
Selamat Membaca..
Kedatangan Nathaniel di Kantornya Rian membuatnya sejenak menghentikan aktifitasnya dan melepaskan penaknya. Dan berbincang santai sambil mendengarkan curhatan dari Nathan.
"Coba kamu datang ke dokter kulit untuk cek luka di wajahmu, jangan sampai infeksi" ucap Rian yang masih bertanya-tanya kok bisa ada luka bekas cakaran tapi orangnya lupa kapan dapatnya dan siapa pelakunya.
"Terakhir perempuan yang dekat denganku adalah Miranda yang Waktu itu bersamaku malam itu, tapi kalau Miranda kok waktu itu sangat sempit bahkan sempit banget malah seperti itu yang pertama kali Miranda lakukan dan sekaligus seperti itu pengalaman pertamanya saja".
Nathan terdiam dan bengong sambil memikirkan kemungkinan yang terjadi saat itu. Dan membuatnya gusar sampai-sampai lupa kalau dia berada di dalam ruangan Rian dan berhadapan langsung dengan Rian. Nathan bahkan sudah menggelengkan kepalanya dan menyugar rambutnya hingga rambutnya berantakan yang awalnya tertata rapi.
"Hey apa yang terjadi padamu?" tanya Rian yang memukul pelan lengan Nathan.
Nathan tidak menyadari jika sedari tadi lengannya dipukul oleh sahabatnya. Nathan masih berada di dalam dunianya sendiri, yang masih sibuk memikirkan kemungkinan besar yang terjadi dengannya pada malam hari itu.
Rian semakin dibuat penasaran dan heran dengan sikap temannya itu. Sedari tadi Rian sudah berusaha untuk menyadarkan Nathan tapi tidak berhasil.
"Kok Aku merasa malam itu bukanlah Miranda kalau Miranda tidak mungkin sesempit itu dan pasti Miranda akan meladeni bahkan akan mengimbangi permainanku bahkan akan lebih mendominasi permainan tersebut, atau jangan-jangan malam itu bukan lah Miranda karena saat menyentuh bagian atasnya agak kenyal dan masih montok, Sepertinya Aku harus kembali ke Makassar untuk memastikan dan mencari tahu semuanya".
Setelah tersadar dari lamunannya Nathan langsung berdiri dan berlari keluar Ruangan Rian Alaric Kim tanpa pamit dan mengucap sepatah kata pun. Hal itu membuat Rian menggelengkan kepalanya dan hanya tersenyum menanggapi tindakan dari sahabatnya itu.
"apa yang terjadi pada Nathan tapi dari raut wajahnya sedari tadi aku perhatiin ada kebingungan, dan kecemasan dibalik tingkahnya tadi, tapi semoga tidak ada yang urgen sehingga Nathan bertindak seperti itu".
Rian pun berjalan kembali ke Kursi kebesarannya. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya dan ruangan itu kembali hening tanpa ada celotehan dari orang lain dan hanya dentingan jam di dinding yang memeriahkan ruangan itu.
Hari ini Fatimah dan Fahira melanjutkan sekolah mereka. Fatimah sudah mulai sekolah di SMA kelas 10 sedangkan, Fahira sudah mengikuti ospek di Kampusnya. Seperti itulah aktifitas mereka selama tinggal di Ibu kota Jakarta. Sedangkan Faika merasa ada perbedaan yang dirasakan oleh kakinya memakai sepatu yang bermerk setiap hari. Ibunya hanya membersihkan seluruh rumah dan memasak dan jika selesai barulah Ibu Suharti beristirahat atau sekedar menonton televisi untuk membunuh rasa bosannya.
Ibu kota kondisinya sangat berbeda dengan di kampung halamannya di mana setiap hari ibu Suharti melihat ibu-ibu saling mengunjungi satu sama lain, atau duduk di teras rumah mereka sambil membuat acara yang sesuai yang mereka inginkan, seperti ada yang bergosip sambil mencari kutu rambut tetangganya, berbincang-bincang santai sambil menikmati makanan ringan yang mereka buat sendiri atau ada yang Ikut pengajian antara ibu-ibu pengajian. Tapi sudah hampir satu bulan tinggal di Jakarta, di rumah putri sulungnya, satu pun tidak ada tetangga yang menyambanginya walaupun hanya sekedar basa-basi saja.
Nathan hari itu juga langsung terbang ke Sulawesi Selatan dan sekarang sudah berada di Bandara internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Kabupaten Maros. Nathan menyewa mobil rental untuk dia pakai ke Daerah Kabupaten Gowa tempat lokasi kebun teh tersebut. Tempat yang sudah tidak ingin dia injakkan kakinya lagi, di daerah itu pula Nathan melihat langsung dengan ke dua matanya Asisten pribadinya berselingkuh dengan istrinya Miranda.
Miranda yang memicu hubungannya renggang dengan Farhan sahabatnya itu. Farhan sudah melihat langsung bukti main serong Miranda, tetapi Nathan malah bertengkar dan memukuli Farhan sehingga sampai sekarang masih belum bertegur sapa.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga, semoga Aku mendapatkan petunjuk dan informasi siapa cewek itu karena feeling ku kalau malam itu bukanlah Miranda, ya Allah berikanlah Aku petunjuk dan segera menyelesaikan kegundahan yang Aku rasakan saat ini".
__ADS_1
Setelah berdiskusi dan tawar menawar dengan pemilik mobil rental tersebut, Nathan membayar sewanya untuk tiga hari saja.
"Ternyata di Makassar untuk rental mobil sewa itu terbilang masih murah dan terjangkau juga".
Nathan mengambil Kunci dari tangan sang pemilik mobil sewa tersebut.
"Makasih banyak Pak, semoga selamat sampai di tujuan dan tidak ada kendala apa pun, dan ini STNK mobilnya pak" ucap Tuan Ansar pemilik serum penyedia mobil sewa tersebut.
Nathan meraih kunci itu dari tangan Pak Ansar.
"Makasih banyak Pak, dan senang bekerja sama dengan bapak"
"Kayaknya bukan asli orang sini, dari cara bicaranya yang menunjukkan hal itu dan penampilannya juga sepertinya orang kaya" ucap Bapak pemilik mobil sewa tersebut.
"Iye Pak, apa kita bilang itu benar sekaliki, tapi baguski tauwa Pak karena tidak menawarki seandainya dikasihki harga tinggi tadi pasti untung banyakki Bos" Ucap anak buahnya Pak Ansar.
"Itu saja bersyukurki karena tidak menawarji dan lumayan besarji kidapatka jadi syukuri saja apa yang ki dapat ini hari dan semoga lamaki napake mobilka" ucap pak Ansar lagi.
"Amin ya rabbal alamin" ucap Mansyur.
"Kalau itu bukan Miranda, gimana kalau perempuan itu hamil atau perempuan itu Istri orang gimana jadinya".
Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saja dan menikmati keindahan di sisi jalan yang Dia lewati.
"Ya Allah bantulah Aku untuk memecahkan misteri ini dan kalau emang malam itu bukanlah Miranda Aku akan mencarinya dan akan siap bertanggung jawab".
Sedangkan di Ibu Kota Jakarta, Faika tidak tahu harus gimana karena mendapatkan tugas dari atasannya untuk memberikan Langsung ke tangan Rian berkas yang sudah dia kerjakan bersama rekan kerjanya.
"Apa boleh bapak saja yang langsung bawa semua berkas ini di tangan Presiden Direktur Pak Ridwan" tanya Faika yang berharap permohonannya dikabulkan oleh Pak Ridwan.
"Maaf Faika ini sudah diputuskan oleh Pak Rian dan tidak boleh diwakilkan oleh orang lain" ucap Pak Ridwan yang masih melihat ke arah Faika.
"Maaf sepertinya Bapak perhatikan kamu akhir-akhir ini selama Bapak Rian mulai bekerja mengantikan Ayahnya Kamu sepertinya menghindar jika bapak perintahkan kamu untuk bertemu dengan Pak Presiden direktur Kita itu, apa ada yang membuat kamu tidak nyaman atau ada Masalah yang kamu dapatkan jika bertemu dengan Pak Rian?" tanya Pak Ridwan
__ADS_1
selaku atasannya.
Pak Ridwan tidak ingin Faika tidak nyaman bekerja sehingga memutuskan untuk pergi dari perusahaan tersebut dan membuat perusahaan kehilangan karyawan yang sangat berpotensial itu.
Faika yang sedang melamun dan tidak mendengar perkataan dari Pak Ridwan seakan-akan tubuhnya berada di dalam ruangan tersebut tapi pikirannya melanglang buana hingga ke ruangan Presdirnya.
"Faika kamu baik-baik saja?" tanya Pak Ridwan yang bingung sekaligus khawatir dengan keadaan Faika dan Pak Ridwan berfikiran jika Faika kesambet sesuatu yang berbau makhluk astral Karena sedari tadi sudah berusaha untuk menyadarkan Faika tapi tidak berhasil.
Pak Ridwan kembali memukul Mejanya tetapi dengan kekuatan yang lebih kuat dari sebelumnya. Faika langsung terjinkak dari duduknya karena terkejut dengan tepukan meja tersebut.
"Eehhh Maaf pak, tadi bapak bilang apa, kalau boleh tahu?" tanya Faika yang berusaha menetralkan perasaannya karena masih terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Pak Ridwan.
"Maafkan bapak tidak bisa mengabulkan permohonan kamu dan ini sudah menjadi perintah dari Pak Rian sendiri dan mutlak kamu yang harus turun tangan langsung" jawab Pak Ridwan.
"Ohh kalau gituz Faika pamit dulu Pak, Mau antar berkas ini, dan Faika tidak ingin mendapatkan omelannya" ucap Faika yang berjalan ke arah luar.
"Kalau dugaannku benar sepertinya mereka ada hubungan yang spesial dari Pak Rian dan Faika, karena tidak mungkin Pak Rian bela-belain membelikan Sepatu yang banyak untuk Faika apa lagi dengan harga yang cukup Mahal" .
Faika terus berjalan karena berjalan sambil melamun sehingga Dia tidak bertanya kepada Sekertaris Rian yang duduk manis fi kursinya. Sekertaris tersebut pun menatap ke arah Faika yang nampak banyak beban pikiran.
"Tumben banget Faika datang tapi gak menyapa dan sepertinya dia sedang mengkhayalkan sesuatu".
Faika terus berjalan dan melangkah kakinya ke arah pintu ruangan tersebut tanpa harus mengetuk terlebih dahulu saking seriusnya dengan lamunannya itu. Tapi tangannya belum memutar kenop pintu itu, Pintu tersebut terbuka lebar dari arah dalam ruangan tersebut. Faika langsung terdiam dan berdiri mematung menatap kosong wajah Orang yang ada di depannya.
Untung jalan yang dilalui Faika Hanya lurus saja dan tidak perlu naik tangga atau pun naik lift lama kalau tidak kemungkinan besarnya Faika akan terjatuh atau pun menabrak sesuatu.
............ Bersambung..........
*Makasih banyak atas Kakak yang sudah mampir untuk memberikan dukungannya kepada Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar 🙏.
Dan FANIA Ucapkan mohon dukungannya dalam bentuk apapun dan biasakan untuk meletakkan jempolnya di Tanda Like Favorit dan Rate Bintang 5 Yah 🙏🥰.
Mohon maaf jika banyak Typonya karena baru belajar Nulis Novel 🤧🙏🙏.
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Minggu 15 Mei 2022*