TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR

TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR
BAB. 30. Tiba di Jakarta


__ADS_3

Selamat Membaca..


Faika beserta keluarganya meninggalkan kampung halamannya dengan sejuta kisah dan cerita, tempat dia dilahirkan dan dibesarkan dengan berat hati mereka tinggalkan, demi adik ke duanya Faika memborong semua anggota keluarganya untuk menetap dan tinggal di ibu kota Jakarta.


Ujian dan cobaan yang dihadapi oleh keluarga Faika tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa mereka akan mengalami hal itu. Tidak ada seorang pun manusia yang menginginkan hal buruk terjadi di dalam hidupnya sekalipun orang itu orang yang sudah tidak berakal sehat.


Faika dan adiknya mendapatkan hinaan dari bibinya sendiri serta caci maki Mereka dengar langsung dan dapatkan dari mulut keluarganya sendiri. Bukan orang lain yang menjelekkan mereka atau menggibah bahkan menyebarkan isu tidak sedap tersebut ke seluruh masyarakat di kampungnya, tetapi keluarganya sendiri yang melakukannya, tidak lain dan tidak bukan adalah adik kandung dari bapaknya sendiri.


Sedangkan keluarga dari Ibunya bergantian berdatangan ke rumah Sakit memberikan dukungan moril dan bantuan serta membesuk Fahira yang sedang sakit. Mereka bersyukur karena masih banyak orang yang baik kepada mereka.


Pesawat yang ditumpangi oleh mereka sudah meninggalkan kota angin mammirik, Kota yang selalu dia singgahi jika akan kembali ke kampung halamannya. Kota asal Coto dan pallu basa yang sudah terkenal kelezatannya hingga ke mancanegara.


"*Semoga di Kota Jakarta, adik dan ibuku bisa hidup lebih tenang dan nyaman tanpa ada lagi bayang-bayang masa lalu mereka yang menorehkan luka yang sangat mendalam".


"Maafkan pak, terpaksaka tinggalkanki rumahta' karena anakta' mendapatkan cobaan yang cukup berat dan meminta sama Ibu untuk meninggalkan rumah itu".


"Ya Allah siapa orang yang telah tega melakukan perbuatan tercela itu padaku kodong, bagaimanami itu kalau suatu saat nanti hamilka, siapami yang mau tanggung jawab*?".


Pesawat yang mereka tumpangi berhasil lending dengan sempurna di landasan pacuan bandara internasional Soekarno Hatta, Jakarta.


"Alhamdulillah sampaimaki di Jakarta" ucap syukur Faika.


"Ibu bangunmaq sampemaki di Jakarta" ucap Fatimah yang mencoba membangunkan ibunya.


"Serius sampemi di Jakarta?" tanya Ibu Suharti yang kebingungan karena baru bangun tidur.


"Iye, Alhamdulillah sampemaki dengan selamat di Jakarta" ucap Faika.


"Welcome Jakarta, akhirnya bisaja juga ke Jakarta, berasa mimpija kurasa ini" ucap Fatimah yang masih tidak percaya jika Akhirnya bisa juga ke Jakarta yang sedari dulu sudah ada di dalam agendanya Tapi baru kali ini ke sampaian lagi.


"Fatimah nulupami bilang pernahki lagi datang ke Jakarta, tapi naik kapaljaki, edede nalupami" ucap Faika kepada adiknya.


"Hehehe iye kulupai kodong hehehe" ucap Fatimah cengengesan. Fatimah memang orangnya kadang tulalit dan melupakan hal-hal penting yang pernah terjadi dalam hidupnya, tetapi kalau masalah akademik Alhamdulillah Fatimah selalu terdepan di dalam kelasnya.


"Iye pale' pernahki lagi datang, waktunya ujian kak Faika dulu" ucap Fatima.

__ADS_1


Fatimah sewaktu berumur 11 tahun pernah terjatuh dari motor saat dibonceng motor Oleh bapaknya saat pulang dari sekolahnya. Mungkin pengaruh jatuhnya itu yang langsung kepalanya yang terbentur di pembatas jalan, Fatimah sempat dioperasi ringan dibagian kepalanya akibat hantaman keras di bagian kepalanya itu dan dirawat di RS hampir setengah bulan lamanya.


Faika memesan taksi online dari aplikasi hpnya yang berlogo hijau itu untuk mengantar mereka hingga ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah Faika adik-adik dan ibunya mengagumi bentuk dan arsitektur bangunan rumahnya Faika yang menurut mereka bagus. Padahal rumahnya Faika ini terbilang murah saja.


"Rumahta'mi ini kak Faika?" tanya Fatimah yang tidak percaya jika rumah cantik itu adalah rumah pribadi milik Faika.


"Alhamdulillah iye, rumahku ini, semoga ki sukaji, dan maaf kecilki rumahku kodong". jawab Faika sambil mencari kunci rumahnya dari dalam tasnya.


"Siapa bilang kecilki nabesarki ini, kalau di bandingkan dengan rumah di kampung Pastimi kalahki rumahnya bapak, ibu bersyukur nak, karena kerja kerasmu sendiri nak, kamu bisa beli rumah" ucap Ibu Suharti yang bahagia dengan resky yang didapatkan oleh anak pertamanya.


"Ibu bisa saja, berkat do'ata' semua ini Saya bisa beli ini rumah" ucap Faika yang sudah berada di dalam rumahnya.


"We cantiknya kursita', enaknya lagi diduduki" ucap Fatimah yang heboh melihat perabot furniture dan kondisi rumahnya Faika kakak sulungnya.


"Alhamdulillah, bersyukur sekalima itu kalau kisukaji rumahku" timpal Faika.


"Edede Fatimah angkatmi semua dulu itu barang-barang baru dudukki Nak, tidak kasihanki sama kakakmu Faika yang angkat barang-barang?" Tanya ibu Suharti yang heran melihat reaksi dari putri bungsunya yang berlebihan menurutnya.


"Iye, siap Nyonya" ucap Fatimah yang mencontoh art seperti yang sering dia lihat di TV.


Faika dan ibunya hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah dari adiknya itu. Sedangkan Fahira setelah ditunjukkan oleh kakaknya letak kamarnya, Fahira langsung beristirahat karena sedikit kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh dari Makassar ke Jakarta.


Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing tanpa harus repot-repot dahulu untuk membersihkan seluruh ruangan rumahnya Faika, karena Faika menyewa seseorang yang bisa dipercaya dan bisa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tersebut selama Faika pulang kampung. Jadi rumahnya Faika terawat dengan baik dan bersih tentunya.


Karena kecapean mereka tertidur pulas setelah mereka shalat Dzuhur dan makan siang hingga menjelang magrib tiba, barulah mereka terbangun satu persatu dari tidurnya. Sedangkan Faika baru saja pulang dari supermarket terdekat dan singgah di pasar tradisional untuk berbelanja kebutuhan pokok sehari-harinya.


Kulkas sudah terisi dengan aneka macam makanan dan minuman serta bumbu dan bahan makanan yang sudah siap untuk diolah menjadi makanan yang lezat. Faika memasak makanan malam untuk mereka ketika ibunya datang menghampirinya.


"Apa kimasak nak?, harumna deh" ucap Ibunya Faika yang mengendus wangi aroma dari masakan putrinya.



"Masakan biasaji kapang ibu, sayur sup sama ayam goreng lalapan kubuat kesukaannya Fahira, sama ada juga ayam geprek kesukaannya Fatimah" jelas Faika yang masih memegang pisau dan sesekali membalik ayam yang dia goreng.


__ADS_1


"Laparma lihatki masakanmu Faika, kalau bapak ada pasti bahagia sekaliki Fa" ucap sendu ibunya Faika yang teringat dengan mendiang almarhum suaminya.



"Semoga ibu sama adik suka masakannya Faika, dan maaf cuma ayamji sama sayur apa adanya yang bisa kumasak, saya kalau lapar dan capekma dari kerja serba makanan jadiji kupesan atau singgahka di warung makan, tidak ada biasa waktuku kodong" tutur Faika.


Ada tiga jenis makanan yang berhasil dimasak oleh Faika yaitu, Sup ayam, ayam geprek dan ayam krispi.


"kiPanggilmi Fahira sama Fatimah Bu, tidak enakmi itu makan kalau dinginmi makanannya" ucap Faika yang meminta tolong dipanggilkan adiknya agar segera bergabung dengan mereka untuk makan malam.


Tidak lama kemudian, Fahira dan Fatimah sudah datang, mereka sudah mandi dan berganti pakaian.


"Enaknya itu deh kak Faika, kalau gini terus enaknya bisa-bisa cepatki naik berat badanku" ucap Fatimah yang langsung duduk dan mengambil beberapa makanan ke dalam piringnya.


Sedangkan Fahira lebih sedikit pendiam dari Fatimah yang memang cerewet dari dulu.


"Enaknya Bu masakannya bahkan na kalahkanki masakannya chef Juna sama chef Rudi" puji dari Fatimah.


"Iye, kak Faika enakki masakanta', kalau dibandingkan dengan ayam goreng krispi dari itu restoran yang ada gambar kakek berkacamatanya pastimi menangki rasanya ini" ucap Fahira yang akhirnya ikut bersuara.


"Masa sih, menurut kakak biasaji, atau jangan-jangan tidak enakji baru dibilang enak" ucap Faika yang wajahnya menampakkan ketidak percayaan dengan pujian dari Adiknya itu.


Faika pun menyendok makanan ke dalam piringnya dan membaca do'a makan sebelum mereka menikmati makanannya. Faika mencicipi sendiri hasil tangannya dan ternyata apa yang dikatakan oleh adiknya ternyata memang enak dan lezat.


Ibu Suharti kembali terharu melihat kebersamaan dari anak-anaknya itu, Tapi ibu Suharti tidak memperlihatkan hal tersebut dihadapan anaknya, karena tidak ingin merusak moments kebersamaan mereka yang sudah membaik setelah ujian berhasil mereka lalui bersama dengan sabar dan penuh keikhlasan.


"Lindungilah selalu putri-putriku dan jauhkanlah mereka dari segala marabahaya dan perbuatan tercela dari makhlukmu".


"Alhamdulillah kondisi adikku Fahira sudah membaik dan perlahan trauma yang pernah dialaminya pun berangsur-angsur pulih dan melupakan kejadian tersebut".


............ Bersambung..........


Semoga suka dengan novel receh Fania dan novel ini ada beberapa dialog dan percakapannya yang menggunakan logat dan dialek Bahasa Makassar.


Jangan Lupa untuk memberikan dukungannya kepada Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar 🙏 dengan cara Like Setiap Episodenya, Favoritkan Rate Bintang 5.

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Jum'at 13 Mei 2022


__ADS_2