
Selamat Membaca..
Kedatangan Ibu Marissa Nasution Kim ke Apartemen pribadi putranya yang datang tiba-tiba membuat Rian gelisah dan salah tingkah. Rian tidak ingin Maminya salah sangka dan berfikiran yang macam-macam.
"Mami kok datang gak bilang-bilang sih?"
"Apa Mami harus beritahu putra Mami dulu baru bisa ke sini?" tanya Mami Marissa yang memutar bola matanya dengan jengah.
"Bukan gitu Mi, tapi?"
"Tapi apa?"
Mami Marissa terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam Apartemen Rian, walaupun Rian sudah berusaha untuk mencegah Maminya itu. Hingga melihat ada punggung seorang cewek yang memunggunginya sedang duduk di kursi meja makan.
"Rian Alaric Kim, dia siapa?" tanya Maminya dengan menunjuk ke arah perempuan itu berada.
"Dia...."
Ibu Marissa tanpa menunggu jawaban dari Rian langsung mendekati Faika, karena semakin penasaran dengan siapa sosok pemilik punggung itu.
Ibu Marissa hanya tersenyum sumringah melihat perempuan yang bersama putranya adalah Faika.
"Faika Sabrina Dwi Putri kan?" tanya Mami Marissa yang ingin memastikan saja.
"Iya Tante."
Faika langsung meraih tangan ibu Marissa lalu mencium punggung tangannya.
Setelah berbincang-bincang sebentar Mami Marissa pun mencicipi masakannya Faika dan memuji masakannya Faika tersebut.
"Masakan Kamu sangat enak cantik, kalau Kamu setiap hari datang ke Sini dan masakin bisa-bisa tubuhnya akan lebih berisi dan tidak sekurus itu," ucap Mami Marissa sambil terus mencicipi masakannya Faika.
Faika hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Ibu Marissa.
"Itu tidak mungkin bisa terjadi Mi, Faika sudah punya suami,, nanti suaminya marah dan protes lagi" tutur Rian.
Faika menatap tajam ke arah Rian setelah mendengar penuturannya. Mami Marissa pun ikut menatap tajam ke arah Faika dan seolah-olah meminta jawaban apa maksud dari perkataan Rian.
"Maaf, aku belum punya suami," jawabnya.
"Apa!!!"
__ADS_1
Rian langsung berdiri dari posisi duduknya setelah mendengar perkataan Faika yang mengatakan kalau dirinya belum punya suami. Selama ini perkataan itu lah yang dia tunggu dan harapkan sedari empat tahun lalu.
"Rian Alaric Kim, apa yang terjadi padamu?"
Rian masih berdiri ditempatnya dan pandangannya tetap terfokus pada Faika yang menundukkan kepalanya. Rian seolah-olah lupa dengan logikanya sendiri, dirinya shock sekaligus tidak percaya dengan perkataan dari Faika.
Sudah lebih sebulan ini hidup dalam kekecewaan dan kegelisahan. Bahkan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka membuat jurang pemisah antara mereka.
"Aku belum punya suami, tapi gimana dengan istri dan putri Mas Rian," ucap Faika yang perkataannya kembali membuat dirinya mendapat tatapan tajam dari Rian dan Ibu Marissa.
"Kok aku ditatap seperti itu, benar kan kalau Mas Rian sudah punya istri dan anak, apa ada yang salah dengan perkataan ku?" tanya Faika yang kembali kebingungan dengan tatapan mereka.
Rian hanya mengusap wajahnya dengan gusar. Ternyata selama ini mereka hidup dalam kesalahpahaman yang berakhir reanggannya hubungan mereka bahkan sudah membuat kesedihan yang mendalam.
"Jadi mereka ada hubungan yang Istimewa selama ini tapi, terpisah karena adanya kesalahpahaman, Aku segera bertindak kalau sudah seperti ini."
Rian maju selangkah ke hadapan Faika dan memegang ke dua tangannya.
"Faika tatap mata Mas, dan jawab yang jujur apa benar selama ini Kamu belum menikah dan kenapa empat tahun lalu kamu bilang apa kepada Mas, kalau kamu akan menikah dan memutuskan hubungan kita?" tanya Rian yang sangat berharap memiliki kesempatan untuk bersatu dengan Faika.
Rian sudah melupakan keberadaan Maminya yang hanya terduduk manis melihat apa yang dilakukan oleh ke dua sejoli itu. Ibu Marissa hanya menatap mereka secara bergantian tanpa berniat untuk menggangu mereka.
"Apa yang Faika katakan benar adanya Mas, Faika memang empat tahun lalu hampir saja menikah tapi, dihari akad nikahnya Faika datang seorang perempuan yang sedang hamil mengaku kalau dia adalah istri dari calon suamiku, dan saat itu pernikahan yang sudah di depan mata harus gagal," terang Faika.
"Mas ini tidak boleh kita lakukan Mas bukan suami Faika lagian mas sudah punya istri, apa yang kita lakukan sekarang ini tidak baik, pikirkan perasaan istri Mas jika dia tiba-tiba datang dan melihat kita seperti ini," ucap Faika yang berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Rian.
Rian tidak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Faika.
"Please dengarkan Mas, Mas mohon diamlah dan biarkan mas memelukmu walau hanya sesaat, sebelum aku halalkan Kamu," ucap Ryan.
"Aku gak ingin jadi perusak rumah tangga orang lain Mas, Aku tidak ingin jadi pelakor, jadi Faika mohon hentikan semua ini sebelum Faika tidak bisa mengjauh dari hidup Mas."
"Kamu selamanya tidak akan jadi perusak rumah tangga orang Fa, dan Kamu bukanlah Pelakor dan jangan pernah pergi jauh dari hidup Mas apa pun yang terjadi, Karena dari dulu dan sampai kapan pun, Kamu adalah perempuan satu-satunya yang ada di dalam hidup Mas hingga akhir waktu."
"Maaf Aku tidak akan jadi pelakor."
Rian pun melepaskan pelukannya dan memegang ke dua pipi tirus Faika.
"Rian Alaric Kim belum pernah menikah dan gimana caranya aku punya anak kalau belum menikah dan hanya Faika Sabrina Dwi Putri adalah perempuan yang nantinya menjadi ibu dari anak-anakku kelak."
Faika hanya meneteskan air matanya dan tidak mampu lagi berucap sepatah kata pun setelah mendengar perkataan dari Rian yang membuatnya sangat bahagia.
__ADS_1
Rian pun berlutut di hadapan Faika sambil tetap memegang ke dua tangan Faika.
"Faika Sabrina Dwi Putri, mau kah Kamu menikah denganku, dan menua bersamaku hingga maut memisahkan kita," ucap Rian yang meminta Faika menjadi istrinya langsung di hadapan Maminya.
Mereka benar-benar lupa dengan tetuah yang sedari tadi duduk menyaksikan siaran langsung pembicaraan mereka yang dari hati ke hati itu.
"Maaf Mas, Faika belum bisa menjawabnya, berikan waktu kepada Faika untuk memikirkan baik-baik, Faika takut jika hal seperti dahulu terulang kembali."
"Uuppss, jangan bicara seperti itu sayang, Mas tidak ingin mendengar Kamu berbicara seperti itu lagi."
"Rian jangan paksa Faika untuk menjawab lamaran Kamu, wajar saja Faika masih bimbang dan ragu, karena rasa trauma yang pernah dialaminya beberapa tahun silam membuatnya takut dan khawatir, itu wajar Nak," ucap Ibu Marissa lalu memegang pundaj putra sulungnya tersebut.
"Maaf pasti Faika akan jawab, tapi tolong berikan waktu untuk Faika memikirkannya baik dan pasti Faika juga akan beritahu ibu terlebih dahulu sebelum mengiyakan keinginan Mas."
"Mami salut dengan pemikirannya Faika, tidak semua perempuan kalau dipinang harus bertanya terlebih dahulu kepada ke dua orang tuanya, biasanya mereka akan langsung menjawab tanpa memberitahu terlebih dahulu pada orang tuanya."
"Makasih banyak Tante sudah mengerti dengan keputusan Faika," ucapnya.
"Mulai detik ini jangan panggil Tante lagi tapi, panggil Mami seperti Rian memangil Mami,"
"Ta-pi."
"Mami tidak menerima kata tapi dan penolakan apa pun itu, oke."
"Iya Mi."
Mereka berjalan ke arah ruangan keluarga yang ada di apartemen tersebut. Mereka berbincang-bincang santai, karena hari ini hari minggu jadi tidak ada yang berangkat kerja.
"Rian gimana dengan hasil tes DNA yang dilakukan oleh Nathan, apa hasilnya sudah keluar?" tanya Ibu Marissa.
"Sepertinya hari ini baru keluar hasilnya Mi, dan semoga tesnya positif sehingga Nathan bisa melamar itu cewek."
"Mami juga berharap seperti itu sayang."
"Siapa yah cewek yang mereka maksud itu, dan Nathan itu siapa?"
...........
Alhamdulillah hari ini Updated dua Bab, dan semoga Suka dengan Novel receh Fania.
Jangan Lupa untuk selalu mendukung Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar dengan Cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5 dan Favoritkan 🙏
__ADS_1
Mohon Maaf jika ada beberapa kesalahan penulisan dalam novel Fania ✌️.
...********Bersambung********...