
Selamat Membaca..
Masih Flashback on..
Kehidupan yang awalnya adem ayem tanpa ada masalah yang berarti di dalam hidupnya Fahira, tiba-tiba langsung berubah 360 derajat karena ikut berlibur dalam acara perpisahan yang diselenggarakan oleh pihak sekolahnya.
Faika dan ibunya sebenarnya sudah ada firasat yang tidak enak dan enggan untuk berangkat, tetapi karena bujukan dari ke tiga teman baiknya akhirnya Faika berangkat ke Lokasi tempat liburan mereka.
Ke tiga sahabatnya tidak ada yang bisa tertidur dengan lelap, karena mereka sangat menghawatirkan keadaan dari Faika, tapi mereka tidak bisa berbuat lebih karena mereka takut jika ketahuan dari wali kelas dan semua guru akan berakibat tidak baik untuk mereka.
Pintu Villa mereka diketuk oleh seseorang dari luar dan seperti orang yang sedang mengetuk pintu itu. Winda pun segera berjalan ke arah pintu dan sangat terkejut melihat siapa yang ada dalam gendongan bapak tersebut.
"Apa yang terjadi pada temanku Pak?" tanya Winda yang langsung menuntun bapak tersebut yang menggendong Fahira.
Bapak tersebut belum sempat untuk menjawab pertanyaan dari Winda karena ingin membaringkan Fahira terlebih dahulu.
"Kami tadi menemukan temannya terbaring dalam keadaan yang cukup tidak baik dek" jawab bapak tersebut setelah menutup pintu kamarnya.
"Maksudta' pak, Saya tidak mengerti?" Winda keheranan dengan perkataan dari Bapak tersebut.
"Teman adek kami temukan dalam keadaan pingsan dan mungkin dia telah mengalami perlakuan yang tidak senonoh dari orang yang kami tidak dan tidak ada saksi mata di tempat kejadian susah untuk mengetahui pelakunya, tapi sesuai dengan yang kami lihat teman adek mengalami pelecehan *******" jawab bapak itu panjang lebar.
"Itu tidak mungkin pak?" ucap Winda dan Hasmia tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang. Bapak dan beberapa ibu-ibu sudah pulang kembali ke tempat kerjanya mereka masing-masing.
Ke tiga sahabatnya pun memutuskan untuk pulang lebih awal dari teman lainnya. Mereka satu pun tidak memberitahukan kepada siapa pun. Karena mereka tidak ingin masalah dan ujian hidup yang dihadapi oleh Fahira tidak diketahui oleh orang lain dan berlaku untuk siapa pun itu.
Ibunya pun shock melihat kondisi anaknya dan setelah mendengar penjelasan dari sahabat anaknya Ibu Suharti.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin terjadi pada anakku kodong, kenapa kalian tidak menjaga baik anakku, apa ki lupaki semua nak bilang kalianmi itu panggilki Fahira?" ratap ibu Suharti.
"Iye, kami tahu kami yang ke sini panggilki, tapi kami tidak menyangka jika ini akan terjadi pada nasib Fahira tanta, kami sangat menyesal dengan yang terjadi pada Fahira" ucap Marsha yang sedari tadi menangis menyesali apa yang terjadi.
Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan atas apa yang terjadi tidak akan menyelesaikan masalah apa pun, malah akan menambah penderitaan dan penyesalan yang tidak berujung.
Kondisi Fahira yang semakin hari semakin parah akhirnya, ibunya memutuskan untuk membawa Fahira untuk berobat ke Ibu Kota Propinsi yaitu Makassar. Fahira pun terpaksa disuntikkan beberapa kali obat penenang. Hingga dokter memutuskan untuk menghentikan suntikan tersebut, karena ditakutkan jika akan berpengaruh terhadap kesehatan Fahira yang masih sangat muda dan beginilah sekarang keadaannya yaitu tangan dan kakinya diikat untuk menghindari Fahira berbuat yang macam-macam.
Pagi tadi Fahira mencabut selang infus dari tangannya dan mengambil jarum tersebut kemudian menusukkan kedalam tangannya berulang kali untung saja ibunya cepat menyadari jika putri keduanya hampir saja bunuh diri.
Ibunya memutuskan untuk segera menelpon nomor hp putri pertamanya agar segera pulang. Dan kedatangan Faika sangat membantu dan membuat pengaruh yang baik untuk kondisi adiknya.
Flashback off..
Kedatangan Faika sepertinya membawa dampak positif dari kesehatan adiknya, sehingga Fahira sudah tenang dan tidak lagi histeris atau pun melukai dirinya sendiri.
"Kamu harus sabar dek, Kakak akan selalu bersama kamu" ucap Faika.
Faika memeluk erat adiknya. Dan akhirnya air mata yang sedari tadi dicoba untuk dua tahan terus akhirnya jatuh juga membasahi pipinya yang bening itu.
"Bagaimana kalau kita ke Jakarta, ikutmi saja ke Jakarta, di sanami kamu lanjutkan sekolahmu" ucap Faika.
"Kitanyaki dulu Ibu, apa setujuji atau tidak, kalau saya pasti mauma pergi biar sekarang" ucap Fahira yang sudah sangat ingin meninggalkan kampung halamannya.
Apa lagi tadi bibinya datang ke rumah sakit untuk menghina mereka. Karena itu lah ibunya pun menyetujui permintaan dari putrinya itu. Fathimah yang kembali ke kampung halamannya sejak kakaknya Faika datang, Karena akan mengikuti ujian di sekolahnya. Sambil menunggu Fatimah menyelesaikan ujiannya barulah mereka berangkat ke Jakarta.
"Maafaknka Bapak, demi masa depan anak-anakta', kami harus meninggalkan rumah yang selama ini menjadi saksi bisu dari kehidupan kita bersama".
Faika meminta kepada sahabatnya Fahira untuk membantu Fathimah untuk mengemas semua barang-barangnya.
__ADS_1
Satu Minggu kemudian, Fahira dinyatakan sudah bisa rawat jalan, Faika bersyukur karena adiknya sudah bisa keluar dari rumah sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar atau orang-orang lebih mengenal dengan sebutan Rumah Sakit Tamalanrea.
Faika menyewa kamar kost untuk mereka sementara waktu, sambil menunggu ujian dan pengurusan dokumen ijazahnya selesai.
"Semoga kondisi adikmu membaik jika kita sudah di Jakarta" harap ibu Suharti.
"Amin, tapi Faika meminta kepada ibu sama adik janganki lagi bahaski ini semua di depan Fahira agar cepatki nalupakan traumanya" tutur Faika.
"Bagaimana jika Adekmu hamil nak? takutka jika terjadi seperti, na masih kecilki kodong Fahira" kekhawatiran Ibu Suharti.
"Insya Allah semoga saja itu tidak terjadi, dan kalau memang itu terjadi, kita harus menjaga dan melindungi Fahira Bu, Faika tidak ingin melihat Fahira membunuh bayi yang tidak berdosa, itu sama saja menambah dosa Fahira Bu" terang Faika.
"Itumi yang harus kita lakukan, maumi di apa kalau seperti itu, kita hanya bisa membantu mendoakan agar Fahira bisaji nalewati ini semua" ucap Suharti.
"iye ibu, walaupun Bapak dulu meminta ibu untuk tidak sama sekali untuk meninggalkan rumah kita, tapi apa boleh buat ibu pasti lebih memilih masa depan kalian dari pada janji Ibu, Ibu yakin pasti bapak mengerti dengan keputusan ibu" Tutur Ibu Suharti dengan tangisannya yang semakin menjadi saja.
"Apa pale Bu, kita tidak pernah berfikir akan seperti ini sebelumnya, bahkan terlintas dibenak kita pun tidak pernah, tapi apami mamputa' Bu, itu sudah diatur oleh Allah SWT dan kita hanya bisa bersabar dan terus berusaha untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan ini semua" jelas Faika yang menatap ke arah luar rumah melalui jendela besar tersebut.
"Semoga yang saya rencanakan ini untuk adik dan ibuku adalah yang terbaik".
........... Bersambung...........
Makasih banyak atas dukungannya terhadap semua Novel Receh Fania 🙏.
Semoga bisa bermanfaat dan jika ada yang tidak sesuai dengan harapan Reader Maaf karena seperti ini lah alur cerita yang Fania buat ✌️. Dan sesuai dengan kapasitas Fania dalam membuat Novel 🙏.
Jangan Lupa untuk tetap mendukung Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar 🙏
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Kamis 12 Mei 2022