SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Kemudahan Hidup


__ADS_3

"Bu, Dedek lapar!" panggil Sukma sambil mengelus-elus perut, seperti tak peduli pada kerumunan calon penumpang yang menyaksikan kelakuan anehnya.


Bu Inah yang sejak tadi tertegun memandang putrinya membanting seorang pria, terhenyak dan segera menghampiri Sukma sambil membawakan sebungkus roti. Diberikannya sebungkus roti pada Sukma, lalu mengambil koper berisi uang yang tergeletak di lantai. Tentu saja, si pria botak geram melihat kelakuan Bu Inah.


"Heh, Bu. Jangan ambil koper saya!" bentak pria itu.


Untuk memastikan koper yang dipegang Bu Inah adalah miliknya, Pak Risman menghampiri istrinya. Memang benar, itu adalah koper pemberian Arini tadi pagi. Tak mau uangnya diakui oleh si pria botak, ia segera merebut koper itu dari tangan Bu Inah, kemudian mendekapnya.


Pria botak pencuri itu tak mau tinggal diam. Bagaimanapun caranya, ia harus merebut kembali koper itu dari tangan Pak Risman. Semua calon penumpang tak melepaskan pandangannya, menyaksikan peristiwa menegangkan yang jarang terjadi di stasiun


"Hei! Kembalikan koper saya!" bentak si pria botak.


"Enak saja! Ini koper saya!" kata Pak Risman berusaha mempertahankan koper di pelukannya.


Tak lama kemudian, para petugas stasiun datang melerai keduanya. Untuk memastikan kepemilikan koper itu, mereka membawa Pak Risman dan si pria botak ke suatu tempat. Tentu saja, si pria botak tidak terima dan bersikukuh bahwa koper itu miliknya.


Ternyata, suasana tegang itu belum selesai. Seorang pemuda berjaket merah datang di antara mereka. Mendadak ia menuduh si pria botak sebagai pencurinya.


"Pak, bawa si pria botak itu ke polisi! Saya lihat sendiri kelakuannya itu!" tuduh pemuda itu sambil menunjuk si pria botak.


"Baiklah, kamu juga ikut kami sebagai saksi, Dek. Biar masalahnya cepat tuntas," ujar si petugas stasiun.


"Kalau boleh, cari bukti CCTV-nya, Pak. Saya nggak mau dituduh sebagai saksi palsu," kata si pemuda.


Petugas stasiun mengangguk, lalu membawa mereka semua. Bu Inah, Atikah, dan Sukma disarankan untuk menunggu di stasiun oleh Pak Risman, mengingat barang bawaannya yang sangat banyak. Mereka pun menurut dan duduk sambil menanti hasil dari penyelidikan petugas stasiun.


Sukma masih saja melahap roti bawaan ibunya. Sesekali, bayangan tentang pencurian koper berisi uang itu melintas. Kronologinya, ketika Pak Risman pergi mencari Sukma dan Atikah, pria botak itu duduk di kursi sambil celingukan. Seorang pemuda yang sejak tadi duduk membelakangi kursi si pria botak, diam-diam memperhatikan gerak-geriknya sejak mengantre di loket tadi. Baginya, cukup mencurigakan sikap orang di belakangnya itu, mengingat saat mengantre tadi, si pria botak hanya membawa tas ransel saja. Belum sempat diperingatkan oleh si pemuda, pria botak itu membawa koper dari tumpukan barang bawaan Pak Risman, lalu masuk ke antrean menuju area pemberhentian kereta.


Dan, kronologi yang terekam oleh CCTV pun sama persis seperti yang dilihat dalam terawangan Sukma. Pada kenyataannya, si pria botaklah pencurinya. Pemuda yang memergokinya tak tahan untuk menggetok kepala gundulnya. Namun, Pak Risman yang pemaaf, berusaha mencegah pemuda itu.


"Heh, Botak! Kepala gundul kamu itu harusnya ditumbuhin rambut, bukannya akal bulus! Euh ... Dasar Botaaak, Botak!" gerutu si pemuda bersungut-sungut, lalu menoyor kepala botak pria itu.


"Sudahlah, Dek. Setidaknya sekarang koper ini balik lagi sama saya," ujar Pak Risman menahan tubuh pemuda itu.


"Habisnya saya kesel, Pak," cetus pemuda itu.


Selesai mengamankan pelaku, petugas stasiun mengembalikan koper pada Pak Risman. Tak lupa, ia juga menasihati pria paruh baya itu untuk menjaga barangnya baik-baik. Pak Risman mengucapkan banyak terima kasih pada petugas yang sigap mengamankan stasiun. Pun pada pemuda yang menjadi saksi pencurian, Pak Risman tak tahu harus bagaimana jika gerak-gerik si pencuri luput dari perhatian calon penumpang lain.


Di dalam area stasiun, Sukma mengeluh karena sebungkus roti yang dimakannya tak cukup untuk mengentaskan rasa laparnya. Bu Inah berusaha membujuknya untuk tetap bersabar. Wanita paruh baya itu juga berjanji akan memberi makan Sukma jika sudah tiba di Padalarang nanti.


"Tapi aku mau makannya sekarang, Bu," keluh Sukma dengan wajah memelas.


"Sabar dulu, Dek. Nanti kita beli makannya di kereta aja. Uangnya ada di Bapak," bujuk Bu Inah.


"Yaaah, Ibu. Apa Ibu nggak lihat Dedek udah lemes gini?" tanya Sukma, memasang wajah menyedihkan.


"Berhentilah berpura-pura lemesnya, Dek. Memangnya Ibu nggak lihat, tadi Dedek ngebanting om botak sampai kesakitan? Kamu punya tenaga dari mana, sih, sampai bisa membanting om-om itu? Badannya gede loh."


"Oh, itu ... Habisnya Dedek kesel, Bu. Om yang botak tadi ngambil kopernya Bapak sambil celingukan. Mana abis ngambil koper Bapak, malah senyum-senyum lagi. Ya udah, aku banting aja. Tadinya mau Dedek injek badannya, tapi perut Dedek keroncongan terus," jelas Sukma dengan polosnya. "Lagian badan om itu nggak berat kok. Buktinya bisa Dedek banting."


Mendengar percakapan antara adik dan ibunya, Atikah hanya bisa termangu mengingat kejadian beberapa saat lalu. Ketika Sukma membanting si pria botak, ia melihat banyak asap mengepul dari tubuh sang adik. Gadis kecil itu berpikir, bahwa jika sampai adiknya menginjak si pria botak, maka nyawa pencuri koper ayahnya tidak akan selamat.


Di tengah percakapan mereka, Pak Risman datang bersama pemuda yang menjadi saksi pencurian. Wajahnya semringah setelah berhasil mendapatkan kopernya kembali. Tak lupa, Pak Risman memperkenalkan pemuda yang bernama Fadil itu pada keluarganya. Bu Inah merasa lega melihat suaminya datang menenteng koper pemberian Arini, lalu berterima kasih banyak pada Fadil karena sudah membantu mereka.


"Oya, ngomong-ngomong, kalian mau pergi ke mana? Barang kalian banyak banget kayak mau pindahan," kata Fadil sambil tersenyum simpul.

__ADS_1


"Saya tadi beli tiket tujuan Padalarang, Dek. Kami nggak tahu mau tinggal di mana setelah tiba di sana," jelas Pak Risman.


"Kebetulan sekali, Pak. Saya juga mau ke Padalarang. Kalau Bapak bingung nyari tempat tinggal, Bapak sama keluarga bisa ikut saya. Kebetulan, bapak saya punya kontrakan. Maklum, dekat area industri," ujar pemuda itu.


Sebelum menyetujui saran pemuda itu, Pak Risman menatap Bu Inah. Tak mau ia jika sampai menyakiti sang istri atas keputusannya yang tak dirundingkan lebih dahulu. Namun, rupanya kekhawatiran Pak Risman sirna ketika Bu Inah mengangguk setuju. Bagi Bu Inah, tak perlu merasa gengsi atau sungkan ketika seseorang menawarkan bantuan pada saat kesulitan. Ia berpikir, bahwa Tuhan telah memberinya rezeki lewat perantara pemuda itu.


Untuk memastikan keputusan Pak Risman, Fadil bertanya lagi. Pak Risman akhirnya berkata setuju akan menerima bantuannya. Betapa senangnya pemuda itu dapat membantu keluarga Pak Risman yang sedang kesusahan. Setidaknya, ia dapat meringankan beban mereka.


...****************...


Farah gelisah lagi dalam tidurnya. Lagi-lagi, hutan gelap dan segerombolan kera muncul dalam mimpinya. Tak hanya itu, kali ini ia melihat si kera raksasa sedang duduk tepekur di sebuah batu besar dekat bibir jurang.


Merasa penasaran, Farah menghampiri kera raksasa itu walaupun hatinya waswas. Sesekali terdengar kera itu sedang terisak-isak, bahunya naik turun tak menentu. Farah masih heran, memandang si kera yang sepertinya sedang sedih.


"Hei! K-kamu ... kamu kenapa?" tanya Farah penasaran.


Kera itu tetap bergeming. Farah pun mencoba melihatnya lebih dekat. Akan tetapi, ketika hendak menepuknya, sebuah kain merah membelit seluruh tubuh si kera. Jeritan melengking kera itu memekakkan telinga Farah hingga harus menutup kedua telinganya rapat-rapat.


Penasaran akan asal kain merah itu datang, Farah menengok ke dasar jurang. Samar-samar, terlihat seseorang sedang menarik kain dari sana. Si kera yang merasa kesakitan, akhirnya meminta pertolongan.


"Cepat! Temukan Sukma! Jika kamu berhasil membawanya kembali, maka aku tidak akan mengambil nyawamu," kata si kera dengan suara tercekat.


"Tapi ... tapi keluarganya sudah mengirim kamu untuk membunuh aku."


"Bukan! Bukan mereka yang menumbalkanmu, tapi orang di bawah sana. Dia punya dendam sama kamu," kata kera itu semakin terengah-engah.


Belum sempat Farah bertanya lagi, kera itu sudah terjun ke dasar jurang. Kaki Farah bergetar menyaksikan kera itu lenyap begitu saja. Ketika hendak melompat menyusul si kera, wanita itu tiba-tiba terbangun dengan napas terengah-engah.


Hilman yang sejak tadi tidur dengan tenang, seketika terbangun melihat istrinya sedang mengatur napas.


Farah mengangguk. "Iya, Pa. Tadi aku mimpi lihat monyet raksasa. Dia minta ke aku buat nemuin Sukma. Selain itu, dia juga bilang kalau yang menumbalkan aku bukan keluarga Pak Risman."


"Terus, kamu percaya sama omongan monyet itu? Kamu mau cari keluarga Pak Risman lagi?"


"Entahlah, Pa. Aku pikir, itu cuma bunga tidur."


"Oh, begitu. Ya sudah, tidur lagi sana. Jangan lupa baca doa."


"Tapi aku takut, Pa. Gimana kalau kita nggak nemuin Sukma, monyet itu mau ngambil nyawa aku lagi?"


"Entahlah. Salah kamu sendiri, mengusir mereka dari sini. Kalau Sukma ada, mungkin kamu nggak akan mimpi aneh-aneh."


"Aduh, gimana dong? Papa besok terusin lagi, ya, cari keluarga Pak Risman. Aku takut mimpi yang tadi berubah jadi kenyataan," ujar Farah panik.


"Iya, iya. Tapi kamu mau, kan, minta maaf sama mereka karena udah nuduh yang enggak-enggak? Udah aku bilangin dari kemarin-kemarin tentang tumbal, kamu masih aja nggak percaya."


"Habisnya, aku lihat ada bukti sesajen di kamarnya Pak Risman, Pa. Tante Arini juga bilang, kalau anaknya Pak Risman bisa lihat si monyet karena bapaknya tukang muja setan."


"Oh, jadi kamu lebih percaya sama Tante Arini daripada aku, gitu? Tahu apa Tante Arini soal begituan?"


"Tante Arini tahu dari tetangganya."


"Berarti tetangganya itu yang sok tahu. Udah ah, lanjut tidur lagi. Besok aku mau kerja."


Sementara itu di halaman belakang rumah Hilman, Wanara termenung memandangi paviliun. Galau ia membayangkan gadis kecil yang memberinya makan, datang dari sana. Wanara berharap, Sukma pulang membawa makanan lagi dan bermain bersama.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, wanita tua penghuni kamar paviliun datang menghampirinya. Ia terkikik-kikik melihat Wanara sedang bersedih. Wanita itu duduk di sebelahnya, menepuk-nepuk punggung Wanara.


"Aku kira kamu ikut sama bocah itu. Sudahlah, tak usah bersedih, ada aku di sini."


"Gagal sudah kesempatanku menjadi tangan kanan raja iblis," cetusnya, sembari mencabuti rumput.


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak susul saja bocah itu?"


"Bagaimana bisa aku menyusulnya? Si dukun brengsek itu sudah memagari sekeliling rumah ini," keluhnya jengkel. "Lalu, kenapa kamu nggak ikut dengan keluarga bocah itu?"


"Butuh waktu, Wanara. Jika hujan lebat dan angin kencang datang, maka aku akan pergi bersama mereka. Akhir-akhir ini cuacanya panas terus. Kalaupun senja datang dan kekuatanku bertambah, aku tak bisa pergi jauh-jauh."


"Begitu, ya."


"Sekarang, apa yang mau kamu lakukan di sini? Memakan wanita menyebalkan itu?"


"Seharusnya begitu. Si dukun menyuruhku untuk mengambil nyawa wanita menyebalkan itu, tapi aku tidak mau. Aku masih sedih dengan kepergian Sukma."


"Dan, kamu juga tidak mau makan, kan?"


Wanara mengangguk.


"Lihat saja besok, seseorang akan membawakanmu makanan."


"Benarkah? Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Si dukun itu tidak akan berhenti sampai kamu melakukan tugasnya."


"Ya, aku tahu."


"Sebaiknya kamu sekarang ikut aku ke paviliun. Kita bersenang-senang dengan dedemit lain di sana."


Sementara Wanara mengikuti si wanita tua ke paviliun, Mbah Suro sibuk menjampi-jampi sebotol kecil air putih. Ratna yang sejak tadi menunggu ritual pria tua itu, mengusap-usap kedua lengannya, merasakan hawa dingin menyeruak. Sesekali, ia mengedarkan padangan ke sekitarnya, yang temaram dan hanya diterangi sedikit lampu bohlam.


Selesai menjampi-jampi air putih, Mbah Suro menyerahkannya pada Ratna. Wanita itu berterima kasih banyak atas bantuan Mbah Suro untuk menyingkirkan musuhnya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal hatinya.


"Saya heran, Mbah. Kata Mbah situasinya jadi sulit. Kok sekarang Mbah nyuruh aku ngasih makanan lagi sama Farah? Bukannya di sana ada anak kecil yang menghalangi itikad kita?" tanya Ratna mengernyitkan kening.


"Semuanya jadi mudah berkat bantuan seseorang. Keluarga anak kecil itu sudah diusir. Jadi, nggak ada lagi penghalang untuk kamu menghabisi musuhmu," jelas Mbah Suro dengan tenang.


"Siapa seseorang itu, Mbah? Apa dia suruhan Mbah?"


"Kamu tidak perlu tahu. Pokoknya ada orang dalam yang membantu saya memudahkan jalannya," kata Mbah Suro. "Sekarang kamu pulang. Buatlah lagi makanan menggunakan air itu. Jika sudah, kirimkan makanan itu pada Farah. Pastikan Farah memakannya sebelum zuhur."


"Baik Mbah. Tapi, kenapa harus sebelum zuhur?"


"Kalau dia memakannya selepas zuhur, baunya akan berubah. Dia bakalan tahu kalau kamulah orang yang menumbalkannya."


"Begitu, ya, Mbah."


"Satu lagi. Berhati-hatilah memberikan makanan itu. Jangan sampai ada orang lain yang menyadari kalau kamu memberikan makanan pada Farah."


"Loh, kok begitu, Mbah? Kalau pembantunya lihatin saya ngasih makanan sama Farah, gimana?"


"Maka reaksi jampi-jampinya akan hilang. Sebenarnya saat kamu ngasih makanan sama Farah, reaksinya sudah kelihatan. Tapi gara-gara bocah keparat itu, semuanya jadi kacau. Bocah itu malah ngasih makanan pemberian kamu ke siluman kiriman saya," jelas Mbah Suro. "Bukan itu saja, suaminya juga sudah tahu kalau kamu yang memberi makanan untuk Farah."

__ADS_1


Kecemasan tersirat jelas di wajah Ratna. Niat buruk yang akan dilancarkannya kali ini dirasa lebih sulit. Otaknya berpikir keras, memilih-milih waktu yang tepat untuk mencelakai Farah lewat makanan buatannya.


__ADS_2