
Selamat Membaca..
Kuatkan lah dirimu. Memang sekarang semuanya tidak mudah, Tapi kehidupan tidak mungkin seluruhnya sulit, jadi bersabarlah.
Duhai engkau sang belahan jiwa
Namamu terukir dalam pusara
Di setiap langkahku selalu berdoa
semoga kita bersama
Duhai engkau tambatan hatiku
Labuhkanlah cintamu di hidupku
Ku ingin kau tahu betapa merindu
Hiduplah engkau denganku
Dengarkanlah
Di sepanjang malam aku berdoa
Bersujud dan lalu aku meminta
Semoga kita bersama
Dengarkanlah
Di sepanjang malam aku berdoa
Cintaku untukmu selalu terjaga
Dan Aku pasti setia
Cinta itu sederhana, jika cinta maka setialah. Jika tak sanggup untuk setia, maka pergilah. Janganlah kita menua dengan sia-sia.
Rian, Faika dan Mami Marissa sudah mencicipi dan menikmati lezatnya hidangan yang disajikan oleh pramusaji restoran seafood tersebut. Mereka menikmati makanan tersebut hingga tidak yang tersisa.
"Makanan di Restoran ini lezat yah Fa, Kapan-kapan kita ke Sini lagi," ucap Mami Marissa yang mencoba untuk mencairkan suasana di antara mereka.
"Iya Mi, betul sekali apa yang Mami katakan dan harganya juga terjangkau gak mahal amat bahkan cita rasa rasanya tidak kalah jauh dengan Restoran Bintang 5," timpal Rian.
Faika hanya sesekali tersenyum dan tidak berniat untuk menanggapi perbincangan antara ibu dan anak itu.
"Entah kenapa semakin Aku ingin menghindari Mas Rian, kenapa meski semakin mendekat bahkan perasaan yang aku rasakan semakin kuat dan tidak bisa aku buang."
"Di mataku, Kamu adalah perempuan yang teristimewa dan tercantik yang pernah aku temui di dunia ini hingga akhir waktuku."
Hingga suara dari seseorang yang mampu mengganggu kegiatan mereka yang saling berpandangan. Mami Marissa sesekali mencuri pandang ke arah mereka berdua.
"Faika Sabrina Dwi Putri kan?" tanya orang itu
Teriakan dari orang itu membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.
Wajah Faika langsung berubah masam dan sedikit marah karena kedatangan orang tersebut yang tidak diharapkan sama sekali oleh Faika.
__ADS_1
"Hey Faika sombongnya mo mentang-mentang jadi orang Jakartami," ucap Firda sepupunya Faika dari bapaknya.
Ibu Marissa ikut ilfeel melihat cewek yang berada di depannya itu.
"Maaf Anda siapa yah, dan sepertinya Kami tidak mengenal Anda," ucap Rian.
"Cakepna ini cowok, sepertinya cocok sekali denganku, sudah ganteng dan kalau dilihat-lihat dari pakaiannya pasti anak sultan."
Firda senyum-senyum gak jelas dihadapan Rian yang membuat Rian jadi dongkol
"Kenalkan Saya sepupunya Faika dari Makassar, satu kampungnya Faika," jelasnya.
Firda mengulurkan tangannya ke arah Rian, tetapi Rian sama sekali tidak menghiraukan uluran tangannya Firda dan hanya melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Firda sangat kecewa dan terpaksa tidak berhasil menyentuh tangannya Rian yang halus bagaikan jemari seorang gadis saja.
Firda lalu mendekati Faika dan membisikkan sesuatu.
"Fa kenalkanka dulu sama teman mu nah," bisik Firda yang masih mampu terdengar suaranya hingga ke telinga Rian.
Rian hanya tersenyum sinis ke arah Firda. Rian sangat paham betul tipe dan karakter cewek yang seperti Firda.
"Pak Rian kenalkan Firda adalah Kakak sepupuku, dia putrinya Paman Faika," terang Faika yang sedikit tidak ikhlas.
Tapi lagi-lagi Rian tidak menyambut uluran tangan Firda untuk ke dua kalinya. Bahkan Rian terkesan jutek dan memperlihatkan kembali wajah dinginnya yang sedatar papan itu.
"Maaf kita bukan muhrim," ucap Rian.
Ibu Marissa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putranya.
Faika pun diam-diam tersenyum melihat raut wajahnya Firda yang sangat kecewa.
"Minta maafka na Firda begitu memangki Bosku kalau ada Orang yang baru na lihat jadi jangan dimasukin dihati," ucap Faika.
"Iye tidak apa-apaji, Faika besok aku boleh kerumahmu jalan-jalan?" tanya Firda yang masih berdiri di depan mereka, tidak ada yang berniat untuk menyuruhnya duduk.
"Iye datangmi saja, kutungguki itu di rumah, kebetulan besok liburka, tidak masuk kantorka," ucap Faika.
"Oke, pamitma dulu pale' Faika," ucap Firda dan langsung cabut dari sana dengan raut wajah yang sangat kecewa dan marah.
"Hati-hatiki Kak," ucap Faika setelah Firda meninggalkan mereka.
"Sepertinya kita juga pulang, sudah jam 9, besok kami akan datang melamar pacarnya Nathan,"
"Iye Mi, Faika juga sudah ngantuk dan lumayan pegal nih," ucap Faika sambil memijit pelan betisnya.
Rian yang melihat hal tersebut refleks berlutut di hadapan kaki Faika dan langsung memijatnya. Faika merasa sangat malu dengan perlakuan dari Rian, terutama kepada Mami Marissa yang tidak menyangka Putranya akan nekat bertindak seperti itu di depan khalayak umum.
Mami Marissa bahagia karena melalui hal itu agar hubungan mereka menjadi semakin dekat. Hanya perlakuan kecil seperti itu membuat benih-benih cinta di antara mereka perlahan tumbuh dan semakin besar tanpa Faika sadari.
"Pak jangan seperti ini, Faika malu dilihatin orang Pak," tolak Faika untuk segera menghentikan aktifitasnya Rian.
"Tidak usah risaukan pandangan dan tanggapan mereka selama kita tidak melakukan hal yang tidak baik dan tidak mengganggu mereka, jadi cuekin saja mereka tak usah digubris," ucap Rian yang masih memijitnya.
Pijitan yang dilakukan oleh Rian di betisnya membuatnya rileks dan lebih nyaman dari sebelumnya. Hal itu terlihat dari wajahnya Faika yang nampak sangat menikmati perlakuan Rian.
"So sweetnya mereka, Aku yakin mereka pasti pasangan pengantin baru," ucap Tamu yang ada di dekat mereka yang kebetulan kursinya tidak terlalu jauh dari meja Faika.
__ADS_1
"Iya romantisnya, Aku juga pengen punya suami seperti pria itu, tapi masih ada gak stok pria sepertinya?" timpal gadis yang ada di sampingnya.
Perkataan dari mereka mampu membuat Faika tersenyum penuh bahagia. Rian pun senang karena melihat senyuman manis dari Faika yang tulus dan cantik.
"Bagaimana Fa apa kaki Kamu sudah baikan?" tanya Ibu Marissa Nasution Kim.
"Alhamdulillah sudah baikan," jawabnya Faika sambil tersipu malu yang membuat semburat rona merah di pipinya.
Ibu Marissa semakin dibuat senyum-senyum melihat interaksi keduanya.
"Bahagianya hati ini jika kalian bisa segera menyusul untuk menikah seperti Nathan, Mami akan selalu berdoa untuk kebaikan dan hubungan kalian."
"Kalau kaki Kamu sudah baikan, yuk kita pulang, Mami juga sudah ngantuk," ucap Ibu Marissa lalu berjalan mendahului mereka.
Mereka berjalan menuruni tangga eskalator hingga ke tempat parkiran.
Faika malu karena selama di dalam Restoran tersebut menjadi perhatian dari beberapa pengunjung Restoran.
"Wajahmu sangat cantik jika sedang tersipu malu," ucap Rian yang mendekatkan wajahnya ke telinga Faika.
Faika yang refleks memalingkan wajahnya ke arah Rian tanpa mereka duga hampir saja bibir mereka bersentuhan secara tidak langsung.
Mata mereka saling bertatapan dan tidak satupun dari mereka yang berkedip deru nafas mereka saling memburu, debaran jantungnya pun berdegup kencang seperti genderang mau perang.
Rian memegang tengkuk leher Faika dan sedikit memiringkan kepalanya. Hidung mancung Rian sudah menyentuh hidung bangir Faika.
Rian semakin mengikis jarak mereka yang tersisa beberapa centimeter saja dan Rian menyentuh ujung bibirnya Faika dengan bibirnya hingga Rian pun mulai ******* bibir mungil yang kemerahan itu yang seperti buah delima itu. Mata Rian perlahan terpejam menikmati sentuhan lembutnya. Faika pun tidak mencegah atau melawan apa yang dilakukan oleh Rian padanya.
Rian semakin memperdalam ciumannya hingga kegiatannya terganggu dengan pukulan keras yang Dia rasakan sakitnya di punggungnya.
Rian pun membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya yang ternyata Faika sudah duduk manis di dalam mobilnya.
"Ya ampun ternyata itu semua hanya mimpi, tapi Saya cukup bahagia walaupun itu hanya khayalan yang entah kapan akan terwujud."
Mobil mereka perlahan meninggalkan Mall tersebut. Mereka terlebih dahulu mengantar Faika untuk pulang ke rumahnya, perlahan mobil mereka sudah memasuki area perumahan Faika.
"Makasih banyak Pak, Mami singgahmi dulu di rumah," ucap Faika saat sudah berdiri di samping mobil.
"Iya sayang, makasih banyak lain kali saja sudah malam soalnya," ucap Mami Marisa yang menolak secara halus ajakan Faika.
"Hati-hatiki di jalan, Pak Rian jangan ngebut bawa mobilnya,"
"Siap sayangku," ucap singkat Rian, yang mampu membuat Faika mematung di tempatnya dan langsung tersipu malu.
"Assalamu alaikum," ucap salam Ibu Marissa.
Mobilnya sudah meninggalkan pekarangan rumahnya sedangkan Faika masih setia mematung ditempatnya dan bahagia mendengar perkataan dari Rian.
Makasih Banyak atas Dukungannya kepada Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar 🙏.
Sekedar informasi ada beberapa dialognya dalam novel ini yang menggunakan bahasa Makassar, semoga mudah untuk dipahami.
Silahkan berikan saran, masukan dan Kritikan kalau bisa Komentnya lewat Japri atau PC saja biar lebih terasa hingga ke hati dan lebih ufdol he-he-he 🤭.
by Fania Mikaila AzZahra
Makassar, Jum'at, 27 Mei 2022
__ADS_1