
Selamat Membaca..
Faika tidak menerima keputusan sepihak yang diambil oleh Pak Ridwan selaku atasannya. Faika merasa dia sengaja diberikan perintah untuk mengikuti meeting bersama Presdirnya.
"Ya Allah bukannya aku tidak bertanggung jawab pada pekerjaanku atau pun sengaja tidak mengikuti perintah dari Presdir, tapi aku merasa mereka sengaja memberikan tugas itu kepadaku dan juga Mas Rian kenapa sih harus aku yang menggantikan posisi Kak Sasa sama Farhan?".
Faika berjalan ke arah Lift dengan mulut yang komat kamit bagaikan seorang dukun yang membaca mantranya. Bahkan menghentak kakinya setiap kali melangkahkan kakinya.
"Ya Allah bukannya aku lari dari tanggung jawab atau pun tidak mematuhi peraturan yang ada, tapi jika semakin Aku dekat dengan dirinya maka cinta ini akan semakin tumbuh hingga aku tak mampu lagi untuk berlari dan mengjauh darinya".
Air mata Faika perlahan tapi pasti sudah menetes membasahi pipinya yang putih mulus itu.
"Kalau seperti ini terus, aku semakin sulit untuk bernafas dan seakan-akan duniaku sudah runtuh hingga hancur berkeping-keping".
Faika segera menghapus air matanya dan memperbaiki penampilannya sebelum masuk ke dalam lift. Orang-orang yang berpapasan dengannya hanya bisa melihat dan tidak ada yang berani berbisik maupun berkomentar. Jika ada yang berminat untuk berkomentar ataupun bergosip maka masa depannya yang akan menjadi taruhannya.
Faika sudah berdiri di dalam lift yang akan mengantarnya hingga ke lantai 12 tempat di mana letak ruangan pemilik perusahaan tersebut.
"Hay Fa!" ucap Sasa yang melihat Faika yang akan berjalan ke arah ruangan presdir.
"Assalamu Alaikum Kak Sasa" ucap salam Faika di hadapan Sasa.
"Waalaikum salam" jawab Sasa cengengesan.
"Bapak Rian ada Kak Sa?, oiya tadi Pak Ridwan bilang Kakak Sasa hari ini gak masuk!" Ucap Faika.
"Awalnya emang rencana Aku ingin of hari ini, tapi oak Presdir menyuruhku masuk walaupun terlambat" jawab Sasa.
"Oohh gitu yah, kalau gitu aku pamit masuk dulu kak" ucap Faika yang berjalan lunglai ke arah ruangan Rian.
Faika awalnya ragu untuk memutar kenop pintu tersebut, karena terlalu banyak pertimbangan yang muncul tiba-tiba di dalam pikirannya.
"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Faika lalu memutar kenop pintu itu.
Awalnya pintu itu hanya terbuka setengah saja, tapi karena Faika penasaran dengan pemilik suara itu akhirnya Faika membuka pintu lebih lebar lagi.
Faika dibuat tercengang dengan apa yang dia lihat barusan, matanya melotot dan tidak berkedip sedikit pun hingga dia mematung di tempatnya.
Rian yang sedang memangku Camelia sedangkan Kanaya Mami dari Camelia menyuapi makanan ke mulut Putrinya.
"Sungguh keluarga yang bahagia, bagaimana mungkin hadir di antara mereka dan harus menghancurkan kebahagiaan itu".
__ADS_1
Faika memutar badannya dan menutup pintu ruangan itu. Hatinya sangat hancur melihat kebersamaan Rian dengan keluarga kecilnya. Air mata itu tak terasa membasahi pipinya. Faika terus berjalan kembali ke ruangan kerjanya tanpa memakai Lift.
Faika berjalan melalui tangga darurat. Faika tidak menyadari apa yang dia lakukan saat itu. Hanya air mata yang mampu ia keluarkan, bibirnya keluh untuk berbicara sepatah kata pun. Faika menangis tersedu-sedu di dalam ruangannya.
"Apa lagi yang aku harapkan, tidak mungkin aku hadir diantara mereka yang sangat bahagia, piciknya aku jika aku jadi duri dalam rumah tangga mereka, tapi aku tidak sanggup untuk hidup tanpanya ya Allah, aku harus gimana lagi, Apa yang harus aku lakukan?".
Faika menumpahkan segala gunda gulananya lewat tangisannya, sedangkan Rian yang mengetahui kehadiran Faika hanya bisa terdiam seribu bahasa.
"Kalau kamu masih mencintainya kenapa kamu gak kejar Dia, jangan jadi cowok penakut gitu, buktikan pada dia kalau cintamu hanya untuk dia seorang" ucap Kanaya yang masih menyuapi makanan ke mulut Putrinya.
"Sulit dan itu tidak mungkin Kak, Faika sudah menikah dan Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang walau pun aku masih sangat mencintainya, apa pun akan aku lakukan asalkan dia bahagia walaupun dia bahagia bersama dengan pria lain" ucap Rian Alaric Kim.
"Kalau seperti itu jalan cerita kalian susah sih, sangat malah, mencintai tapi tidak bisa memiliki" ucap Kanaya.
"Kalau gak dapat gadisnya tunggu jandanya saja" ucap Kanaya lagi.
Rian memutar matanya jengah. Dan heran dengan perkataan dari sepupunya barusan.
"Kenapa lihat Saya gitu, emangnya ada yang aneh dengan perkataanku yah, banyak kok di luar sana yang kisah cinta seperti itu, jadi menurut aku sih bersabar saja karena tidak ada jodoh yang tertukar". timpal Kanaya.
"Benar juga yang dikatakan oleh Kanaya, Aku harus tetap bersabar dan setia menunggunya hingga batas usiaku, dan kalau kami ada jodoh pasti akan bersatu".
Untung saja meeting dengan klien dari Belanda diundur beberapa hari, karena ada beberapa hal yang membuat klien tersebut tidak bisa hadir memenuhi perjanjian mereka. Rian pun mengerti dengan alasan mereka, sehingga membuat kondisi Faika terbebas dari sorotan mata khalayak umum. Walaupun tidak akan ada yang berani bergosip melihat lingkaran matanya yang seperti panda, tetapi tetap Faika merasa malu hingga akhirnya memilih berdiam diri di dalam ruangannya dan menghabiskan waktu istirahatnya hanya di dalam ruangan itu. Makan siangnya pun hanya diantar oleh OG yang sebelumnya Faika sudah pesan.
Hingga malam pun datang, Faika sudah berada di dalam kamarnya dan melakukan beberapa treatment kepada wajah dan kulit tubuhnya m Terutama untuk menghilangkan bekas tangisannya. Untung saja saat pulang tadi hanya adiknya Fatimah Zarah Zalita yang melihatnya dalam kondisi yang seperti itu. Adiknya hanya menatapnya bingung tanpa berniat untuk bertanya. Faika pun mengistirahatkan tubuhnya dan terlelap dalam mimpi indahnya.
Pagi pun menyongsong, hiruk pikuk kehidupan di Kota kembali seperti biasanya. Matahari menyinari seluruh alam semesta dengan sinarnya yang sangat dibutuhkan oleh seluruh mahluk hidup yang ada di jagad raya.
Seperti hari-hari sebelumnya, Faika kembali berkutat dengan komputernya dan mulai hari ini Faika berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mencampur adukkan pekerjaan dengan urusan pribadinya. Faika akan terus belajar untuk melupakan dan menghapus rasa cinta yang ada untuk Rian.
Sudah Tiga bulan berlalu, selama Ibu dan adik-adiknya tinggal dan menetap di Jakarta. Fahira dan Fatimah sudah beraktifitas seperti biasa layaknya seperti yang mereka lakukan sewaktu tinggal di kampung halamannya di kab.Takalar.
Hari ini entah kenapa perasaan Fahira tidak enak, kepalanya sedikit pusing dan tidak bertenaga, tapi karena hari ini Dia ada jadwal kuliah sehingga mau tidak mau harus berangkat ke Kampusnya dalam keadaan yang kurang fit.
"Fahira kenapaki nak, baik-baikjaki?" tanya ibu Suharti yang cemas melihat anaknya yang wajahnya pucat pasi.
Karena tidak ingin membuat khawatir ibunya, Fahira terpaksa berbohong kepada ibunya itu.
"Iye, Alhamdulillah baik-baikja Bu, janganmi khawatir insya Allah Fahira bisa ke kampus". jawab Fahira yang menyembunyikan keadaannya.
Fahira sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, badannya terasa lemas dan loyo, kepalanya pusing berkunang-kunang dan tadi pagi sempat muntah sehingga tidak ikut makan pagi bersama keluarganya.
__ADS_1
"Kalau sakitki nak, janganmi dulu ke kampus, teleponmi saja temanmu untuk minta ijin" saran ibunya.
"Edede masa sakit kecil seperti ini harus tidak masuk kuliah Bu, insya Allah Fahira baik-baikji, jadi tidak usahmaki terlalu cemas, di manami bekalku Bu? nanti di kampus baru Saya makan" ucap Fahira Febrina yang berusaha untuk meyakinkan ibunya agar tidak khawatir dengan keadaan putri keduanya itu.
"Kak Faika ikutka di mobilta' nah, kebetulan mauka dulu singgah di toko buku,ada buku yang mau kucari" ucap Fahira.
"Kalau kamu Fatimah mau ikut kakak atau naik ojol saja, mumpung Kakak tidak buru-buru ke kantor jadi bisaji ku antarki sampai di sekolahmu" saran Faika kepada adik bungsunya.
Faika sebenarnya anak kedua dari empat bersaudara, tetapi anak pertama ibu Suharti meninggal saat masih berusia 3 bulan karena sakit. Sehingga Faika diberi nama Faika Sabrina Dwi Putri.
Mobil Faika pun meninggalkan halaman rumahnya. Ibu Suharti sangat khawatir dengan kondisi Putri keduanya yang memaksakan diri berangkat ke kampus Walaupun dalam kondisi yang tidak sehat.
"Ya Allah semoga dugaan ku tidak benar, takutka ya Allah jika apa yang ku khawatirkan menjadi kenyataan dan pasti hal itu akan menjadi masalah dalam hidupnya anakku kodong".
...............
Kekhawatiran ibu Suharti akan terjawab di bab selanjutnya, apa akan terjadi atau hanya rasa cemas yang berlebihan.
Yang penasaran dengan kelanjutan kisah mereka yuk pantengin saja kisah perjalanan dan lika liku kehidupan anak-anak dari ibu Suharti.
NB:
*Setiap Aku buat Novel MC/Pemeran dalam Novelku itu tidak hanya satu dari alurnya juga tidak hanya akan bercerita tentang kehidupan Tokoh Utamanya saja atau pun hanya satu atau Dua orang yang sering muncul dalam novel ini, tapi Saya buat ceritanya dari berbagai Tokohnya, jadi jangan ada yang berkomentar yang tidak mengerti dengan maksud dari jalan ceritanya. Karena itu lah Saya tidak pernah membuat novel yang judulnya memakai nama orang.
MAKASIH BANYAK YANG SUDAH MAMPIR UNTUK BACA NOVEL RECEHKU, INI SEMOGA SUKA DAN BERMANFAAT DAN DALAM NOVELKU KALI INI ADA BEBERAPA DIALOG YANG MENGGUNAKAN BAHASA MAKASSAR, SEMOGA MUDAH UNTUK DIPAHAMI*.
Tetap Dukung Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar dengan Cara:
LIKE Setiap Episodenya
Rate Bintang 5
Favoritkan.
MAKASIH BANYAK 😍
...********Bersambung********...
By Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Kamis, 19 2022
__ADS_1