
Selamat Membaca..
Nathan tidak memungkiri jika dirinya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Nathan pun tak menampik, jika mengenal Fahira Febrina gadis dari Kampung yang mampu mengalihkan dunianya, yang awalnya hanya terfokus pada Miranda seorang, sekarang sudah mulai membuka hatinya untuk cinta yang baru. Apa lagi Fahira adalah perempuan yang pernah bersamanya melewati malam yang begitu panas.
Fahira masih kebingungan dengan situasi yang terjadi yang ada dihadapannya. Karena seingatnya, kalau dia sedang berada di dalam toko buku dan sedang memilih buku yang dia inginkan.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan Nathaniel Sanjaya Park, Fahira bahkan sudah melupakan apa yang terjadi kepadanya hari ini. Kedatangan dan sikap dari Nathan mampu membuat Fahira terhibur dan lebih enjoy menikmati kebersamaan mereka selama di RS.
"Makasih banyak, bapak sudah menolongku, andai saja bapak tidak ada di Toko itu, Saya tidak tahu apami yang akan terjadi padaku kodong," ucapnya sendu.
"Santai saja, kita kan sesama manusia, jadi... wajarlah kalau kita saling membantu dalam kebaikan," ucap Nathan yang tersenyum manis ke arah Fahira.
Jantung Fahira langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Fahira dalam hidupnya tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta atau pun pacaran. Selama ini Fahira lebih fokus ke studinya dari pada bermain bersama sahabatnya bersama dengan temannya.
"Iye, kalau gitu, apa boleh saya tau! kita sekarang ada di mana?" tanya Fahira yang berusaha berbicara untuk tidak menggunakan dialeg Makassarnya.
"Kamu ada di rumah Sakit DA," jawab Nathan.
"Apa aku boleh pulang sekarang?
sekarang aku sudah baikan, aku tidak ingin membuat ibu dan kakakku khawatir denganku," ucap Fahira yang ingin beranjak turun dari ranjangnya.
Nathan yang sigap langsung berdiri dari duduknya dan mencegah apa yang ingin dilakukan oleh Fahira.
"Stop!, Kamu belum bisa pulang, karena keadaan Kamu yang belum memungkinkan untuk pulang," tutur Nathan.
"Terus apa yang harus Aku katakan kepada ibuku?, Aku tidak ingin membuat beliau khawatir dengan keadaan aku lagi," ucap sendu dari Fahira.
"Bagaimana kalau Kamu telpon mereka, dan bilang saja sama Ibu kamu, jika Kamu harus nginap di rumah temanmu untuk mengerjakan tugas yang tidak bisa ditunda, tapi jika kamu terima dan setuju dengan alasan yang telah Aku katakan, dari pada Ibu dan saudaramu yang lain ikut khawatir dan membuat mereka semakin cemas saja, yah jalan-jalan satu-satunya adalah berbohong demi kebaikan kamu juga," jelas Nathan.
"Benar juga apa yang dia katakan, takutka nanti khawatirki ibuku dan kakakku jika Saya berterus terang kepada mereka, dan hal itu tidak saya inginkan untuk terjadi,".
Fahira segera menelpon nomor ponsel ibunya.
"Assalamu alaikum, Bu minta maafka tidak bisaka dulu pulang, mungkin besokpi baru pulangka, soalnya ada tugasku yang harus kuselesaikan di rumahnya temanku," jelas Fahira.
"Waalaikum salam, iye nak tidak apa-apaji, kalau begitu jaga diri baik-baikki nak, dan jaga kesehatannya, tadi pagi kulihatki kayak pucatki wajahta' nak," jelas Ibu Suharti.
Nathan hanya melihat Fahira yang sedang berbicara dengan ibunya melalui telepon.
"Makasih banyak ibu, Iye saya akan turuti semua apa yang ibu katakan," ucap Faika.
"Lanjutmi pale' tugasnya nak, nanti terlambatki lagi selesai tugasnya, kalau bicara teruski," jelas Ibu Suharti.
"Saya tutupmi nah telponnya Bu, assalamu alaikum," ucap Fahira lalu mematikan sambungan teleponnya.
Matamu melemahkanku
Saat pertama kali kulihatmu
Dan jujur, ku tak pernah merasa
Ku tak pernah merasa begini
__ADS_1
Oohh mungkin inikah cinta pada pandangan yang pertama?
Kar"na apa yang kurasa ini tak biasa
Jika benar ini cinta, mulai dari mana?
Oohh, dari mana?
Dari matamu, matamu, ku mulai jatuh cinta
Ku melihat-melihat ada bayangannya
Dari mata, kau buatku jatuh
Jatuh, terus jatuh ke hati
Dari matamu, matamu, ku mulai jatuh cinta
Ku melihat-melihat ada bayangannya
Dari mata, kau buatku jatuh
Jatuh, terus jatuh ke hati
Nathan tidak bosan-bosannya untuk memandangi wajah nan ayu milik Fahira. Sedangkan Fahira yang ditatap sedemikian rupa menjadi salah tingkah karenanya.
"Aku pamit ke luar dulu, nanti aku akan kembali lagi ke sini, kalau kamu butuh sesuatu, telpon nomor saya saja," ucap Nathan yang pamit ke luar, karena ingin segera bertemu dengan pegawai lab, yang menangani tes DNA yang dia inginkan.
"Iy, sini hpmu!," ucap Nathan sambil mengarahkan tangannya ke hadapan Fahira.
Fahira pun menyambut tangan Nathan dengan langsung menyodorkan hpnya.
"Sudah, jadi kalau ada yang kamu butuhkan, kamu tinggal telpon ke nomorku," ucap Nathan lalu menyerahkan kembali hpnya Nathan.
"Makasih," ucap singkat Nathan.
Nathan menutup pintu kamar itu dengan pelan, pandangan Fahira baru lah terputus ketika pintu itu sudah tertutup rapat.
"Ya Allah apa yang terjadi padaku, masa baru pertama kali bertemu langsung suka, iihh bisanya itu!, pasti ada yang salah dengan jantungku, tapi Pak Nathan orang yang baik, ganteng dan sepertinya setia, tapi kalau adami istrinya pasti hati ini akan kecewa sangat,".
Nathan berjalan ke arah lab dan akan meminta tolong kepada pegawai Laboratorium agar membantunya untuk segera menyelesaikan tes tersebut, Nathan berharap prosedurnya tidak lama, kalau perlu dia akan mengeluarkan biaya untuk mempercepat prosesnya berapa pun itu.
Fahira yang membuka aplikasi Whatsappnya melihat foto Nathan yang menurutnya lucu dan pastinya ganteng.
"Cakep, tapi apa dia masih single yang belum nikah gak yah?, kalau belum nikah ada kesempatan untuk berteman, gak baik berteman sama suaminya orang,".
Nathan sudah bertemu dengan kepala Lab dan berbincang-bincang alot, dan upaya Nathan untuk mendapatkan hasil tes tersebut segera terlaksana sesuai dengan keinginan dan harapannya.
"Alhamdulillah berhasil juga, semoga hasilnya adalah positif calon anakku, kalau memang janin yang ada di dalam kandungannya adalah milikku, maka aku harus segera melamarnya dan aku akan menjelaskan semuanya kepada keluarganya, apa yang terjadi dengan kami".
Nathan sudah memantapkan hatinya dengan jalan dan solusi yang akan dia pilih nantinya, jika hasil tesnya sudah keluar. Dan kemungkinannya besok hasilnya sudah keluar.
__ADS_1
Nathan kemudian berjalan ke arah Restoran rumah sakit, memesan beberapa makanan untuk makan malam mereka. Nathan juga memesan beberapa rujak buah yang mungkin Fahira suka. Setelah mengambil dan menyelesaikan pembayaran semua pesanannya, Nathan kembali berjalan ke arah kamar perawatan Fahira.
"Hey bro" ucap seseorang ke arah Nathan.
Sapaan dari orang tersebut, membuat langkahnya terhenti sejenak dan langsung menoleh ke arah orang itu.
"Hey bro, tumben sekali kita ketemu di luar," ucap Nathan sambil menjabat tangan Rian Alaric Kim.
"Kebetulan sekali yah, ngomong-ngomong kamu ke sini sama siapa, siapa yang sakit?," tanya Nathan dengan beruntung.
"Kanaya masuk rumah Sakit, gara-gara tadi terjatuh di lokasi syutingnya," jawab Rian.
"Kita cari tempat duduk, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu soalnya," ucap Nathan.
"Aku juga, kok sama yah?, hehe. Kamu pilih tempat yang cocok saja dahulu, Aku mau antar obatnya Kanaya dulu" ucap Rian.
"Aku tunggu kamu, di kafe itu," tunjuk Nathan ke dalam kafe DA.
"Ok" ucap singkat Rian.
Mereka berpisah sementara waktu, dan akan bertemu di kafe DA beberapa saat lagi, setelah urusan mereka kelar.
Nathan masuk ke dalam kamar perawatan Fahira dengan menenteng beberapa kantong kresek khusus kafe yang pastinya bentuk, ukuran dan warna berbeda dengan kantong kresek yang ada di pasar, seperti yang biasa dipakai oleh Author hehehe.
Fahira yang melihat pintu terbuka lebar, Fahira segera berpura-pura tertidur, dan segera membalik hpnya agar tidak ketahuan.
"Ternyata si bocah tidur, padahal tadi sudah dibilangin jangan tidur dulu sebelum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya, tapi tidur pun tetap cantik,".
Perkataan yang meluncur dari mulut Nathan, di dengar dengan jelas oleh Fahira. Sehingga, membuat Fahira tersenyum kegirangan.
"Ya Allah Pak Nathan memujiku, katanya aku cantik, andai saja pak Nathan tidak di sini, Aku pasti akan segera berteriak kencang lalu melompat di ranjang empuk ini, bahagianya hatiku gaes,".
Maklumlah reaksi berlebihan dari Fahira dalam kepura-puraannya, karena selama ini belum pernah jatuh cinta apa lagi untuk pacaran. Menurut othor wajar dan sah-sah saja, iya gak sih Readers hehehe.
"Kalau kamu bangun jangan lupa untuk segera makan, dan ada beberapa cemilan yang aku belikan untuk kamu, semoga kamu suka,".
Nathan langsung meninggalkan kembali ruangan tersebut, setelah selesai meletakkan semua belanjaannya ke atas meja nakas.
Pintu pun tertutup kembali, karena Nathan ingin curhat dengan Rian, sedangkan Rian pun ingin berbagi dengan Nathan yang pasti bisa memberikan solusi untuk permasalahan yang dihadapinya.
...---------...
Makasih banyak atas dukungannya all Readers 🙏🥰.
Jangan Lupa untuk selalu mendukung Novel receh Fania dengan cara Like setiap Babnya Rate Bintang 5 dan Favoritkan.
Mohon maaf jika selalu ada typo dalam penulisannya.
...********Bersambung********...
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Jum'at, 20 Mei 2022
__ADS_1