SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Biang Keladi


__ADS_3

Dua malam kemudian, Pak Risman dapat berjualan dengan tenang. Tidak ada lagi fitnah ataupun guna-guna yang mengusik usahanya berjualan pecel lele. Para pembeli datang silih berganti seperti biasanya. Bu Inah pun kewalahan lagi kedatangan pelanggan tiada henti.


Adapun Atikah dan Sukma, ikut membantu sesekali. Ketika pembeli mulai berkurang, mereka pun pulang dan tidur. Namun, bagi Sukma, malam merupakan saat-saat dirinya perlu waspada. Ia khawatir kalau Mbah Kasiman akan melancarkan lagi serangan pada ayahnya.


Sampai saat ini, gadis itu masih tak mengerti alasan Mbah Kasiman mengirimkan orang untuk memata-matai keluarganya. Tempo hari ketika menanyai alamat rumah Mbah Kasiman pada si penguntit, ia tak mendapatkan jawaban memuaskan. Pria itu hanya menyebutkan, rumahnya berbentuk miri kasepuhan dan memiliki padepokan silat di dalamnya. Ingin sekali Sukma membuat perhitungan pada orang yang diyakini memiliki kemampuan lebih tinggi dalam ilmu hitam, tapi apalah daya tak tahu tempat tinggal dari Mbah Kasiman.


Ketika malam semakin larut, Pak Risman dan Bu Inah pulang dengan wajah lesu. Bersyukur hari ini dapat banyak pelanggan. Pak Risman segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Segelas air diteguknya hingga habis. Saat hendak kembali ke ruang depan, mendadak pria itu merasa dicekik. Berkali-kali ia terbatuk-batuk sampai suaranya membangunkan Atikah dan Sukma yang baru saja akan tertidur pulas.


Bu Inah segera menghampiri suaminya di dapur, begitupun dengan Sukma dan Atikah. Tampak Pak Risman sedang memegangi leher dan dadanya, seolah-olah merasa sesak. Tak lama kemudian, pria itu bergegas ke kamar mandi, lalu memuntahkan darah bercampur kelabang dari mulutnya.


Seketika Bu Inah serta kedua putri Pak Risman tercengang. Siapa lagi yang berani mengguna-guna Pak Risman, pikir mereka. Bu Inah dan Atikah segera memberikan perawatan pada pria itu. Bu Inah membawa Pak Risman ke kamar, sementara Atikah membawa segelas air.


Melihat kondisi sang ayah, Sukma merasa iba. Dadanya terasa sesak tatkala menyaksikan Pak Risman terbatuk-batuk secara terus menerus. Kali ini, ia tak melihat dedemit yang mengganggu ayahnya. Ada kemungkinan bahwa Pak Risman telah kena teluh, seperti yang dilakukan Emak dan saudara-saudara sang ayah.


Bergegas Sukma menenangkan Pak Risman. Diusapnya tengkuk dan punggung ayahnya sampai batuknya berhenti. Setidaknya kini dada Pak Risman terasa lebih lega, tenggorokannya tak lagi gatal.


Atikah yang tak lagi melihat Sukma menyeret sesuatu tak kasat mata, justru merasa heran. Ditanyainya sang adik tentang sebab sang ayah muntah darah dan mengeluarkan seekor kelabang. Sukma menjelaskan tentang kemungkinan yang terjadi pada Pak Risman. Atikah pun mengangguk takzim, lalu menyarankan ayahnya untuk lebih sering mengingat Allah serta membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an agar terjaga dari sihir.


Setelah suasana semakin stabil, Sukma dan Atikah kembali ke kamar. Adapun Bu Inah yang ikut membantu suaminya berjualan, membereskan barang-barang dagangan terlebih dahulu sebelum beristirahat.


Sukma masih terjaga memikirkan kondisi sang ayah. Sihir yang dikirim orang pintar itu harus segera dihentikan. Sejenak ia memejamkan matanya, menggunakan kekuatan warisan Emak untuk menerawang sesuatu yang terjadi esok atau lusa.


Dari penerawangannya, tampak seorang pria tua memakai setelan kaos polo dan celana katun berwarna hitam sedang duduk di sebuah gazebo. Sesekali ia mengisap cangklong di tangannya sembari tersenyum simpul. Pria itu melirik pada Sukma sambil menyeringai. Selanjutnya, pria tua itu berjalan menghampirinya, lalu wujudnya berubah menjadi sosok mengerikan yang siap memangsa Sukma.


Sukma pun terperanjat dengan napas terengah-engah. Atikah yang sudah berbaring di sebelahnya sejak tadi, mendadak terbangun melihat adiknya gelisah.


"Kamu mikirin apa, sih, sampe kaget gitu?" tanya Atikah, dengan suara sedikit parau.


"Teh, sekarang Dedek tahu siapa Mbah Kasiman!" jelas Sukma dengan mata yang membesar.


"Mbah Kasiman? Siapa dia?" Atikah mengernyitkan kening.


"Dia dukun langganan tukang pecel lele seberang jalan, yang ngirim guna-guna ke Bapak itu loh! Dedek curiga, dia mau nyelakain Bapak lagi."


"Terus, apa urusannya Mbah Kasiman mau nyakitin Bapak? Bukannya guna-gunanya udah digagalin sama Dedek? Tukang pecel lele yang di seberang jalan juga udah kena gangguan jiwa. Jadi, ngapain lagi dia ngirim guna-guna ke Bapak?"

__ADS_1


"Benar juga, Teh. Tapi kalau misalkan dukun lain yang ngirim guna-guna ke Bapak, kenapa yang muncul di terawangan Dedek cuma sosok kakek-kakek pake baju kaos berkerah, ya?"


"Coba Dedek fokus lagi. Jangan kepikiran Mbah Kasiman melulu," saran Atikah.


Sukma memejamkan mata kembali. Tetap saja, sosok yang muncul masih sama seperti sebelumnya. Ia membuka mata lagi, kemudian menggeleng lemah.


"Gimana? Udah beda orang?"


"Tetep sama, Teh."


"Kalau gitu, mending sekarang kita tidur dulu. Biar besok pagi pikiran Dedek lebih segar, nerawang orang pun pasti tepat," bujuk Atikah, lalu lanjut tertidur.


...****************...


Hari berganti, terawangan Sukma masih saja sama. Kali ini, ia tak mau tinggal diam dan membiarkan sang ayah sakit-sakitan lagi karena ulah dukun itu. Maka, mau tak mau Sukma harus menemukan kediaman Mbah Kasiman secepatnya, agar kejadian naas yang menimpa Pak Risman segera teratasi.


Ketika mentari mulai setinggi tombak, Sukma mengajak Atikah untuk mencari rumah Mbah Kasiman. Ia benar-benar penasaran ingin membuktikan penerawangannya. Atikah yang baru saja mulai sarapan, merasa diburu-buru oleh adiknya.


"Nanti dulu atuh ih! Teteh teh lagi makan," rajuk Atikah kesal.


"Terus, Dedek mau nyariin kakek-kakek itu ke mana? Ke alam gaib?" tanya Atikah ketus.


"Ya enggaklah, Teh. Masa ke alam gaib, sih? Muridnya aja keluyuran nyebarin gosip di alam manusia, masa mau nyariin Mbah Kasiman ke alam gaib?"


"Kalau begitu, Dedek pergi aja sendiri. Teteh ada janji sama temen-temen, mau main ke Ciwidey."


"Ih, Teteh mah malah mentingin main daripada nyawa Bapak."


"Teteh bukannya mentingin main, tapi waktu buat main cuma seminggu ini. Jadi, Teteh nggak bisa bantu Dedek terus."


Dengan kecewa, Sukma meninggalkan kakaknya. Bergegas ia mengganti bajunya, kemudian berpamitan pada Bu Inah. Ibunya penasaran, akan pergi ke mana si bungsu pagi ini.


"Dedek, sebaiknya Dedek di rumah aja, bantuin Ibu sama Bapak. Teteh kan mau pergi ke Ciwidey hari ini," ujar Bu Inah dengan suara lembutnya.


"Bantuin Ibu sama Bapak bisa nanti aja kalau Dedek udah pulang. Sekarang Dedek mau nuntasin rasa penasaran Dedek. Lagipula, tujuan Dedek baik kok," alibi Sukma.

__ADS_1


"Hm, ya udah. Kalau gitu, hati-hati di jalan. Ingat, jangan bikin gara-gara sama orang, ya."


"Iya, Bu, janji. Dedek pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Secepatnya, Sukma meninggalkan rumah. Dengan berbekal uang jajan, ia berharap dapat menemukan orang yang dimaksud. Entah harus ke arah mana gadis itu pergi, yang jelas, instingnya akan menuntun ke arah mana rumah Mbah Kasiman berada.


Setibanya di jalan raya, segera Sukma menaiki angkutan umum. Dipejamkannya mata sebentar, menyaksikan beberapa pentunjuk dari arah rumah Mbah Kasiman. Tampak pemandangan beberapa rumah, jalan yang cukup lebar dan menanjak, serta pesawahan di sekitarnya. Menurut Sukma, rumah Mbah Kasiman tidak berada di pusat kota, melainkan daerah pinggiran yang belum terjamah keramaian hiruk pikuk manusia.


Sukma membuka mata, melihat-lihat petunjuk pertama dari penerawangannya. Ketika perjalanan sudah cukup jauh, ia berhasil menemukan salah satu petunjuk dari penerawangannya, lalu turun dari angkot. Selanjutnya, gadis itu berjalan menuju pangkalan ojek di pinggir jalan raya. Dipanggilnya seorang tukang ojek, berharap dapat membantu dalam pencarian kediaman Mbah Kasiman.


"Eneng mau ke mana?" tanya tukang ojek itu.


"Amang tahu sama Pak Kasiman?" tanya Sukma dengan berhati-hati menyebutkan nama pria tua itu.


"Kasiman? Oh, guru silat yang suka dikunjungin sama orang-orang kaya itu, ya?"


Mendengar pertanyaan tukang ojek, Sukma semakin yakin bahwa kediaman orang yang dicarinya semakin dekat. Dengan cepat Sukma mengangguk, lalu menaiki motor si tukang ojek. Perjalanan menuju Mbah Kasiman pun dilanjutkan.


Sepanjang perjalanan, Sukma melihat-lihat pemandangan di sekitarnya. Benar saja, semua petujuk dalam penerawangannya sekarang terpapar jelas di pelupuk mata. Pemandangannya benar-benar asri, khas perkampungan tempat tinggal para petani.


Semakin jauh dari keramaian kota, semakin sunyi pula suasana perkampungan itu. Rumah-rumah yang berdiri di sepanjang jalan pun tampak jarang. Hingga akhirnya, tampak sebuah rumah dengan area halaman yang luas disertai padepokan silat di belakangnya. Rumah itu dipagari tak begitu tinggi, sehingga terlihat jelas pemandangan di dalamnya.


Setibanya di sana, Sukma turun dari motor. Dibayarnya ongkos ojek yang sudah berjalan cukup jauh dari hiruk pikuk kota. Sebelum beranjak menuju rumah Mbah Kasiman, pengemudi ojek memperingatkan Sukma bahwa tak ada kendaraan umum yang melintas di sekitar perkampungan. Sukma meminta nomor ponsel tukang ojek, untuk dihubunginya jika pulang nanti.


Setelah tukang ojek pergi, Sukma berjalan menuju kediaman rumah Mbah Kasiman. Hatinya tiba-tiba merasa waswas. Bulu kuduknya meremang tatkala melihat pemandangan area rumah Mbah Kasiman yang memiliki aura gelap dan sunyi. Ketika mendekati pagar rumahnya, tampak makhluk-makhluk gaib sedang berkeliaran di sekitarnya. Beberapa di antaranya ada yang berbentuk manusia setengah hewan, ada pula yang lebih mirip monster.


Dari arah gazebo, muncul seorang pria tua memakai kaos polo dengan celana katun hitam sedang berjalan ke arah Sukma. Ia tersenyum ramah, menyambut kedatangan tamu yang sudah lama ditunggunya selama bertahun-tahun. Sukma yang semula merasa ragu-ragu untuk bertemu Mbah Kasiman saat ini, harus mengurungkan keraguannya. Mau tak mau, ia berhadapan dengan pria tua itu sambil disaksikan dedemit piaraan Mbah Kasiman.


"Eneng mau nyari siapa?" tanya pria tua itu.


"Kakek ini Mbah Kasiman, ya?" Sukma balik bertanya demi meyakinkan dugaannya.


Pria tua itu tersenyum simpul dan berkata, "Mari, silakan masuk!"

__ADS_1


Sukma berjalan di belakang pria tua yang menyambutnya. Si biang keladi dari penyakit sang ayah sudah berdiri di depan mata. Kini, ia harus bersiap menghadapi serangan Mbah Kasiman yang akan dilancarkannya sewaktu-waktu.


__ADS_2