
Albi baru saja pulang sekolah. Cepat-cepat ia mengganti bajunya, lalu bergegas ke garasi. Diambilnya sepeda kesayangannya, dan tanpa sabar, ia menaikinya. Secepat kilat bocah laki-laki itu mengayuh sepeda menuju gerbang.
Katika hendak keluar gerbang, ia ditahan oleh Bi Reni. Pembantu itu tahu betul bahwa hari ini jadwal Albi les bahasa Inggris. Segera wanita itu berlari menghampiri Albi. Beruntung, anak majikannya itu berhenti sebentar ketika mendengar teriakannya.
"Kamu mau ke mana, Den Albi?" tanya Bi Reni sambil terengah-engah.
"Aku mau main dulu sama teman-teman," jawab Albi singkat.
"Tapi hari ini jadwalnya Den Albi les," kata Bi Reni sembari mengatur napas.
"Alah, les melulu! Otak aku masih ngebul gara-gara ulangan, Bi. Aku butuh refreshing," celetuk Albi bernada kesal.
"Tapi bagaimana kalau mamamu marah? Bibi harus bilang apa?"
"Bilangin aja aku pergi les. Cuma gitu aja kok ribet."
"Bibi nggak bisa bohong, Den."
"Terserah lah, Bi. Pokoknya aku mau main dulu. Dadah!"
Tanpa menghiraukan keluhan Bi Reni, Albi segera meluncur menemui teman-temannya di tempat yang sudah dijanjikan kemarin. Mereka akan bertemu di dekat masjid, tempat mengaji. Albi yang merasa tidak sabar untuk segera bermain, mempercepat kayuhannya ke luar komplek.
Sementara itu, Farah baru saja pulang arisan. Sepanjang perjalanan, matanya tertuju ke ponsel, membalas pesan karyawan yayasannya satu per satu. Akan tetapi, entah kenapa ia ingin melihat-lihat pemandangan ke luar jendela sebentar. Saat hendak masuk ke perkomplekan, sekilas ia melihat bocah laki-laki sedang mengayuh sepedanya dengan cepat. Begitu mobilnya semakin masuk ke komplek, Farah baru menyadari sesuatu.
"Oh, astaga! Pantas saja aku merasa kenal sama bocah tadi!" gumam Farah terkejut bukan main.
Segera ia menoleh ke belakang, memandang bocah laki-laki yang sedang bersepeda tadi. Sayang, bocah itu sudah tidak ada di sana. Jantung Farah berdebar kencang, khawatir hal buruk akan terjadi pada putranya. Namun, ia berusaha menepis pikiran buruk itu. Baginya, Albi anak baik dan penurut. Mustahil jika anak semata wayangnya itu bolos les bahasa Inggris hari ini.
Setibanya di rumah, Farah turun dari mobil. Segera ia berlari ke dalam rumah, mencari-cari Albi ke kamarnya. Bocah laki-laki itu tidak ada di sana, tapi Farah enggan menyerah. Disusurinya setiap sudut rumah, seraya memanggil-manggil Albi. Namun, putranya itu tak kunjung datang.
Pikiran Farah semakin kalut. Ia mencari Albi ke paviliun, berprasangka bahwa putranya pasti bermain dengan Atikah. Tergesa-gesa ia mendatangi paviliun itu. Dari terasnya, tampak Sukma sedang bermain boneka, sambil dipandangi oleh Atikah yang termangu memikirkan sosok Maurin. Saking geramnya, Farah menghampiri dua kakak beradik itu dengan wajah memberengut.
"Hei, Bocah-bocah miskin! Katakan, di mana Albi!" bentak Farah.
"A-aku nggak tahu, Tante. Dari tadi kami nggak lihat Albi," jelas Atikah terbata-bata.
"Jangan bohong kamu!"
"A-aku ... aku nggak bohong, Tante," kata Atikah gemetaran.
Farah tak lagi menanggapi Atikah. Ia bergegas mencari putranya ke dalam paviliun sambil berteriak-teriak memanghil Albi. Dimasukinya beberapa ruangan, tak ada Albi sama sekali.
Pak Risman yang sedang memotong rumput, merasa cemas melihat sikap kasar Farah. Terlebih saat menyadari Atikah dan Sukma ketakutan, ia tak mau tinggal diam. Segera pria paruh baya itu mendatangi paviliun dengan tergesa-gesa.
"Atikah, Dek Sukma, kalian nggak kenapa-kenapa, 'kan?" tanya Pak Risman cemas.
"Aku takut, Pak," kata Sukma bersembunyi di belakang Atikah.
"Bu Farah ini senang sekali marahin anak kecil. Salah apa coba kalian sama dia?" rutuk Pak Risman kesal.
Tak lama kemudian, Farah keluar dari paviliun. Napasnya mengap-mengap, tatapannya masih tajam. Melihat Pak Risman di paviliun, ia semakin tak sabar untuk mengetahui keberadaan putranya.
"Pak Risman, apa Bapak tadi lihat Albi?" tanya Farah berusaha meredam amarah.
"Saya tidak lihat, Bu," jawab Pak Risman. "Lain kali kalau mau bertanya sama anak-anak, harus baik-baik, Bu. Jangan dibentak. Kasihan."
__ADS_1
"Cih! Apa peduli saya dengan mereka? Mereka anak kamu, bukan anak saya."
Pak Risman hanya mengelus dada melihat sikap Farah yang menyebalkan. Ia mempersilakan majikannya pergi, tanpa mau berdebat panjang lebar. Diajaknya Sukma dan Atikah masuk ke paviliun, lalu membawakan segelas air putih untuk mereka. Kakak beradik itu tampak syok, setelah dibentaki oleh Farah.
Sementara itu, Farah mencari Albi ke rumah. Bi Reni yang memperhatikan sikap Farah yang begitu menakutkan, membuat nyalinya ciut. Bu Inah memandang Bi Reni dengan heran.
"Bi Reni, kira-kira Albi ke mana, ya? Bukannya tadi Bi Reni sempat ketemu sama Albi?" tanya Bu Inah.
"Ng ... itu ... itu ...."
Belum sempat Bi Reni menjawab, Farah sudah berada di dapur. Menyadari majikannya menelusuri seisi dapur, Bi Reni langsung tutup mulut. Ia tak mau disalahkan atas kepergian Albi bersepeda bersama kawan-kawannya.
"Bi Reni, Bu Inah, katakan padaku! Di mana Albi?" tanya Farah memelototi keduanya.
Terkejut Bi Reni tatkala mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Farah. Ia hanya bisa terdiam, tak mampu mengatakan hal yang sebenarnya. Tubuhnya terasa panas dingin, keringat mengucur deras dari dahinya. Untuk meredakan kecemasannya, ia menelan ludah.
Bu Inah pun tertunduk takut ketika melihat majikannya marah besar. Sesekali ia melirik Bi Reni, curiga rekannya itu menyembunyikan sesuatu tentang Albi. Akan tetapi, Bu Inah tak mau banyak bicara, karena merasa iba pada Bi Reni.
"Kalian tidak mau bicara, ya? Dasar pembantu tidak becus! Yang benar saja, kalian tidak tahu ke mana anak majikan pergi," hardik Farah, berkacak pinggang. "Mulai besok, gaji kalian akan aku kurangi!"
Mendengar hal itu, Bi Reni mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan sebuah kebenaran. Dengan gemetar, ia mengangkat kepala dan menatap Farah yang masih kesal.
"A-anu, Non. T-tadi saya ... saya ... saya lihat Den Albi bawa sepeda dari garasi," jelas Bi Reni tergugu.
"Apa?! Terus, dia bilang mau ke mana?"
"Katanya, dia mau main sama teman-temannya."
"Iya, ke mana?" tanya Farah mendesak.
"Dasar payah, kamu!" bentak Farah menoyor kepala Bi Reni, kemudian melirik tajam pada Bu Inah. "Ini semua gara-gara kamu, Bu Inah! Kalau saja Atikah nggak ngajak Albi buat pergi ke pengajian, Albi nggak bakal keluyuran."
"Maafkan saya, Bu," ucap Bu Inah semakin merendah. "Saya tidak tahu kalau Atikah bakal ngajak Albi pergi mengaji."
"Sudahlah, saya nggak mau dengar alasan. Pokoknya gaji kalian bakal saya potong! Ngurus anak majikan aja nggak becus!" cerocos Farah sambil meninggalkan kedua pembantunya.
Bu Inah melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan siang. Sementara Bi Reni yang masih syok akibat dimarahi Farah, hanya bisa menangis di pojok dapur. Bu Inah semakin merasa iba pada temannya itu.
"Sudahlah, Bi Reni. Maklumi saja. Bu Farah berbuat begitu karena khawatir dengan kondisi putranya," bujuk Bu Inah berusaha menenangkan Bi Reni.
"Maklumi? Dia baru sekarang kehilangan anak, sedangkan saya jauh dari anak setiap hari demi mencari nafkah. Saya juga sama khawatirnya dengan Non Farah, apalagi harus jauh dari anak selama berbulan-bulan. Dasar orang kaya! Apa-apa dibikin lebay!"
"Sudahlah, Bu. Sekarang kita siapkan makanan buat mereka, ya," bujuk Bu Inah dengan tutur kata yang lembut.
"Bu Inah saja sendiri yang siapin. Saya malas kerja kalau sudah dimarahi begini. Sudah dibentaki, dikurangi pula gajinya. Ya Allah, kenapa nasib saya begini?"
Bu Inah tidak lagi menanggapi keluh kesah Bi Reni. Sikap Farah yang memang mudah marah, mau tak mau harus dimakluminya. Bagi Bu Inah, bagaimanapun juga Farah adalah istri Hilman. Tak baik jika sampai mendebat istri dari orang yang telah menolongnya bangkit dari kesusahan.
Sementara itu, amarah Farah belum kunjung reda. Kini ia membenarkan bahwa bocah laki-laki bersepeda itu tidak lain adalah anaknya. Ia menyuruh satpam dan sopir pribadinya mencari Albi sampai ketemu. Wanita berparas cantik itu juga mengancam, jika sampai Albi celaka, maka keduanya akan dipecat.
...****************...
Pukul empat petang, Sukma diantar oleh Atikah pergi mengaji. Kendati harus bersusah payah membujuk Sukma untuk menyimpan boneka Susan-nya di rumah, Atikah akhirnya berhasil mengajak adiknya pergi ke mesjid. Ia tak mau kalau sampai konsentrasi adiknya terganggu saat mengaji, terlebih kemampuannya menghafal bacaan surat-surat pendek belumlah membaik.
Setibanya di mesjid, Atikah menuntun Sukma ke dalam area madrasah. Sukma menaruh tasnya di meja, kemudian mengajak kakaknya keluar. Sambil menunggu guru datang, Atikah memberikan sedikit uang yang dititipkan ibunya pada Sukma. Gadis kecil itu pun senang, lalu menghampiri tukang dagang yang menjajakan makanan di halaman mesjid.
__ADS_1
"Dek, Teteh pulang dulu, ya. Nanti Dedek pulangnya sama temen yang lain aja kayak dua hari ke belakang. Kamu, 'kan, anak yang berani," kata Atikah membujuk.
"Oke. Nanti aku pulangnya bareng sama temen yang lain aja."
"Kalau begitu, Teteh pulang dulu, ya. PR dari sekolah masih banyak."
Sukma mengangguk. "Iya, nanti aku pulang sama temen-temen lain."
Atikah bergegas pulang dengan tenang, percaya bahwa adiknya mampu bersikap mandiri. Sementara itu, Sukma masih fokus melihat penjual cilor (aci telor) membuat makanan itu untuknya. Setelah selesai membuat cilor dua tusuk, ia memberikannya pada Sukma. Gadis kecil itu sudah mengerti jual-beli, ia memberikan uang pada pedagang itu.
Sambil berjalan ke teras masjid, Sukma memakan jajanannya. Pandangannya berkeliaran ke sekitar masjid, lalu duduk di teras sendirian. Ketika sedang asyik menikmati cilor, tak sengaja ia melihat Albi sedang berlari dengan anak-anak lain. Putra semata wayang Hilman itu rupanya mengejar layangan putus. Sukma ingat betul, Farah marah-marah karena Albi tak ada di rumah. Ia pun segera menghabiskan cilor di genggamannya, kemudian berlari menghampiri Albi.
Bersusah payah Sukma mengejar anak dari majikan orang tuanya itu, sampai kekuatannya untuk berlari terkuras habis. Tubuh Sukma yang kecil tidak memungkinkan untuk mengejar anak-anak yang berusia jauh di atasnya. Akan tetapi, usaha Sukma tidak sia-sia. Albi akhirnya berhenti di depan warung, kegirangan mendapatkan layangan yang putus.
"A Albi! A Albi!" teriak Sukma terengah-engah.
Mendengar suara anak kecil memanggilnya, Albi pun menoleh. Wajahnya semringah ketika melihat Sukma yang kelelahan. Segera bocah laki-laki itu menghampiri Sukma yang menepi di bangku warung.
"Eh, Dedek. Ada apa kamu manggil aku?"
Untuk sesaat, Sukma mengatur napas, kemudian berkata, "A Albi, tadi Tante Farah nyariin Aa di rumah. Dia bentakin aku sama Teteh. Aku takut lihat Tante Farah marah."
Terkejut Albi mendengar kabar dari Sukma. Tanpa meninggalkan sepatah kata, ia berlari ke rumah temannya mengambil sepedanya. Hatinya tidak tenang mengetahui ibunya marah-marah, apalagi sampai membentak Atikah dan Sukma.
Sepeninggal Albi, Sukma kembali ke madrasah. Wajahnya tampak lunglai setelah mengejar Albi. Langkahnya sangat pelan, bahkan siput pun kalah olehnya. Namun ketika melewati rumah Pak Pandu, Sukma termenung sejenak. Ia menelan ludah sembari melirik ke pohon asem yang berdiri kukuh di depan rumah bergaya Belanda itu. Sukma mengatur napas, memandangi pohon dengan waspada.
Mulanya, tak ada apa-apa di pohon itu. Sukma dapat melewati depan rumah Pak Pandu dengan tenang. Akan tetapi, ketenangannya itu perlahan memudar ketika melihat lima jari berkuku panjang merayap di pohon itu. Tampak sosok wanita berambut panjang yang menutupi mukanya, muncul dari balik pohon asem. Bajunya putih lusuh, suara tawanya melengking hingga memekakkan telinga.
Menyadari makhluk itu ada di sana, jantuk Sukma berdebar sangat kencang. Ia mengambil ancang-ancang sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. Begitu wanita dari balik pohon itu hendak menangkapnya, gadis kecil itu berlari sambil menjerit. Entah dari mana Sukma mendapatkan kekuatan untuk berlari lagi. Yang jelas, ketakutannya telah mendorongnya untuk segera meninggalkan area mengerikan dari rumah Pak Pandu.
Setibanya di madrasah, Sukma segera masuk dan bergabung dengan anak-anak lain. Bu Rahma yang siap memulai pelajaran, keheranan mendapati ketakutan di wajah Sukma. Merasa penasaran, wanita berkacamata itu menghampiri Sukma.
"Sukma, kamu kenapa?" tanya Bu Rahma menepuk pundak Sukma.
Sukma terperanjat, menatap Bu Rahma, "I-itu ... tadi ... tadi a-aku lihat ada ... ada ... di rumah Pak Pandu! Ada ... ada ...."
"Ada apa, Sukma?"
"Sukma suka ketakutan kalau lewat di depan pohon asem rumah Pak Pandu, Bu," jelas Deden, temannya Sukma.
"Memangnya lihat apa dia?" tanya Bu Rahma semakin penasaran.
"Ada perempuan, Bu! Kukunya ... panjaaang. Terus ... t-terus ... rambutnya panjang banget nutupin mukanya. K-kayak ... kayak hantu, Bu," terang Sukma terbata-bata. Suaranya terdengar gemetar.
Bu Rahma membelai kepala Sukma dan tersenyum. "Ya sudah, mulai sekarang kamu nggak perlu takut lagi kalau lihat hantu di rumah Pak Pandu. Ibu akan mengajarkan doa supaya terhindar dari makhluk halus."
"Tapi aku nggak bisa baca doa-doa, Bu," keluh Sukma, menunduk.
"Kalau kamu berusaha, pasti bisa," kata Bu Rahma menatap Sukma, lalu beranjak dari bangku gadis kecil itu ke depan kelas. "Jin dan setan itu senang mengganggu manusia yang lebih mulia dari mereka. Kalau kita takut, mereka akan lebih senang."
Semua anak-anak mengangguk. Sukma termangu menyimak penjelasan Bu Rahma. Ia teringat pada perkataan ayahnya tentang doa dan nenek mengerikan itu. Gadis kecil itu akhirnya reda dari ketakutannya, setelah memperhatikan perkataan Bu Rahma secara baik-baik.
Sementara itu di rumah Hilman, Albi mengayuh sepedanya ke dalam garasi. Ia mengendap-endap tanpa diketahui oleh orang rumah, terlebih Farah. Bisa kacau nanti kalau sampai wanita pemarah itu memergoki Albi baru pulang sore hari.
Setelah memastikan tak ada siapa-siapa, Albi berjalan pelan memasuki rumah. Diliriknya semua sudut ruangan, tak ada seorang pun di sana. Bergegas Albi menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, baru saja meniti anak tangga kedua, terdengar suara seorang wanita memanggilnya. Albi segera menoleh, matanya membelalak tatkala menatap sang ibu sudah berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu?" tanya Farah memelototi Albi, sambil berkacak pinggang.