SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Jalan Keluar


__ADS_3

Haji Gufron berlari menuju kontrakannya dengan tergopoh-gopoh. Telepon yang diterimanya dari Fadil, membuat Haji Gufron panik. Ia tak mau menunda menyampaikan kabar buruk tentang Sukma pada Pak Risman dan Bu Inah. Bagaimanapun juga, kedua orang tua Sukma harus mengetahui masalah ini.


Sesampainya di kontrakan, tampak Pak Risman dan Bu Inah sedang sibuk menyiapkan bumbu untuk dagangannya. Bergegas pria itu masuk ke kediaman Pak Risman, hingga penghuni kontrakannya itu merasa heran.


"Eh, Pak Haji, kenapa kayak buru-buru begitu? Ada apa?" tanya Pak Risman.


"Sukma, Pak Risman ... Sukma," kata Haji Gufron dengan terengah-engah.


Bu Inah yang sudah waswas sejak tadi, tak sabar mendengar kabar yang disampaikan Haji Gufron. "Sukma?! Ada apa dengan Dedek Sukma?"


"Dia ... dia sedang berurusan dengan polisi, Bu," jawab Haji Gufron dengan suara gemetar.


Terperangahlah Bu Inah mendengar kabar buruk itu. Matanya berkaca-kaca, hingga bulir air menetes ke pipinya. Sementara itu, Pak Risman berusaha menghadapinya dengan tenag. Ia segera memegang tangan Haji Gufron dan memintanya untuk datang ke tempat putri bungsunya berada.


"Pak, Ibu ikut," pinta Bu Inah dengan sesenggukan.


"Ibu di sini saja. Jaga Atikah baik-baik. Kalau nanti dia pulang dari rumah temannya, jangan beri tahu apa-apa soal Dedek. Insya Allah, Bapak akan menanganinya dengan baik."


"Iya, Pak. Tolong, bawa pulang Dedek. Dia masih kecil, masih harus kita didik."


Maka bergegaslah Haji Gufron dan Pak Risman menuju tempat Sukma berada. Dengan tergesa-gesa, mereka berlari ke tempat yang dikabarkan oleh Fadil. Hati Pak Risman merasa tak tenang. Rupanya firasat buruk sang istri tak bisa diremehkan.


Cukup jauh mereka menempuh perjalanan, hingga akhirnya tiba di lokasi kejadian. Tampak orang-orang berkerumun, menyaksikan jenazah Ki Purnomo yang sedang ditandu ke dalam ambulans. Sementara itu, Sukma yang berdiri di halaman rumah Ki Purnomo, sedang menangis tersedu-sedu, menghadapi polisi yang membujuknya untuk datang ke kantor mereka.


Melihat kesedihan di wajah Sukma, Pak Risman merasa tak tega. Segera ia hampiri putrinya, lalu memeluknya erat-erat. Para anggota kepolisian pun akhirnya merasa lega setelag mengetahui kehadiran orang tua Sukma.


"Ada apa ini? Tolong, jangan bawa putri saya. Putri saya masih kecil, dia belum tahu apa-apa," kata Pak Risman mencoba memberi pengertian.


"Sebaiknya, Anda beserta putri Anda ikut kami ke kantor polisi. Kami membutuhkan informasi lebih lengkap atas tewasnya Ki Purnomo," jelas salah satu pria berseragam polisi.


"Bapak, Dedek nggak akan dipenjara, kan? Dedek nggak tahu apa-apa," kata Sukma sembari merengek.


"Enggak, Dek. Dedek nggak akan dipenjara. Nanti sepulang dari kantor polisi, Dedek pulang ke rumah sama Bapak," ucap Pak Risman berusaha menenangkan putrinya.


Sementara Pak Risman dan Sukma menaiki mobil polisi, Haji Gufron menghampiri putranya yang menjadi saksi mata atas kejadian buruk itu. Fadil menjelaskan segalanya dari pertama Ki Purnomo datang secara tiba-tiba dan menantang Sukma bertarung. Selanjutnya, ia juga menjelaskan, bahwa Ki Purnomo tewas diinjak oleh gadis kecil itu.


Haji Gufron membekap mulutnya dengan mata terbelalak. Ia sangat sulit memercayai, bahwa anak kecil yang masih di bawah umur, mampu menghabisi pria dewasa hanya dengan satu injakan kaki saja. Fadil pun menjelaskan pada polisi, bahwa itu bukan salah Sukma, melainkan Ki Purnomo memang sudah punya penyakit bawaan. Akan tetapi, sialnya ada orang lain yang melihat semua kejadian buruk itu dan mengatakan hal sebenarnya pada polisi.


Pada akhirnya, Fadil harus pasrah, terlebih saat mengetahui ada seseorang yang merekam aksi Sukma saat diantar oleh Bu Inah. Pemuda itu benar-benar tidak mengerti akan maksud dari orang itu. Sukma masih kecil, tak perlulah dibuat geger oleh warga sekitar karena keistimewaannya.


Setibanya di kantor polisi, Pak Risman ditanyai perihal sikap Sukma sehari-harinya. Pak Risman menjelaskan, kalau Sukma sama seperti anak-anak lainnya, bahkan gemar membantu orang yang kesulitan. Mendengar penuturan Pak Risman, polisi itu menunjukkan video yang direkam oleh salah satu warga saat Sukma menginjak dada Ki Purnomo. Pak Risman terkejut melihat video itu, lalu teringat pada perkataan sang istri mengenai kemarahan si bungsu yang tak terkendali.


"Nah, sekarang Bapak percaya, kan, kalau putri Bapak melakukan kekerasan?" tanya pria berbadan tinggi tegap berseragam polisi itu.


"Ah, saya tidak benar-benar percaya. Saya pikir, itu hanya editan orang iseng saja," jawab Pak Risman.


"Apa Bapak yakin? Menurut saya, ini bukan editan, Pak."


"Begini, Pak Polisi. Coba Anda pikir, bagaimana bisa, seorang anak berusia tujuh tahun menginjak dada pria dewasa sampai orang yang diinjaknya menjerit kesakitan begitu? Punggung saya juga suka diinjakin sama putri saya, tapi nggak sampai segitunya."


"Tapi, Pak, ini--"


"Coba Bapak pikir sekali lagi! Logikanya begini. Anak kecil berusia tujuh tahun itu kekuatannya sebesar apa, sih? Apa iya, bisa sekuat binaragawan? Tidak, kan?" sanggah Pak Risman bersungut-sungut.


Polisi itu mengangguk setuju pada perkataan Pak Risman. "Baiklah, Pak. Berhubung putri Anda masih di bawah usia empat belas tahun, Anda kami izinkan untuk membawa putri Anda pulang. Masalah jenazah Ki Purnomo, biar ahli forensik saja yang akan menjelaskan."


"Terima kasih atas kebijaksanaannya, Pak."

__ADS_1


"Ke depannya, tolong Bapak didik putri Bapak agar jangan berbuat seperti itu lagi. Ini berkaitan dengan moral, Pak."


"Iya, saya tahu. Ini anak saya, jadi saya lebih tahu bagaimana cara mendidiknya."


"Baiklah, kalau begitu, Bapak boleh pulang bersama putri Bapak."


Dengan tenang, Pak Risman melenggang keluar dari ruangan investigasi. Selanjutnya, ia memegang tangan Sukma dan berjalan meninggalkan kantor polisi. Sukma yang masih ketakutan, mendongak pada ayahnya.


"Bapak, Dedek nggak akan dipenjara, kan? Dedek boleh pulang sama Bapak?" tanya Sukma dengan sesenggukan.


"Iya, tentu saja. Pak Polisi nggak akan memenjarakan Dedek, kok. Dedek masih tanggung jawab Bapak sama Ibu. Jadi, nanti sepulang dari sini, Bapak akan ngasih Dedek hukuman."


Membelalak mata Sukma mendengar hukuman yang akan diberikan sang ayah. "Hukuman?! Hukuman apa, Pak? Kalau hukumannya berat, Dedek janji nggak bakalan jahatin bapak-bapak atau orang nyebelin lagi."


"Lihat aja nanti."


Sementara itu di kontrakan, Atikah baru saja pulang bermain dari rumah temannya. Menyadari ketidakberadaan sang ayah dan ibunya menangis tersedu-sedu, ia pun penasaran akan apa yang sudah terjadi. Segera gadis itu duduk di sebelah Bu Inah sambil memegangi pundak ibunya.


"Bu, kenapa Ibu nangis?" tanya Atikah terheran-heran.


"E-enggak. Tadi tangan Ibu cuma keiris pisau aja sewaktu ngupas bawang."


"Oh." Atikah mengangguk. "Ngomong-ngomong, Bapak ke mana, Bu? Kok nggak kelihatan?"


"Bapak lagi jemput Dedek main."


Selang beberapa menit, Sukma datang digendong ayahnya. Betapa lega hati Bu Inah melihat si bungsu kembali. Segera wanita paruh baya itu mengambil Sukma dari gendongan suaminya dengan air mata berderai.


"Alhamdulillah, syukur Ya Allah. Akhirnya Dedek bisa pulang juga," kata Bu Inah, menciumi pipi tembam si bungsu.


Melihat sikap ibunya yang aneh, Atikah semakin heran. Sembari menyengir dan menggaruk belakang kepalanya, ia bertanya, "Ibu, emangnya Dedek habis main dari mana sampai ditangisi begitu? Dedek mainnya kejauhan, ya?"


Tercengang Atikah mendengar jawaban sang ayah. Ia masih tidak mengerti, bagaimana bisa adiknya bermain begitu jauh dari rumah. Setahu Atikah, Sukma hanya bisa bermain dengan teman-teman sekitar tempat tinggalnya, tidak pernah sampai jauh-jauh.


Kendati demikian, Atikah ikut merasa lega melihat ayahnya menjemput sang adik pulang ke rumah. Ia mengajak Sukma untuk bermain ular tangga selagi ada di rumah. Akan tetapi, ayahnya melarang mereka untuk bermain lagi.


"Loh, kenapa, Pak? Kita mainnya di dalam rumah, kok, nggak ke mana-mana," kata Atikah tak terima.


"Dedek harus dikasih pelajaran biar nggak nakalin orang tua lagi," jelas Pak Risman.


"Tapi Dedek nggak nakalin orang tua, Pak. Bapak-bapak itu aja yang nakalin Dedek. Masa peliharaan Dedek diculik segala? Memangnya apa salah Dedek?" sanggah Sukma.


"Kalau mau ngambil lagi barang berharga punya Dedek, mintanya harus secara baik-baik. Kalau sambil ngambek mah siapa pun pasti nggak akan suka," jelas Bu Inah. "Sudah, sekarang jangan main dulu sama Teh Atikah. Dedek harus dikasih pelajaran."


"Yaaah ... Ibu. Padahal Dedek cuma pengin ngambil monyet Dedek, tapi malah Dedek yang kena hukuman," kata Sukma tertunduk lesu.


"Itu karena Dedek udah berbuat nggak sopan sama orang tua. Sekarang, cepat ambil buku tulis, lalu tulis 'Dedek minta maaf' sampai seratus baris," perintah Pak Risman.


"Apa?! Seratus baris? Dedek nulis di sekolah nggak sebanyak itu," kata Sukma terkejut.


"Ini bukan belajar, Dek, tapi hukuman. Ayo, ambil buku sama pensil Dedek! Buat tulisan 'Dedek minta maaf' sebanyak seratus baris," ujar Bu Inah.


Dengan lesu, Sukma mengambil buku tulis dan pensil dari tasnya. Ia membuka bagian belakang buku, lalu menuliskan kalimat yang diperintahkan sang ayah. Berhati-hati gadis kecil itu menuliskan setiap kata, sambil menggumamkan kalimat yang akan ditulisnya.


Di tengah hukuman yang dijalani Sukma, tiba-tiba Fadil datang mengetuk pintu. Pak Risman yang pertama kali melihatnya, langsung menyambutnya dengan semringah dan mempersilakannya masuk. Senyum pemuda itu mengembang, tatkala mengetahui Sukma pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Nak Fadil, ada apa kamu ke sini?" tanya Pak Risman.

__ADS_1


"Aku ke sini mau lihat keadaan Dedek Sukma. Syukurlah, ternyata sudah pulang," jawab Fadil dengan santai.


"Iya. Alhamdulillah Dedek baik-baik saja. Sekarang dia lagi dihukum buat nulis maaf sebanyak-banyaknya. Saya malu, kalau anak saya nggak punya sopan santun, apalagi sama orang yang lebih tua."


"Saya paham, Pak. Tapi, bagaimanapun juga Dek Sukma masih kecil, masih perlu diajari. Mungkin Bapak sama Ibu bisa memberi pengertian lebih pada dia."


"Iya, saya juga tahu."


"Oya, Pak. Apa aku boleh ngobrol dulu sama Dek Sukma?"


"Boleh, boleh. Tapi sebentar saja, ya. Soalnya Dedek lagi menjalani hukuman."


"Tentu."


Fadil beringsut ke arah Sukma. Kebetulan sekali, gadis kecil itu cepat menoleh ketika Fadil mendekatinya. Pemuda itu segera merogoh saku celananya, lalu memberikan botol kecil berisi Wanara pada Sukma.


Mata Sukma berbinar-binar menerima botol kecil itu. Tak lupa, ia banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Fadil karena sudah menjaga Wanara dengan baik. Sukma langsung memasukkan botol itu ke dalam saku bajunya, lalu melanjutkan hukumannya.


Selesai dengan urusannya, Fadil berpamitan pada Pak Risman. Hatinya lega setelah membantu Sukma mendapatkan kembali hewan peliharaannya, meski menurutnya tidak masuk akal jika seekor kera dapat masuk ke dalam botol. Namun, Fadil percaya, bahwa sesuatu yang dilihat Sukma benar adanya.


...****************...


Hukuman telah dirampungkan, Sukma memberikan buku pada Bu Inah. Ditunjukkannya tulisan permintaan maaf itu pada sang ibu dan meyakinkannya, bahwa seluruh tulisannya terdapat dalam seratus baris. Bu Inah mengusap kepala Sukma sambil tersenyum simpul.


"Lain kali, Dedek harus sopan sama orang tua, ya. Jangan biarkan Dedek dikendalikan sama kemarahan, nanti jadi rugi sendiri," ucap Bu Inah menasihati.


"Dikendalikan kemarahan itu apaan, Bu? Dedek ngambeknya berlebihan, ya?"


"Tepat sekali. Kalau Dedek ngambeknya berlebihan, nanti dikuasai setan. Jadinya Dedek nggak bisa dengerin suara siapa-siapa yang memperingatkan Dedek."


"Oh, gitu, ya. Terus Dedek harus gimana, Bu?"


"Sabar. Dedek harus sabar. Seberapa besar orang lain bikin Dedek kesel, Dedek harus tahan buat marah. Kalau nggak bisa, Dedek duduk. Kalau nggak bisa juga, Dedek berwudu aja, supaya api kemarahan yang ada di hati Dedek bisa padam," tutur Bu Inah.


"Oh, begitu ya. Baiklah, mulai hari ini Dedek bakalan belajar sabar biar nggak dihukum lagi buat nulis kata maaf seratus baris. Tangan Dedek jadi pegel nih."


"Namanya juga hukuman, nggak ada yang enak."


Sukma mendengus sebal, kemudian melengos ke teras kontrakan. Ia duduk di sebelah Atikah yang sedang membaca buku. Dikeluarkannya botol kecil dari saku bajunya, lalu membuka tutupnya.


"Dek, apaan itu?" tanya Atikah penasaran.


"Ini botol yang mengurung Wanara, Teh," jawab Sukma tersenyum lebar.


Dalam penglihatan Sukma, botol itu mengeluarkan asap hitam pekat. Asap itu berputar hebat di hadapannya, hingga muncullah sosok kera berbadan besar berdiri setengah membungkuk. Sukma bertepuk tangan dan melompat kegirangan melihat hewan peliharaannya kembali.


Akan tetapi, saat Sukma hendak menghampirinya, Wanara mengelak seolah-olah tak mengenali temannya itu. Ia mundur dari hadapan Sukma sambil menggeram. Mulutnya menunjukkan gigi taring yang panjang seperti hendak menyerang Sukma.


"Wanara, kamu kenapa?" tanya Sukma. "Ini aku, Sukma. Temen kamu."


"Siapa Sukma? Aku tidak kenal! Enyahlah dariku, Anak Kecil! Aku bukan budakmu!" geram Wanara.


"Aku nggak akan memperbudak kamu, Wanara. Kita, kan, teman."


"Aaargh! Aku tidak punya teman dari bangsa manusia. Mereka hanya bisa meminta bantuan dariku, karena aku sakti," kata Wanara pongah.


"Loh, kok kamu jadi sombong begitu? Kamu kenapa, Wanara? Apa kamu benar-benar melupakan aku?" tanya Sukma semakin heran.

__ADS_1


Wanara tidak menggubris. Ia berlari sangat cepat menuju area kontrakan lain. Satu per satu tangga ia pijak, hingga akhirnya tiba di lantai atas. Sukma yang tak mau kehilangan temannya lagi, menyusulnya dengan menaiki tangga.


__ADS_2