
Selamat Membaca..
Cobaan itu pasti akan datang dalam hidup seseorang. Selama nafas itu masih ada di dalam dadamu yakinlah pasti akan datang ujian itu dalam berbagai macam bentuknya.
"Jangan menyerah saat doa-doamu belum terjawab, Jika kamu mampu bersabar, Allah mampu memberikan lebih dari apa yang kamu minta".
Faika dan keluarganya memutuskan untuk memilih memindahkan kartu keluarganya ke Jakarta sesuai dengan keinginan Fahira. Demi mempertimbangkan kesehatan dan mental dari Fahira sehingga Ibu Suharti dengan Faika memenuhi permintaan dari Fahira.
Malam pertama mereka di Jakarta dilewati dengan keceriaan dari mereka saat sedang makan malam. Mereka menikmati makan malam tersebut dengan canda tawa.
Masakan Faika ternyata membawa pengaruh positif kepada adiknya Fahira yang sudah bisa tertawa walaupun tidak seperti dulu. Tapi Faika sangat bahagia melihat adiknya sudah bisa tersenyum dan berbicara normal.
"Alhamdulillah ya Allah Makasih Banyak, Engkau telah memberikan sedikit secercah kebahagiaan di wajah adikku".
"Alhamdulillah baikmi anakku kodong, semoga bahagia dan tidak akan ada lagi ujian yang besar Engkau berikan untuk anakku".
"Enaknya masakannya kakak Faika, kalau seperti ini terus tambah gemuk sama tambah tinggika" ucap Fatimah yang sedang mengunyah makanannya.
"Makanmaki dulu nak, itu mulutnya penuh makanan" ucap ibu Suharti yang tersenyum melihat tingkah lucu putri bungsunya.
"Iye Bu, Makanmi dulu dek, habispi makanannya itu di mulutnya baru bicaraki" timpal Fahira yang kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Faika dan keluarganya jika saat makan tidak akan menggunakan peralatan makan seperti sendok atau pun garpu, jika hanya mereka saja yang ada di meja makan, kecuali ada tamu mereka yang menggunakan sendok maka mereka akan menyesuaikan diri dengan tamunya itu.
Mereka beranggapan makan dengan menggunakan tangan adalah lebih nikmat jika dibandingkan dengan memakai sendok ataupun garpu.
"Jadi kalau berangkatki nak kerja makanki dulu atau bawaki bekal makanan ke kantorta'?" tanya Ibu Suharti yang masih melanjutkan makannya.
"Saya buat makanan baru ku bawaji ke kantor, supaya tidak terlambatka ke kantor, karena Jakarta itu setiap hari selalu macet jadi supaya tidak terlambat terpaksa harus kubawa ke kantor" Jawab Faika yang sudah menyelesaikan makannya.
"Iih begitu, bagusji juga itu caramu, karena pasti marah-marahki bosmu kalau terlambatki datang" ujar Ibu Suharti.
"Jadi kalau terlambatki tidak dipotongji gajita' itu?" tanya Fahira yang kembali ikut nimbrung dengan mereka.
Faika dan ibunya saling menatap heran sekaligus bersyukur karena Fahira sudah kembali berinteraksi dengan mereka walaupun hanya sesaat saja.
"Bagaimana dengan sekolahku Kak Faika, di mana sekolah yang bagus menurut Kakak?" tanya Fatimah setelah sudah selesai makan dan sudah membersihkan peralatan Makannya.
"Kakak sudah mencari informasi tentang sekolah yang terbaik dan cocok untuk kamu, tapi mungkin hari senin saja kita ke sana" ucap Faika yang merapikan meja makan.
__ADS_1
"Kalau sudah selesai kamu cuci piringnya, Kamu simpan semuanya ke dalam lemari" perintah Faika.
"Iye" jawab singkat Fatimah.
Faika kembali ke dalam kamarnya dan beristirahat. Faika seperti biasa melakukan rutinitasnya yaitu memberikan seluruh tubuhnya dan mengoleskan vitamin ke wajahnya dan seluruh tubuhnya.
Faika tanpa sengaja membuka laci mejanya dan kembali melihat tanpa sengaja kotak buludru dengan warna merah yang cukup mencolok. Faika meraih Kotak tersebut dan membukanya dan bibirnya bergetar, air matanya meluruh membasahi pipinya, Faika menangis tersedu-sedu dalam diamnya.
"Ya Allah Aku harus gimana lagi, Aku sudah berusaha untuk melupakan semua kenangan indah bersamanya, tapi kenapa hati ini semakin tidak mampu untuk melakukan itu?".
Faika memasrahkan semuanya pada Sang Maha Kuasa. Faika membiarkan semuanya berjalan seperti air yang mengalir. Faika sudah tidak ingin memaksakan dirinya membuang dan melupakan semua kenangan indah yang pernah tercipta di antara mereka.
Keesokan harinya, Faika sudah bersiap berangkat ke Kantornya dan menyempatkan diri untuk makan pagi sebelum berangkat kerja dan Ibu Suharti juga membuatkan kue untuk Faika bawa ke kantornya.
Faika sudah duduk di balik kemudi mobilnya tapi ibunya berteriak kencang agar Faika berhenti. Faika pun turun dari mobilnya dan berjalan ke arah ibunya karena kasihan melihat ibunya yang berjalan tergesa-gesa.
"Janganmaki berlari Ibu, Nanti saya yang ke sana" teriak Faika yang mencegah ibunya untuk melangkahkan lagi kakinya.
"Ini ada sedikit kue bisa nubawa pergi kerja nak, ibu juga sisakan untuk temanmu yang lain semoga nasukaji" ucap Ibunya.
"Insya Allah, nasukaki Bu, apa lagi kue buatanta' ini pasti mereka akan suka" puji Faika kepada masakan ibunya.
"Kalau gitu pamitma pale' Bu" ucap Faika yang pamitan kepada ibunya.
"Hati-hatiki nak" ucap ibunya.
"Iye, assalamu alaikum" ucap salam Faika.
Faika melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena tidak ingin terlambat sampai di kantornya apa lagi harus terkena dengan macet yang sangat padat merayap. Dan bukan hanya Faika yang mengalami hal tersebut, tetapi seluruh masyarakat ibu kota pasti akan mengalami hal yang serupa.
Faika tidak berjalan cukup santai karena jam juga belum menunjukkan kalau dirinya terlambat datang di Perusahaan yang bergerak di bidang retail. Faika karena terlalu serius dan tidak memperhatikan jalannya, sedari tadi dia berbarengan dengan Presiden direkturnya.
Rian merasa sangat senang dan langkahnya sengaja ingin jalan berbarengan dengan Faika yang sudah dia rindukan. Senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya. Asistennya dan bawahannya yang ikut berjalan bersama mereka hanya ikut arus saja tanpa harus bertanya atau pun bingung.
Faika berjalan ke arah Lift baru ingin masuk melangkahkan kakinya, tapi langsung ditikung oleh rekan kerjanya sehingga Lift tersebut penuh dan tertutup. Tapi Faika yang tidak seimbang hampir saja terjatuh karena pentopel sepatunya yang sebelah kiri patah dan hampir saja terjatuh.
"Aaaaahhh" teriak Faika yang sudah hampir terjatuh untung tangannya refleks memegang dan sekaligus menarik tangan tersebut dengan sekuat tenaga, hingga Faika bisa terselamatkan dari mencium tanah air.
Orang yang dipegang Faika pun menyambut pegangan tangan dari Faika. Awalnya Rian ingin ikut terus bersama dengan Faika, tapi ternyata karena tiba-tiba Lift diserbu oleh karyawan karyawatinya sendiri. Sehingga Faika dan rombongan Rian terpaksa harus legowo dan mengalah kepada bawahannya sendiri. Padahal Rian tidak harus bersusah payah untuk ikut berdesakan dengan Orang lain.
__ADS_1
Tapi demi cinta, Rian melakukan hal tersebut walaupun hal itu juga gagal.
"Makasih banyak" ucap Faika tanpa memandang wajah dari orang yang telah membantunya.
Faika pun jongkok untuk berusaha memperbaiki sepatunya, tapi karena rusaknya cukup parah sehingga terpaksa melepas ke dua hilsnya.
"Kok rusak padahal sepatu baru" lirih Faika yang masih mampu untuk di tangkap oleh indera pendengaran dari Rian.
Rian memberikan kode kepada anak buahnya untuk segera mencari beberapa pasang sepatu yang cocok untuk Rian. Faika pun tersenyum dan heran sendiri dengan sepatunya. Faika menyesal telah membeli sepatu lewat online. Dikarenakan karena kesibukannya yang tidak sempat langsung ke Mall untuk mencari sepatu. Awalnya sewaktu tempo hari Faika ke Mall untuk berbelanja beberapa barang untuk anak-anak Panti Asuhan, tetapi karena pertemuan yang tidak terduga dengan gadis kecil bersama dengan mantan kekasihnya membuatnya melupakan tujuannya yang lainnya untuk mencari sepatu dan Tas baru.
"Apa sepatunya sudah baik?" tanya asisten pribadinya Rian yang ikut jongkok di hadapan Faika.
Hal ini membuat Rian terbakar api cemburu buta, tapi itu lah Rian yang sangat lihai menyembunyikan mimik wajahnya dan tetap tampak dingin tidak bisa terbaca.
"Alhamdulillah sudah baik, makasih" ucap Faika yang tidak ingin merepotkan orang lain.
"Tahan saja terus rasa cemburumu itu, karena aku akan membuat kamu terbakar api cemburu hingga kamu akhirnya mendekati kami dan ngomel-ngomel".
"Jangan harap aku termakan umpan kamu, Aku tahu kamu hanya ingin mengetes dan menguji kesabaranku, kamu bermimpi saja".
"Hahahaha ternyata kamu kuat juga untuk menahan rasa cemburu yang sudah menyelimuti hatimu".
Mereka berperang lewat hati dan pikiran masing-masing. Seakan-akan mereka telah melakukan perang batin. Dan ternyata Rian berhasil tidak bereaksi apa pun dari tindakan sahabat sekaligus asisten pribadinya. Farhan Adiyaksa adalah sahabat terbaik yang dimiliki oleh Rian Alaric Kim selama ini.
Karena merasa sepatunya sudah cukup baik untuk dipakai kembali, Faika pun berdiri dari posisi jongkoknya dan memasang sepatunya kembali. Dan orang yang pertama dia lihat adalah pria pemilik netra hitam kecoklatan yang membuatnya kembali mematung.
Faika tidak menyangka jika wajah yang setiap malam dia rindukan
............Bersambung..........
FANIA Ucapkan Makasih Banyak kepada kakak Readers yang telah mampir dan Sudi membaca semua novel recehnya Fania 🙏🥰*.
Semoga suka dengan novelku yg satu ini dan ditunggu masukan dan Sarannya Kakak 🙏.
Dalam Novel ini ada beberapa dialog yang menggunakan bahasa dan dialek Makassar, Fania harap bisa dimengerti dan dipahami 🙏🙏.
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Sabtu, 24 Mei 2022
__ADS_1