
Selamat Membaca..
Kegagalan membina rumah tangga di usia yang terbilang masih sangat muda, tidak menyurutkan Nathan untuk segera membuka pintu hatinya untuk cinta yang baru. Kedekatannya dengan Fahira menimbulkan benih-benih cinta yang beberapa waktu lalu tertutup oleh kenyataan pahit, Istrinya selingkuh di depan matanya.
Sifat lugu dan kesederhanaan dan tentunya wajah ayu nan cantik itu yang mampu menggetarkan hatinya.
Kau minta apa akan aku turuti
Walau harus aku terlelah dan letih
Ini demi kamu, sayang
Aku tak akan berhenti menemani dan menyanyagimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
Tahukah kamu apa yang ku pinta
Di setiap doa sepanjang hariku?
Tuhan, tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan, aku sayang dia
Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
...Oh
...Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, ku 'kan berdoa pada ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
Wali kangen band..
Lagu yang dinyanyikan oleh Band Wali mewakili isi hati dan perasaan yang dirasakan oleh Nathan. Apa mungkin ada ikatan batin antara Nathan dengan calon bayi yang ada di dalam kandungannya Fahira.
Setelah mengantarkan makanan untuk Fahira, Nathan segera berjalan ke Kafe tempat temu janjinya dengan Rian Alaric Kim. Di dalam Kafe itu Rian yang datang lebih dahulu dibandingkan dengan Nathan.
"Tolong jaga calon Istriku dengan baik, dan berikan apa pun yang diinginkan oleh dia, dan ingatkan untuk minum obatnya, satu hal lagi jangan biarkan calon istriku tahu keadaannya kalau dirinya hamil," ucap Nathan yang mewanti-wanti Perawat yang diberikan tugas untuk menjaga Fahira.
Setelah itu Nathan langsung beranjak dari sana, menuju Kafe DA dengan perasaan yang bercampur aduk, antara ragu-ragu, cemas dan takut jika Nathan mendapatkan reaksi dan protes dari Rian.
Nathan pun mengutarakan apa yang dia alami beberapa hari ini di hadapan sahabatnya, Rian yang mendengarkan penuturan dari curhatan Nathan membuatnya shock dan terkejut. Siapa pun yang ada di posisinya pasti akan terkejut.
"Sadar we, gak segitunya juga kali Rian reaksinya, aku tahu aku salah, tapi aku ingin segera memperbaiki kesalahanku itu."
"Kalau gitu, apa lagi yang kamu tunggu, kalau cewek itu ada di sini gercep dong bang, jangan sampe nyesel di kemudian hari, atau ada yang nikung baru tahu rasa loh."
"Cewek itu hamil."
__ADS_1
"A-pa!!!!
Mereka langsung menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara tersebut, seketika wajah mereka nampak pucat pasi, mereka shock dan mematung di tempatnya saking terkejutnya melihat sosok orang itu.
"Apa!! maksud dari perkataan kalian?"
Nathan Sanjaya Park dan Rian Alaric Kim terdiam seribu bahasa dengan kehadiran orang itu di tengah-tengah mereka. Orang itu pun langsung menarik satu kursi dan duduk di antara mereka yang sudah menjadi patung.
"Ayok buka mulut kalian, kenapa kalian diam saja? setahu Mami kalian tadi bicara tentang cewek yang hamil, iya kan?" tutur Mami
Ibu Marissa Nasution Kim lah yang hadir bersama mereka dan mencuri dengar dari dua orang yang tertangkap basah itu.
"Sepertinya Mami salah dengar tadi, iya kan Rian?" tanya Nathan yang berusaha menutupi fakta yang ada dan mengajak Rian untuk berkerja sama menutupi kebenaran yang ada.
Tapi yang diberikan kode sedikit pun tidak membalas ucapan dari Nathan, hingga Nathan menginjak kaki Rian dengan cukup kuat.
"Auuuhhh."
Rian memegang kakinya yang mungkin sudah memar bahkan bisa jadi sudah bengkak. Aahh othor itu terlalu hiperbola thor hehehe.
Rian langsung menatap tajam ke arah Nathan yang sedari tadi selalu memberikan isyarat agar tidak berkata jujur dan membukanya. Tapi, seumur hidup Rian tidak pernah berbohong kepada Maminya, jadi Rian jadi serba salah dan bimbang jadinya.
Rian secara bergantian menatap wajah Mami Marissa dengan Nathan. Dan akhirnya Rian pun membuka bibirnya untuk berucap sesuatu yang membuat keduanya terperangah.
"Nathan menghamili putri orang Mi."
"A-pa?"
"Tanya saja dia, pasti tahu dan akan jawab dengan jujur," ucap Rian sambil menoleh ke arah Nathan.
"Maaf jika, berita ini kita tutupi terus menerus lebih lama lagi, maka akan semakin runyam saja."
"Benar yang dikatakan oleh adikmu Nathan Sanjaya Park?"
"Eehhh itu, itu benar Mi," jawabnya sambil menundukkan kepalanya tak sanggup menatap mata ibu keduanya.
"Akhirnya Mami dan bunda akan punya cucu kandung juga, Mami sangat bahagia, ta-pi."
"Tapi apa Mi?," tanya Rian yang tidak mengerti dengan reaksi dari maminya sendiri yang sangat bahagi, karena Nathan akan segera memiliki anak kandung.
Selama ini, Mereka sudah salah kaprah dan ditipu mentah-mentah oleh Miranda, yang mengatakan kalau putranya adalah darah daging Nathan, tapi baru beberapa hari ini kenyataan itu muncul kepermukaan.
"Gak nyangka reaksi Mami seperti ini, Aku kira Mami akan marah-marah bahkan memukul atau apalah itu tidak seperti sekarang ini, kalau gitu Aku mau juga buat hamil anaknya orang."
Ibu Marissa langsung memukul lengan putra kandungnya memakai tas Hermes yang dia pakai saat ini.
"Awas yah!, kalau Kamu berani melakukan hal itu, Mami hapus loh dari daftar kartu keluarga kita."
"Sakit tahu Mi, tega banget Mi mukulin Rian," ucap Rian yang mengelus lengannya yang sakitnya lebih sakit dicubit.
"Mamiegak ngancam belaka, tapi kalau Kamu mau bukti silahkan saja lakukan itu."
"Ya elah, Mami ini kan ga adil namanya, Bang Nathan gak dimarahin malah Mami bahagia, sedangkan Rian baru rencana udah dipukulin, nasib gini amat yah, ini kan sama saja Anak kandung terzolimi," ucap Nathan yang pura-pura cemburu dan sedih.
"Sudah aahh aktingnya, Kamu yah kalau sama kita-kita pasti cerewet dan gak irit bicara, tapi kalau orang lain, ya ampun mahal banget loh kata-katamu, Mami sering dengar perkataan seperti itu dari istri dan ibu-ibu dari rekan bisnis Kamu loh Rian Alaric Kim."
Nathan hanya tersenyum melihat interaksi mami dan saudara angkatnya itu.
"Mami akan telpon Papi dan Mami Kamu untuk segera melamar itu perempuan."
"Ta-pi Mi."
"Gak ada tapi-tapian, Kamu mau lihat perutnya semakin besar dan membuncit, atau Kamu mau lihat dia viral gitu?" tanya Mami Marissa dengan memutar jengah matanya.
__ADS_1
"Bukan gitu Mi, tapi Nathan belum yakin kalau itu bayinya Nathan dan besok baru keluar hasil tes DNAnya Mi."
"Perempuan itu bukan pacarannya Abang Nathan Mi, tapi karena keselah pahaman sehingga perempuan itu bunting."
"Maksudnya?" tanya Mami Marissa dan langsung menatap tajam Nathan.
"Panjang ceritanya Mi, dan awalnya kejadian itu terjadi, karena Nathan lihat Miranda selingkuh dengan asisten pribadinya sendiri yaitu Doni, dan Nathan mencari minuman keras hingga Nathan mabuk, akhirnya malam itu terjadi sesuatu yang membuat cewek itu hamil."
"Terus gimana nasibnya itu cewek? ajak Mami ketemu dengan dia."
"Jangan secepat itu Mi, kita harus cari tahu siapa itu cewek, jangan sampai itu cewek sudah menikah atau gimana, kita harus tunggu hasil tesnya keluar dahulu baru kita boleh bertindak," jelas Rian.
"Benar sekali Mi, apa yang dikatakan Rian, kalau hasilnya sudah keluar dan positif itu bayi punya Nathan pasti Nathan tidak akan pikir panjang dan langsung melamar Fahira."
"Ohh jadi gadis itu bernama Fahira yah, jadi apa keputusan Kamu selanjutnya? Mami pasti akan mendukung apa pun keputusan yang Kamu ambil."
"Makasih Mi, Saya belum tanya sama itu cewek Mi, Saya takut itu cewek tidak terima dengan kenyataan yang ada, Nathan berencana akan memberitahu hal tersebut, jika Nathan sudah berhasil nikahin itu cewek."
"Lakukan yang terbaik saja Sayang, Mami pasti dukung Kamu, dan masalah Bunda dan Ayah Kamu serahkan sama Mami, Mami yang akan mengurus masalah mereka."
"Kalau besok hasilnya keluar, nanti kita langsung datang ke rumahnya untuk meminangnya dan jangan tunda lebih lama lagi."
Rian berada di sana, tapi pikirannya berada di Perusahaannya, tepatnya pada Faika yang sedang lembur, gara-gara ulahnya sendiri.
"Mi, Rian pamit dulu, Kanaya Saya titip sama Mami yah, Nathan sorry bro ada pekerjaan yang sangat penting, jadi saya harus buru-buru ke kantor."
Rian melihat ke arah jam tangannya menunjukkan sudah pukul 9 malam.
"Hati-hati, sayang."
"Makasih Mi," ucap Rian yang langsung meraih tangan maminya dan langsung mencium punggung tangan itu.
"Asaalamu Alaikum."
"Waalaikum salam." Ucap keduanya.
Rian segera mempercepat langkahnya ke arah parkiran, karena tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada perempuan kedua kesayangannya. Rian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rian tidak ingin terlambat sampai di sana, dan Rian ingin melihat pujaan hatinya hari ini sebelum mengistirahatkan tubuhnya.
Tidak butuh waktu lama, Rian sudah sampai ke Perusahaannya. Rian hanya memarkirkan mobilnya di depan Loby Perusahaan. Dan langsung berlari ke arah lantai 10 tempat ruangan Faika berada. Rian sudah menekan lift beberapa kali, tapi tidak berhasil, Rian berlari ke lift khusus untuk karyawan, hal yang sama pun terjadi, Lift tersebut tidak mau terbuka.
"Mungkin Faika sudah kelaparan di dalam ruangannya, aku harus mengajaknya nanti makan malam."
Rian pun memilih tangga darurat untuk segera sampai ke lantai 10 dari lantai dasar. 9 lantai yang harus dia lewati. Dengan penuh perjuangan dan nafas yang sangat memburu Rian pun sampai juga di lantai 10. Rian kembali berlari ke dalam ruangan Faika.
Rian berhenti sejenak sebelum memegang gagang pintu dan memutar kenop pintu tersebut.
"Semoga saja Faika belum pulang."
Percobaan pertama Rian gagal, karena pintunya tertutup dan terkunci rapat.
"Kok terkunci sih, apa Faika sudah balik, tapi kok lampunya masih hidup?"
Rian mencoba melihat ke arah dalam ruangan tersebut.
"Itu tidak mungkin Faika."
Makasih banyak untuk Readers yang telah meluangkan waktunya untuk mampir memberikan dukungannya kepada Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar 🙏
Walaupun masih sepi, tapi tidak menyurutkan Fania untuk tetap update.
di dalam novel ada beberapa dialognya yang menggunakan bahasa dan dialek Makassar.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pengetikan cerita ini.
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Sabtu, 21 Mei 2022