
Selamat Membaca..
Faika yang sudah tidak sadarkan diri di dalam ruangannya segera mendapatkan pertolongan pertama dari Rian, yang kebetulan datang ke Perusahaannya.
"Maafkan Mas sayang, semua ini gara-gara Mas yang sudah memberikan kamu pekerjaan yang banyak, maaf Mas tidak bermaksud seperti itu."
Rian segera menggendong tubuh kecil Faika ke dalam gendongannya. Rian tidak ingin membawa ke Rumah Sakit terdekat, dan kebetulan RS DA yang paling terdekat dari Perusahaannya, karena Rian tidak ingin Maminya tahu apa yang sedang terjadi.
Rian pun membawa Faika ke Apartemen pribadinya. Dan segera memanggil Dokter pribadinya agar Faika segera mendapatkan pertolongan pertama dan penyakitnya segera diobati.
Beberapa saat kemudian, Dokter pun sudah pulang, tinggallah mereka berdua saja, Faika yang sedang tertidur pulas, sedangkan Rian masuk ke dalam kamar mandinya dan segera membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket akibat berkeringat yang berlebihan.
"Faika belum makan, apa aku masakin bubur saja yah, bubur Ayam kesukaannya dengan topping daun bawang dengan irisan bawang goreng."
Rian pun berjalan ke arah dapurnya dan bersiap untuk memasak masakan yang sudah direncanakan. Rian pun berjalan ke arah lemari pendingin lalu membuka pintunya. Isi dari dalam kulkas tersebut membuat Rian tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Lupa kalau minggu ini belum sempat suruh Anjas untuk belanja, jadi gini nih jadinya, tapi untung masih ada bahan untuk buat bubur Ayam, ada mie sama sayuran kayaknya enak dibuat mie goreng Cina, kebetulan perut juga minta diisi nutrisi makanan.
Rian memakai celemek yang nampak pas ditubuhnya, lalu membersihkan bahan-bahan yang akan dijadikan bubur ayam, setelah beras sudah di dalam panci, Rian membersihkan ayam dan merebus terlebih dahulu ayamnya. Setelah proses yang lainnya selesai dan bahan bubur sedang dimasak, Rian beralih membersihkan bahan-bahan untuk membuat bakmie goreng atau mie goreng Cina. Pertama-tama Udang, cumi-cumi dibersihkan terlebih dahulu, lalu dikupas kulitnya sedangkan cumi-cumi dibuang tintanya, agar tidak merubah warna mie tersebut tidak hitam, kemudian menumis bumbu halus hingga harum dan matang lalu masukkan udang, potongan cumi-cumi, lalu ayam yang sudah setengah masak tadi, sisa dari campuran Bubur, lalu masukkan bakso serta sosis serta sayuran hijau yaitu sawinya dan yang terakhir adalah mienya yang sudah direndam air panas mendidih sehingga bagian paling terakhir adalah mie.
Wangi dari aroma masakan Rian tercium ke seluruh pelosok ruangan apartemennya, tak terkecuali ke dalam kamar Rian yang sedari tadi Rian lupa untuk menutup rapat pintu itu, tujuannya karena jangan sampai Faika terbangun dan ingin berjalan ke arah luar dan pasti akan sangat sulit untuk membukanya, karena pintu itu menggunakan password untuk membukanya.
Dengan penuh perjuangan masakan pertamanya Rian sudah jadi, yaitu bubur ayam kesukaan Faika. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berselera makan, othor juga lapar lihat makanan yang tersaji di meja dapur Rian.
Masakan ke duanya pun hampir jadi, yaitu Bakmie goreng. Rian pun menata ke dalam piring besar bakmie yang berhasil dibuatnya dan tidak lupa menaruh topping diatas mie tersebut, yaitu irisan bawang goreng, daun bawang, tomat segar dan mentimun serta acar dan saus lombok sebagai pelengkapnya.
__ADS_1
Semoga Readers suka masakannya othor eehh salah yah hehehe.
Rian menaruh ke dua makanan itu ke dalam nampan lalu berjalan ke arah kamarnya. Faika masih tertidur nyenyak seolah-olah Faika sudah beberapa hari tidak tidur saja.
Rian duduk di samping Faika tepatnya di tepi ranjang king size-nya. Rian menyentuh dahi Faika.
"Alhamdulillah sudah tidak panas lagi, semoga segera bangun dan mengisi perutnya terlebih dahulu lalu lanjut tidur."
Waktu pertama kali, kulihat dirimu hadir, rasa hati ini inginkan dirimu dan ini tak tertahan. Hati ini akan selalu untukmu, tapi cintaku padamu sungguh luar biasa, Aku tak punya bunga dan tak punya harta. Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu.
Hari hari berganti, minggu berganti bulan, kini cintapun hadir, melihatmu dan memandangmu bagai bidadari.
Bulu kentik indah matamu, manis senyuman dibibirmu, hitam panjang rambutmu yang anggung terikat. Hati ini kan selalu untukmu.
Terimalah hati ini dari orang yang biasa, tapi cintaku padamu luar biasa, maaf aku tak punya bunga dan aku tidak punya harta.
Yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus padamu.
Rian mengambil bantal setelah merasa puas memandangi wajah cantik, dari cewek yang hingga saat ini masih dia anggap kekasihnya dan belahan jiwanya itu. lalu berjalan ke arah kursi panjang yang ada di dalam kamarnya di pojokan. Rian perlahan membaringkan tubuhnya, dan menopang tangannya di atas kepalanya, seakan-akan Rian sedang memiliki beban fikiran yang sangat berat dibenaknya.
Air mata Faika menetes membasahi pipinya, Faika menangis tersedu-sedu dalam diamnya.
"Ya Allah apa maksud dari perkataannya itu?"
Faika melirik ke arah Rian Alaric Kim yang sudah terlelap dalam tidurnya. Faika pun membuka matanya dan setelah merasa cukup aman, barulah Faika bangun dari tidurnya kemudian duduk di ranjang Rian.
Faika Sabrina Dwi Putri menatap ke sekeliling penjuru kamar tersebut yang sangat asing di matanya. Bahkan memutar tubuhnya saking penasarannya dengan keadaan dalam kamar itu yang sangat berbeda dengan Kamarnya.
"Apa mungkin aku sedang berada di dalam kamarnya, tapi kenapa bisa aku sampai di sini, terakhir yang aku ingat aku masih berada di dalam ruanganku di kantor, tapi tiba-tiba perutku sakit dan kepalaku juga ikut pusing, dan setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi."
Faika duduk termenung sambil berusaha mengingat kejadian itu. Tapi hasilnya masih sama hanya itu yang bisa dia ingat. Karena terlalu keras dan berusaha untuk mengingat beberapa kejadian itu, sehingga membuat perutnya berbunyi.
"Hehhehe ternyata lapar, belum makan sejak sore tadi, huuumm aromanya sangat menggoda dan menggiurkan, wanginya seperti bubur ayam dan mie goreng kesukaannku, tapi siapa yang masak, gak mungkin dia, tapi bisa jadi karena setahu saya dia jago masak waktu kami kuliah dulu, dan dahulu dia pernah masak masakan ini."
__ADS_1
Faika pun berdiri dan menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Faika langsung memeriksa kondisi dan keadaannya. Faika memeriksa seluruh tubuhnya dari atas hingga bagian bawah.
"Alhamdulillah, semuanya masih utuh, berati dia masih seperti dulu yang selalu menjunjung tinggi martabat dan menjaga kehormatan seorang perempuan, Aku sangat salut sama Kamu Mas, tinggal lama di luar negeri, tapi tidak membuat Kamu terpengaruh dengan pergaulan dunia barat."
Faika bangkit dari duduknya dan segera membuka penutup makanan yang wanginya sudah tercium hingga ke hidung bangirnya.
"Sepertinya sangat enak, ada bubur ayam plus krupuk dan sambalnya juga, bakminya juga nampak sangat enak, baru dilihat sudah kenyang apa lagi kalau kumakan pasti eeedd nikmatnya tak terkira nyammi pastimi"
Faika tidak perduli lagi jika Rian tiba-tiba bangun dari tidurnya dan melihatnya sedang lahapnya menikmati makanannya. Faika cuek saja dengan tanggapan dari Rian yang makan dalam porsi banyak, bahkan porsi makannya lebih banyak dari tubuhnya yang terbilang langsing dan slim.
Rian yang mendengar celotehan Faika pun terbangun dari setengah tidurnya, Rian pun mengikuti cara yang ditempuh oleh Faika yaitu berpura-pura tertidur dan diam-diam melihat Faika yang sedang makan.
"Masih seperti dahulu, tidak berubah bahkan kekuatan makannya malahan bertambah dari biasanya."
Rian tertawa terbahak-bahak dalam diamnya.
"Kamu semakin cantik saja, Aku tidak bisa seperti ini terus,Aku tidak mungkin menjadi perebut istri orang dan menjadi kehancuran antara Kau dan dia dan aku, itu tidak mungkin bisa aku lakukan, tapi aku tidak mungkin bisa mengjauh darimu atau pun harus berhenti untuk mencintaimu walaupun kamu sudah punya suami."
Rian yang sibuk dengan pemikirannya yang tidak mungkin terjadi dan Faika yang masih asyik menikmati makanannya dan tidak perduli dengan perkataan orang lain yang melihatnya rakus menghabisi semua makanan yang ada di atas piring dan mangkuk. Faika pun tidak sengaja bersendawa saking kenyang.
"Enaknya, kalau hari-hari dimasakin makanan selezat ini, mungkin aku bisa lebih cepat gemuk dan pakaiannya pasti banyak yang pensiun dini hehehehe."
Gurauannya itu didengar dengan baik oleh ke dua telinganya Rian.
"Kalau kamu istriku, kamu pasti akan merasakan setiap hari masakanku, tapi sayangnya itu tidak mungkin."
Fania Ucapkan Makasih banyak atas dukungannya terhadap Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar 🥰.
Dan dukung terus Novel Recehku dengan Cara LIKE, RATE BINTANG 5, dan FAVORITKAN.
Mohon maaf jika banyak terdapat typo atau kesalahan dalam penulisannya 🙏.
...****Bersambung****...
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahra
Makassar, Senin, 23 Mei 2022