SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kera vs Buta


__ADS_3

Sukma yang geram bercampur panik, langsung memutar kedua tangannya, lalu membanting dua orang pria berbadan tinggi besar itu hingga terpelanting. Pak Jumadi semakin terperangah menyaksikan kekuatan luar biasa yang dimiliki gadis kecil itu. Kendati gemetar, pria paruh baya itu tetap pada pendiriannya mengancam Sukma agar membatalkan tujuannya menyelamatkan Albi.


"Diam di sana atau aku jatuhkan Albi dari sini!" ancam Pak Jumadi dengan mata membelalak.


Belum sempat Sukma berjalan ke arah Albi, dua pria suruhan Pak Jumadi telah memeganginya lagi. Tak hanya itu saja, mereka juga menyeret paksa tubuh mungil Sukma untuk turun dari tempat Albi disekap. Berkali-kali gadis kecil itu memberontak sambil berteriak, hingga suaranya terdengar jelas oleh Wanara.


Pertarungan antara kera dan Buta belumlah berakhir. Tanpa disadari, teriakan Sukma dari dalam gedung rupanya membuat Wanara lengah. Ia pun tak luput dari satu pukulan keras dari tangan Buta, sampai-sampai terjengkang dibuatnya. Sambil berusaha untuk bangkit, Wanara meringis memegangi rahangnya.


"Segitu saja kemampuanmu, ha?" tantang Buta dengan angkuh.


"Keparat kau! Berani-beraninya menyerangku saat lengah. Rasakan ini!" Wanara menendang perut buncit si Buta dengan kakinya yang panjang.


Seketika Buta terjengkang ke belakang sembari memegangi perutnya. Semakin geram, ia menjerit kemudian menghampiri Wanara dan mulai menyerangnya. Di sisi lain, kera itu rupanya sudah siap menghadapi Buta yang semakin beringas.


Saat raksasa berbadan gemuk dengan wajah sangar dan bertaring itu semakin mendekatinya, Wanara memegangi kedua tangan lawannya. Keduanya saling dorong, lalu pergumulan pun tak bisa dielakkan lagi. Kekuatan demi kekuatan mereka tunjukkan satu sama lain, bahkan Buta tak segan-segan menunjukkan kesaktiannya mengeluarkan bara api dari mulutnya. Dengan cekatan, Wanara menghindari bara api itu, lalu mendaratkan tubuhnya cukup jauh dari lawannya.


"Kemari kau, Monyet! Lawan aku!" seru Buta dengan menepuk-nepuk dadanya.


"Sialan! Jadi, kamu ingin adu kesaktian denganku? Baiklah, akan aku ladeni kau!"


Wanara memutar kedua lengannya seraya merapal mantra. Setelah semua kesaktiannya terkumpul penuh di tangannya, ia langsung melancarkan serangan berupa cahaya merah dari tangannya. Buta yang memiliki tubuh lebih besar dan berperut buncit, kesulitan untuk menghindar. Badannya terlalu berat untuk melangkah. Secepat kilat, serangan Wanara pun melesat, mengenai tubuh raksasa itu hingga tumbang.


Melihat lawannya tak berdaya dan kesulitan untuk bangun, Wanara yang masih cemas akan keadaan Sukma, bergegas memanjat bangunan di sampingnya. Ukuran tubuhnya yang masih sebesar Buta, memudahkannya untuk memanjat menuju lantai empat dengan cepat. Akan tetapi, sebelum berhasil meraih lantai dua, ekornya sudah ditarik lebih dulu oleh Buta. Wanara pun terjatuh dari bangunan terbengkalai itu, lalu terkapar di bawah tubuh Buta.


Raksasa berbadan besar dengan mata melotot dan taring yang panjang itu, duduk di atas perut Wanara. Dengan geram, ia memukul-mukul dada kera itu menggunakan tenaga penuh. Bahkan, pukulan tangannya dapat menggetarkan bumi hingga jarak jauh.


Wanara dibuat sesak dan sulit bernapas oleh pukulan Buta. Mulutnya mengeluarkan darah, kekuatannya menyerang seperti terkuras habis. Kendati demikian, ia tak mau menyerah begitu saja. Selama tangan dan kakinya masih bergerak, Wanara akan tetap membela diri agar tetap hidup. Dengan susah payah, kera itu mencengkeram tubuh Buta, lalu berusaha menggulingkannya. Meski terasa sulit, perlahan tapi pasti Wanara sudah berhasil membalikkan keadaan. Kini, Buta berada di bawah tubuh Wanara dan berusaha untuk menghindari serangan darinya.


"Kau menyusahkanku saja. Sekarang rasakan pembalasanku!" geram Wanara terengah-engah.


Kedua tangan kera itu memegang kepala si Buta. Raksasa itu tampak cemas akan perlakuan Wanara selanjutnya. Berusaha ia meminta ampun, tapi Wanara tidak peduli. Tanpa berpikir panjang, Wanara berusaha memisahkan kepala Buta dari tubuh besarnya. Buta meronta-ronta, memegangi kedua lengan kera itu. Namun, sekeras apa pun raksasa itu menghindari maut, kekuatan Wanara tetaplah menjadi mimpi terburuknya. Kera itu berhasil mematahkan leher Buta, lalu mencabut kepala lawannya dan melemparnya ke sembarang tempat. Lambat laun, tubuh raksasa itu berubah menjadi kepulan asap hitam dan menghilang.


Setelah memastikan keadaan, Wanara bergegas menuju lantai empat gedung. Dari kejauhan, tampak bocah laki-laki sedang sesenggukan di tepi bangunan. Firasat Wanara semakin tidak enak. Secepat mungkin ia memanjat sampai akhirnya tiba di tempat yang dituju.


Betapa tak percayanya ia tatkala menyaksikan pemandangan di depan matanya. Gadis kecil yang semua ia khawatirkan justru baik-baik saja. Dua pria berbadan tinggi besar yang menjegal Sukma, telah terkapar di bawah kaki gadis kecil itu. Dengan susah payah, Sukma menyeret kedua pria itu, lalu membaringkannya tepat di tepi bangunan.

__ADS_1


"Lepaskan A Albi, atau aku jatuhin dua teman Bapak ini," ancam Sukma menggeram.


"S-Silakan saja kamu bunuh dua orang itu. Aku tidak peduli!" gertak Pak Jumadi.


"Baiklah."


Tanpa berpikir panjang, Sukma mendorong dua orang suruhan Pak Jumadi terjun ke bawah gedung. Pria paruh baya itu terperangah memandang seorang gadis kecil yang mampu membunuh dua orang dewasa tanpa ragu. Untuk menghindari serangan Sukma, Pak Jumadi dengan licik mendorong kursi Albi, lalu berlari ke lantai bawah.


Menyadari akan bahaya yang menimpa Albi, Sukma dengan gesit mendapatkan kursi yang diduduki oleh putra semata wayang Hilman. Wajah bocah laki-laki itu tampak syok, napasnya memburu. Bersusah payah Sukma menarik kursi itu dan memundurkan tubuhnya perlahan-lahan. Lalu, dengan dibantu oleh Wanara yang menarik tubuh Sukma dari belakang, akhirnya penyelamatan Albi pun berhasil.


Sukma segera melepas tali yang mengikat Albi satu per satu. Mulai dari tangannya sampai kakinya. Selesai semua tali yang membelenggunya terlepas, Albi memeluk Sukma dengan erat.


"Terima kasih, Dedek. Kalau Dedek nggak ke sini, aku pasti nggak selamat," kata Albi dengan nada lega.


"Iya, A. Dedek juga nggak tenang mikirin A Albi yang diculik sama penjahat, makanya ke sini," ucap Sukma melepas pelukan Albi.


"Fyuh, akhirnya. Dek, aku mau pulang. Pasti mama sama papa aku khawatir di rumah. Kamu tahu jalan ke rumah aku, kan?"


Sukma mengangguk. "Tapi jangan naik mobil, Dedek nggak tahu jalannya. Belum lagi, Dedek nggak bawa uang."


"Nanti Dedek lihatin sama A Albi. Pokoknya sekarang kita keluar dulu dari sini. Ayo!"


Bergegas keduanya menuruni tangga, disusul oleh Wanara dari belakang. Malam yang kian menua tak menggetarkan hati mereka untuk segera pulang. Ketidaksabaran Albi untuk menemui kedua orang tuanya di rumah, sudah tak tertahankan.


Setibanya di jalan menuju keluar, tiba-tiba tangan Sukma ditarik seseorang. Rupanya Pak Jumadi masih penasaran sebelum bisa mengalahkan gadis kecil itu. Albi memekik panik, menyebut nama Sukma dengan mata membelalak.


"Tidak semudah itu pulang dari sini, Bocah!" kata Pak Jumadi sembari merangkul Sukma dan mengarahkan pisau pada gadis incarannya.


"Lepaskan Dek Sukma!" seru Albi.


"A Albi pulang aja! Aku bisa jaga diri," ujar Sukma, sambil berusaha melepas tangan Pak Jumadi dari tubuhnya.


"Tapi, Dedek, gimana kalau Dedek ...." kata Albi gelagapan.


"Udah, A Albi pulang aja sana!"

__ADS_1


"Tapi, Dedek ...."


"Cepetan!"


Albi yang ragu-ragu, akhirnya berlari keluar gedung. Pikirannya sangat kalut. Yang terlintas di benaknya kali ini hanyalah cara menyelamatkan Sukma, penolongnya dari sekapan Pak Jumadi. Semakin menjauh dari gedung, ia pun akhirnya memiliki ide untuk datang ke permukiman warga sekitar untuk meminta bantuan.


Sementara itu, Sukma yang berada dalam ancaman Pak Jumadi, terus berusaha melepaskan diri. Pria itu menyeret paksa Sukma menuju lantai dua dan mendorongnya dari sana. Akan tetapi, saat hendak menaiki anak tangga, gadis kecil itu menggigit tangan Pak Jumadi keras-keras sampai terlepas. Dengan terburu-buru, ia berlari keluar dan tersandung batu. Sukma pun terjatuh, lututnya berdarah. Pak Jumadi yang tak mau melepaskan Sukma, segera menangkapnya lagi.


Di tempat lain, Albi berlari memasuki permukiman warga. Kebetulan sekali, ada dua orang pria sedang menyeruput kopi di pos kamling. Segera bocah laki-laki itu menghampiri keduanya, lalu berhenti di hadapan petugas siskamling dengan terengah-engah.


"Siapa kamu, Dek? Ngapain keluyuran malam-malam?" tanya salah satu pria dengan sarung tersampir di bahunya.


"Teman saya ... hhh ... teman saya ...," kata Albi sambil berusaha mengatur napas.


"Ada apa sama temen kamu?" tanya pria lain yang memakai kaus oblong.


"Teman saya ...." Albi menelan ludah sejenak. "Dia ditahan sama penculik."


"Penculik?!" kata dua pria itu berbarengan.


"Jadi, kalian ini abis kabur dari penculik?" tanya pria bersarung.


"Iya. Sebaiknya Bapak-bapak segera bantu saya. Ayo!"


Maka bergegaslah mereka ke tempat Sukma dan Pak Jumadi berada. Dengan tergopoh-gopoh Albi berlari lebih dulu, menunjukkan gedung terbengkalai yang berada di pinggir jalan. Kedua petugas ronda mengikutinya dari belakang.


Setibanya di sana, hawa dingin menyeruak. Dua orang yang dimintai tolong oleh Albi, seketika ciut nyali. Mereka berkata, bahwa tidak mungkin ada orang yang berani datang ke sana, tempatnya angker. Namun, Albi tak mau menyerah pada ketakutan mereka. Terpaksa ia menuntun kedua nya masuk ke area gedung. Tak lama kemudian, terdengar suara Sukma berteriak dari dalam.


"Bapak-bapak dengar itu? Teman saya butuh pertolongan!" tegas Albi.


"Ah, benar! Ayo kita tolong anak itu!" cetus pria berkaus oblong.


Secepatnya mereka masuk ke gedung dan mendapati seorang gadis kecil sedang ditodong pisau oleh pria paruh baya. Sebelum mereka beranjak mendekati Pak Jumadi, Sukma menggigit tangan pria itu dan berhasil melepaskan diri. Pak Jumadi tak mau kehilangan momen membunuh Sukma. Ia segera menarik tangan gadis kecil itu, lalu menghunjamkan pisau ke arah Sukma yang berada cukup dekat dalam dekapannya.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkejut bukan main. Pria bersarung melongo, sedangkan temannya termangu dengan mata membelalak. Adapun Albi yang panik dari tadi, menjerit memanggil nama Sukma.

__ADS_1


Beruntung, gadis kecil itu berhasil menghindari hunjaman pisau Pak Jumadi dengan berjongkok lebih cepat. Ketika pria itu terkapar, Sukma berlari ke arah Albi, lalu menoleh ke belakang. Terlihat darah mengalir deras dari perut pria paruh baya itu.


__ADS_2