SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Memusnahkan Mantra


__ADS_3

Wanara masih saja melompat ke sana kemari untuk menghindari kejaran Sukma. Ia benar-benar ingin bebas dan berpegang pada keangkuhannya. Kera itu memanjat tiang besi kontrakan lantai atas hingga akhirnya bercokol di genteng.


Sukma kepayahan mengejar Wanara. Dengan memberanikan diri, Sukma ikut memanjat tiang besi untuk meraih Wanara. Atikah yang menyaksikan kenekatan adiknya, segera berlari menuju lantai atas dan meneriakinya agar turun dari sana. Akan tetapi, Sukma yang pantang menyerah, enggan mendengarkan kakaknya.


Kebetulan, Sancang juga melihat gadis kecil itu sedang memanjat tiang untuk mendapatkan kera miliknya kembali. Harimau putih itu ikut berlari, lalu melompat sampai ke lantai atas. Sebelum Atikah berhasil meraihnya, Sancang sudah lebih dulu menggigit baju Sukma agar cepat turun dari sana.


"Lepaskan aku, Sancang! Wanara kabur!" bentak Sukma.


Sancang tak mau menggubrisnya. Ia menarik baju Sukma hingga gadis kecil itu terjatuh. Atikah dengan sigap menangkap Sukma. Akan tetapi, gadis kecil itu tak mau diam. Sukma berlari menuruni tangga, kemudian bergegas ke luar area kontrakan.


Atikah merasa bertanggung jawab atas keselamatan Sukma kali ini. Ia segera mengejar adiknya ke luar kontrakan, memastikan keadaannya baik-baik saja. Setibanya di luar kontrakan, tampak Sukma sedang berlari sambil mendongak ke arah genteng rumah tetangga.


"Dedek! Awas jatuh!" teriak Atikah.


Sukma masih tidak menggubrisnya. Matanya masih tertuju ke atas, berusaha mengejar ke mana arah Wanara pergi. Kera itu melompat-lompat di atas genteng, lalu turun dari sana ketika hendak mencapai jalan raya.


Sukma merasa lebih mudah mengejarnya saat ada di bawah. Ia mempercepat larinya, meski kakinya tak memakai sandal. Saat semakin mendekati kera itu, Sukma lansung menarik ekornya kuat-kuat. Wanara menjerit kesakitan sambil melompat-lompat, berusaha melepaskan diri.


"Kamu mau ke mana, Wanara? Tempat kamu di sini, di rumah aku," kata Sukma.


"Tidak! Aku tinggal di gunung, bukan di kediaman manusia. Pergilah kau!"


Sementara itu, Atikah terengah-engah menghampiri Sukma. Bersama Atikah pula, Sancang ikut mengejar Wanara. Harimau putih itu memperhatikan sesuatu yang berbeda dari tubuh Wanara, terutama di kepalanya. Ada sebuah tulisan berupa rajah tepat di keningnya.


Ketika Atikah memegang pundak Sukma dan membujuknya untuk berhenti, Sancang berkelahi dengan Wanara. Tentu saja, pertengkaran di antara mereka, membuat Sukma panik.


"Sancang! Apa-apaan kamu ini? Hentikan! Kalian jangan berantem!" teriak Sukma.


"Siapa yang berantem, Dek?" tanya Atikah penasaran.


"Wanara sama harimau putihnya Mang Ujang lagi berantem," jawab Sukma.


Tercengang Atikah mendengar jawaban Sukma. "Apa? Mang Ujang punya harimau?"


"Iya. Tuh, lihat! Mereka lagi berantem!" kata Sukma menegaskan.


Cukup lama Wanara dan Sancang bergumul di trotoar. Tanpa segan-segan, harimau putih itu mencakar Wanara, lalu mendorongnya hingga terjengkang. Sukma yang melihat pertarungan di antara mereka, segera berlari menghampiri keduanya.


"Tingali! Aya rajah dina sirahna," kata Sancang menjelaskan pada Sukma, sambil memandang kepala Wanara. (Lihat! Ada rajah di kepalanya.)


Pandangan Sukma langsung tertuju pada kening Wanara. Ia pun berjongkok di dekat kera yang sedang mengamuk itu. Tangannya ditempelkan di kening kera kesayangannya, lalu memejamkan mata seraya komat-kamit.


Atikah mengerutkan dahi, melihat sikap aneh Sukma. Jika saja mata batinnya tak ditutup, mungkin ia akan melihat semua pertarungan kedua hewan itu dan sesuatu yang adiknya lakukan. Atikah percaya, bahwa Sukma sedang menggunakan kemampuannya untuk memulihkan kera peliharaannya.


Ketika seluruh kekuatan Sukma dikerahkan untuk menghancurkan mantra di kening Wanara, Sancang menahannya kuat-kuat. Kera itu menjerit-jerit, tubuhnya enggan diam sedetik pun. Akibat pengaruh mantra yang sangat kuat, membuat sekujur tubuh Wanara terasa remuk redam, terlebih saat kekuatan Sukma sedikit demi sedikit masuk ke tubuhnya.


Rupanya, kekuatan mantra di dalam salah satu kamar tersembunyi Ki Purnomo dapat memengaruhi siluman mana pun untuk tunduk pada dukunnya, tak terkecuali Wanara. Selama Sukma mencari-cari dirinya, si kera sedang terpengaruh oleh mantra di kamar itu, meski berulang kali meminta pertolongan. Saking hebatnya pengaruh mantra itu, Wanara serasa diserang oleh berbagai senjata dari alam gaib yang mampu merusak tubuh dan ingatannya. Ia pun tak sadarkan diri, hingga Sukma membuka tutup botol kecil yang mengurungnya. Wanara benar-benar kehilangan ingatannya karena pengaruh mantra dari kamar khusus Ki Purnomo. Sesuatu yang diingatnya hanya sebagian, tapi kekuatannya untuk melawan makhluk gaib lain, masih sama.


Kini, lambat laun, mantra yang merasuk ke tubuh Wanara mulai hancur berkeping-keping. Berkat kekuatan yang Sukma kerahkan, Wanara dapat mengingat kejadian demi kejadian dalam hidupnya. Kepingan ingatannya mulai pulih, seiring dengan musnahnya semua mantra di dalam tubuhnya. Wanara mulai tenang, badannya terdiam.


Selesai menghancurkan mantra di tubuh Wanara, Sukma melepaskan telapak tangan dari kening Wanara. Tubuhnya terkulai lemah, hingga akhirnya terkapar di trotoar. Atikah menghampiri Sukma, lalu mengangkat tubuh sang adik sampai kepalanya bersandar di pundak.

__ADS_1


"Dedek, Dedek nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Atikah menepuk-nepuk pipi Sukma.


"Teteh, Dedek capek. Kita pulang, yuk," jawab Sukma dengan suara parau nan lirih.


"Iya, iya. Ayo kita pulang! Dedek masih bisa jalan, kan?" tanya Atikah.


"Dedek pengin digendong."


"Iya, Teteh bakal gendong Dedek sampai ke rumah."


Maka berusahalah Atikah menggendong sang adik. Berbagai posisi dicobanya, sampai harus bersusah payah menaikkan kedua tangan dan badan Sukma ke punggungnya. Setelah dirasa nyaman, Atikah berdiri, kemudian berjalan agak sempoyongan menggendong sang adik.


Sementara itu, Wanara yang masih ditunggui oleh Sancang, akhirnya sadar juga. Samar-samar, matanya melihat Sukma yang sedang digendong oleh Atikah semakin menjauhinya. Ia pun berusaha melepaskan kedua kaki Sancang dari tubuhnya.


"Sukma! Sukma!" panggil Wanara dengan nada tinggi, lalu kepalanya terasa sedikit pusing.


"Enggeus, ulah waka diudag. Silaing can cageur bener. Diuk heula didieu. Engké ku kuring anterkeun ka babaturan silaing," tegur Sancang menahan Wanara. (Sudah, jangan dikejar dulu. Kamu belum benar-benar sembuh. Duduk dulu di sini. Nanti aku antar ke teman kamu.)


"Aya naon ieu? Naha Sukma digagandong sagala ku lanceukna? Boa-boa ku aing geus dilawanan," tanya Wanara cemas. (Ada apa ini? Kenapa Sukma digendong segala oleh kakaknya? Jangan-jangan sudah dilawan olehku.)


"Henteu. Silaing teu ngalawan budak leutik, ngan kuring hungkul nu ngalawan silaing. Kunaon tadi ai silaing ujug-ujug poho ka budak éta? Pan silaing téh geus nyobat jeung manéhanana, lain?" tanya Sancang terheran-heran. (Tidak. Kamu tidak melawan anak kecil, hanya aku saja yang melawanmu. Kenapa tadi kamu tiba-tiba lupa pada anak itu? Kan kamu sudah bersamanya, bukan?)


"Sidik aing gé teu ngarti kunaon. Pasti ieu mah ulah dukun éta, nu geus mangaruhan aing. Cik ku aing ék ditéang ayeuna ogé," geram Wanara kesal. (Jelas-jelas aku juga tidak mengerti kenapa. Pasti ini ulah dukun itu, yang sudah memengaruhi aku. Aku akan mencarinya sekarang juga.)


"Enggeus, ulah ditéang. Meureun, ayeuna dukun éta geus dipaéhan ku babaturan silaing. Mendingan silaing geura balik ka imah babaturan silaing, bisi manéhanana kunanaon," ujar Sancang. (Sudah, jangan dicari. Mungkin, sekarang dukun itu sudah dibunuh oleh temanmu. Mendingan kamu cepat pulang ke rumah temanmu, takut dia kenapa-kenapa.)


Wanara mengiyakan ujaran Sancang. Setelah kekuatannya pulih, ia berlari bersama Sancang menuju kontrakan. Berharap kondisi teman kecilnya itu baik-baik saja.


Malam semakin larut, Sukma yang kehilangan sebagian besar kekuatannya, masih berbaring sejak sore tadi. Sesekali ia memejamkan mata dan tertidur lelap. Akan tetapi, dalam tidurnya gadis kecil itu terus mengingau sambil menyebut-nyebut nama dukun gondrong itu.


Bu Inah merasa cemas dengan keadaan Sukma. Ketika memegangi kening putrinya, ia tidak merasakan panas sama sekali. Hanya saja, keringat dingin terus mengucur dari beberapa bagian tubuhnya.


"Atikah, jawab dengan jujur! Sebenarnya Dedek tadi ngapain aja waktu ke jalan? Dedek nggak ketabrak mobil, kan?"


"Ya ampun, Ibu! Demi Allah! Dedek nggak kenapa-kenapa. Kata dia, dia tadi lihat hewan peliharaannya sama macan putih bertarung. Habis itu, Dedek jongkok di trotoar sambil nutup mata dan komat-kamit gitu. Nggak tahu apa yang dilakuin Dedek saat itu. Eh, pas udah lama aku perhatiin, badannya jadi lemes deh."


"Aduh, gimana nih? Apa Ibu minta bantuan dari Pak Suwandi aja, ya?" kata Bu Inah semakin cemas.


"Pak Suwandi? Pak Suwandi siapa, Bu?"


"Itu, bapak-bapak yang nolongin Dedek waktu pingsan."


"Oh, coba aja, Bu. Siapa tahu Pak Suwandi bisa membantu. Kayaknya ini bukan masalah yang bisa diselesaikan sama dokter. Kalau Dedek demam mah, mungkin masih bisa dibawa ke klinik."


"Iya. Tapi ... apa Bapak nggak bakal tahu, ya?"


"Bapak nggak bakal tahu, Bu. Bapak, kan, lagi dagang."


"Benar juga. Kalau begitu, tolong jagain Dedek, ya."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Bergegas Bu Inah keluar kontrakan. Dengan hati cemas, ia mencoba mengingat-ingat ucapan Mang Ujang tentang lokasi rumah Pak Suwandi. Ia mengatakan, rumahnya tidak jauh dari kontrakan Haji Gufron.


Setelah berjalan sedikit jauh dari area kontrakan, Bu Inah melihat seorang pria bersarung sedang menyesap rokok di kursi terasnya. Dengan cepat, Bu Inah dapat menduga bahwa pria itu Pak Suwandi. Segera ia mendatangi rumah itu, lalu menyapa Pak Suwandi dengan suara bergetar.


"Pak Suwandi?"


"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Pak Suwandi.


"Bapak bisa tolongin saya, nggak? Anak saya yang kecil badannya lemes dan mengigau terus. Dia terus saja menyebut nama Ki ... Ki ... Ki apa ya tadi? Ah, iya, Ki Purnomo."


Membelalak mata Pak Suwandi tatkala mendengar nama pria gondrong itu. "Astagfirullah. Kalau begitu, ayo cepat kita tolong putri bungsu Ibu!"


"Iya, Pak. Terima kasih sudah mau membantu."


Pak Suwandi bergegas meninggalkan kediamannya bersama Bu Inah. Tergesa-gesa mereka berjalan, hingga akhirnya tiba di area kontrakan Haji Gufron.


Ketika masuk ke rumah kontrakan Pak Risman, tampak Atikah panik melihat adiknya kejang-kejang dengan bola mata yang memutar ke atas. Ia berusaha menepuk-nepuk pipi sang adik agar cepat terjaga, tapi usahanya sia-sia saja. Bu Inah yang sejak tadi merasa cemas, seketika hatinya kalut mendapati putrinya bersikap tidak biasa dalam tidurnya. Pak Suwandi segera duduk di sebelah Sukma, lalu mengusap-usap kening gadis kecil itu seraya melafalkan basmalah.


"Aduh, gimana ini?" tanya Bu Inah panik.


"Cepat! Ambilkan air putih!" ujar Pak Suwandi.


Bu Inah cepat-cepat mengambil segelas air ke dapur, lalu kembali ke tempat Sukma tertidur. Wanara yang mengetahui kepanikan Bu Inah, segera berjalan ke ruang utama. Ia yakin betul, ada yang tidak beres pada diri Sukma.


Sementara itu, Pak Suwandi membacakan doa ke dalam segelas air itu, kemudian mengucurkannya ke tangan. Sambil melafalkan Ayat Kursi, ia mencipratkan air di tangannya ke wajah Sukma. Akan tetapi, tak terlihat perubahan sama sekali pada gadis kecil itu.


Wanara pun segera mengubah ukuran tubuhnya menjadi lebih kecil, kemudian masuk ke alam bawah sadar Sukma. Semakin jauh ia berada di alam mimpi Sukma, semakin panas hawa yang dirasakannya. Rupanya banyak sekali bara api membakar alam bawah sadar Sukma sampai-sampai gadis kecil itu sulit sadarkan diri.


"Sukma! Sukma! Di mana kamu?" panggil Wanara celingukan.


"Aku di sini, Wanara! Tolong aku!" Samar-samar terdengar suara Sukma dari kejauhan.


Wanara bergegas menuju sumber suara itu berasal. Cukup jauh ia mencari, hingga akhirnya menemukan Sukma sedang dikelilingi oleh lingkaran api yang menyala-nyala. Wanara yang merasa kasihan melihat Sukma tak berdaya di dalam lingkaran itu, segera menghampirinya.


Kendati demikian, nyala api yang sangat besar dan ganas, seakan-akan tak mengizinkannya untuk masuk ke sana. Wanara mundur sedikit ke belakang, lalu maju lagi di saat yang tepat. Namun, sepertinya api itu masih tidak mengizinkan si kera hitam untuk menyelamatkan Sukma.


"Mundur dari situ, Wanara!" ujar suara pria dari belakang kera itu.


Wanara segera menoleh. Tampak kepala tanpa tubuh Ki Purnomo, dibalut api yang menyala-nyala. Mata pria itu merah menyala, bahkan bisa menyemburkan api dalam satu kedipan mata. Kera itu mundur ke belakang, menghindari serangan Ki Purnomo dalam wujud Banaspati.


"Urusan kamu denganku sudah selesai! Kenapa masih saja mengganggu Sukma?" bentak Wanara kalap.


"Urusan aku sama bocah gendeng itu belum selesai, Monyet! Gara-gara dia, nyawaku melayang. Nyawa harus dibayar nyawa. Aku mati, dia juga harus mati!" kata Ki Purnomo menyemburkan api dari mulutnya.


Sekali lagi, Wanara menghindar dari serangan Ki Purnomo. "Sudahlah, terima saja kekalahanmu! Tidak ada gunanya menyerang anak kecil yang sedang lemah."


"Lemah katamu? Jika dia lemah, mana mungkin nyawaku terpisah dari ragaku! Sekarang waktunya membalas dendam," geram Ki Purnomo menyerang Wanara lagi dengan api dari mulutnya.


Wanara dengan cerdik menjauhi Ki Purnomo. "Baiklah, kalau kamu ingin balas dendam pada Sukma, hadapi aku dulu. Berani-beraninya masuk ke dalam mimpi anak kecil yang sedang lemah."


Maka pertarungan antara Ki Purnomo dan Wanara pun dimulai. Semburan demi semburan api keluar dari mulut pria gondrong itu, menyerang Wanara. Kera itu dengan cerdik berlari dan melompat ke tempat yang lebih dingin dari alam mimpi Sukma. Ki Purnomo semakin kesal dengan Wanara yang begitu lincah, hingga lupa bahwa sasaran yang utamanya hanyalah Sukma.

__ADS_1


Sementara itu, Pak Suwandi mulai mengusapkan air doa ke wajah Sukma. Kali ini, ia dapat merasakan suhu tubuh putri bungsu Bu Inah semakin naik. Dengan tekun, Pak Suwandi mengusapkan lagi air di tangannya ke wajah Sukma agar suhu tubuh gadis kecil itu segera menurun.


__ADS_2