TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR

TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR
BAB. 49. Duo F Sama-sama Sakit


__ADS_3

Selamat Membaca..


Sinyal dukungan dari keluarga besarnya sudah menjadi penyemangat dan motivasi untuk Nathaniel Sanjaya Park untuk segera menghalalkan seorang gadis dari kampung yang sudah perlahan mengisi relung hatinya.


Nathan dan Rian Alaric Kim awalnya mereka janjian hanya berdua saja di dalam kafe tersebut, tapi tanpa mereka sadari ternyata Mami Marissa, ibunya Rian mendengar secara tidak sengaja ucapan mereka.



Kafe yang terletak di sudut Rumah Sakit DA milik Pengusaha muda tersukses tahun ini, yaitu Arya Wiguna Albert Kim Said, sengaja mendesain salah satu kafe yang ada di dalam lingkup wilayah rumah Sakit DA tersebut dengan nuansa botanikal forest.


Kafe tersebut menjadi saksi sesi curhatan Rian dan Nathan yang berakhir dengan berita kehamilan Fahira Febrina sampai ke telinga Maminya Rian, sehingga Nathan lebih santai dan urusan restu dari ke dua orang tuanya dan krkuarga besarnya sudah di dalam genggaman Nathan.


"Besok hasil tesnya sudah keluar Mi, dan Nathan berharap sama Mami untuk segera melamar Fahira, Nathan tidak ingin perut Fahira semakin besar dan menjadi bahan viral dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ucapnya sambil sesekali meneguk minumannya.


"Kalau masalah itu, serahkan semuanya pada Mami, dan Mami berharap Kamu tidak seperti Dia yang terlalu betah dan setia pada cinta pertamanya, sehingga tidak mampu untuk membuka hatinya untuk wanita lain."


Rian yang mendengar perkataan Maminya sendiri hanya menatap jengah Maminya yang sengaja mengupas habis sisi lemahnya, Rian mengerti maksud dari Maminya itu, tapi Rian tidak berniat bahkan tidak pernah bermimpi untuk membuka hatinya pada perempuan lain.


"Mi, Rian masih ada kerjaan di Kantor yang belum Rian selesaikan, Nathan Aku pamit dulu bro, besok kita ketemu lagi, dan yang ingin aku sampaikan."


"Hati-hati sayang, Kamu mau pulang ke rumah atau Apartemen Kamu?"


"Nanti Aku kabari Mami, kalau sudah waktunya Rian mau pulang."


Mami Marissa hanya tersenyum dan menggeleng kepalanya melihat kepergian anak sulungnya itu.


"Mama berharap Kamu menemukan jodoh yang terbaik untuk kamu, Mami juga ingin segera menimang cucu, sedangkan adikmu tidak mungkin Mami paksa untuk segera nikah, dia yang masih kuliah di semester pertamanya."


Rian berjalan terburu-buru dan melangkahkan kakinya dengan cukup lebar ke arah Parkiran. Rian khawatir dengan keadaan Faika Sabrina Dwi Putri yang terpaksa lembur, karena Rian ingin berlama-lama dengan Faika di Kantor, tapi insiden kecil yang dialami oleh Kanaya, Kakak sepupunya sekaligus Mommy Camelia, dengan terpaksa meninggalkan Perusahaannya menuju Rumah Sakit.


"Ya Allah semoga tidak terjadi sesuatu pada Faika, karena tadi belum sempat makan siang, karena terlalu sibuk bekerja dan itu gara-gara Saya sendiri."


Rian mengusap wajahnya dengan gusar dan sangat khawatir dengan kondisi dari Faika tersebut. Rian ingin menelpon nomor ponsel Faika, tapi baterai hpnya lowbet.


Rian semakin mempercepat laju kecepatan mobilnya, hingga hanya butuh waktu 20 menit saja, mobilnya sudah terparkir dengan bebas di depan Loby Perusahaannya sendiri.


"Semoga saja Faika baik-baik saja."


Rian berlari hingga ke depan Lift, tapi ternyata liftnya tidak segera terbuka.


"Apa yang terjadi dengan tombol lift ini? tadi siang aman-aman saja."


Rian berlari ke arah lift khusus untuk karyawan, tapi hal sama juga terjadi pada Lift tersebut, problem yang sama pintunya dan tombolnya yang bermasalah.


"Tidak ada jalan lain, aku harus menggunakan tangga darurat untuk segera ke lantai 10, sebelum terlambat."


Rian segera menaiki undakan tangga satu persatu. Nafasnya sudah ngos-ngosan dan semakin memburu. Dan dengan penuh perjuangan, Rian pun akhirnya sampai ke Lantai 10 dengan penuh perjuangan yang sungguh ekstra kerja keras.


Rian segera berjalan ke arah ruangan khusus untuk Faika pakai selama jadi menejer. Rian Ingin memutar kenop pintu tersebut, tapi tidak bisa terbuka, Rian pun memeriksa keadaan di dalam ruangan dari celah tirai garden. Keadaan ruangan yang kosong melompong membuat Rian semakin. Rian melihat tubuh Faika yang tergeletak di atas Lantai keramik.



"Apa yang terjadi padamu sayang, Maafkan Mas, ini semua gara-gara Mas yang membuat kamu jadi seperti ini."


Rian kembali berlari ke ruangan khusus tempat penyimpanan kunci cadangan. Dia menuruni beberapa tangga untuk sampai ke tempat tersebut, dan Rian membuka semua pintu lemari tersebut dan menggeledah hingga semua kunci cadangan berhamburan ke atas lantai. Untung saja setiap kunci sudah diberi kode sesuai ruangannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah ini dia kuncinya."


Rian kembali berlari ke arah pintu keluar dan segera membuka pintu itu. Dengan telaten dan kesabaran, akhirnya pintu itu sudah terbuka. Rian langsung jongkok dan berusaha menggendong tubuh Faika kedalam gendongannya ala bridal style.


"Suhu tubuhnya cukup panas, dan tubuhnya penuh dengan keringat dingin, semoga saja penyakit magnya tidak kambuh."


Rian segera mengemudikan mobilnya ke arah Apartemen pribadinya, hanya rencana itu yang terlintas dalam benaknya. Rian menyandarkan tubuhnya Faika ke kursi penumpang di samping kemudi mobilnya.


"Kamu harus kuat dan bertahan."


Rian mencharger hpnya yang sudah lowbet total. Rian ingin menelpon dokter pribadinya untuk segera datang ke Apartemennya. Malam yang sudah larut, sehingga suasana jalan protokol ibu kota Jakarta terbilang cukup lengang dan tidak ada kepadatan kendaraan yang bisa berakibat kemacetan yang panjang padat merayap. Sehingga mobil yang dikendarai oleh Rian melaju dengan mulus membelah jalan ibu kota.


Hanya butuh beberapa menit saja, mobil itu sudah memasuki area Apartemennya. Rian kembali menggendong tubuh Faika dan segera berjalan ke arah Lift. Rian semakin ngos-ngosan dibuatnya. Sedari tadi tidak beristirahat sedikit pun. Tanpa pikir panjang lagi Rian masuk ke dalam Lift saat pintu sudah terbuka dan tidak memperdulikan tatapan aneh dari mata orang-orang yang ikut menumpang di dalam Lift tersebut.


Ting...


Pintu terbuka di lantai apartemennya berada. Rian sama sekali tidak menggubris bisikan dari sebagian orang yang ada. Yang ada di dalam pikirannya, gimana caranya bisa sampai dengan cepat ke dalam kamarnya, hingga segera menelpon dokter pribadinya.


Rian membuka kunci Apartemennya menggunakan password yang kebetulan itu adalah tanggal lahir dari Faika, Rian membaringkan tubuh Faika lalu membuka sepatunya Faika dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati bagaikan sebuah kaca porselen yang jika tidak berhati-hati bisa pecah dan hancur berkeping-keping.


"Tunggu dulu, Mas akan menelpon dokter Lukman untuk segera ke sini."



Kamar tidur yang didesain khusus untuk pria itu sekarang menjadi tempat peristirahatan Faika sementara waktu. Rian yang sudah mengkhawatirkan dan mencemaskan keadaan dari Faika sampai-sampai tidak sempat untuk mengganti pakaiannya yang sedari siang dia pakai.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di dalam rumah sederhana milik Faika, ibu Suharti mondar-mandir di depan rumahnya menunggu kepulangan putri sulungnya, yang sudah jam 12 malam belum pulang juga.



Fatimah yang sudah diberikan mandat oleh ibunya itu, segera menelpon nomor hp kakaknya, tapi tidak tersambung.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan," hanya operator seluler yang menjawab telponnya Fatimah Zarah Zalita adik bungsu Faika.


"Tidak aktifki nomornya ibu, berapa kalimi juga aku telpon, tapi tidak nyambungki," jawabnya.


"Khawatirku deh sama kakakmu Faika, Fahira juga terpaksa menginap di rumah temannya karena banyak tugasnya, sekarang Faika kakakmu yang belum ada informasi apa pun darinya."


"Janganki terlalu khawatir, insya Allah baik-baikji semua kakakku, kita doakanmi yang terbaik untuk mereka."


Ibu Suharti tidak ingin masa lalu dan kenangan buruk terulang lagi pada ke dua putrinya, cukup ujian yang pernah dihadapi oleh Fahira kala itu, yang membuat mereka harus meniggalkan kampung halamannya Butta Pangrannuanta' menuju ibu kota Jakarta. Mereka memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya yang ada di Sulsel, karena mereka cukup malu dengan perbuatan dari keluarga mereka sendiri yang membocorkan dan menjadikan bahan gosip masalah yang dihadapi oleh Fahira ke khalayak umum untuk putri ke duanya.


Baru saja Ibu Suharti dan Fatimah membuka kenop pintu rumahnya, ponselnya Fatima kembali. Ibu Suharti menatap ke arah anaknya.


"Siapa itu yang menelpon?"


"Bukanji orang menelpon, tapi ada pesan chatku masuk," tuturnya.


"Kalau begitu, cepatki nak bukaki pesannya, sempat itu dari Faika," harapan ibu Suharti.


Fathimah pun langsung membuka pesan tersebut.


"Fatimah, tanyaki Mama bilang saya menginap di rumahnya teman kerjaku, karena banyak sekaliki kerjaanku kodong."


Fatimah membacakan isi pesan dari kakaknya dengan suara yang nyaring dan sedikit besar.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalau baik-baikji kakakmu."


"Iye, tapi lowbetki hpnya beng Bu, jadi kadang tidak aktifki kalau ditelponki nomor hpnya," jelas Fatima.


"Ayokmi pale, kita masuk dingin sekali udaranya di luar Bu."


Fatimah merangkul tubuh ibunya itu ke dalam rumahnya.


"Janganki terlalu banyak pikiran, tidak baikki untuk kesehatanta', kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, insya Allah mereka akan selalu dilindungi oleh Allah SWT."


"Amin yra."


Di dalam kamar apartemen yang mewah itu, dokter Lukman sudah hadir di tengah-tengah mereka. Dokter Lukman pun sudah mulai memeriksa keadaan dan kondisi dari tubuh Faika yang masih terbaring lemah di atas ranjang king size-nya.


"Apa yang terjadi padanya Dok?"


Dokter Lukman menyimpan kembali peralatannya ke dalam tas kerjanya, sebelum menjawab pertanyaan dari Rian yang sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.


"Magnya kambuh, kemungkinan besarnya dia belum makan sehingga tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya yang membuatnya drop dan pingsan seketika," ungkap Dokter Lukman.


"Alhamdulillah kalau begitu Dok, minumkan obat ini setelah dia makan dan empat jam kemudian minumkan lagi dan Kamu jangan terlalu kwatir dengan keadaannya, dia hanya sakit ringan saja, tidak ada yang perlu Kamu risaukan."


"Makasih banyak Dok."


"Sama-sama," ucap dokter Lukman sambil menepuk lengan Rian.


Rian mengantar dokter Lukman sampai ke depan pintu apartemennya.


"Sebaiknya Aku masakkan bubur dulu sebelum dia bangun, pasti dia akan suka bubur ayam buatanku seperti dahulu."


Rian masuk ke dalam kamar khusus tempat kamar ganti pakaiannya.



Dan bergegas untuk membersihkan terlebih dahulu seluruh tubuhnya lalu memakai pakaian rumahan saja. Rian mandi secara kilat saja, karena tidak ingin jika Faika terbangun dari tidurnya, dalam keadaan lapar. Rian memeriksa bahan-bahan makanan yang ada di dalam lemari pendinginnya. Dan yang ada hanya bahan makanan untuk buat mie goreng saja.


"Lupa kalau belum sempat belanja untuk kebutuhan makanan di sini."


Rian hanya tersenyum melihat isi kulkasnya itu. Rian pun berkutat dengan berbagai peralatan dapurnya dan sambil menunggu bubur yang dia buat itu matang, Rian mengolah bahan makanan untuk membuat mie goreng Cina. Apron sudah terpasang dengan pas di tubuhnya.


Faika terbaring lemah, sedangkan Fahira sudah merasa baikan setelah meminum vitamin khusus untuknya.


...........


Kira-kira nasib mereka akan seperti apa ke depannya so pantengin terus saja Updatenya untuk mengetahui apa yang akan terjadi dengan mereka.


Jangan Lupa biasakan setelah membaca untuk menekan tombol like setiap Babnya, dan ditunggu masukannya 🙏


Mohon maaf jika revisi novel ini butuh waktu lama, jadi harap maklum dengan kondisi othor yang belum punya waktu luang untuk revisi lagi ✌️.


Dan dalam novel ini ada beberapa dialognya yang menggunakan bahasa Makassar. Semoga mudah untuk memahaminya.


...********Bersambung********...


by Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, Minggu, 22 Mei 2022


__ADS_2