
Selamat Membaca..
Setelah mendapatkan informasi tentang siapa perempuan yang bersamanya malam itu, Nathaniel melanjutkan perjalanannya dari Malino Kabupaten Gowa menuju kabupaten Takalar.
Nathan berharap perjalannya kali ini membuahkan hasil yang baik sesuai yang dia inginkan.
"Ya Allah hamba mohon permudahkan lah langkahku untuk mengetahui dan bertemu dengan perempuan malam itu, Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat dan Maafkanlah segala dosa-dosaku ini".
Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena kondisi jalan yang dia lalui terbilang padat. Kurang lebih lima jam perjalanan yang Nathan tempuh hingga sampailah dia depan SMA negeri 3 Takalar Sulawesi Selatan.
Nathan berbincang-bincang dengan Kepala keamanan sekolah tersebut dan berhasil bertemu dengan pihak guru atau wali kelas yang dia Cari. Dari wali kelas tersebut Nathan berhasil mendapatkan informasi dari empat Siswi yang menginap di kamar nomor 3 Penginapan Villa Highland.
Nathan mengucapkan terima kasih banyak kepada Wali kelas tersebut dan pamit untuk melanjutkan pencariannya.
"Sama-sama pak" jawab Ibu Maryam.
Nathan kembali berjalan dan singgah sebentar untuk mengucapkan Makasih Banyak kepada Pak Suardi.
Setelah dari sekolah tersebut Nathan mendatangi satu persatu rumah murid yang kemungkinannya mendapat dompet Nathan yang dua cari sekaligus untuk bertemu dengan perempuan itu.
Tapi dari dua Siswi tersebut bukan cewek yang dua cari. Nathan kembali menelpon nomor hp Winda tetapi tidak diangkat walaupun telponnya tersambung.
"Mungkin sebaiknya Aku langsung saja datang ke rumahnya karena sedari sudah aku telpon, tapi tidak diangkat juga".
Jarak dari rumah Hasmiah dengan Rumah Winda cukup jauh, tapi tidak menyurutkan niat dan semangat Nathan untuk mengetahui siapa sosok perempuan itu.
"Bismillah semoga berhasil".
Nathan kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Winda. Nathan melewati hamparan sawah yang menguning. Padi dari sawah tersebut siap untuk dipanen. Perjalanan yang ditempuh Nathan cukup jauh dan pemandangan di sisi jalan yang dilaluinya membuatnya rileks dan tidak tegang seperti awal kedatangannya ke Butta Panrangnuanta'.
Nathan bertanya kepada masyarakat yang kebetulan berjalan di pinggir jalan tersebut yang dilaluinya. Dan berkat informasi ibu-ibu itu sekarang Nathan sudah memarkirkan mobilnya di sekitar rumah Winda. Di depan rumah Winda sudah terpasang tenda dan pelaminan. Janur kuning sudah melambai-lambai.
"Semoga saja bukan Winda gadis malam itu, kalau dia berarti harapanku sudah musnah untuk bertanggung jawab atas perbuatanku padanya".
Nathan berjalan ke arah pintu masuk tempat acara tersebut. Dan menjadi pusat perhatian. Siapa pun yang melihat pasti akan menganggap Nathan adalah artis dari Ibu kota dengan postur tubuh yang atletis tinggi, kulit putih bersih, mata yang sedikit sipit hidung mancung yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang berada di sekitar lokasi pesta.
Nathan bertemu dengan Paman Winda dan meminta tolong agar segera diijinkan untuk bertemu dengan Winda sang calon mempelai wanita. Pak Dodi selaku Paman dari Winda pun mengantar Nathan hingga ke dalam kamar pengantin Winda.
Nathan terpaku ditempatnya Ketika melihat Winda yang sudah memakai pakaian pengantinnya dengan riasan dan polesan make up yang sangat cantik. Dengan balutan pakaian pengantin khas suku Makassar membuat Winda menampakan aura pengantinnya.
__ADS_1
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" ucap Winda yang berhasil membuat Nathan kembali ke dunia nyatanya.
"Eeeh iya, Maaf sudah ganggu" jawab Nathan.
"Kalau saya lihatki sepertinya bukanki orang asli Takalar" ucap Winda lagi.
"Oohh iya" jawab singkat Nathan.
"Kalau begitu dudukkki dulu baru kita utarakan niatta' datang ke Sini" ucap Winda.
Nathan langsung mengikuti arahan dari Winda dan duduk di kursi plastik yang kebetulan ada di dalam Kamar pengantin itu. Sedangkan beberapa keluarga Winda masih setia duduk di dekat Winda. Karena tidak mungkin meninggalkan mereka berdua saja dalam ruangan yang tertutup.
"Maaf sudah ganggu, saya ke sini hanya ingin bertanya sesuatu yang sangat penting dan saya berharap kamu bisa membantuku" terang Nathan.
"Iye silahkan bicaramaki, Kalau saya tahu pasti ku tanyaki itu" ucap Winda lagi.
"Apa Adek pernah lihat dompet ini?" Tanya Nathan sambil memperlihatkan sebuah foto dompetnya ke hadapan Winda.
Winda pun mencoba mengingat terakhir kalinya di mana kira-kira dua melihat dompet cokelat itu.
"Oooh pernahka lihatki itu dompet di dalam tasnya temanku Kalau gak salah tas selempangnya Fahira" ucap Winda dengan yakin.
"Tapi sayang terlambatki datang Kak, ini temanku yang bernama Fahira ikutki kakaknya pergi di Jakarta baru sebulan yang lalu" terang Winda.
Raut wajah Nathan yang awalnya antusias sekarang berubah sendu dan patah semangat. Winda yang melihat hal itu langsung berbicara lagi.
"Tapi Janganki khawatir adaji nomor hpnya sama Saya untuk memudahkanki cariki Fahira Febrina di Jakarta, ka tidak kutahupi di manaki tinggal di Jakarta" ucap Winda.
"Ga apa-apa Adek kasih nomor hpnya saja" ucap sendu Nathan.
"Tabe' ini nomor hpnya Fahira" ucap Winda lalu menyodorkan sebuah kertas yang berisi nomor hp Fahira.
Nathan segera meraih kertas tersebut dan langsung menyalinnya ke dalam kontak hpnya itu. Nathan pun pamit setelah berhasil mendapatkan nomor hp Fahira.
"Makasih banyak Dek, dan Maaf sudah ganggu Aktifitasnya" ucap Nathan lalu berjalan ke arah luar dan bergegas menuju mobilnya.
"Gantengnya kayak artis dari Thailand itu yang main di film apa lagi aih ku lupami" ucap Sepupunya Winda. Perkataannya itu masih mampu di dengar oleh Nathan walaupun sudah sayup-sayup.
Nathan mencoba menghubungi nomor handphone Fahira dan Nathan tersenyum melihat foto dp whatsshap Fahira. Nathan langsung terpesona hanya melihat wajah Fahira dari fotonya saja.
__ADS_1
"Cantik".
Nathan mencoba berkali-kali untuk menghubungi nomor handphone Fahira tapi tetap tidak tersambung dan selalu berada di luar jangkauan. Hanya operator seluler yang menjawab telpon dari Nathan.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan tinggalkan pesan setelah nada bit berikut ini".
Nathan kecewa dan langsung refleks memukul setir mobilnya.
"Ya Allah kenapa Aku susah sekali untuk bertemu dengannya, tapi Aku tidak akan menyerah dan akan terus mencarinya hingga ke ujung dunia pun aku akan jabanging".
Nathan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalan yang dilaluinya terbilang sepi dan aman. Nathan memutuskan untuk kembali ke Ibu kota Jakarta dan melanjutkan pencariannya di sana.
Karena sudah larut malam ketika sampai di Kota Makassar kota dengan julukan angin mammirik itu dan melajukan mobilnya ke Hotel Clarion yang ada di jalan Andi Pangerang Pettarani Makassar.
Nathan setelah cekin buru-buru berjalan ke arah Lift dan bergegas menuju kamarnya. Nathan sudah sangat lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya karena seharian full berada di balik kemudi mobilnya.
Nathan membersihkan seluruh tubuhnya yang terasa lengket dan hanya handuk saja yang sebatas lutut yang melindungi dan menutup sebagian tubuhnya terutama aset berharganya itu.
Masih sangat sepi dari pembaca tapi tak apa lah semangat 45 untuk terus Update dan kejar target bulanan tetap jalan, gas foll..
*FANIA UCAPKAN TERIMA KASIH BANYAK KEPADA READERS YG SUDAH MAMPIR MEMBAWA LIKE DA MEMBERI MASUKAN UNTUK NOVEL RECEHKU INI 🙏
Maaf jika selalu ada saja kesalahan dalam pengetikan dan penulisan cerita ini 🙏.
NB:
Maaf Novel ini masih dalam tahap Revisi ulang tapi revisinya bertahap dan sangat lambat karena butuh waktu luang apa lagi Fania ada tiga novel yang on ongoin setiap hari Update 🙏.
...*********Bersambung*******...
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Rabu 18 Mei 2022*
__ADS_1