TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR

TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR
BAB. 25. Cobaan Untuk Fahira


__ADS_3

Selamat Membaca..


Matahari telah terbit di sebelah timur, ketika Faika sudah menarik kopernya di depan Bandara internasional Soekarno Hatta. Faika sejak meninggalkan rumahnya perasaannya selalu diliputi rasa khawatir dengan kondisi adiknya Fahira.


"Ya Allah jaga dan lindungilah keluargaku dari segala masalah, dan semoga adikku Fahira baik-baik saja".


Faika sudah duduk di dalam pesawat yang akan mengantarkan Faika Sabrina Dwi Putri kembali ke Kota asalnya dengan julukan Kota Daeng. Faika pulang ke kampung halamannya karena kondisi adiknya yang sedang sakit sehingga Faika untuk kesekian kalinya ijin cuti di perusahaan tempat dia bekerja.


"*Jaga dan ikuti terus kemana pun dia pergi, dan laporkan apa pun yang terjadi".


"Siap, perintah dijalankan*".


Faika memesan taksi untuk mengantarkannya segera ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar. Awalnya Faika ingin memesan taksi online tapi kalau taksi online pasti menunggu beberapa menit lagi, sedangkan taksi yang sudah berjejer di depan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sudah bisa langsung berjalan dan mengantar Faika ke tempat tujuannya.


"Mau ke mana Mbak?" tanya Supir taksi tersebut.


"Ke RS Tamalanrea di' Pak" jawab Faika.


"Iye" Jawab singkat supir taksi tersebut.


Mobil taksi tersebut sudah berada di jalan raya dan jalan raya yang tidak terlalu padat, dan Makassar memang Kota yang jarang terkena macet yang padat merayap seperti yang sering terjadi di Ibu kota Indonesia tercinta.


Supir taksi tersebut memperhatikan Faika yang lebih banyak diam tetapi mulutnya seperti seseorang yang baca mantra komat kamit dan hanya Faika yang tahu apa yang dia katakan.


"Mbak Orang manaki, dan kalau bapak boleh tahu dari manaki karena sepertinya ada sesuatu yang Mbak selalu pikirkan sedari tadi?" ucap supir taksi tersebut.


"Iye, masukki di rumah sakit adekku baru tidak kutahupi ini pak, bilang sakit apaki kodong" jawab Faika yang menjawab pertanyaan bapak supir tersebut dan melanjutkan untuk berbincang-bincang agar Faika tidak kepikiran tersebut.


"Kodong, semoga cepatki sembuh adekta' adek, bapak do'akan yang terbaik untuk adekta' dan kita harus banyak berdo'a dalam sujudta' dan jangan sembarang kita fikirkan". Ucap bapak tersebut yang mendoakan agar adiknya segera sembuh dari penyakitnya. Faika turun dari mobil dan langsung memberikan uang merah kepada pak supir tersebut lalu berjalan ke arah ruangan di mana adiknya di rawat.


"Maaf Mbak, uangnya Mbak lebih, kembaliannya uangnya Mbak ini?? teriak bapak supir taksi.

__ADS_1


"Untuk bapak saja" teriak Faika yang terpaksa berteriak karena sudah sangat khawatir dengan keadaan adiknya.


"Makasih banyak" ucap pak supir tersebut tidak kalah dengan teriakan dari Faika yang bahagia dapat ongkos lebih.


Faika mencari ruangan adiknya sesuai dengan chat yang dikirim oleh Fatimah, Faika menyusuri lorong rumah sakit dengan koper di tangannya yang masih setia menemani langkahnya.


Faika pun menemukan ruangan tersebut dan langsung membuka pintu itu. Faika masuk ke dalam ruangan itu dan terkejut melihat kondisi dari adiknya Fahira. Faika langsung berhamburan ke arah Fahira.


"Ibu Apa yang terjadi dengan Fahira Bu?" tanya Faika dengan wajah yang penuh tanda tanya sekaligus panik.


Fahira terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit, dengan kondisi tangan yang terikat begitu pun dengan kakinya. Ibunya Faika hanya bisa menangis tersedu-sedu dan tak kuasa untuk berbicara sepatah kata pun. Begitu pun dengan adik bungsunya, Fatimah yang hanya bisa mematung menyaksikan kedatangan kakak sulungnya.


Pintu ruangan tersebut terbuka, dan masuklah Bibinya yaitu adik kandung dari bapaknya Faika.


"Akhirnya kamu datang juga, kamu ingin tahu kondisi adikmu yang sebenarnya, baiklah Bibi yang akan tanya kamu". ucap bibinya Faika.


"Kumohon diam saja, biarkan Ibuku saja yang menjawab pertanyaan dari kakakku" mohon Fatimah.


Fatimah tahu jika bibinya yang berbicara pasti banyak bumbu yang ditambahkan ke dalam ceritanya bahkan akan hiperbola saja dan berakhir dengan masalah yang semakin rumit.


"Kumohon diamki saja, dan tinggalkan ruangan ini, Janganki kodong tambah-tambahki beban pikiranku" ratap ibunya Faika.


"Sampai kapan kamu tutupi masalah yang meninpa putrimu, Apa kamu ingin menyembunyikan fakta yang ada jika Fahira diperkosa haaa!!" teriak Bibinya Faika dengan suara lantang.


Bagaikan petir di siang bolong, Faika shock mendengar perkataan dari bibinya itu dan langsung memeluk tubuh adiknya dan ikut bersedih. Karena kegaduhan dan keributan yang diciptakan oleh bibinya membuat Fahira pun terbangun dari tidurnya.


"Kakak Faika" ucap Fahira.


"Iye, ini Kakak adek" ucap Faika yang membalas pelukan adiknya.


"Maafkan Fahira kak Fahira tidak mampu menjaga kehormatan Fahira huhuhu" tutur Fahira yang sudah menangis tersedu-sedu di dalam pelukan kakaknya.

__ADS_1


"Sabarki andik, insya Allah, Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik dari cobaan ini" ucap Faika yang berusaha membujuk adiknya agar mental adiknya tidak down lagi.


"Hahahaha kalian semuanya sama saja, Kakak adik sama-sama suka membuat masalah dan mempermalukan keluarga, Aku sangat menyesal punya keponakan seperti kalian, dan kamu Suharti bagaimana caramu didiikki semua anak-anakmu haaa!! kau tahu di kampung kau terusmi yang nacerita orang, tidak malu-maluko itu?, edede pusingja kurasa tinggal di ruangan ini" ucap bibinya Faika lalu keluar dari ruangan tersebut.


Ibunya Faika hanya mampu memeluk anak-anaknya dan tidak kuasa menahan tangisnya.


"*Ya Ki sabarkanki hatiku dan berikan kami jalan keluar dari cobaan yang engkau berikan kepada anakku".


"Aku tidak menyangka jika hal ini terjadi di dalam hidup adikku, ya Allah Maafkanlah Aku yang selalu mengeluh dan sabarkan hati ini*"


"Ibu ki ceritakanka dulu bagaimana bisa terjadi?" tanya Faika yang masih memeluk adiknya yang perlahan berangsur tenang dan tidak memberontak atau pun melawan seperti sebelum kedatangan Faika.


"Panjang ceritanya Nak, dan ibu tidak tahu harus memulai dari mana" ucap ibunya Faika yang kebingungan untuk menjelaskan kepada Faika.


"Awalnya Adikmu mengikuti acara perpisahan di Sekolahnya dan...." ibu Suharti tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya dan kembali histeris.


"Kalau tidak bisaki bicara jangan dipaksa Bu, dan Ki maafkanka yang sudah banyak bertanya" ucap Faika yang mencegah ibunya untuk berbicara.


Faika sangat sedih melihat kondisi adiknya tapi Faika tidak ingin memperlihatkan kegundahan dan kesedihannya di hadapan adik dan ibunya itu. Karena itu sama saja memberikan beban kepada keluarganya sendiri.


Tanpa diperintah atau pun disuruh Fahira sendiri yang mulai berbicara dan menjelaskan kepada kakaknya duduk permasalahannya.


Flashback on..


Hari itu hari Minggu bertepatan dengan hari perpisahan di Sekolahku, awalnya Saya malas untuk mengikuti acara tersebut, tetapi teman-temanku datang ke rumah dan menghadap sama Ibu untuk meminta ijin agar Aku diijinkan pergi bersama mereka. Saya sangat malas dan tidak sedikitpun keinginan untuk pergi tetapi mereka terus mendesakku untuk ikut. Mereka pun memberikan alasan kepada Ibu sehingga Saya akhirnya ikut bersama mereka.


........... Bersambung...........


Makasih banyak yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca Novel recehku ini, Maaf jika semua novel Fania hanya novel biasa saja yang tidak ada apa-apanya dengan Novel hasil buatan Author femes dan senior lainnya, Apa lah novelku yg tidak bisa dibandingkan atau pun disejajarkan dengan novel mereka 🤭🤭✌️.


Alhamdulillah kalau ada yang suka dengan Novelku, Kalau tidak ada yang suka syokor saja, karena saya buat novel itu untuk mengisi waktu senggang dan jika eNTe memberikan imbalan atas hasil kehaluanku Alhamdulillah Makasih Banyak 🙏🥰

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Rabu, 12 Mei 2022


__ADS_2