SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Adu Ilmu


__ADS_3

Wa Seto berang. Dengan angkuh, ia mengarahkan tangannya ke arah leher Sukma. Alih-alih berhasil mencekiknya, tangan pria itu dipelintir kuat-kuat sampai mengerang. Sukma membanting tubuh pria itu, dan sesajen di hadapannya benar-benar berantakan.


Sontak, Emak dan ketiga anak lainnya tercengang melihat kekuatan Sukma yang luar biasa. Bi Yati yang sejak awal merasa bergidik kala berhadapan dengan Sukma, kini justru semakin gentar dibuatnya. Ia beringsut ke pojok ruangan, dengan mata terbelalak.


"Udah aku bilang, menangkap gadis kecil itu tidak mudah!" celetuk Bi Yati dengan suara gemetar.


Wa Agus menghela napas dalam-dalam, lalu mencoba bersikap ramah pada Sukma. Dengan hati-hati ia memegang pundak Sukma untuk memberi pengertian. Namun, gadis kecil itu segera melepaskan tangan Wa Agus dari pundaknya dengan kasar.


"Kenapa, Dek Sukma? Kamu sebaiknya dengerin penjelasan kami dulu," ujar Wa Agus, berusaha mengajak kompromi.


Sukma meludahi pakaian Wa Agus, lalu menatap tajam sambil menunjuk ibu dan saudara Pak Risman satu persatu. "Keluarga macam apa kalian ini sampai tega mencelakai anak dan saudara sendiri?"


Emak tercenung mendengar ucapan Sukma. Hati kecilnya mulai terketuk, bahwa yang ia lakukan untuk Pak Risman sudah salah. Wanita tua itu baru menyadari, sihir yang dikirim olehnya lambat laun akan merenggut nyawa putranya sendiri.


"Nggak usah ikut campur kamu! Kalau kamu berani melawan uwa kamu ini, ayo kita ke luar!" tantang Wa Seto.


"Oke, siapa takut? Orang-orang kayak kalian emang harus dikasih pelajaran. Berani-beraninya mencelakai bapak aku," kata Sukma, balik menantang.


Emak beserta keempat anaknya bergegas ke halaman belakang, mengikuti Sukma. Wa Seto dengan percaya diri mulai menunjukkan ajian yang dipelajarinya selama bertahun-tahun. Pun dengan Wa Agus yang ikut membantu Wa Seto dalam menyerang Sukma. Ia tahu betul, melawan gadis kecil itu bukanlah sesuatu yang mudah jika dilakukan satu lawan satu. Penerawangannya saat bertemu dengan Sukma pertama kalinya, membuat Wa Agus waspada, terlebih setelah mengetahui gadis kecil itu sudah membunuh beberapa dukun.


Wa Agus dan Wa Seto menyiapkan kuda-kuda, bergerak perlahan seperti pendekar silat yang hendak menyerang. Pelan-pelan, mereka mencari celah untuk menyerang Sukma yang berdiri di hadapan mereka berdua. Sukma yang berdiri tegap sembari mengepalkan tangan, tetap memandang waspada ke arah dua lawan yang sedang memutarinya.


Sejenak, Sukma mengambil napas dalam-dalam sembari memejamkan mata. Dari penglihatan Emak, wujud Sukma saat ini sedang berubah menjadi sosok yang sebenarnya, yakni anak iblis bertanduk dengan rambut gimbal panjang terurai. Sialnya, Wa Seto dan Wa Agus salah mengira, bahwa gadis kecil itu sedang lengah. Mereka menyerangnya bertepatan saat Sukma membuka mata.


Seketika, tubuh Wa Seto dan Wa Agus langsung terpental oleh ledakan kekuatan Sukma yang muncul secara tiba-tiba saat matanya terbuka. Bahkan, mereka merasakan sakit di bagian dadanya tanpa disentuh oleh lawannya sedikit pun. Bi Neneng dan Bi Yati terperangah melihat kedua kakaknya terhempas begitu saja. Sementara itu, Emak tetap bersikap tenang memperhatikan gerak-gerik Sukma. Ia tahu betul, gadis polos itu sudah menjelma menjadi anak iblis yang mengerikan. Pantas jika sulit ditaklukkan.


"Yati, Neneng. Bantu kedua kakak kalian. Mereka sedang kewalahan melawan Sukma," ujar Emak, matanya masih tertuju pada Sukma.


"Apa?! Emak sudah gila, ya? Kang Agus sama Kang Seto aja tumbang tanpa disentuh, apalagi kami," kata Bi Yati terkesiap.

__ADS_1


"Benar, Mak. Bisa-bisa badan kami remuk duluan," timpal Bi Neneng.


Emak menatap tajam kedua putrinya dan membentak, "Kalian ini beraninya cuma ngirim guna-guna, tapi ngelawan anak kecil aja nggak becus! Apa gunanya kalian mempelajari ilmu kanuragan selama bertahun-tahun?"


Bi Yati dan Bi Neneng tak bisa melawan Emak. Mereka bergegas membantu Wa Seto dan Wa Agus berdiri, lalu bersiap menyerang Sukma dari segala sisi. Mereka bergerak memutari Sukma, yang masih memandang waspada lawan-lawannya.


Pada satu kesempatan, Wa Seto menendang perut Sukma. Alih-Alih jatuh terkapar, gadis kecil itu menangkis tendangannya dengan cepat dan tetap berdiri tegap. Dari belakang, Wa Seto mencengkeram pundak Sukma. Sedangkan di sebelah kanan dan kiri, Bi Neneng serta Bi Yati memegangi kedua tangan gadis kecil itu. Sukma kesulitan bergerak, mengingat keempat anak Emak sama-sama menggunakan kekuatan gaib.


Ini merupakan kesempatan bagus bagi Wa Agus untuk menyerang kembali. Akan tetapi, belum sempat tendangannya mengenai perut Sukma, gadis kecil itu lebih dulu melompat, kemudian menangkis tendangan Wa Agus dengan kakinya. Wa Seto yang memegangi Sukma, cukup terkejut karena kekuatannya tak mampu menahan gadis kecil itu.


Sukma tak tahan lagi ditekan oleh serangan keempat orang itu. Ia mengerahkan seluruh tenaga, lalu memutar kedua tangannya hingga cengkeraman dari kedua bibinya. Suhu tubuh Sukma yang semakin naik, membuat Wa Seto kepanasan dan melepaskan tangannya dari pundak sang keponakan.


Melihat semua lawannya sedang lengah, Sukma langsung berbalik badan menyerang lawannya yang paling dekat, Wa Seto. Ia menarik tangan pria itu, kemudian mencekik lehernya kuat-kuat. Wa Seto kesulitan bernapas dan berusaha melepaskan cekikan keponakannya. Namun, tanpa ampun, Sukma melemparkan badan Wa Seto hingga membentur Bi Yati yang hendak berdiri. Keduanya terkapar di satu sisi.


Selanjutnya, Wa Agus dan Bi Neneng yang melancarkan serangan. Mereka menggunakan tenaga dalam untuk menumbangkan Sukma. Dari tangan keduanya, muncul sinar yang akan dilancarkan ke arah Sukma. Dengan sigap, Sukma pun mengumpulkan kekuatan penuh, hingga serangan dari lawannya justru lenyap sebelum mengenai tubuhnya. Secepat mungkin, Sukma melancarkan serangan balik ke arah Wa Agus dan Bi Neneng secara bersamaan. Keduanya pun terpental dan memuntahkan banyak darah.


Di sisi lain, Wa Seto dan Bi Yati tak mau menyerah begitu saja. Keduanya melancarkan pukulan ke arah Sukma. Gadis kecil itu segera mengetahuinya dan langsung mencengkeram kedua kepalan tangan yang mengarah kepadanya. Dengan cerdik, ia menarik tangan paman dan bibinya, lalu membanting mereka. Selanjutnya, Sukma menginjak tubuh Wa Seto. Ia mengentakkan kaki di punggungnya, sampai pria itu menjerit kesakitan akibat tulang-tulangnya yang patah. Wa Seto sama sekali tak bisa bangkit lagi.


"Sukma, Bibi mohon. Ampuni Bibi. Bibi janji nggak akan celakain bapak kamu lagi," pinta Bi Yati meronta-ronta.


"Sudah terlambat." Sukma mengentakkan kakinya ke dada Bi Yati. Dari mulut wanita itu keluar darah yang sangat banyak.


Melihat keempat lawannya tumbang, Sukma mulai menghampiri Emak. Wanita itu hanya menyunggingkan senyum. Ia tahu, pertarungan antara Sukma dan keempat anaknya belumlah berakhir.


"Kamu mau coba-coba melawan aku? Hadapi dulu makhluk di belakangmu!" ucap Emak dengan enteng.


Sukma segera berbalik badan. Tubuh kerabatnya yang semula lemah tak berdaya, seketika berubah menjadi makhluk yang mereka puja. Wa Agus menjadi manusia harimau, Wa Seto pun menunjukkan tubuhnya yang penuh sisik seperti ular. Apalagi Bi Neneng, tubuhnya sudah berubah menjadi buaya berkepala manusia. Tubuh ketiga saudara Pak Risman sudah menyatu dengan makhluk yang dipujanya, kecuali Bi Yati. Maka tak heran jika mereka tetap hidup, meski berkali-kali digempur.


Sukma tak gentar menghadapi makhluk jadi-jadian itu. Ia bersiap menahan serangan ketiga lawannya. Akan tetapi, kehadiran Wanara di antara mereka membuat jarak antara Sukma dan ketiga saudara Pak Risman terhalang. Wanara menggeram, lalu mulutnya terbuka mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Seketika, tiga makhluk jadi-jadian itu mundur dan tersungkur.

__ADS_1


"Kamu lawan saja nenek-nenek itu. Biar aku yang melawan makhluk-makhluk sesamaku. Cepat! Sebelum ibu kamu dan Abah ke sini," ujar Wanara.


Sukma menuruti perkataan Wanara dan segera berhadapan dengan Emak. Wanita tua itu tampak senang, mendapatkan kesempatan bagus melawan Sukma. Dengan tersenyum sinis, Emak tetap bersikap tenang.


"Apa kamu yakin ingin melawan aku?" tanya Emak.


"Nenek juga harus dikasih pelajaran," kata Sukma.


Perlahan asap hitam muncul dari tubuh Emak. Lambat laun, asap itu berputar meliputi ibunya Pak Risman, hingga keluarlah sosok mengerikan. Seluruh badan makhluk itu berwarna hitam dan membungkuk. Matanya berwarna hijau menyala, memiliki gigi taring yang tajam, dan rambutnya putih terurai. Sukma terkejut meilhat wujud Emak yang berubah menjadi sangat menyeramkan.


Tangan panjang makhluk yang dipuja Emak itu mendepak Sukma. Gadis kecil itu segera berlari dan melompat. Ia berlari ke depan rumah agar bisa bertarung dengan leluasa. Makhluk itu mengejar Sukma dari belakang, dan enggan melepaskan lawannya begitu saja.


Sementara itu, Wanara menerima pukulan demi pukulan dari tiga makhluk jadi-jadian sekaligus. Wa Seto berubah menjadi ular dan melilit kedua kaki Wanara. Bi Neneng menyerang kera itu menggunakan sinar merah dari matanya, sedangkan Wa Agus mencakarnya terus menerus. Kera itu membesarkan ukuran tangannya, lalu memukul bumi hingga bergetar.


Seketika, ketiga makhluk itu pun menghentikan serangannya. Wanara segera memungut ular di kakinya, lalu menarik kedua sisi tubuh makhluk itu sampai tulang-tulangnya patah. Ia menggunakannya sebagai cambuk untuk melawan Bi Neneng dan Wa Agus. Bi Neneng meringis kesakitan saat tubuh ular melukai kepalanya. Wanara kemudian mencekik Wa Agus hingga siluman harimau di tubuhnya melepaskan diri dan lenyap. Sedangkan Wa Seto kembali ke wujud manusianya yang sekarang lumpuh. Bi Neneng mengaku kalah dan enggan melawan Wanara lagi.


Di halaman depan, Sukma mengerahkan tenaganya untuk melawan wujud Emak yang mengerikan. Mereka menyerang secara silih berganti, sampai Sukma terdorong oleh pukulan dari tangan Emak. Sesekali, dada gadis kecil itu terasa sesak dan membuatnya terbatuk-batuk.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menyerah?" tanya Emak mencibir.


Sukma menggeleng kepala, kemudian berlari sembari menggerakkan tangannya seperti hendak mencakar. Emak segera menahan serangan Sukma dengan kedua tangannya. Ia menunjukkan kemampuannya menyerap tenaga lawan agar cepat melemah dan mudah dikalahkan. Akan tetapi, Sukma juga tak mau kalah. Kemampuan mereka menyerap energi sama-sama luar biasa, sampai terjadilah tarik menarik kekuatan satu sama lain.


Dari depan pekarangan kediaman Emak, tampak Bu Inah dan Abah beserta warga lain menyaksikan pertarungan antara wanita tua dengan seorang gadis kecil. Bu Inah berusaha menegur Sukma, lalu menghampiri putrinya. Namun, Abah segera menahan putrinya untuk diam di tempat. Bu Inah yang gusar, melepas genggaman Abah.


"Apa Abah nggak lihat, kalau Dedek lagi dalam bahaya?" tanya Bu Inah bersungut-sungut.


"Iya, Abah tahu. Tapi kalau kamu ke sana, bukan Dedek aja yang bisa celaka, kamu juga," tegur Abah.


"Terus saya harus apa, Bah? Gimana kalau Dedek kenapa-kenapa?" Bu Inah semakin gelisah.

__ADS_1


"Tenang aja, sepertinya Dedek bisa melawannya," ucap Abah yakin.


__ADS_2