SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Mencari Solusi


__ADS_3

Ibunya Giska diam-diam mendengar pembicaraan antara putranya dan Bu Inah. Sebenarnya ia takut sekali jika mendengar hal-hal mistis. Akan tetapi, rasa penasarannya mengalahkan ketakutan. Ia memberanikan diri membawa dua gelas teh manis ke ruang tamu.


"Ini tehnya, silakan dinikmati," kata ibunya Giska, menaruh gelas di meja.


"Nggak usah repot-repot, Bu. Sebentar lagi saya juga akan jemput Dek Sukma pulang mengaji," ucap Bu Inah sungkan.


"Oh, begitu, ya. Nggak apa-apa, Bu, diminum dulu tehnya," ujar ibunya Giska.


"Ngapain buru-buru, Bu Inah. Setengah jam lagi bubaran mengajinya, kok," timpal Rifalbi.


Bu Inah semakin sungkan menerima keramahan tuan rumah. Ia merasa canggung, ketika hendak membicarakan soal boneka itu di hadapan ibunya Giska. Namun, keingintahuannya pada solusi yang didapat Rifalbi saat menyingkirkan boneka Susan, membuat batinnya tak tenang.


"Oya, Rifalbi. Kalau boneka itu bisa kembali lagi, lalu bagaimana cara kamu menyingkirkannya?" tanya Bu Inah.


"Dulu sewaktu SMA, aku pernah ketemu sama perempuan, namanya Pita. Dia sepupunya Maurin."


"Terus, di mana rumah Pita itu?"


Rifalbi mengedikkan bahu. "Entahlah, Bu. Aku juga ketemu sama dia waktu di sekolah. Dia tiba-tiba datang, terus nanyain boneka Susan gitu aja. Aku kira dia manusia, tapi ternyata ...."


"Ibu mau ke dapur dulu, kalian lanjutkan saja pembicaraannya, ya," kata ibunya Giska menyela.


Bu Inah dan Rifalbi mempersialakan wanita berambut pendek itu undur diri dari ruang tamu. Rifalbi dapat memakluminya, mengingat ibunya itu memang penakut dan tidak kuat juka dihadapkan dengan kejadian mistis. Pun dengan Bu Inah, yang tidak mau bertanya banyak tentang sikap aneh dari ibunya Giska itu.


"Maafkan ibu aku, Bu. Dia memang nggak kuat kalau dengar hal beginian."


"Nggak apa-apa kok, Rifalbi. Saya bisa memaklumi. Sebenarnya saya juga takut dengan hal ini, tapi demi keselamatan si bungsu, saya berusaha menguatkan diri."


Rifalbi tersenyum sambil mengangguk. "Oya, sampai mana pembicaraan kita tadi?"


"Soal Pita."


"Oh, ya, tentang Pita. Dia sebenarnya bukan manusia, Bu. Perempuan itu sama dengan Maurin, mereka arwah penasaran."


Terkejut Bu Inah tatkala mendengar penuturan Rifalbi. Menurutnya, mustahil jika harus meminta bantuan dari arwah penasaran lainnya hanya demi menyingkirkan boneka Susan dan pemiliknya. Bu Inah berusaha berpikir keras, hingga sebuah ide muncul di benaknya.


"Kalau tidak perlu meminta bantuan Pita, gimana? Membakar boneka Susan misalnya."


"Untuk cara itu, aku kurang tahu, Bu. Mungkin akan lebih efektif jika melibatkan ahli supranatural. Soalnya sesuatu yang anak Ibu hadapi bukan manusia dan boneka biasa. Bahkan, Giska sempat sakit-sakitan cukup lama sejak boneka itu ada di rumah."


"Apa? Jadi, boneka itu bisa bikin anak kecil sakit juga? Ya ampun!"


"Sebaiknya Bu Inah segera bertindak. Kalau tidak, aku takut nyawanya sampai melayang seperti anak kampung sebelah."


Hati Bu Inah semakin tak tenang mendengar penuturan Rifalbi. Ia segera berpamitan pada pemuda itu serta ibunya Giska yang muncul dari dapur. Wanita itu beralasan, sebentar lagi Sukma akan pulang.


Selama perjalanan menuju mesjid, Bu Inah tak berhenti memikirkan nasib Sukma ke depannya. Sungguh berat hatinya jika harus kehilangan Sukma. Meskipun putri bungsunya hanya anak angkat, kasih sayang Bu Inah untuknya sama seperti pada Atikah.


Setibanya di mesjid, Bu Inah terkejut melihat boneka bayi itu berada di gendongan Sukma. Sekujur tubuhnya gemetar melihat boneka lusuh itu kembali pada putrinya. Secepatnya ia menghampiri Sukma, dengan mata berkaca-kaca.


"D-dedek ... Dek ... d-dari mana kamu dapat boneka itu?" tanya Bu Inah tergagap-gagap.


"Dari Maurin, Bu," jelas Sukma dengan wajah semringah. "Tadi dia ke sini, katanya mau nginep ke rumah kita."

__ADS_1


"Nginep?!" Bu Inah tercengang. "Eng-enggak, Dek. I-Ibu nggak ngizinin teman kamu nginep."


"Loh? Kenapa, Bu? Dia nggak bakal ngapa-ngapain, kok. Dia cuma mau main sama aku aja."


Sejenak, Bu Inah menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya lagi putri bungsunya yang sedang membelai lembut rambut pirang boneka lusuh itu. Betapa tak tega Bu Inah merenggut keceriaan di wajah bocah itu. Ia berjongkok, lalu menatap kedua mata putrinya lekat-lekat.


"Dengar, Dek. Ibu bukannya nggak mau Maurin nginep di rumah kita. Tapi, Ibu khawatir, kalau sampai Bu Farah tahu kamu bawa teman, gimana?"


"Ya aku bilangin aja, teman aku cuma pengin main."


"Kalau ibunya Maurin nyariin, gimana?"


Sukma bergeming, matanya berkedip-kedip.


"Maurin juga punya ibu dan bapak, Dek. Dia belum tentu diizinkan oleh orang tuanya untuk menginap di rumah kita. Dedek juga nggak akan Ibu izinkan kalau menginap di rumah Giska."


"Oh, begitu, ya. Nanti aku coba tanyain dulu, dia udah minta izin atau belum."


"Tidak usah, Dek. Sebaiknya sekarang kita pulang, ya."


"Tapi Maurin ada di sini, Bu. Boleh aku ajak pulang, ya?"


Bu Inah terperangah, berbagai pikiran buruk terus berputar di otaknya. Sebenarnya ia ingin sekali menyuruh Sukma agar tidak mengajak Maurin ke paviliun. Namun, bagaimanapun juga Sukma masih kecil. Butuh bujukan halus agar bocah itu mengerti.


"Gimana, Bu? Boleh, ya?"


"Baiklah. Tapi sebentar saja, ya. Selepas magrib, dia suruh pulang. Kalau mau menginap, nanti saja kalau kita sudah pindah dari rumah belakang Pak Hilman. Dedek setuju, 'kan?"


"Iya, Bu. Kalau kita pindah dari sana, aku nggak bakal dimarahi Tante Farah lagi."


Bu Inah berdiri, lalu menuntun Sukma pulang. Di belakang mereka, Maurin mengikuti. Gadis kecil itu tampak tidak puas dengan jawaban Sukma. Ia benar-benar ingin menginap di kediaman keluarga Pak Risman agar jiwa Sukma dapat ikut bersamanya.


Setibanya di paviliun, tampak Atikah sedang membereskan buku-buku pelajarannya di teras. Sukma enggan menyapa kakaknya, mengingat sikap kasarnya yang membuang boneka Susan tanpa izin.


Sementara itu, Atikah menoleh sebentar ke arah ibu dan adiknya yang baru pulang dari mesjid. Matanya seketika tertuju pada boneka lusuh di tangan Sukma. Ia mulai berang, lalu menarik tangan ibunya untuk masuk ke paviliun.


"Ibu, kenapa boneka itu balik lagi sama Dedek? Bukannya tadi siang boneka itu sudah aku buang ke tong sampah?" tanya Atikah dengan alis saling bertaut.


"Sst ... jangan keras-keras ngomongnya! Nanti Maurin dengar," tegur Bu Inah bersbisik.


"Nah, sekarang Ibu percaya, 'kan, dengan ucapanku? Kalau begitu, kenapa Ibu nggak langsung membuang boneka itu?"


Bu Inah menarik tangan Atikah, mengajak putri sulungnya itu ke sebuah taman di belakang rumah Hilman yang letaknya tidak begitu jauh dari paviliun. Keduanya duduk di kursi dekat pohon belimbing. Sesaat, Bu Inah melihat ke sana kemari, memastikan tak ada seorang pun yang menguping pembicaraan mereka.


"Dengarkan Ibu baik-baik, Atikah. Boneka itu tidak bisa dibuang dengan mudah. Percuma saja dibuang ke tong sampah, dia akan kembali lagi."


"Ibu tahu dari mana? Kenapa boneka itu bisa kembali lagi?"


"Tadi sore Ibu ke rumahnya Giska. Temannya Sukma itu pernah mengalami hal ini juga. Makanya Ibu coba tanya-tanya sama kakaknya."


"Terus, dia bilang apa? Aku nggak mau kalau sampai Dedek kehilangan nyawa kayak Wulan, temannya Ani."


"Kamu nggak usah khawatir, Atikah. Nanti Ibu bicarakan hal ini dengan Bapak. Mudah-mudahan ada cara terbaik untuk menyingkirkan boneka itu dan Maurin."

__ADS_1


"Pokoknya aku pengin boneka itu segera dibuang, Bu. Aku takut banget kalau sampai boneka itu ngapa-ngapain aku lagi nanti malam."


"Tenang saja. Kalau kamu takut, baca Ayat Kursi. Makhluk halus yang berniat jahat akan menyingkir jika kamu membaca Ayat Kursi."


Atikah mengiyakan perkataan Bu Inah. Ia masih ingat perkataan Bu Rahma tentang ayat Al-Qur'an yang mampu melindungi diri dari makhluk tak kasat mata. Tak lupa, perkataan guru mengajinya tentang manusia lebih mulia dari jin dan iblis, masih melekat di ingatannya.


Sementara itu, Sukma sedang asyik bermain dengan boneka Susan dan Maurin di kamarnya. Sesekali mereka bercanda tawa sambil bercakap-cakap. Di tengah pembicaraan mereka, Sukma teringat pada ucapan ibunya tentang rumah dan orang tua Maurin.


"Oya, Maurin. Kamu tinggal di mana?"


"Aku tinggal di rumah besar, yang berhadapan dengan rumahnya Giska."


"Oh, kalau begitu, rumah kamu nggak jauh dari sini dong."


Maurin mengangguk.


"Ngomong-ngomong, kamu suka minta izin dulu sama ibu dan bapakmu nggak, kalau mau menginap?"


Wajah Maurin mendadak sendu. "Ibu ditembak sama bapakku. Dia sakit-sakitan, terus tidur dan nggak bangun lagi. Kalau bapakku ... dia ditangkap polisi. Dia jahat!"


"Astaga! Kenapa bapak kamu jahat begitu?"


"Aku nggak tahu. Dia sering bentakin aku dan ibuku tiap malam. Suatu hari, dia ngambil pistol di lemari. Habis b terus nembak ibuku dan ... aku."


Sukma membekap mulutnya dengan tangan. Matanya membelalak, mengetahui Maurin ditembak oleh ayahnya yang kejam.


"Tapi aku bersyukur, bisa hidup tenang sampai saat ini. Setelah bangun dari tidur, badan aku terasa ringan banget. Aku senang bisa pergi ke mana-mana, tapi ...."


"Tapi apa?"


"Aku kesepian, Sukma. Kamu mau temenin aku, 'kan?"


Sukma mengangguk. "Tentu saja. Kita bisa main bareng tiap hari."


"Terima kasih, Sukma. Aku senang bisa berteman sama kamu."


Ketika sedang asyik mengobrol, terdengar suara azan Magrib berkumandang. Sukma yang patuh pada ibunya, memutuskan untuk menyuruh Maurin pulang. Alih-alih menuruti Sukma, Maurin termenung tanpa berkedip.


"Maurin, sudah magrib nih. Sudah waktunya kamu pulang."


"Pulang ke mana, Sukma? Rumahku memang besar, tapi nggak ada siapa-siapa di sana. Aku takut kalau tinggal sendirian."


"Lalu, selama ini kamu tinggal sama siapa?"


"Sepupuku."


"Sekarang sepupu kamu ke mana?"


"Dia jarang ada di rumah. Aku selalu kesepian, nggak ada teman di rumah. Aku boleh nginep di sini sehari aja, 'kan?"


"Aduh, gimana, ya? Ibu aku nyuruh kamu pulang pas magrib."


"Aku mohon, bujuk ibu kamu buat setuju. Aku janji, bakal pulang ke rumah kalau ada sepupuku."

__ADS_1


Sukma termangu. Di satu sisi, ia kasihan mengetahui temannya tinggal sendirian di rumah. Namun di sisi lain, Bu Inah yang menyuruhnya membujuk Maurin agar pulang selepas magrib, membuatnya gamang. Sejenak ia menoleh ke ruang tamu, memandang ibunya yang akan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara Atikah yang baru masuk ke kamar, memandangi boneka Susan dengan sinis.


__ADS_2