SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Tragedi Di Gedung Terbengkalai


__ADS_3

Malam kian larut, Hilman mengendarai mobilnya dengan susah payah hingga akhirnya tiba di rumah. Dari teras rumah megahnya, tampak Farah sedang berdiri dengan melipatkan kedua tangannya. Wajahnya tampak begitu kesal, mengetahui suaminya baru pulang setelah mampir ke rumah mantan pembantunya seharian.


Ketika Hilman turun dari mobil, Farah bergegas menghampiri sang suami. Seiring semakin mendekatnya wanita berparas cantik itu, raut mukanya yang semula masam seketika berubah menjadi rasa iba tatkala mendapati wajah Hilman penuh dengan luka lebam. Segera Farah menuntun suaminya itu menuju ruang tamu.


"Ya ampun, Papa! Papa habis dipukulin sama siapa? Apa Pak Risman berbuat lancang sampai-sampai bikin Papa lebam begini?" tanya Farah dengan mata membelalak.


"Bukan. Pak Risman nggak ngapa-ngapain aku kok," jawab Hilman bernada lesu.


"Terus, kenapa Papa bisa begini? Ngomong-ngomong, di mana Albi?" tanya Farah lagi. Kali ini raut wajahnya semakin cemas.


Mendengar pertanyaan Farah, Hilman menghela napas dalam-dalam sejenak. Setelah pikiran dan hatinya mulai tenang, ia pun berkata, "Nanti kita bicarakan hal itu. Sekarang kamu ambilin aku air minum sama kotak P3K. Badan aku berasa remuk nih."


"Tapi Albi ... Albi mana, Pa? Apa Albi diculik orang? Kok nggak pulang bareng Papa?"


Semakin sakit hati Hilman mendengar pertanyaan Farah, terlebih ketika menatap wajah cemas sang istri. Ia tahu betul, Farah sangat menyayangi putra semata wayangnya. Akan tetapi, menceritakan hal sebenarnya pada sang istri merupakan hal yang patut baginya. Hilman tak ingin membuat Farah semakin sedih.


"Pa, jawab aku dong! Di mana Albi?" desak Farah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu tenang aja, Albi ada di rumahnya Pak Risman," jawab Hilman dengan datar.


"Apa? Di rumah Pak Risman? Kenapa nggak bawa dia pulang sekalian, Pa? Gimana kalau nanti dia kelaparan?"


"Dia nggak akan kelaparan. Pak Risman sekarang jualan pecel lele," jawab Hilman menegaskan. "Sudahlah, sebaiknya sekarang kamu ambilin kotak P3K sama air minum. Apa kamu nggak lihat badan aku yang lebam ini?"


"Iya, iya. Papa ini ditanya kenapa badannya begitu malah bilang nanti aja."


"Aku habis dipukulin preman. Sudah puas dengan jawaban aku?"


"Iya, Pa. Tunggu di sini, aku mau ambil dulu kotak P3K."


Selepas Farah pergi mengambil barang yang dimintanya, Hilman kembali termenung. Sesekali ia meringis, merasakan sakit di bagian rahangnya. Pikirannya teringat kembali pada kehadiran Sukma yang secara tiba-tiba muncul di gudang tempat Albi semula disekap. Sungguh, Hilman tak habis pikir, bagaimana bisa seorang anak kecil berusia tujuh tahun sampai mengetahui tempat itu, mengingat gudang tempat Albi disekap itu lumayan jauh dari kediaman Pak Risman.


Sementara Hilman memikirkan Sukma, gadis kecil itu rupanya sudah sampai di sebuah gedung terbengkalai tempat Albi disekap. Lokasinya lumayan jauh dari gudang tempat Hilman ditemukan. Tanpa berpikir panjang, Sukma secepatnya masuk ke gedung itu. Namun, langkahnya segera terhenti saat Wanara memegangi tangannya.


"Ada apa, Wanara? Kenapa kamu pegangin tangan aku? A Albi ada di sana!" kata Sukma sembari menunjuk ke arah atas gedung.


"Sebaiknya kamu jangan gegabah, Sukma. Apa kamu nggak lihat, banyak makhluk sepertiku yang berkeliaran di sana? Bisa-bisa kamu terkecoh oleh tipu daya mereka," ujar Wanara memperingatkan.

__ADS_1


"Tapi A Albi ada di sana. Apa kamu nggak kasihan kalau A Albi diapa-apain sama orang-orang jahat itu?"


"Iya, aku mengerti. Tapi keselematan kamu lebih penting, Sukma."


"Kamu nggak usah khawatir, Wanara. Aku bisa jaga diri kok."


Wanara termenung sejenak sambil sesekali menatap Sukma. Wajah gadis kecil yang tampak polos dan memelas itu membuat ketetapan hati Wanara goyah. Kera itu menghela napas panjang, lalu menunduk sembari menggeleng lemah.


"Ayolah, Wanara! Aku mohon! Aku cuma pengin nolongin A Albi aja. Pliiis. Kera baik hati nggak bakal menolak permintaan temennya," pinta Sukma sembari bersimpuh di hadapan Wanara. Wajahnya yang semakin memelas, membuat Wanara luluh.


"Kamu ini, cepat berdiri! Tidak pantas seorang manusia memohon seperti itu padaku," ujar Wanara memegang kedua lengan Sukma untuk membantu gadis kecil itu berdiri.


"Terus, aku harus gimana biar kamu mau nolongin aku?"


"Tanpa perlu bersimpuh pun aku akan tetap membantumu," jawab Wanara. "Sebaiknya sekarang kamu berdiri membelakangiku, biar kututup pendengaran gaibmu."


"Nutup pendengaran gaib? Terus gimana kalau aku nggak bisa denger kamu?" tanya Sukma panik.


"Kamu masih bisa mendengarkan aku. Aku hanya ingin kamu tidak terkecoh oleh suara-suara gaib di sekitarnya. Mengerti?"


"Iya, iya. Aku tidak akan jauh-jauh darimu, Sukma."


Sukma kemudian berbalik badan. Wanara mulai menutup kedua telinga gadis kecil itu sembari merapalkan mantra. Setelah selesai merapal mantra, kera itu melepaskan tangannya dari kedua telinga Sukma. Selanjutnya, Sukma melangkah ke alam nyata, lalu bergegas masuk melewati tumbuhan gulma yang tingginya melebihi postur tubuhnya.


Memasuki gedung terbengkalai, suasana terasa begitu dingin dan lembap. Sesekali tampak seorang wanita berambut panjang dengan baju putih, melintas di hadapan keduanya. Sukma tak menghiraukan itu. Ia masih tetap fokus pada tujuannya, menemukan Albi.


Tangga demi tangga Sukma pijaki. Mulai dari lantai pertama sampai ketiga, keberadaan Albi masih belum ditemukan. Sukma tak mau menyerah begitu saja. Ia yakin, bahwa orang yang dicarinya berada di gedung itu.


Merasa lelah, Sukma duduk sejenak. Matanya terpejam, sebuah bayangan berkelebat mengganggu pandangannya. Tampak Albi sedang diikat di sebuah kursi dengan mulut disumpal kain. Bocah laki-laki itu menangis ketakutan, sembari menatap pemandangan di bawahnya. Ia diletakkan oleh dua preman suruhan Pak Jumadi di tepi lantai gedung.


Beberapa saat kemudian, Sukma terperanjat. Ia segera berdiri dan mengajak Wanara melanjutkan perjalanan menuju lantai gedung selanjutnya. Akan tetapi, baru saja melangkah ke anak tangga, keduanya mendengar suara pria sedang berbicang-bincang. Wanara segera menarik mundur Sukma ke tempat yang lebih gelap agar kehadirannya tak diketahui oleh dua pria berbadan tinggi besar yang sedang menuruni tangga itu.


Setelah kedua pria yang menculik Albi itu pergi, Wanara kembali memastikan keadaan. Dirasa aman, cepat-cepat ia dan Sukma menaiki tangga hingga akhirnya tiba di lantai empat. Di depan matanya, tampak Albi sedang ditunggui oleh pria setengah baya dengan setelan kaos polo dan celana panjang berwarna hitam. Sementara itu di belakang mereka, tampak makhluk tinggi besar sedang merunduk menyaksikan Albi yang akan segera menjadi tumbalnya. Pria yang tidak lain adalah Pak Jumadi itu sedang mengusap kursi yang diduduki Albi, lalu mengayun-ayunkannya. Sukma terkesiap, berprasangka bahwa Pak Jumadi akan mendorong Albi jatuh ke bawah.


"Berhenti!" tegur Sukma dengan suara lantang.


Seketika, Pak Jumadi menghentikan gerakannya pada kursi Albi, lalu berbalik badan. Betapa terkejutnya ia mendapati seorang gadis kecil tiba-tiba muncul di hadapannya. Secepatnya ia menghampiri Sukma, semetara Albi tampak senang sekaligus terheran-heran mengetahui Sukma berada di sana.

__ADS_1


"Siapa kamu, Bocah Kecil? Gimana kamu bisa ada di sini?" tanya Pak Jumadi geram.


"Aku temennya A Albi. Cepat lepasin A Albi sekarang juga!" bentak Sukma.


"Kamu ini banyak bicara! Aku akan jadiin kamu kayak Albi juga."


Pak Jumadi membentangkan kedua tangannya, lalu mendekati gadis kecil itu untuk menangkapnya. Sukma segera menghindar dan berlari ke belakang pria setengah baya itu. Tanpa ragu, ia pun menendang bokong Pak Jumadi hingga tersungkur. Gadis kecil itu tampak senang, lalu tertawa terbahak-bahak.


Melihat tuannya dikalahkan oleh seorang anak kecil dengan mudah, Buta bawaan Pak Jumadi tak mau tinggal diam. Ia menaruh tangan di belakang Sukma untuk menyentil tubuh mungil gadis itu. Wanara yang menyadari akan adanya bahaya menimpa Sukma, bergegas menendang tangan raksasa berbulu itu. Buta mengibas-ibaskan tangannya, merasakan nyeri luar biasa akibat tendangan dari seekor kera.


"Sialan!" geram Buta.


"Sebelum mengganggu temanku, hadapi aku dulu!" tantang Wanara.


"Siapa takut? Ayo maju, Monyet!"


Wanara memejamkan mata. Seketika ukuran tubuhnya semakin bertambah sampai sebesar Buta. Ketika matanya kembali terbuka, tampak sinar merah menyoroti lawannya. Si Buta pun semakin berang, lalu menyeret Wanara terjun ke bawah gedung.


Menyadari Wanara yang pergi bersama Buta ke bawah, Sukma berlari meneriaki kera kesayangannya. Pak Jumadi memanggil dua anak buahnya yang beberapa waktu lalu turun ke lantai bawah. Pria itu masih penasaran akan kekuatan Sukma yang mampu membuatnya tersungkur.


Mengetahui Sukma sedang lengah, Pak Jumadi segera membekap gadis kecil itu dari belakang. Ia tampak senang mendapatkannya dengan mudah. Namun, Sukma tak mau menyerah begitu saja. Ia terus memberontak dan meludahi telapak tangan Pak Jumadi. Perlahan rasa panas menjalar dari telapak tangan pria itu, lalu Sukma pun berhasil melepaskan diri.


"Berani-beraninya Bapak ngejahatin aku!" bentak Sukma memelototi Pak Jumadi.


Pria itu mengibas-ibaskan tangannya, guna meredakan rasa panas yang diakibatkan oleh air liur Sukma. Sungguh, ia dibuat tak mengerti oleh gadis kecil itu. Seseorang yang semula dipikirnya mudah untuk ditaklukkan, justru berbalik menyerangnya. Pak Jumadi benar-benar butuh bantuan.


Sementara Pak Jumadi berusaha mendinginkan telapak tangannya yang serasa terbakar, Sukma memindahkan Albi dari tepi lantai gedung ke tempat yang lebih aman. Cepat-cepat Sukma melepas kain yang menyumpal mulut Albi, kemudian beralih melepaskan tali yang mengikat tangan bocah laki-laki itu.


"Dedek, gimana kamu bisa ada di sini?" tanya Albi penasaran.


"Ceritanya panjang. Pokoknya, sekarang A Albi bakal selamat dibantuin sama Dedek," jawab Sukma yang masih fokus melepaskan simpul mati di kursi Albi.


"Hei! Jangan berani-berani lepasin Albi!" gertak Pak Jumadi menghampiri kedua bocah itu.


Tak lama kemudian, dua anak buah Pak Jumadi datang. Mereka bergegas menarik kedua lengan Sukma, demi menggagalkan usahanya melepaskan putra semata wayang Hilman. Pak Jumadi tampak semringah, melihat Sukma yang kini kesulitan melepaskan diri dari anak buahnya. Ia pun mengangkat Albi ke tepi gedung. Bocah laki-laki itu menangis sejadi-jadinya tatkala mendapati dirinya berada di atas ketinggian lagi.


"A Albi!" pekik Sukma dengan suara gemetar.

__ADS_1


__ADS_2