SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis

SUKMA: Perjanjian Dengan Iblis
Nasihat Kyai Soleh


__ADS_3

Pak Beni terengah-engah ketika tiba di depan warungnya. Untuk mengentaskan rasa lelahnya, ia duduk sejenak di depan bangku warung sembari mengatur napas. Belum sempat ia berdiri lagi, istrinya datang dengan berkacak pinggang. Seperti biasa, wajahnya yang didandani tebal justru terlihat masam.


"Gimana? Berhasil?" tanya Bu Lastri menatap tajam.


Tanpa banyak berkata-kata, Pak Beni memegang tangan istrinya. Segera mereka masuk ke ruang keluarga untuk membicarakan sesuatu yang telah terjadi di kontrakan Haji Gufron tadi.


"Jangan bilang kalau Bapak gagal lagi. Ayo ngaku!"


"M-maafin Bapak, Bu. Tadi Bapak nggak sengaja ketemu sama anak kecil yang waktu itu datang ke warung. Sialnya lagi, Haji Gufron sama anaknya datang di saat yang berbarengan."


"Tuh, kan, Bapak ini nggak ada becus-becusnya sama sekali. Bukannya nanam bungkusan secara sembunyi-sembunyi, malah kepergok sama yang punya kontrakan. Sekarang, di mana bungkusannya? Biar Ibu aja yang nanam."


"B-bungkusannya ... bungkusannya dibawa sama Fadil."


"Ya ampuuun! Bapak ini gimana, sih? Kalau Bapak ketangkap basah, seenggaknya selamatkan bungkusan itu. Kalau udah begini, harus gimana lagi, ha?"


"Sudahlah, Bu. Lebih baik kita nggak perlu ganggu kontrakannya Haji Gufron lagi. Kata temennya Haji Gufron, rezeki itu udah ada yang ngatur. Kalau kita terus-terusan berbuat begini, nanti bakal dikasih hukuman sama Tuhan."


"Alah, orang kayak gitu didengerin. Kalau rezeki udah ada yang ngatur, mungkin orang nggak guna kayak Bapak ini udah kaya raya. Yang namanya rezeki itu harus diusahakan, Pak."


"Tapi nggak begini juga caranya, Bu. Kita udah punya warung sama kontrakan, apa itu masih belum cukup?"


"Belum, Pak. Ibu nggak akan puas kalau kontrakan Haji Gufron masih ada penghuninya. Kalau kontrakan itu nggak laku, kita bisa ngebangun kontrakan yang lebih banyak, Pak. Penghuni juga bakal ada terus, pemasukan kita bertambah. Bapak ini emang nggak bisa mikir."


"Terus, Ibu maunya gimana? Masih tetap mau gangguin kontrakan Haji Gufron?"


"Iya. Pokoknya Ibu harus nyingkirin saingan kita."


"Ayolah, Bu. Jangan serakah."


"Serakah gimana maksud Bapak? Yang serakah itu Haji Gufron. Punya cabang pecel lele di mana-mana, tapi tetep aja pengin ngurus kontrakan."


"Terserah Ibu aja, deh. Bapak mau jaga warung dulu."


Pak Beni melenggang menuju warung, sedangkan Bu Lastri masih melipat kedua tangannya. Sesekali matanya mendelik sambil memikirkan langkah selanjutnya untuk menyingkirkan saingannya. Sementara itu, Pak Beni melayani pembeli yang baru saja datang ke warungnya.


Di kontrakan Haji Gufron, Pak Risman dan Bu Inah kedatangan pemilik kontrakan beserta Fadil juga Kyai Soleh. Dengan ramah, Pak Risman menyambut mereka dan mempersilakan masuk. Tak lupa, Bu Inah menyuguhkan empat gelas air putih untuk mereka.


"Ada apa Pak Haji datang kemari?" tanya Pak Risman tersenyum simpul.


"Begini, teman saya, Kyai Soleh, ingin bertemu dengan kalian," jawab Haji Gufron sembari menunjuk pada sahabatnya menggunakan ibu jari.


Bu Inah mendadak canggung. "Em ... ada perlu apa, ya, Pak Kyai ingin bertemu dengan kami?"


"Boleh saya langsung berbicara pada intinya?" tanya Kyai Soleh.


"Silakan, silakan. Tentu saja," jawab Pak Risman.


"Saya ke sini ingin membicarakan tentang anak kalian. Sukma," tutur Kyai Soleh dengan tenang.


"Sukma? Ada apa ya, dengan putri bungsu kami? Apa tadi pagi dia berbuat lancang sama Pak Kyai?" tanya Pak Risman khawatir.


"Tidak, tidak. Justru putri kalian sangat manis dan sopan. Saya sangat suka dengan perilakunya," kata Kyai Soleh.

__ADS_1


"Lalu, apa yang sebenarnya membuat Pak Kyai ingin membicarakan Dek Sukma?" tanya Bu Inah semakin cemas.


"Saya ingin membicarakan soal keistimewaannya dalam berurusan dengan hal gaib," jawab Kyai Soleh. "Saya harap, kalian bisa menerima dan mendengarkan saya dengan baik."


Pak Risman tertegun mendengar ucapan Kyai Soleh. Baru sekarang ia bertemu dengan seorang ulama yang mau membicarakan perihal gaib. Kendati selalu menanggapi berbagai hal mistis dengan sinis dan cenderung menampik, kali ini Pak Risman tak bisa mengelak lagi di hadapan orang saleh seperti Kyai Soleh. Ia yakin, ilmu dan amalan yang dimiliki Kyai Soleh lebih tinggi dari dirinya. Maka dari itu, Pak Risman duduk dengan tenang sembari memperhatikan Kyai Soleh dengan saksama.


"Ngomong-ngomong soal hal gaib, saya yakin, Bapak dan Ibu sudah tahu bahwa Al-Qur'an juga membahas kalau jin dan sihir itu ada. Contohnya dalam surah Al-Jin, minimal dalam surah pendek yang sering kita baca, Al-Falaq."


Pak Risman dan Bu Inah mengangguk, mengiyakan perkataan Kyai Soleh.


"Sekarang, Bapak dan Ibu dikaruniai anak yang memiliki kelebihan melihat hal-hal gaib. Saya mau tanya, apa Bapak dan Ibu yakin, bahwa Dek Sukma melihat semua yang nggak bisa kita lihat? Makhluk gaib misalnya."


"Sebenarnya, saya nggak terlalu percaya sama hal seperti itu, Pak Kyai. Kalaupun Dek Sukma memiliki kemampuan seperti itu, saya menganggapnya sebagai khayalan anak kecil saja," jawab Pak Risman dengan santai.


"Nah, sekarang mau nggak mau Bapak harus percaya, bahwa sesuatu yang dilihat oleh Dek Sukma bukan khayalan belaka. Sudah saya katakan tadi, bahwa perihal yang gaib sudah dijelaskan di dalam Al-Qur'an. Saya yakin, dalam segi ibadah, Bapak sudah sangat baik. Tapi, di sini saya ingin menekankan, Bapak juga harus percaya dengan yang gaib. Bukankah Allah juga gaib?"


Pak Risman mengangguk.


"Saya mau bilang sama Bapak dan Ibu, tolong jaga putri bungsu kalian baik-baik. Suatu saat nanti, dia akan melewati masa-masa sulit. Jangan biarkan dia sampai terpuruk. Kalau tidak, kalian akan susah sendiri," kata Kyai Soleh.


"Maksud Pak Kyai apa, ya?" tanya Pak Risman mengernyitkan kening.


"Tanya sama istri Bapak sendiri. Dia pasti memahami maksud saya."


Seketika terlintas di ingatan Bu Inah tentang mimpi buruk yang dialaminya beberapa bulan lalu. Wanita paruh baya itu bergidik ngeri, lalu menggeleng dan mengusap wajahnya. Rupanya, gelagat Bu Inah diketahui oleh Kyai Soleh, sehingga membuat wanita paruh baya itu memalingkan muka.


"Saya yakin, Ibu tahu soal itu. Sekarang keputusan ada di tangan kalian. Saya sarankan, tetaplah mendidik putri bungsu kalian sebagaimana mestinya. Kalaupun suatu saat nanti dia tiada, kalian akan tetap bangga pernah memiliki putri dengan kelebihan yang bisa membantu banyak orang," ucap Kyai Soleh.


"Apa? Jadi, S-Sukma ... Sukma akan mati?!" Bu Inah membelalakkan mata, menatap Kyai Soleh.


"Saya tidak tahu pasti. Hanya Ibu yang bisa memutuskan. Ibu sudah pernah diperingatkan oleh seseorang, bukan? Sukma akan--"


"Cukup, Pak Kyai!" potong Bu Inah. "Saya benar-benar takut mendengarnya. Setiap kali saya mengingat mimpi itu, hati saya merasa cemas. Tolong, jangan ingatkan lagi saya tentang hal itu," kata Bu Inah memelototi Kyai Soleh.


"Baiklah, saya tidak akan mengingatkan Ibu soal itu lagi. Hanya saja, saya ingin berpesan, terutama buat Bapak. Tolong, jangan menampik lagi kelebihan Sukma saat ini. Semua yang dia lihat benar-benar ada, Pak. Jika Bapak masih sulit memercayainya, maka ingatlah bahwa di dalam Al-Qur'an, sudah diterangkan seterang-terangnya bahwa makhluk gaib dan sihir itu ada. Kalaupun Bapak masih tidak memercayainya juga, ingatlah! Allah dan Hari Kiamat juga gaib."


Pak Risman tak bisa menyangkal lagi perkataan Kyai Soleh. Bagaimanapun juga, ia tetap beranggapan bahwa pria di hadapannya lebih tinggi ilmunya daripada dirinya. Kini, ia harus percaya saja pada setiap perkataan Sukma.


"Bapak masih mau menyangkalnya juga? Akan saya buka mata batin Bapak dan Ibu agar bisa melihat Sukma yang sebenarnya," kata Kyai Soleh.


"T-tidak, Pak Kyai. Saya kira, itu tidak perlu," kata Pak Risman tergagap-gagap.


"Baiklah, kalau begitu, tolong didik Sukma dengan baik. Menurut saya, didikan Bapak dan Ibu pada anak itu sudah baik. Teruskanlah mendidiknya seperti itu. Bagaimanapun juga, dia tetaplah anak manusia yang masih butuh bimbingan kedua orang tuanya."


"Baik, Pak Kyai. Akan kami usahakan," kata Pak Risman.


"Saya yakin, didikan kalian akan terus membekas di hati Sukma selama-lamanya," kata Kyai Soleh.


Selesai dengan urusan dengan keluarga Pak Risman, Haji Gufron bersama sahabat dan anaknya berpamitan. Ketiganya bergegas pulang ke rumah Haji Gufron untuk membahas tentang Pak Beni dan istrinya. Sementara itu, Pak Risman dan Bu Inah kembali ke kontrakannya, lelu terduduk di karpet dekat kasur.


Pak Risman termenung memikirkan ucapan dari Kyai Soleh mengenai Sukma. Ingatannya kembali pada kejadian-kejadian saat masih tinggal di paviliun Hilman. Mulai dari kejadian boneka mengerikan, sampai hilangnya Sukma selama seminggu. Mungkin perkataan Kyai Soleh ada benarnya juga, pikirnya.


"Gimana, Pak? Bapak masih mau sinis saja setiap kali Dedek mengatakan hal aneh-aneh?" tanya Bu Inah.

__ADS_1


"Sepertinya kali ini, mau tidak mau Bapak harus percaya. Bagaimanapun juga, Dedek tetaplah anak kita. Meskipun dia tidak lahir dari rahim Ibu, Dedek harus lebih kita perhatikan, mengingat kemampuannya itu."


"Tapi, Pak. Ibu masih takut. Kalau Dedek tumbuh menjadi gadis baik hati dan penolong, umurnya tidak akan lama."


"Kenapa Ibu bicara begitu? Soal umur nggak ada yang tahu, Bu."


"Apa Bapak nggak dengar perkataan Kyai Soleh tadi? Katanya, kita akan tetap bangga pernah memiliki putri dengan kelebihan yang bisa membantu banyak orang, meskipun Dedek tiada. Itu artinya, usia Dedek nggak akan lama, Pak."


"Tiada bukan selalu berarti meninggal, Bu. Bisa saja dia hilang atau menikah dengan pria pilihannya."


"Enggak, Pak. Ibu tahu sendiri dari ayah kandungnya, kalau Dedek berbuat baik, ayahnya akan ...." Bu Inah seketika mematung dan membekap mulutnya.


"Akan apa, Bu? Kapan Ibu pernah ketemu sama ayah kandungnya?" tanya Pak Risman penasaran.


"Sudahlah, lupakan saja. Ibu belum jemur pakaian."


Bu Inah melenggang begitu saja, mengambil cucian yang akan dijemur. Ketika Bu Inah melintas lagi ke ruangan utama, Pak Risman memanggilnya. Namun, wanita paruh baya itu bergeming, seolah berusaha menghindar dari keingintahuan suaminya.


Di rumah Haji Gufron, Kyai Soleh duduk di kursi ruang tamu sembari berzikir. Haji Gufron masih penasaran dengan ucapan temannya soal kematian Sukma di masa depan. Ia mencolek sahabatnya, lalu mulai bicara.


"Leh, apa maksudnya Sukma bakal tiada? Apa umurnya memang pendek?" tanya Haji Gufron.


"Itu tergantung perlakuan bapak sama ibunya, Fron. Kalau bapak sama ibunya membiarkan Sukma berbuat sesuka hati, maka usia anak itu akan panjang, tapi bakal malu-maluin keluarganya. Dia dilahirkan ke bumi ini dengan membawa tugas iblis. Kamu tahu sendiri, kan, iblis kayak gimana?"


"Tugas iblis? Maksud kamu, Sukma itu anak iblis? Lalu, Pak Risman dan Bu Inah? Padahal mereka keluarga yang rajin ibadah loh."


Kyai Soleh mengangguk. "Sebenarnya dari awal ketemu sama anak itu, saya udah tahu bahwa dia bukan anaknya Pak Risman sama Bu Inah. Dia hanya anak pungut."


Terbelalak mata Haji Gufron mendengar pernyataan sahabatnya. "Anak pungut? Jadi, dia beneran anak iblis dong. Kenapa kamu nggak cerita aja sekalian di hadapan kedua orang tua angkatnya?"


"Saya nggak enak, Fron. Apa kata mereka kalau saya bilang Sukma itu anak pungut? Pasti mereka sakit hati. Lagi pula, kalau saya bilangin Sukma itu anak iblis, bapak-ibunya nggak bakalan percaya gitu aja. Kamu tahu sendirilah soal Pak Risman itu."


"Iya, ya." Haji Gufron mengangguk. "Lalu, kenapa kamu bisa tahu kalau Pak Risman suka menampik hal-hal gaib?"


"Itu karena dia trauma."


Tak lama kemudian, Fadil datang membawa dua gelas teh manis dan menyuguhkannya di atas meja. Ia kemudian duduk di sebelah Kyai Soleh, lalu tersenyum-senyum sambil mengedipkan mata. Kyai Soleh yang mengetahui maksud di balik senyumnya Fadil, langsung mengajaknya bicara soal Habibah.


Tak terasa, waktu beranjak siang. Sukma berlari-lari di halaman sekolah. Bersama kawan-kawannya, ia bermain petak umpet. Setelah lelah, gadis kecil itu mengunjugi kantin sekolah untuk jajan makanan dan minuman ringan.


Rupanya, keberadaan Sukma diketahui oleh temannya yang berjaga. Kendati pundaknya dipegang dan dikejutkan oleh temannya, gadis kecil itu tetap tenang saja melahap makanan di tangannya.


"Kok kamu diem aja? Sekarang kamu jadi kucingnya. Giliran kamu yang jaga," kata Fani mengernyit.


"Kamu aja yang lanjut jaga. Aku udahan," ujar Sukma sembari mengunyah makanan di mulutnya.


"Loh, kok gitu, sih? Jangan karena katahuan duluan, kamu jadi nggak mau lanjut main," sungut Fani berang.


"Udah, ah. Kamu ke sana aja. Aku capek, perut aku lapar banget belum jajan."


"Ya udah."


Selepas Fani pergi, Sukma melanjutkan memakan makanan ringan di tangannya. Selepas itu, ia membuangnya ke tong sampah. Ketika hendak kembali ke kelas, samar-samar Sukma melihat seorang pria sedang menarik-narik kera berukuran besar menggunakan rantai di seberang jalan. Sukma menyipitkan mata untuk menyelidiki kera yang dibawa oleh pria itu. Tak butuh waktu lama, akhirnya Sukma dapat mengenali hewan peliharaannya sendiri.

__ADS_1


"Wanaraaa!" teriak Sukma sambil berlari.


Tak peduli dengan kendaraan yang melintas di jalanan, Sukma terus berlari untuk menggapai kera kesayangannya. Atikah yang melihat Sukma sedang berlari ke seberang jalan pun panik. Ia meminta bantuan para guru agar menolong adiknya secepat mungkin.


__ADS_2