TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR

TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR
BAB. 55. Dah Dig Dug Derr


__ADS_3

Selamat Membaca..


Cinta adalah penghormatan, maka jika dia tidak menghormati kamu, dia tidak mencintai kamu apa pun penjelasannya..


Faika dan Rian masuk ke dalam kamar masing-masing. Mereka ingin mandi karena seharian belum mandi juga padahal sudah hampir pukul 12 siang. Karena keasyikan bercakap-cakap, sehingga mereka sudah lupa waktu.


"Mami sangat berharap Kamu lah yang akan menjadi jodoh dari putra sulung ku, hanya kamu yang mampu membuat putraku hidup sendiri hingga sekarang, saking cintanya kepada kamu."


Nathan sudah sampai di RS DA, dan sudah duduk di hadapan Pak Dokter dengan perasaan yang bercampur aduk, antara cemas dan takut serta bimbang menantikan hasil tes tersebut.


"Ini tesnya Pak Nathan dan di dalamnya sudah sangat jelas kalau...." ucapan dokter terpaksa terpotong karena ada suara ketukan dari pintu ruangannya.


"Ada saja yang ganggu konsentrasiku."


"Masuk," ucap Dokter Yuda.


"Maaf Pak Dokter ganggu, ini pesanan dokter tadi pagi, maaf terlambat ngantarnya," tutur ob RS tersebut.


"Letakkan saja di meja sana, makasih yah," ucap Dokter Yuda.


Nathan kembali bernafas lega karena hanya og yang datang.


"Maaf ada gangguan sedikit, dari hasil tes yang bapak minta kecocokan dengan gen bapak adalah 98% adalah calon bayi bapak," jelas Dokter Yuda.


"Alhamdulillah, makasih banyak Dok atas bantuannya," ucap Nathan dengan sumringah.


Nathan segera menjabat tangan Pak Dokter dan segera pamit, lalu keluar dari ruangan tersebut.


"Alhamdulillah bayi itu adalah punyaku, aku harus segera melamar Fahira, aku tidak ingin menundanya lagi."


Nathan segera melangkahkan kakinya ke tempat administrasi karena akan mengurus ijin kepulangan Fahira dari Rumah Sakit. Setelah selesai mengurusnya, Nathan berjalan ke arah Rungan perawatan Fahira berada.


Tok.. tok.. tok..


Fahira segera berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu tersebut, karena tadi dia mengunci rapat sedang mandi dan berganti pakaian, selang infus pun sudah dicabut sehingga membuatnya bebas bergerak leluasa.


Fahira kembali dibuat terpaku untuk kesekian kalinya jika harus berhadapan dengan Nathan. Mata mereka saling bertatapan. Deru nafas mereka saling memburu dan debaran jantungnya pun ikut berdetak lebih kencang dari biasanya.


Nathan spontan memegang bagian dadanya. Fahira wajahnya bersemu merah dan tersipu malu. Hingga mereka tidak menyadari jika apa yang mereka lakukan sudah berlangsung beberapa menit. Hingga dering Handphonenya membuatnya harus memutuskan kontak mata dengan Fahira.


Fahira kembali berjalan ke arah ranjang untuk membereskan barang-barangnya yang ada di dalam ruangan Perawatan tersebut.


"Assalamu alaikum Mi," ucapnya.


"Waalaikum salam Nak, apa hasilnya sudah keluar dan hasilnya apa?" tanya Ibu Marissa Nasution Kim yang sudah mencerca Nathan dengan pertanyaan beruntunnya.


"Alhamdulillah hasilnya positif Mi, dan tolong persiapkan semuanya besok kita bergerak," tutur Nathan dengan suara yang sedikit lembut dan pelan.


"Ok Sayang, Mami akan laksanakan, kalau gitu Mami tutup dulu telponnya, assalamu alaikum," Mami Marissa pun menutup sambungan teleponnya.


Nathan berjalan ke arah tempat di mana Fahira berdiri.

__ADS_1


"Maaf apa Kamu sudah siap pulang?, aku yang antar Kamu pulang, gak usah pesan Ojol," titah Nathan yang tidak ingin dibantah.


"Baik Pak Nathan."


Mereka pun berjalan ke arah Parkiran setelah semuanya sudah dianggap beres. Fahira awalnya ingin duduk di kursi jok belakang, tapi baru ingin membuka Fahira langsung diinterupsi oleh perintah Nathan.


"Kamu jangan duduk di kursi belakang, di depan saja, aku bukan supir pribadi kamu,"


Fahira kembali menutup rapat pintu bagian belakang lalu berjalan ke arah pintu depan.


Fahira sudah duduk manis di kursi depan. Tapi, saat ingin memasangkan sabuk pengaman, Fahira kesulitan untuk melakukannya.


"Iih bagaimana ini caranya dipasang, tidak pernahka duduk di bagian depan kalau na antarka Kak Faika jadi tidak ku tahuki caranya kodong."


Faika Semakin kebingungan sedangkan Nathan hanya tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan oleh Fahira.


Nathan langsung berinisiatif untuk memasang seat belt tersebut ditubuh Fahira tanpa permisi sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh Nathan membuat Fahira terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Jantungnya semakin berdebar tidak karuan. Debaran jantungnya hingga terdengar ke telinga Nathan yang memang jarak mereka yang sangat dekat.


"Ya Allah kenapaki seng ini jantungku berdegup kencang sekaliki, apa ada penyakit jantung ku, tapi saya seperti ini jika berdekatan dengan Pak Nathan."


Wajah Fahira semakin bersemu merah sekaligus kebingungan tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada jantungnya.


Nathan hanya tersenyum dengan apa yang diketahuinya


.


"Dasar bocah, baru diperlakukan seperti itu sudah grogi dan gemetaran, tapi aku suka dengan gaya lugumu ini sayang, calon bidadari surgaku."


"Iye, tidak pernahka pakai sendiri, biasanya dibantu dipakaikan sama kakakku," ucap Fahira dengan polosnya.


"Kalau gitu nanti Mas akan ajari Kamu gimana cara yang benar untuk memasangnya, tapi bukan sekarang tapi nanti kalau Mas ada waktu," ucap Nathan sambil mengelus rambut Fahira.


Apa yang dilakukan oleh Nathan membuat ada desiran aneh dari dalam dirinya, dan perasaan yang tiba-tiba terasa nyaman berada di dekatnya.


"apa yang terjadi padaku, baruka di kasih begitu na adami yang kurasakan lain-lain di dalam hatiku, apa aku sudah jatuh cinta? itu tidak mungkin tapi nabilang dulu Hasmiah kalau ada Cowok di samping kita dan ada yang aneh dengan jantung terus grogiki pasti itu namanya beng jatuh cinta."


Fahira langsung menggeleng kepalanya dan tidak percaya dengan pemikirannya sendiri.


"Apa yang terjadi padamu, Kamu baik-baik saja kan?" tanya Nathan sudah khawatir dengan kondisi Fahira.


Fahira hanya menggelengkan kepalanya membuat Nathaniel Sanjaya Park sudah kelimpungan dan khawatir banget dengan kondisi Fahira Febrina.


"Iye, tidak apa-apaji Pak, Saya baik-baik saja kok," jawab Fahira yang semakin malu berada di dalam mobil tersebut.


Nathan semakin menambah kecepatan mobilnya dan tidak ingin terjadi sesuatu kepada Fahira. Hingga hanya butuh 15 menit saja, mereka sudah sampai di depan Rumah. Nathan langsung bergegas ke arah pintu samping lalu membuka pintu mobilnya agar memudahkan Fahira turun. Bahkan Nathan membantu Fahira turun, saking takutnya jika terjadi sesuatu kepada Fahira dan calon bayinya. Fahira pun turun dari mobil Nathan dengan sangat hati-hati karena takut terjatuh.


Apa yang mereka lakukan menjadi perhatian dari Ibu Suharti yang kebetulan berada di balik jendela rumahnya, setelah mendengar ada bunyi kendaraan yang berhenti pas di depan rumahnya.


"Untung bukanji di Kampung, kalau di Kampung na ada yang antarki Fahira pasti jadi viralmi seng Fahira satu Kampung."


Ibu Suharti langsung bergerak cepat untuk membuka pintu Rumahnya. Ibu Suharti tersenyum ke arah Nathan. Nathan pun membalas senyuman tulus dari ibunya Fahira.

__ADS_1


"Masukki dulu Nak," ucap Ibu Suharti.


"Iya Makasih Banyak Ibu, lain kali saja, Saya masih ada urusan penting yang harus Saya kerjakan," Jawab Nathan yang menolak secara halus ajakan dari calon ibu mertuanya.


"Ooh gitu, iye pale' nak hati-hatiki di jalan Nak," ucap Ibunya Fahira.


"Makasih banyak Bu, assalamu alaikum,"


"Waalaikum salam."


Pintu pun tertutup, Ibu Suharti bukanlah tipe ibu yang akan memberondong segala macam pertanyaan untuk anak-anaknya jika dari bepergian, Ibu Suharti sangat percaya kepada anaknya untuk tidak bakalan bertindak dan bertingkah laku yang tidak baik apa lagi yang dilarangnya. Orang Makassar sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia yaitu Siri' na Pacce'. Bukan juga memberikan kebebasan yang tidak terbatas, tapi ibu Suharti sudah sangat tahu dari karakter ke tiga putrinya itu.


Fahira masuk ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya, tapi pikirannya selalu tertuju pada wajah dan sikap perhatian Nathan.


Sedangkan di dalam apartemen Rian, Faika dan Rian sama-sama sudah berganti Pakaian setelah mandi.




Pakaian selutut putih yang berenda menjadi pilihan Faika untuk dia pakai. Hitam putih pakaian yang sangat serasi.


"Sini nak duduk," ucap Ibu Marissa


Faika pun berjalan malu-malu dan dia tak tahu kalau di sampingnya Rian juga berjalan beriringan dengannya. Mereka pun duduk bersamaan seakan-akan mereka sudah sepakat untuk janjian.


"Bagaimana dengan pembicaraan kita tadi nak, Kamu siap kan membantu Mami?" tanya Ibu Marissa yang ingin memastikan.


"Siap mi, tapi agak lama pembahasannya, karena ritual dan apa-apa yang harus dibawa sangat banyak," jawabnya.


"Kalau gitu kita langsung ke Mall untuk cari persiapan dan barang-barang seserahannya dan masalah yang lain kita bicarakan di atas mobil saja, bagaimana?" tanya Ibu Marisa.


"Iye," jawab singkat Faika.


"Rian Kamu mau ikut Mami atau tinggal di sini saja?" tanya maminya.


"Kalau boleh, Rian saja yang jadi supir pribadi kalian," timpal Rian.


"Kalau gitu kita berangkat," ucapnya.


Mereka sudah otewe ke Mall untuk mencari persiapan barang-barang yang akan menjadi seserahan lamaran Nathan untuk esok hari.


Ada yang Mau di lamar nih gaes??..


Semoga proses lamarannya besok berlangsung lancar dan sukses yah Pak Nathan. Othor akan bantu doa yah πŸ‘Œ.


Jangan Lupa untuk mampir baca dan berikan masukan atau kritikan yang bisa berguna untuk perbaikan novel receh FANIA.


MAKASIH BANYAK UNTUK KAKAK READERS ALLπŸ₯°πŸ˜˜.


by Fania Mikaila AzZahra

__ADS_1


Makassar, Rabu, 25 Mei 2022


__ADS_2