
Selamat Membaca..
Faika yang sedang mengikuti meeting bersama dengan seluruh karyawan perusahaan tempatnya bekerja dan yang membuat pikirannya tidak fokus dikarenakan orang yang sedang berdiri di depannya adalah orang yang pernah hadir di dalam hidupnya. Mereka terpisah karena perjodohan yang pernah dilalui oleh Faika, dan untungnya pernikahan itu harus batal dan gagal sebelum kata Sah menggema di seluruh ruangan kediaman Orang tuanya.
Hp Faika sedari tadi berdering, dan Faika terpaksa untuk tidak mengangkat telpon dari ibunya di kampung dikarenakan, Faika tidak ingin mencampur adukkan pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Apa lagi Faika sudah menjabat sebagai Menejer Humas.
"Fa, angkat saja telponnya, kasihan loh ibu kamu, jangan sampai ada yang penting" ucap Kania yang melihat ke arah tangannya Faika yang sedang memegang HP.
"Gak enak kan, masa angkat telpon terus yang lain masih di sini" ucap Faika.
"Gak apa-apa kali Fa, lagian meeting ini hanya perkenalan saja gak penting amat juga" ucap Kania lagi.
Faika pun mempertimbangkan perkataan dari Kania dan meminta ijin untuk ke luar sebentar.
"Kalau gitu aku pamit ke luar bentar, mo angkat telpon dulu" ucap Faika ke arah Aleta.
Aleta pun menganggukkan kepalanya dan kembali fokus memperhatikan wajah dari Presiden Direktur baru nya.
"Assalamu alaikum Bu, kenapaki sedari tadi menelpon?" tanya Faika.
"Nak, pulangki dulu besok, adikmu Fahira masuk rumah sakit" ucap ibunya Faika ibu Suharti.
"Apa yang terjadi kepada Fahira Bu, jelaskan kepada Faika, Janganki buatka khawatir kodong" ucap Faika yang semakin khawatir dengan kondisi adik ke duanya.
"Adapaki di sini nak, baru ku tanyaki" tutur Ibunya.
"Iye, besok subuh saya udahan pulangma, Tapi kijagaki baik-baik Fahira sama kita Janganki banyak pikiran, kijagaki juga kesehatanta' Ibu" ucap Faika.
"Ti......dak pergi dari sini, tolong jangan dekati saya huhuuuhuhu" teriak Fahira yang sempat terdengar je telinga Faika.
"Sudahmi dulu paeng nak, bangunmi adekmu" ucap ibunya yang langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa salam dan tidak biasanya seperti itu.
"Ya Allah Apa yang terjadi dengan adikku, ya Allah jaga dan lindungilah keluargaku".
Faika tidak kembali ke ruangan meeting lagi karena ingin segera menyelesaikan seluruh pekerjaannya untuk hari ini, karena besok harus balik ke kampung halamannya. Kania dan Aleta yang melihat Faika yang sedang sibuk masuk ke dalam ruangan Faika.
"Sibuknya Ibu menejer, mentang-mentang sudah jadi Ibu menejer jadi semakin sibuk saja" ucap Aleta.
__ADS_1
"Kamu sepetinya ada sesuatu yang mengganjal di pikiran kamu Fa??" tanya Kania.
Faika tidak langsung menjawab pertanyaan dari Kania karena dirinya pun heran dan tidak mengerti dengan yang telah terjadi.
"Adikku masuk rumah sakit Ka, dan ibu menyuruh ku untuk pulang besok, makanya Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini hari ini juga, Kalau perlu aku lembur yang penting besok subuh aku sudah berangkat' jelas Faika.
'Kalau gitu kita pamit, tidak ingin ganggu kamu lebih lama lagi" ucap Kania menarik tangan Aleta yang baru ingin membuka mulutnya tetapi gak jadi.
Faika sudah meminta ijin langsung ke kepala menejer dan Presdir pun sudah menyetujui ijinnya. Hingga larut malam, Faika masih berkutat dengan komputernya, bahkan makan malamnya sudah terlewati, dan sekarang sudah jam 11 malam. Faika melepas kacamata kerjanya dan sedikit mengurut pelipisnya kemudian berdiri sejenak sambil merentangkan kedua tangannya.
"Alhamdulillah sisa sedikit lagi baru kelar".
Faika pun semakin bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan Akhirnya selesai juga.
"Alhamdulillah, Makasih banyak ya Allah, semoga bapak Antoni tidak menolak semua kerjaanku, supaya Aku bisa pulang kampung d/
engan tenang, Amin".
Faika mengamankan datanya ke dalam Flash disk dan memeriksa dengan seksama filenya dan seluruh pekerjaannya dan bergegas ke tempat foto copy. Tapi Faika merasa sedari tadi ada bayangan seseorang yang mengikuti langkahnya. Tapi berusaha untuk berfikir positif thinking saja.
Setelah merasa pekerjaannya selesai, Faika pun menutup pintu ruangannya dengan rapat dan tidak lupa mengunci kenop pintunya itu. Faika menolehkan kepalanya ke arah belakang dan ternyata tidak ada apa pun, Faika berjalan ke arah Parkiran mobil dan melepas high heelsnya untuk memudahkan langkah kakinya. Faika segera bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Faika melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena takut jika ada yang berniat jahat kepadanya. Ketika mobilnya memasuki area jalan protokol yang sudah Padat dengan pengendera kendaraan barulah Faika memelankan laju mobilnya tersebut.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga, lumayan capek dan tangan dan kakiku juga sudah kebas nih".
Faika segera membersihkan tubuhnya dan bergegas mengambil kopernya untuk mengisi sebagian barang-barangnya yang akan Dia bawa besok ke Makassar.
"Semoga Saja adikku baik-baik saja".
Faika naik ke atas ranjangnya karena sudah mengantuk sekali. Faika pun mengikuti langkah orang-orang yang lebih dahulu terlelap dalam tidurnya dan terbuai dalam mimpi indahnya.
Keesokan paginya, Faika sudah duduk manis di dalam pesawat yang akan membawanya ke Makassar ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Faika tidak kembali ke kampung halamannya, karena ibunya menelpon kalau adiknya dan ibunya sekarang berada di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Faika tidak menikmati perjalanannya karena, Kepikiran terus dengan Adik dan ibunya.
"Kenapa sedari tadi hati ini tidak tenang dan selalu kepikiran dengan Fahira".
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Faika sudah sampai dengan selamat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat yang ditumpangi oleh Faika yang berlogo biru tua dengan ekor burung berhasil lending.
Faika buru-buru berjalan ke arah pintu keluar dan mencari taksi yang terparkir di area Bandara. Awalnya Faika ingin memesan taksi online, tetapi hal pasti butuh waktu yang cukup lama sehingga memanggil Pak taxi saja.
Faika segera menyodorkan satu lembar uang kertas merah ke tangan Supir taksi tersebut dan tidak menunggu uang kembaliannya.
"Mbak sisa uangnya ketinggalan" teriak supir taksi itu.
"Ambil saja pak" yang dibalas teriakan pula dari Faika.
Faika terburu-buru dan mencari ruangan tempat adiknya di rawat.
"Sepertinya ini ruangannya".
Faika mendorong pintu ruangan tersebut, dan betapa kagetnya melihat kondisi dari Fahira adiknya. Fahira membuang kopernya dan langsung berlari.
"Ibu apa yang terjadi sama adikku, kenapa bisa seperti ini kodong?" tanya Faika dihadapan ibunya yang sudah tidak kuasa menahan sedihnya.
Fahira terbaring lemah di atas Bangkar rumah sakit dan dalam keadaan yang terpasung ke dua tangan dan kakinya.
"Adikmu..." ibu Suharti tidak sanggup untuk berbicara hanya air matanya yang mampu menetes membasahi pipinya.
Sedangkan Fatimah pun terdiam membisu tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.
Pintu ruangan perawatan adiknya pun terbuka dan masuklah Bibinya yaitu adik dari bapaknya Faika pak almarhum Abdurahman. Dengan wajahnya yang angkuh dan tidak ada tanda-tanda keakraban dari wajahnya.
Bersambung...
Alhamdulillah Novel Receh Fania Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar Kontrak lagi.🥰🥰.
Dan semoga Rezekinya TAJYT juga mengikuti jejak CINTA Yang Tulus 🤲💪💪.
Mohon maaf jika ada beberapa typonya ✌️.
Tapi novel ini dalam situasi dan kondisi yang masih butuh di perbaiki, tadi baru tiga bab 🤣🤣💪💪
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Rabu, 11 Mei 2022