TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR

TAK ADA JODOH YANG TERTUKAR
Bab. 7. Sabar


__ADS_3

Selamat Membaca..


Tuhan akan lebih memperkayamu setelah kekurangan yang engkau Sabari, dan akan semakin meninggikan derajatmu setelah fitnah yang kau tabahi.


Perayaan pesta pernikahan yang orang gadang-gadang akan dilaksanakan dengan begitu meriah dan megah, harus berakhir dengan suasana yang penuh dengan kejutan dan tanda tanya.


Bahkan keluarga besar Faika harus menanggung malu, karena pernikahan putri mereka harus berakhir dan gagal. Kegagalan akad nikah tersebut dikarenakan kedatangan Istri dan mertua dari pihak calon mempelai pria.


Ada rasa yang tidak bisa digambarkan oleh ke dua orang tua Faika. Di sisi lain harus kecewa dan malu karena pernikahan yang sudah di depan mata terpaksa gagal total. Sekaligus merasa lega karena, putri sulungnya tidak jadi menikah dan dipoligami oleh Wandi.


Malam harinya, Ibu Suarti dan Pak Rahman sedang menikmati kopi dengan pisang goreng buatan Fahira putri keduanya, di dalam ruangan yang berukuran 6x5 itu dengan masih terpasang sisa dekorasi pesta pernikahan.


"Alhamdulillah tidak jadiki menikah Faika Daeng, kalau jadiki tidak bisaki kubayangkan bagaimanami nasibnya kodong Faika jadi istri ke duanya Wandi," tutur ibu Suarti.


"Iye, bapak juga bersyukur untung gagalji, kalau tidak pasti yang paling menyesal adalah bapak," ucapnya.


Sesekali pak Rahman mencicipi kopi dengan pisgor yang tersaji di atas meja yang asalnya masih mengepul ke langit-langit rumahnya.


"Allah masih sayang sama Kita semua na beriki petunjuk sebelum semuanya terlambat, dan Ibu yakin pasti Faika akan diberikan jodoh yang paling terbaik untuknya kelak," jelas ibunya Faika.


Andai saja pernikahan itu terjadi mungkin akan banyak timbul penyesalan dari orang tuanya Faika. Mereka sangat menyayangkan kejadian ini. Tapi, apa mau dikata tai kambing bulat-bulat, nasi sudah menjadi bubur.


Hidup dalam penyesalan tidak akan merubah keadaan malah akan semakin menambah luka disukma.


Beberapa hari kemudian, dari sejak pembatalan pernikahan Faika, banyak suara-suara sumbang yang mereka dengar. Baik itu dari keluarga sendiri maupun dari pihak tetangga. Ada yang menyanyangkan dengan keputusan yang diambil oleh Faika dengan ke dua orang tuanya, ada mencap Faika gadis pembawa sial, ada pula yang mengatakan Faika terlalu bodoh dan munafik telah menolak dan membatalkan pernikahannya. Mereka mengetahui kalau Wandi adalah anak orang paling kaya di Kampungnya.


"Ya Allah berikanlah aku kesabaran dan kekuatan menghadapi ujian dan cobaan yang Engkau berikan kepadaku dan keluargaku."


Di antara banyaknya yang menjelekkan Faika masih banyak yang mendukung dan memberikan support kepada Faika. Mereka menganggap keputusan yang diambil oleh orang tua Faika adalah jalan yang sangat baik.


Begitulah kehidupan di pedesaan, segala sesuatu tindak tanduk seseorang akan menjadi pusat perhatian dan sorotan dari nitizen.


Dua Minggu kemudian, Faika dan ibunya akan ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-hari. Faika mengendarai motor pribadinya dan membonceng Ibunya.

__ADS_1


Sesampainya di Dalam Pasar, Faika merasa risih dan tidak nyaman dengan tatapan menelisik dan seakan-akan dirinya ditelanjangi dengan tatapan dari beberapa pasang mata.


Masyarakat yang ada di dalam Pasar, bahkan tidak sedikit dari mereka saling berbisik ketika, Faika dan ibunya melewati kumpulan ibu-ibu.


"Ya Allah apa salahku sama mereka na tega sekalika na hina dan cerita yang tidak-tidak."


Faika hanya bisa menangis dalam diamnya dan berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya di depan Ibunya. Tapi, Yang namanya orang tua pasti tahu kegundahan hati yang dialami oleh anak-anaknya.


"Sabarki nak, insya Allah semua pasti akan berlalu, janganmi dimasukkan ke hati perkataan mereka, Kamu masih punya Ibu, bapak sama adik-adik Kamu," terang ibunya Faika.


Ibu Faika memegang tangan putrinya untuk memberikan kekuatan pada Faika agar bersabar menghadapi segala ujian dan cobaannya.


"Ya Allah apa salahnya Faika, kenapa orang-orang seakan-akan melimpahkan semua kesalahan Wandi kepadaku?" Tanya Faika dalam hatinya.


"Ayo Nak, kita jalanmi saja tidak usahmi dihiraukan kata-kata jelek mereka, anggapmi saja itu hanya angin lalu," ucap Ibunya Faika sambil menggandeng tangan putrinya.


Faika dan ibunya berbelanja berbagai macam jenis kebutuhan pokok. Mereka berbelanja di toko tempat langganannya.


"Pak Haji, harga telur sama minyak naikmi pak Haji??" tanya ibunya Faika.


"Andai saja itu tidak nu tolakji pernikahannya Faika, pasti Kamu tidak perlu repot-repot harus mengeluh, diam dan duduk manismaki saja di rumahta' Daeng menunggu Wandi bawa semua kebutuhanta'," ucap Bu Husnah.


Ibu Husnah adalah Bibinya Faika yang kebetulan berada di sana juga.


"Iya ibu itu benar, andai saja kamu menikah dengan Wandi pasti kehidupan kalian terjamin" ucap ibu Sumi.


"Kalau saya jadi Faika jelasmi tidak mauka dipoligami, untung Faika tidak jadi menikah dengan Wandi bisa jadi hidupmu sengsara nak," ucap Ibu Yani.


"Kenapa kalian yang ribut dan mempermasalahkannya ibu Suarti saja tidak masalahji, iya kan ibu??" tanya ibu Nani.


Faika dan ibunya tidak mau menyanggah atau pun meluruskan semuanya, menurutnya itu hanya hal yang sia-sia saja. Mereka hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Ibu Suarti tidak mau membela anaknya. Karena ibu Suarti tahu yang terbaik untuk putrinya.


"Sudah-sudahmu deh, heranku lihatki semua apami itu untungnya kalian mencela dan tidak menerima keputusan ibu Suarti, apa kalian pernah merasakan hidup dipoligami itu bagaimana, jangan seenak jidat kalian langsung mencap Faika dan ibunya," ucap Pak Haji Mudin.

__ADS_1


Pak Haji berusaha menengahi perdebatan dan suasana yang sudah nampak keruh dan tidak kondusif yang terjadi di dalam Tokonya.


"Kalian ke sini itu mau belanja atau mau bergosipji, maaf Toko kami di sini bukan tempat yang cocok untuk bergosip atau pun mencari kesalahan orang lain," ucap istrinya pak Haji yaitu Ibu Haja Hajrah.


Orang-orang yang berada di sana kembali melanjutkan acara belanjanya. Dan hanya saling berbisik-bisik dan senggol senggolan saja.


"Janganki masukin dihati kata-katanya mereka Nak, anggapmi saja masuk telinga kiri ke luar telinga kanan," ucap pak Haji kepada Faika.


"Iye Pak Haji, makasih" ucap Faika yang sedari tadi menundukkan kepalanya dan berusaha menahan buliran air matanya agar tidak terjatuh.


Faika mengelus dadanya agar dia bisa lebih bersabar menghadapi gunjingan orang-orang. Hidup tidak akan pernah lepas dari namanya pro dan kontra. Pasti akan ada pasang surut dalam kehidupan.


Ibu Suarti dan Faika menyelesaikan belanjanya dan bersiap ke tempat penjualan ikan. Karena hari ini, sahabat Faika dari kota akan datang. Karena itu lah Ibunya Suarti belanja sangat banyak beberapa bahan makanan.


"Janganki dengarkan perkataan mereka, apa lagi mau dipikirkan kata-kata tidak baiknya mereka nak, ambil saja hikmah dari kejadian hari ini," ucap ibu Suarti.


"Iye Bu, insya Allah Faika bisaji sabar menghadapinya," jawab Faika yang selalu menghadap ke atas agar air matanya tidak menetes membasahi pipinya.


Suasana pagi ini di pasar tradisional tempat tinggal Faika terbilang cukup ramai. Walaupun banyak masyarakat yang mengeluh dengan kenaikan harga dari beberapa barang kebutuhan pokok.


Faika melajukan motornya ke jalan raya, karena bersiap untuk pulang ke rumahnya. Tapi, ibu Suarti menyuruh Faika memberhentikan motornya di depan cabang Toko Kue Bakery Khadijah yang ada di Kabupaten Takalar, Toko Kue tersebut sudah sejak dari dahulu menjadi Toko langganannya Ibunya Faika.


...********Bersambung********...


Typo Harap dimaklumi dan bijaklah menanggapi Typonya.🙏🙏


Assalamu alaikum..


Maafkan FANIA yang baru bisa update Lagi. Dan Maafkan Fania yang hanya Update satu Bab Saja.


Novel FANIA yang satu ini Updatednya agak Selloow yah Readers.


Tetap Dukung Novel Receh Fania yah Readers 🙏.

__ADS_1


Makasih banyak 🙏🙏.


__ADS_2