SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Berkenalan


__ADS_3

Giska sedang duduk termenung di kelas, merasa gamang memilih antara menemui Sukma lagi atau tidak. Dari pintu masuk, seorang gadis berambut sebahu dengan tahi lalat di bawah bibirnya, datang ke bangku Giska. Ia duduk di sebelah gadis berambut pendek itu sambil tersenyum.


"Ke mana teman sebangku kamu kemarin? Nggak masuk?" tanya perempuan berambut sebahu itu.


"Nggak tahu. Kayaknya dia nggak mau sebangku sama aku," jawab Giska dengan lesu.


"Oya, kenalin, nama aku Rena. Kamu siapa?" sapa gadis berambut sebahu itu sembari mengulurkan tangan.


"Giska," ucap Giska sembari menyalami teman barunya itu.


"Oya, aku boleh duduk sebangku sama kamu, nggak? Soalnya aku nggak klik sama temen yang kemarin," ucap Rena.


"Boleh." Giska mengangguk.


Rena membawa tasnya ke bangku Giska yang berada di jajaran ketiga. Ia tersenyum lagi, lalu bercakap-cakap dengan Giska. Mulai dari pengalaman semasa SD sampai bisa sekolah di SMP itu. Keduanya mudah akrab, bahkan tak segan untuk bercanda.


Tak lama kemudian, gadis berkacamata dengan rambut yang diikat ekor kuda, menghampiri bangku Giska. Ia tampak tidak sabar ingin menanyakan nama siswa yang menyapanya di dekat kelas A. Dengan canggung, gadis itu memotong pembicaraan Giska dan Rena.


"Kamu Giska, ya?" tanya perempuan berkacamata itu.


"Iya. Ada apa, ya?" tanya Giska.


"Kenalin, aku Dini," ucap gadis berkacamata itu sembari menyalami Giska. "Oya, Giska. Kamu punya temen di kelas tujuh A?"


Giska mengangguk. "Namanya Sukma. Tadi dia ketemu sama kamu? Dia bilang apa?"


"He'em. Katanya, tolong berbuat baik sama Giska. Giska itu anak baik. Gitu katanya," jelas Dini.


"Oh, gitu," kata Giska.


"Teman kamu aneh, ya. Mana ada orang yang baru kenal bisa ngejahatin temannya," celetuk Rena.


"Ya ada lah. Tukang tipu, misalnya. Baru kenal beberapa menit bisa nipu temannya, terus ngilang deh kayak Jin Tomang," balas Dini.


"Alah, tukang tipu mah emang udah dari sananya jahat. Emangnya kita ini tukang tipu? Kan bukan. Kita ini cuma abege yang lagi puber," ucap Rena.


"Hehe ... kalian ini bisa aja. Oya, aku bisa lihat papan nama kalian nggak?" tanya Giska.


Kedua perempuan itu menunjukkan papan nama yang terbuat dari karton ke hadapan Giska. Gadis berambut penxek itu terkikik-kikik melihat nama panggilan yang diberikan oleh siswa senior pada mereka. Saat Giska menunjukkan nama miliknya, suasana menjadi lebih ceria. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak melihat nama yang diberikan oleh siswa senior.


Ketiganya asyik mengobrol, bahkan arah pembicaraannya bisa berubah-ubah. Selain tentang pengalaman pribadi, mereka juga menceritakan latar belakang hidupnya masing-masing. Hingga tak terasa, obrolan mereka beralih pada pengalaman mistis. Ketiganya saling tatap satu sama lain dan raut wajahnya mulai serius.


"Kaliam tahu, nggak? Sebenernya sekolah ini angker," bisik Rena.


"Wah, beneran?! Pantesan Sukma bilang kalau 'mereka' berkeliaran di sini," ucap Giska mengiyakan.


"Sejak datang ke sini juga perasaan aku sebenarnya nggak enak, apalagi saat masuk ke WC. Kayak ada yang merhatiin gitu," timpal Dini.

__ADS_1


"Katanya, dulu ada anak yang ketabrak mobil di depan sekolahan kita. Sampai sekarang masih keliaran di sini. Bukan itu aja, sih. Ada juga guru yang depresi terus bunuh diri di salah satu kelas. Entah kelas yang mana," jelas Rena.


Giska dan Dini bergidik ngeri mendengar cerita Rena. Akan tetapi, mereka masih penasaran dengan cerita gadis berambut sebahu selanjutnya.


"Bukan itu aja. Di belakang sekolah ini juga ada sumur tua. Dua tahun ke belakang, pernah terjadi kesurupan massal di sekolah ini gara-gara ada siswa yang ngelempar batu ke sana," tutur Rena lagi.


"Gitu, ya. Apa pernah ada hantu lain yang lebih menarik lagi? Kayak noni-noni Belanda, gitu?" tanya Dini semakin penasaran.


"Hm ... kayaknya ada, tapi aku kurang tahu. Soalnya kejadian itu udah lama banget, pas aku masih kecil," jelas Rena.


"Kalau kalian penasaran, kenapa nggak main Jailangkung aja?" cetus Giska.


Seketika kedua gadis itu melirik Giska.


"Jailangkung?! Ah, ide yang bagus! Tapi ... emangnya kita bisa ngelakuinnya gitu? Bukannya harus dilakuin malem-malem, ya?" ucap Dini.


"Soal itu, kayaknya kita bisa lakuin hari Jum'at ini. Aku dengar dari kakak-kakak senior, katanya bakal diadain kemah buat masa pengenalan siswa selama dua hari. Jum'at sampai Sabtu," ucap Rena.


"Eh, tapi ... bukannya main Jailangkung itu harus pake batok kelapa yang dibikin kayak boneka gitu, ya? Kita mau dapatin benda kayak gitu dari mana?" tanya Giska.


"Tenang aja. Bapak aku dagang di pasar. Pas mau berangkat sekolah, nanti aku usahain buat ngambil batok kelapa buat dijadiin bonekanya," jawab Rena.


"Okelah kalau gitu. Kita siapin mental aja. Mudah-mudahan selama main Jailangkung, kita nggak kenapa-kenapa," kata Dini.


Tak lama kemudian, siswa-siswa senior masuk ke kelas 7G. Mereka mulai memberikan pengarahan kegiatan untuk hari ini. Giska, Rena, dan Dini sudah tidak sabar menunggu hari Jum'at tiba.


...****************...


Seperti hari kemarin, Sukma pulang ke rumah dengan tatapan kosong dan melamun. Pak Risman mencoba bertanya pada si bungsu mengenai kegiatannya di sekolah. Akan tetapi, gadis yang diajaknya bicara seolah-olah tidak mendengarkan pertanyaannya sama sekali. Sukma melenggang ke kamar, lalu menaruh tas dan berganti pakaian.


Melihat sikap aneh Sukma, Atikah menjadi penasaran. Diletakkannya ponsel pintar, lalu duduk di sebelah sang adik. Dengan tersenyum ramah, ia merangkul Sukma, sampai sang adik menoleh ke arahnya.


"Kok tiap pulang Dedek ngelamun terus? Ada apa di sekolah? Dedek dijauhin lagi sama temen-temen kayak waktu di SD? Apa Dedek nggak betah sekolah di sana?" tanya Atikah menatap kedua mata adiknya.


Sukma menggeleng lemah. "Enggak, Teh. Dedek biasa-biasa aja, kok. Temen-temen juga nggak ngapa-ngapain Dedek. Tapi ... Dedek kepikiran sama Giska terus."


"Kepikiran sama Giska? Emangnya Giska kenapa? Nggak masuk sekolah?"


"Nggak tahu, Teh. Soalnya tadi Dedek nggak ketemu sama dia. Dicariin juga tetep aja nggak ada. Cuma tadi sempat ngobrol sama temennya buat memperlakukan dia secara baik-baik," jelas Sukma.


"Oh, gitu. Ya udah, mungkin besok kamu masih bisa ketemu sama dia lagi. Cuma nggak ketemu sehari aja udah khawatir," bujuk Atikah. "Mendingan kita ke dapur, yuk. Bantuin Ibu masak."


Sukma dan Atikah pergi ke dapur bersama-sama. Keduanya membantu orang tua dengan senang hati. Atikah membantu sang ayah membersihkan lele, sementara Sukma memotong bawang untuk ibunya yang akan menumis kangkung.


Beranjak senja, Sukma duduk di atap rumah bersama Wanara. Kera itu melambai-lambaikan tangannya di depan muka temannya yang sedang merenung. Wanara pun duduk di sebelah Sukma dan mulai menanyakan sikapnya yang berubah dingin sejak sekolah di SMP.


"Sukma, kenapa dua hari belakangan ini suka melamun? Kamu punya masalah di sekolah? Kalau ada apa-apa, bawa aku saja ikut ke sekolah," ujar Wanara.

__ADS_1


"Enggak ah. Kalau kamu ikut, kasihan Bapak. Nanti bawa motornya berat," ucap Sukma dengan lesu.


"Baiklah. Sekarang ceritakan apa yang sedang kamu pikirkan sekarang ini. Mungkin aku bisa membantu."


"Wanara, sebenarnya akhir-akhir ini aku kepikiran terus sama Giska. Hati aku nggak tenang. Aku punya firasat, kalau sebuah kejadian buruk akan menimpa dia sebentar lagi, tapi apa, ya?"


"Kenapa kamu nggak coba aja menerawang apa yang akan terjadi hari berikutnya? Bukannya kamu sudah mendapatkan kekuatan baru dari nenekmu? Aku juga sudah melatihmu bagaimana cara menggunakannya."


"Udah, Wanara, tapi yang aku kihat cuma Giska sama dua perempuan itu doang. Nggak ada kejadian aneh-aneh lain," jelas Sukma sedikit kesal, kemudian memandang jauh sembari mengurut kedua sisi kepalanya.


"Dicoba lagi saja. Siapa tahu sekarang hasilnya berbeda. Kemarin kamu cuma menerawang kejadian hari ini. Mungkin kamu juga bakal tahu kejadian yang akan datang, besok atau lusa nanti," ujar Wanara.


"Enggak, ah. Nanti aku tumbang lagi kayak kemarin. Niatnya pengen dengerin mereka ngomong, eh ... malah pusing."


"Ayolah! Buat apa aku mengajarimu kalau ilmu itu nggak digunakan? Ayo, dicoba sekali ini saja," bujuk Wanara meyakinkan.


"Hm ... baiklah."


Sukma menutup kedua matanya. Samar-samar, telihat gadis berambut sebahu sedang berada di pasar, membeli batok kelapa yang memiliki sedikit lubang di tengahnya. Temannya Giska yang bernama Rena itu diam-diam memasukkan batok kelapa ke dalam tasnya. Ia menunjukkan benda itu secara sembunyi-sembunyi pada Giska dan Dini. Mereka tampak antusias tatkala melihat temannya itu sudah mendapatkan batok kelapa.


Selain dapat menerawang Giska dan kedua temannya, Sukma juga melihat sosok lain di kelas mereka. Ia adalah seorang perempuan berambut gimbal dan memakai baju merah, sedang berdiri di depan kelas. Perempuan itu mengamati tiga orang di bangku Giska sembari menyeringai. Tak berselang lama, perempuan berambut gimbal itu menghilang entah ke mana.


Merasa puas dengan sesuatu yang dilihatnya, Sukma segera membuka mata. Ia menoleh pada Wanara, yang penasaran dengan hasil terawangan Sukma. Kera itu tidak sabar mendengar penuturan temannya.


"Kamu lihat apa saja?" tanya Wanara dengan mata membesar.


"Aku lihat perempuan yang rambutnya sebahu lagi ngambil batok kelapa di pasar. Terus, dia nunjukin batok kelapa itu ke Giska sama temennya yang pakai kacamata," jelas Sukma sembari mengingat-ingat kembali hasil terawangannya.


"Lalu, apa lagi?" tanya Wanara masih penasaran.


"Ada perempuan rambutnya gimbal di depan kelas, paling pojok. Terus dia menghilang gitu aja," jawab Sukma. "Wanara, kamu tahu itu artinya apa?"


Wanara termenung sejenak, mengingat-ingat hal mistis yang berkaitan dengan batok kelapa. Cukup lama berpikir, ia pun mendapatkan satu jawaban yang mencengangkan. Wanara menatap Sukma lekat-lekat dan mulai membuka mulutnya.


"Jailangkung," ucap Wanara.


"Jailangkung? Maksud kamu, mereka bakal maen Jailangkung?!"


"Lantas, menurut kamu apa lagi hal mistis yang berkaitan dengan batok kelapa?" Wanara balik bertanya.


"Iya juga, sih. Tapi ngapain Giska sama temen-temennya itu mau main Jailangkung? Emangnya nggak bisa, ya, minta tolong sama aku aja buat lihat hal-hal gaib?"


"Entahlah. Mungkin hanya teman kamu yang bisa menjawabnya."


"Terus, perempuan rambut gimbal itu. Ngapain dia senyum-senyum di depan kelas, ya?"


"Hm, aku jadi berpikir ada sesuatu yang tidak beres, Sukma. Kamu dan teman kamu sebaiknya berhati-hati. Mungkin dia mengincar salah satu raga dari kalian," kata Wanara memperingatkan.

__ADS_1


__ADS_2