TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR

TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR
BAB. 45. Berbasa-basi


__ADS_3

Selamat Membaca..


Kenyataan harus diterima oleh Nathaniel Sanjaya Park dibuat bahagia sekaligus cemas dengan berita kehamilan dari perempuan yang pernah dia temani dengan paksa untuk melewati malam panasnya.


"Kalau Dia hamil, terus anak itu bayinya siapa? apakah anakku atau milik pria lain?".


Berbagai macam pertanyaan yang muncul di dalam benaknya, tapi Nathan berharap agar bayi yang dikandung oleh Fahira Febrina adalah darah dagingnya. Karena bimbang dan ragu dengan kenyataan yang barusan dia dengar, Nathan pun meminta kepada Dokter untuk segera melakukan tes DNA.


Nathan segera menemui dokter Farida sebelum Fahira terbangun dari pingsannya. Nathan tidak ingin apa yang dia rencanakan dan lakukan itu, Fahira sampai mengetahuinya.


"Selamat siang Dok" ucap Nathan.


"Selamat siang pak, silahkan duduk" ucap dokter Farida, dokter khusus ahli kandungan.


"Maaf ganggu aktifitasnya Dok, Saya ke sini ingin bertanya sekaligus meminta tolong sama Dokter" tutur Nathan.


"Kalau boleh tahu, Apa yang bapak ingin tanyakan dan mau minta tolong apa? tanya balik Ibu dokter.


"Apakah boleh untuk melakukan tes DNA dengan usia kandungan yang baru tiga bulan Dok? kalau bisa saya ingin melakukan tes DNA tersebut pada janin yang dikandung oleh Istriku" terang Nathan.


"Boleh Pak, selama umur kandungan itu sudah tiga bulan, kita bisa melakukan prosedur tes DNA tersebut" ucap Dokter Farida.


"Alhamdulillah kalau begitu, Saya ingin meminta tolong untuk segera melakukan tes DNA itu terhadap istri saya yang bernama Fahira Febrina, kebetulan masih dalam keadaan pingsan jadi saya berharap untuk segera melakukan tesnya dan berapa pun biayanya, Saya akan bayar" tutur Nathan.


"Tapi Kami butuh waktu sekitar 12 hari untuk mengetahui hasilnya, Pak, apa Bapak ingin menunggu?" tanya Ibu dokter.


"Ok, tidak masalah yang penting tesnya dokter bisa rahasiakan dari siapa pun itu, dan secepatnya untuk melakukannya" jawab Nathan yang sudah mantap dan yakin untuk melakukan tes tersebut.


"Baiklah kalau gitu bapak isi beberapa berkas ini dan tolong administrasinya segera diselesaikan" tutur dokter.


"Siap Dok, dan makasih banyak atas bantuannya" ucap Nathan.


Nathan pun kembali ke tempat administrasi untuk segera melunasi pembayaran dan administrasi perawatan Fahira. Nathan berniat untuk sementara tidak memberitahukan berita bahagia ini kepada siapa pun termasuk dengan Fahira sendiri.


Nathan berjalan ke arah ruangan perawatan Fahira. Nathan berharap hasil tesnya positif kalau dia adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Fahira. Nathan terlebih dahulu Ingin mengetahui hasilnya barulah Dia bisa mengambil keputusan langkah apa yang akan dia tempuh untuk kedepannya.


Nathan membuka pintu ruangan tersebut dan melihat Fahira yang masih tertidur.

__ADS_1


Tim dokter dan beberapa bidan sudah melaksanakan proses tes DNA tersebut sebelum Fahira bangun dan Nathan datang ke ruangan itu.


Nathan kemudian duduk di kursi yang ada di sekitar ranjang perawatan Fahira. Dan memegang tangan Fahira lalu menciuminya.


"Maafkan Aku, gara-gara Aku mungkin hidupmu selama sulit, dan gara-gara aku masa depanmu hancur seketika, Maafkan Aku tidak sengaja untuk berniat jahat untuk melakukan perbuatan bejak itu padamu".


Air mata penyesalan membasahi pipinya, terlepas dari Fahira perempuan yang pernah dia renggut kehormatannya, Nathan sudah mulai ada rasa saat pertama kali melihat wajah Fahira melalui fotonya di dijadikan foto dp aplikasi Whatssappnya itu.


"Ada desiran aneh yang Aku rasakan disetiap kali aku melihat wajahmu ini, begitu cepat engkau mengisi relung hatiku yang tersakiti karena perbuatan dari mantan Istriku, tapi kehadiranmu beberapa hari ini mampu mengobati luka dan sakitnya hati ini yang hancur berkeping-keping karena ulahnya Miranda".


Mata indah Fahira pun terbuka, dan perlahan mengerjapkan ke dua bola matanya untuk menyesuaikan cahaya dari lampu yang berhasil masuk ke dalam retina matanya itu. Fahira langsung menatap aneh dan heran kepada Nathan.


"Apa yang kamu rasakan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Nathan yang sudah bangkit dari duduknya dan menyerbu Fahira dengan berbagai pertanyaan.


Fahira menatap ke sekeliling pojok ruangan dan masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengannya. Hingga matanya melihat ada selang infus yang terpasang di pergelangan tangannya yang kiri.


"Kita siapa, di manaka ini, apa yang terjadi padaku?" tanya Fahira yang berusaha bangun dari tidurnya dan ingin bersandar ke Ranjangnya.


Nathan sigap membantu Fahira untuk duduk dan mengatur posisi ranjang itu agar Fahira bisa nyaman dan leluasa untuk bergerak.


"Maaf Pak, kita siapa dan saya sekarang ada di mana?" tanya ulang Fahira.


Fahira mengulang pertanyaannya kembali, karena menganggap pria yang ada di depannya ini tidak mengerti dengan bahasa dan dialek yang dua katakan.


Nathan masih bingung dan kembali mematung di tempatnya.


"Ya Allah apa pertanyaanku itu sangat sulit sehingga membuatnya mematung, atau mungkin tidak mengertiki dengan perkataanku? padahal tidak pakaija bahasa Makassar kodong, apa mungkin bisuki ini orang, iihh sayangnya di' bisu padahal cakepnya, miripki artis Thailand yang pernah kutonton dulu di bioskop sama anak-anak".


Fahira pun ikut bingung dengan suasana yang tercipta diantara mereka. Dan tanpa dia sadari mengagumi ciptaan Tuhan yang ada dihadapannya.


"Pak Ki dengarja, atau bisuki kapan jadi diamki saja atau mungkin haruska pakai bahasa Indonesia saja tidak usahmi pakai logat Makasaar, ini kan di Jakarta bukan Makassar" ucap Fahira yang membuat Nathan yang tertawa terbahak-bahak.


"Lucu juga ini cewek, tapi senyumannya, tutur katanya mampu memporak-porandakan hatiku ini, tapi tidak mungkin Aku secepat itu jatuh cinta padanya".


"Kok ini orang tertawa terbahak-bahak, apa ada yang aneh dengan ucapanku yah?, kita di kampung kalau ada orang yang dari luar daerah terus pake bahasa di kampungnya tidak pernahki tertawa malahan tertantangki untuk bisa mengetahui bahasanya, aneh bin ajaib cowok ganteng satu ini".


"Maaf saya tertawa bukan maksudnya menertawai perkataanmu atau bahasa yang Kamu gunakan, tapi saya menertawai diriku sendiri yang tidak tahu menjawab pertanyaan kamu yang sangat mudah itu" ucap Nathan.

__ADS_1


"Ohh begitu, dudukmi dulu, tidak capekki itu berdiri? padahal adaji kursi kosong di sampingta'" ucap Fahira yang sudah melupakan dengan keadaan dan alasannya kenapa bisa ada di Rumah Sakit.


"Eehh iya maaf, tadi kamu bertanya kenapa bisa kamu berada di dalam ruangan ini dan kamu sekarang ada di mana, betul gak perkataan ku?" tanya ulang Nathan yang ingin memastikan seperti itu pertanyaan yang dilontarkan oleh bibir Fahira yang mampu membuat cenat cenut kepala Nathan.


"Iye betul sekali apa yang bapak katakan" jawab Fahira.


"Mungkin kamu sudah lupa, tadi pagi kamu pingsan di dalam toko buku Gramedia dan karena tidak ada yang berniat membawa kamu ke rumah Sakit sehingga jiwa dan sifat penolongku ini langsung muncul kepermukaan untuk segera membantumu" tutur Nathan.


Nathan sengaja berkata seperti untuk menutupi kenyataan yang ada dan tidak menimbulkan kecurigaan dari Fahira sendiri.


Fahira bersyukur karena di ibu kota Jakarta masih ada yang berhati mulia untuk membantunya, padahal banyak Orang di Kampungnya yang bilang kalau Ibu kota itu lebih kejam dari pada ibu tiri.


"Makasih banyak atas bantuannya Pak, dan maaf mungkin saya tidak bisa membalas kebaikan bapak, Saya hanya bisa doakan semoga apa yang bapak Ingin bisa tercapai dan hasilnya sesuai yang bapak inginkan" ucap tulus dari Fahira.


"Amin, makasih banyak doanya, tapi kalau boleh Saya meminta tak usah saya dipanggil bapak, saya belum setua itu, ganteng dan muda begini dipanggil bapak" ucap Nathan yang tersenyum manis ke arah Fahira.


Dan senyuman itu berhasil membuat jantung Fahira berdetak kencang tidak seperti biasanya.


"Ya Allah senyumannya sangat menewan"


Faika langsung memukul pelan kepalanya karena sudah berfikiran aneh dan tidak-tidak. Nathan yang melihatnya langsung refleks mendekati Fahira dan bertanya tentang apa yang telah terjadi.


"Maaf apa yang terjadi, kepala kamu sakit atau apa yang kamu rasakan?" tanya Nathan yang sikapnya sudah seperti suami yang siaga saja.


"Eehh tidak apa-apa Pak, saya baik-baik saja" jawab Fahira yang malu-malu sehingga ada Semburat merah yang terlukis di wajah cantik dan ayunya.


"Senyumananmu mampu mengalihkan duniaku, tetap lah tersenyum seperti walaupun suatu saat nanti kamu tahu siapa saya".


.................


MAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA DAN TETAP DUKUNG TIDAK ADA JODOH YANG TERTUKAR DENGAN CARA LIKE SETIAP BABNYA, RATE BINTANG 5 DAN FAVORITKAN ✌️.


Semoga suka dengan novel recehnya Fania 🙏


Mohon maaf jika ada penulisan kata yang tidak sesuai dengan EYD 🤭.


...********Bersambung********...

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, Jumat, 20 Mei 2022


__ADS_2