, Bu."


Sukma melenggang ke kamarnya. Dibukanya lemari, mengambil baju sehari-harinya. Setelah selesai mengganti baju, ia mengeluarkan Wanara dari botol. Kera itu tampak senang dikeluarkan dari botol lebih awal.


"Wanara, kita rancang strategi sekarang juga. Tadi pas pulang, aku nggak sengaja nerawang Rena, temannya Giska. Aku lihat dedemit berbaju merah itu naik ke punggungnya dia," tutur Sukma dengan nada cemas.


"Hm, ini tidak bisa dibiarkan," kata Wanara.


"Kita harus gimana sekarang? Kalau dibiarkan, aku takut Rena kenapa-kenapa kayak Giska sama Dini."


"Ya, tentu saja. Sepertinya Rena akan mengalami kejadian berbeda. Aku justru takut dia terbunuh karena rasa takutnya."


"Waduh! Kita harus nyusun strategi sekarang juga. Kalau bisa, sebelum malam tiba perempuan itu segera dimusnahkan."


"Pasti. Sebaiknya kamu ajak Rena jalan-jalan dulu, usahakan di tempat itu cuma ada kamu dan Rena. Di sana, kamu bisa menarik dedemit itu dan mengalahkannya dengan cepat. Ingat! Singkirkan sisi manusiamu, sebab itu akan menjadi kelemahanmu saat bertarung."


"Tapi gimana kalau dedemit itu keburu masuk ke dalam tubuh Rena? Apa aku harus bertarung lagi seperti tadi?"


"Hm, sepertinya kita butuh bantuan seorang ustaz lagi biar dedemit itu melemah dan aku bisa menariknya dengan mudah. Aku juga akan menutup pendengaranku lagi biar tidak terpengaruh ayat-ayat ruqyah seperti waktu di rumah temanmu."


"Aku harap kita nggak perlu mengandalkan orang ketiga lagi. Sebenarnya aku risih kalau ada ustaz atau paranormal lain yang ikut membantu kita. Jujur, aku kagok mengerahkan semua tenaga aku buat ngelawan dedemit."


"Berdoa saja. Mudah-mudahan dedemit itu tidak masuk lebih dulu ke badan teman kamu. Tapi aku yakin, kali ini dia akan menggunakan strategi berbeda untuk menunjukkan kesaktiannya pada orang-orang, bahwa dia bisa mendatangkan teror dan kematian."


"Mudah-mudahan aja gitu. Jadi, kita bisa menghabisinya dengan mudah. Satu lagi. Aku juga berharap dia tidak menjadi pengecut seperti di sekolah tadi," ucap Sukma.

__ADS_1


"Tenang saja. Kali ini dia tidak akan cepat menghilang. Kalau bukan di wilayah kekuasaannya, dia tidak akan menunjukkan kesaktiannya. Kalau perlu, kamu serap semua tenaganya sampai habis," jelas Wanara.


"Kamu benar." Sukma menganggukkan kepala. Sudah lama sekali ia tidak menyerap lagi tenaga dedemit setelah bertarung dengan Emak.


__ADS_2